PEKERJAAN ALLAH DINYATAKAN
Views: 0
Yohanes 9: 1-11
Salam sejahtera, semoga kita makin mengimani, bahwa ketika berbagai pergumulan terjadi dalam hidup kita seperti sakit penyakit, penderitaan, kelemahan, kedukaan, kegagalan, maka pekerjaan-pekerjaan Allah sedang dinyatakan dalam hidup kita, hal ini diungkapkan dalam Yohanes 9: 3 Jawab Yesus: “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.
Tidak ada orang yang menginginkan dirinya buta sejak lahir, kurang sempurna tubuhnya, kurang kemampuan otak, dan memiliki kelemahan dalam hidup. Tidak ada orang yang menginginkan peristiwa pandemi covid-19, peristiwa erupsi, peristiwa banjir dan longsor, kecelakaan, melemahnya ekonomi. Kalau pun terjadi hal-hal yang tidak diinginkan ini, bagaimana sikap kita ? Apakah kita marah, kecewa, merasa cemas, apakah kita menyalahkan keadaan, apakah kita mencari kambing hitam, apakah kita merasa malu? Apakah kita mencari-cari dosa dalam diri kita atau dosa orangtua, dosa masyarakat, yang menyebabkan terjadi hal tersebut ? Atau kita berharap agar pekerjaan-pekerjaan Allah dinyatakan dalam kelemahan, kesulitan hidup kita?
Ada orang kalau melihat orang terkena penyakit, yang dicari adalah dosa orang pribadi atau dosa orangtua, seperti pertanyaan murid, dalam Yohanes 9:2: “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?” Pertanyaan ini membahas tentang dosa pribadi dan dosa turunan. Dosa adalah tidak mengindahkan, memberontak terhadap perintah, kehendak dan hukum Tuhan. Tuhan menciptakan dunia dan manusia dengan baik, dosa membuat semua menjadi rusak, tidak baik. Tuhan menciptakan manusia agar mengarah pada kemuliaan Tuhan, dosa mengarahkan kepada kemuliaan diri sendiri.
Dosa orangtua maksudnya dosa turunan. Dosa turunan adalah dosa turunan dari Adam, yang mengakibatkan semua manusia menjadi berdosa. Dalam Kejadian 3:15 dijelaskan bahwa Tuhan menjatuhkan hukuman atas dosa, bukan hanya kepada Adam saja tapi juga keturunannya. Mazmur 51:7 menjelaskan bahwa di dalam kandungan sudah ada dosa dan kesalahan. Demikian juga Roma 5:12 menjelaskan bahwa dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, maka maut menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa. Dosa Adam dan Hawa telah menjalar ke seluruh manusia, tidak ada manusia yang tidak berdosa. Adam tidak setia dalam perjanjian dengan Tuhan, maka seluruh manusia jatuh ke dalam dosa. Manusia yang jatuh dalam dosa sudah mati dalam arti hilang kekudusan, kemuliaan, kebaikan, kebenaran, keadilan, kedamaian, cenderung berbuat dosa, berbuat jahat, memberontak terhadap kehendak Allah. Orang berdosa akan berpikiran Allah tidak adil, Allah tidak baik, Allah tidak peduli. Orang bisa insaf, ketika mengakui dosa, dan meminta pengampunan dari Tuhan Yesus, barulah diperbaharui. Barulah orang bisa mengimani Allah adil, Allah baik, pengasih.
Akibat dosa, manusia dijatuhi hukuman oleh Tuhan, dengan hukuman maut yaitu manusia akan mati, tidak hidup kekal. Tubuh akan kembali menjadi debu, jiwa akan pergi ke kerajaan tempat jiwa. Akibat dosa tidak ada hubungan yang harmonis antara Allah dan manusia. Hanya orang yang mengakui dosa dan menerima pengampunan dari Yesus akan mendapat hidup baru, hidup harmonis dengan Allah dan hidup kekal.
Semua orang berdosa, baik yang bisa melihat dan tidak bisa melihat; baik yang sehat dan yang sakit, baik orang yang tidak terkena bencana alam dan yang terkena bencana alam, baik orang kaya dan orang miskin; baik orang pintar dan orang kurang pintar; baik orang berhasil dan orang yang gagal. Hanya Yesus Juruselamat yang tidak berdosa, tapi menanggung dosa semua manusia agar diampuni dosanya, dibenarkan diselamatkan, mendapat hidup baru dan hidup kekal. Semua manusia sama-sama berdosa, karena itu tidak perlu menghakimi orang lain dengan mencari-cari dosa pribadi atau dosa orangtua. Ketika membesuk orang sakit, yang belum sembuh, tidak perlu menghakimi orang tersebut dengan mengatakan bahwa ada dosa yang disembunyikan. Ketika terjadi bencana alam di suatu daerah, tidak perlu menghakimi orang yang terkena bencana, dengan mengatakan bahwa pasti ada dosa masyarakat tersebut sehingga terkena bencana. Ketika orang gagal, tidak perlu menghakimi tersebut, dengan mengatakan bahwa pasti ada dosa yang menyebabkan kegagalannya. Kita tidak perlu menghakimi dosa orang lain, sebab kita semua orang berdosa, baik karena dosa turunan Adam, juga dosa diri sendiri.
Yesus mengatakan dalam Yohanes 9:3 bahwa “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia. Pekerjaan-pekerjaan Allah terkait dengan memelihara, menolong, memulihkan, menyelamatkan manusia dan dunia ciptaan Tuhan. Pekerjaan Allah adalah mencelikkan mata orang buta tersebut. Orang buta itu sembuh karena taat melakukan perintah Yesus. Pekerjaan yang mustahil dilakukan manusia, tapi Allah mampu melakukannya. Musa yang tidak pandai bicara, dimampukan Tuhan untuk berbicara karena Allah selalu menyertai Musa. Tuhan berkenan memberikan penyertaan dalam kelemahan dan penderitaan manusia. Saat kita merasa mustahil mengerjakan sesuatu karena kelemahan kita, Tuhan sanggup menyatakan pekerjaan-Nya melalui kelemahan itu. Orang yang tidak dapat melihat, tidak dapat berbicara, tidak dapat berjalan bukanlah hal yang buruk, sebab Tuhan mampu menjadikan segala sesuatu menjadi baik. Manusia sendirilah yang suka memberikan stigma buruk dan menghakimi orang berdasarkan kekurangan, kelemahan orang. Tuhan sendiri tidak pernah menyebutnya sebagai hal yang buruk, terhadap ciptaanNya, semuanya ciptaan Tuhan adalah baik. Yesus mengajak kita tidak melihat dosa seseorang, biarlah kewenangan Tuhan untuk menghakimi dosa manusia. Kita diajak melihat pekerjaan Allah di dalam diri orang yang tidak bisa melihat, orang tidak bisa berjalan, orang tidak bisa mendengar, orang yang sakit-sakitan, orang yang mengalami bencana atau kecelakaan, orang yang mengalami kegagalan. Dan kita diajak ikut mengerjakan pekerjaan Allah selama masih siang, selama ada kesempatan yang diberikan Tuhan sebelum akhir hidup kita.
Fokus kita bukan pada dosa orang, tapi bagaimana kita berkarya untuk saling memulihkan dan memberikan pertolongan, berbelas kasih bagi sesama yang mengalami kelemahan, penderitaan sakit penyakit, kegagalan, kesulitan hidup. Fokus kita adalah ikut serta dalam melakukan pekerjaan-pekerjaan Allah. Tuhan yang memimpin pekerjaan, yang menunjukan jalan, Tuhan yang memberi terang, dan kita tidak ikut dunia seperti ungkapan KJ 343:3. Yang menunjuk ujung jalan: T’rang Al Kalam. Yang memimpin pekerjaan: Raja Imam. Jangan turut cita-cita dunia yang bergempita. Satu saja Tuhan kita: Raja Salam. Amin.
Berdoa:
Ya Tuhan, mampukan kami mengimani, bahwa ketika berbagai pergumulan terjadi dalam hidup kami, seperti sakit penyakit, penderitaan, kelemahan, kedukaan, kegagalan, maka pekerjaan-pekerjaan Allah sedang dinyatakan dalam hidup kami. Kami berharap agar pekerjaan-pekerjaan Allah dinyatakan dalam kelemahan, kesulitan hidup kami, dan tidak menghakimi diri dan orang lain berdasarkan dosa pribadi atau dosa turunan. Beri kami kemampuan untuk fokus kepada pekerjaan-pekerjaan Allah yang memulihkan, menolong, menyelamatkan sesama kami dalam penderitaan atau kesusahan dan kelemahan sesama kami. Dalam Yesus kami berdoa amin.
