DOA KOMAT-KAMIT
Views: 0
Bahan: I Samuel 1:13-15
Dan karena Hana berkata-kata dalam hatinya dan hanya bibirnya saja bergerak-gerak, tetapi suaranya tidak kedengaran, maka Eli menyangka perempuan itu mabuk. Lalu kata Eli kepadanya: “Berapa lama lagi engkau berlaku sebagai orang mabuk? Lepaskanlah dirimu dari pada mabukmu.” Tetapi Hana menjawab: “Bukan, tuanku, aku seorang perempuan yang sangat bersusah hati; anggur ataupun minuman yang memabukkan tidak kuminum, melainkan aku mencurahkan isi hatiku di hadapan Tuhan.
BerDOA KOMAT-KAMIT; ada saatnya orang lakukan di tempat tertentu, ada juga berkomat-kamit supaya dedemit yang dengar. Selain komat-kamit ada juga yang berdoa dengan berseru, supaya seruannya itu didengar orang lain, dibantu dengan pengeras suara. Bagaimana suara doa, itu tergantung pada pemahaman dan ajaran doa yang diterima. Tuhan Yesus mengajar kalau kita berdoa dilakukan di ruang privat (kamar) Mat 6:6, tidak perlu didengar orang lain. Karena Tuhan mendengar suara hati orang yang berdoa di tempat tersembunyi.
Dalam bacaan kita, ibu Hana sudah lama memendam sakit hatinya karena merasa dirinya mendapat perlakuan tidak adil oleh suaminya Elkana dan Penina (Elkana beristeri dua orang Hana yang tidak punya anak dan Penina yang punya anak). Sakit hati Hana sudah menumpuk terhadap suaminya dan atas sikap Penina sebagai madunnya. Penina menganggap rendah Hana karena dia tidak mempunyai anak. Tentu, masih banyak factor lain yang membuat dia merasa tertekan. Tetapi untung, dia tidak membalas rasa sakit hatinya itu dengan kata-kata atau perlakuan negative terhadap suami dan madunya. Tetapi Hana mencurahkan isi hatinya, rasa sakit hatinya kepada Tuhan. Keluarga Elkana terlihat keluarga yang saleh, secara rutin, tahunan, mereka datang ke rumah Tuhan yang saat itu ada di Silo dan imam Eli yang melayani di rumah itu. Satu saat Hana mengambil tempat khusus untuk berdoa secara pribadi dan dengan bebas, teduh, dia membuka hati menyampaikan beban, dan disertai dengan permohonan, dengan suatu janji yang disebut dengan nazar. Karena begitu berat rasa bebannya maka begitu khusuk dan serius dia berdoa sehingga hanya bibirnya saja bergerak-gerak, tetapi suaranya tidak kedengaran. Imam Eli memperhatikan Hana yang berDOA KOMAT-KAMIT, terlihat seperti orang mabuk oleh minuman keras, membuat imam Eli menegor dia dengan berkata: “lepaskanlah dirimu dari mabukmu.” Hana membalas tergoran Eli dengan berkata: ..aku bukan mabuk bapa, tetapi aku mencurahkan isi hatiku kepada Tuhan.. Bisa dipahami, kepada siapa, kapan dan di mana lagi dia mencurahkan isi hatinya kalau bukan kepada Tuhan di rumah Tuhan! Akhirnya imam Eli memberkati Hana, kiranya Tuhan mengabulkan nazarnya, dengan memohon anak dalam karunia Tuhan.
Allah mendengar doa Hana dan mengaruniakan anak, yaitu Samuel dan ditambah tiga orang anak lagi. DOA KOMAT-KAMIT ibu Hana berkenan kepada Allah dan dikabulkan lebih dari yang dia minta. Dalam perjalanan umat Israel sering mereka berseru-seru (berdoa) menyampaikan keluhan mereka, dan Tuhan menjawab seruan mereka, ada saatnya mereka menangis karena penderitaannya (berdoa) dan Tuhan memperhatikan mereka. Ada saatnya juga doa disampaikan kepada Tuhan dengan ritual membawa korban sesuai dengan ketetapan Tuhan. Doa sebagai curahan hati kepada Tuhan, itulah isi dan cara kita berdoa, yang terpenting ialah kita berdoa mencurahkan suka dan duka, rencana dan hasil kerja, yang terkandung dalam hidup kita. Perlu koreksi bagi kita apakah kita menyediakan waktu dan tempat yang khusus, khusuk, mungkin dengan komat-kamit, mungkin dengan tangis, mungkin dengan ceria dan menyanyi, bergantung isi hati yang disampaikan kepada Tuhan.
Mari kita aplikasikan renungan ini dengan pokok berikut.
- Pernah melihat anggota keluarga Anda yang berdoa sendiri dengan khusuk? Bagaimana sebaiknya sikap kita kalau dia berdoa sendiri dengan khusuk?
- Bisakah Anda berdoa khusuk dalam ibadah seperti ibadah Minggu di gereja, ibadah Pemberkatan nikah, atau hanya berdoa seadanya saja?
- Apa yang perlu kita persiapkan agar bisa berdoa secara khusus dan khusuk?
Mari berdoa:
Bapa kami yang di Sorga pendengar segala doa, suka-duka, bersyukur dan memohon yang menjadi isi hati yang kami curahkan dalam doa dan Tuhan mendengar. Beban hidup dan keluhan, keberhasilan dan kegagalan usaha kami, sukacita dan dukacita selalu kami curahkan dalam doa kami dan Tuhan mendengar. Ada saatnya kami berdoa bersama, ada saat kami berdoa sendiri, demikianlah kami berdoa yang kami imani dan Tuhan mendengar doa kami. Roh Kudus menolong dan membimbing agar hidup kami adalah hidup yang berdoa, sebagai bukti, kami hidup hanya dari Tuhan dan oleh Tuhan dan untuk Tuhan. Dalam Kristus kami berdoa, Amin. [AS24012022]
