JALAN UNTUK TUHAN
Views: 0
Bahan: Yesaya 40:1-5, (ay 3-4)
Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk Tuhan, luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita! Setiap lembah harus ditutup, dan setiap gunung dan bukit diratakan; tanah yang berbukit-bukit harus menjadi tanah yang rata, dan tanah yang berlekuk-lekuk menjadi dataran;
Pertengahan Bulan November kemarin negara kita mejadi penyelenggaran pertemuan pemimpin pemerintahan negara anggota G20, dan undangan lainnya, di Bali. Dari tayangan persiapan perintah kita begitu baik dipersiapkan, mulai dari penyambutan kepala pemerintahan negara peserta dan tamu-tamu. Para akhli dekorasi telah bekerja keras, menunjukkan kebesaran bangsa kita sebagai penyelenggara.
Tidak kalah pentingnya Kepala Pemerintahan Kerajaan Sorga hendak datang dengan karya dan pelayanan-Nya agar missi yang dibawanya mendapat tempat di hati manusia. Itulah bahan renungan kita dari nubuat nabi Yesaya memberitakan bagaimana besarnya penyambutan itu. Berita penyambutan itu sekaligus menjadi penghiburan bagi umat yang meringkuk dalam penderitaan di tanah pembuangan, berita itu untuk menumbuhkan semangat dan pengharapan bahwa mereka tidak ditinggalkan Allah, tetapi akan dikunjungi, dan Allah akan menyelamatkan bukan saja dari pembuangan, tetapi dari hukuman, bahkan dari maut untuk seluruh umat manusia. Padang gurun dan hutan belantara yang tidak ramah, daerah yang sulit dilalui atau bukan jalan umum, justru akan menjadi jalan protocol yang akan dilalui oleh Sang Pembesar yaitu Raja segala raja. Lembah, gunung dan bukit menjadi penghalang sehingga tidak mungkin menjadi jalan raya, tetapi akan dipersiapkan ditata, dirombak, agar menjadi jalan protocol dan Raja itu dengan megah-Nya akan berjalan dengan segala kebesaran-Nya. Itulah berita Adven ke III yang kita dengar dari firman Tuhan ini.
Dengan terus terang Yohanes mengatakan apa yang dinubuatkan oleh nabi Yesaya ini telah digenapinya. Yohanes Pembaptis yang tampil dengan nyentrik, membangun jalan itu dengan seruan: “Bertobatlah,” Seruan pertobatan itu mengejutkan orang Farisi dan Saduki yang sebelumnya merasa diri sebagai pengajar Taurat bagi bangsa Israel (Mat 3:7, dst), mereka merasa terjamin karena disebut keturunan (anak) Abraham, umat pilihan Allah. Tetapi Yohanes Pembaptis menyebut mereka “keturunan ular biludak” ular yang berbisa, mematikan, mereka harus menghasilkan buah-buah pertobatan. Kalau tidak maka Sang Raja yang akan berkarya itu telah mengayunkan kampak untuk menebang setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik. Dengan pertobatan, maka kecongkakan, ketinggian hati seperti orang Farisi, diratakan menjadi hati hamba yang rela melayani. Demikian juga hati orang banyak yang merasa tidak dapat berbuat apa-apa untuk kemuliaan Tuhan, akan ditimbun dengan semangat pelayanan sebagai hamba Tuhan untuk sesama. Masa Adven mengingatkan kesiapan kita menyambut Kristus datang Kembali, persiapan ini kita nyatakan juga dalam merayakan Natal, saat kehadiran Sang Raja itu ke dunia memulai karya-Nya menyelamatkan orang berdosa.
Mari kita aplikasikan renungan ini dengan pokok-pokok berikut:
- Sudahkah Anda meratakan gunung kecongkakan hati dan menimbun lembah dosa, sehingga menjadi jalan Raya untuk Sang Raja kekal itu?
- Penerima berita nabi Yesaya adalah umat yang meringkuk dalam pembuangan yang dihibur, apakah ada gambaran seperti suasana itu pada Anda.
- Sejauh mana persiapan Anda menyambut kedatangan Kristus kembali.
Mari berdoa:
Bapa kami yang di sorga, hati kami tidak luput bagaikan padang gurun yang tandus untuk kehidupan yang sejati, demikian juga tidak luput bagaikan hutan belantara yang tidak mungkin dijalani oleh kasih dan keadilan yang rela berkorban. Namun keadaan itu harus kami robah dengan pertobatan menjadi kerelaan kami berkorban dengan merendahkan hati dalam kasih, pengorbanan dan kebenaran untuk Tuhan dan sesama. Kami siap menyambut kedatangan Kristus Kembali, seperti kami siap merayakan Natal, Roh Kudus menolong kami. Inilah doa kami dalam nama Yesus Juruselamat. Amin. [AS121222]
