BUANG PIKIRAN KOTOR
Views: 0
Bahan: Amos 8:5-6,
dan berpikir: “Bilakah bulan baru berlalu, supaya kita boleh menjual gandum dan bilakah hari Sabat berlalu, supaya kitab oleh menawarkan terigu dengan mengecilkan efa dan membesarkan syikal, berbuat curang dengan neraca palsu, supaya kita membeli orang lemah karena uang dan orang yang miskin karena sepasang kasut; dan menjulu terigu rosokan?”
Tema: BUANG PIKIRAN KOTOR
Terdengar berita, Polisi menggrebek pabrik yang cukup besar yang memproduksi “saos sambal tomat.” Ternyata pabrik ini memproduksi saos dan sambal tomat, bukan dari bahan tomat dan cabe, tetapi berbahan kimia yang bukan untuk makanan. Pabrik ini sudah berproduksi beberapa tahun, saos sambal tomat kimiawi yang berbahaya untuk kesehatan. Inilah salah satu “pikiran yang kotor” dari seorang yang pintar punya modal, menipu untuk mendapatkan keuntungan, harus dibuang. Terdengar juga berita bantuan sembako kepada rakyat miskin oleh pemerintah, telah diganti dengan kualitas yang rendah tidak sesuai dengan yang direncanakan. Demikian juga berawal dari “pikiran yang kotor” oleh pelaksana kebijakan pemerintah untuk mendapat keuntungan pribadi.
Bahan renungan kita adalah “pikiran yang kotor” dalam umat Israel. Mereka patuh akan hukum Taurat, tetapi merasa terhalang oleh Taurat karena tidak boleh menjual sesuatu pada hari Sabat. Hari Sabat dan hari bulan baru, merupakan hari syukur atas kasih karunia dan berkat Tuhan, hari untuk beribadah kepada Tuhan. Rakyat memang butuh gandum, terigu dan bahan makanan lainnya, tetapi sumber kahidupan dan yang memelihara kehidupan ialan Bapa yang di sorga. Demikian juga telah diatur kehidupan kita ada hari-hari untuk bekerja, belajar, berusaha, tetapi ada hari untuk beribadah, memuji, bersyukur memuliakan Tuhan. Dengan siklus kehidupan seperti ini menjadi harmonis lahir dan batin kita. Demikian juga kita memandang sesama; pedagang tidak melihat pembeli untuk ditipu demi keuntungan, tetapi jasa pedang adalah saluran berkat yang dibutuhkan pembeli. Dalam pelaksanaan perdagangan ada uang, ada timbangan, ada sukatan (ukuran volume) yang semua itu buatan tangan manusia. Tetapi bagi orang yang memiliki “pikiran yang kotor,” semua itu diselewengkan atau dipalsukan. Ada peredaran uang palsu, ada SPBU yang menjual BBM tetapi volumenya dipalsukan, ada timbangan/neraca yang palsu, orang berpikiran kotor dengan melihat si pembeli sebagai obyek untuk mendapat keuntungan pribadi dengan menipu. Demikian juga dalam proyek pembangunan sarana tidak melihat proyek yang mereka laksanakan sebagai keikutsertaannya dalam pembangunan kemajuan dan kesejahteraan negara, karena pikiran yang kotor, maka proyek yang dilaksanakannya mangkrak, atau memanipulasi kualitas untuk keuntungan yang haram. Kita jadikan firman Tuhan bahan renungan ini sebagai koreksi, apakah ada pikiran yang kotor melekat pada kita, apakah kita mampu melihat dengan jernih panggilan Tuhan dalam aktivitas pekerjaan atau usaha untuk kebaikan bersama? Mari, buanglah pikiran yang kotor itu.
Mari kita aplikasikan renungan ini dengan pokok berikut:
- Menurut Anda hal-hal apa yang membuat orang berpikir kotor seperti dalam renungan ini?
- Adakah contoh orang berpikiran kotor menimbukan kejahatan?
- Apa yang harus kita miliki untuk menangkan dan membuang pikiran kotor itu?
Mari berdoa:
Bapa kami dalam sorga, masih ada orang berpikiran kotor sehingga menyalahgunakan kesempatan sebagai alat penipuan. Ajar kami ya Bapa, untuk menjadikan segala kesempatan formal atau non-formal menjadi sarana menolong orang lain, sarana berbakti kepada negara dan masyarakat. Tambahkan kesempatan itu bagi kami sesuai ketrampilan dan pendidikan kami. Kami panjatkan doa ini dalam nama Tuhan Yesus, Amin. [AS300123]
