LONTONG CAP GO MEH
Views: 1
Bacaan: Mazmur 146:5
”Berbahagialah orang yang mempunyai Allah Yakub sebagai penolong, yang harapannya pada TUHAN, Allahnya”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Bagi Saudara-saudara kita yang merayakannya, maka tanggal 5 Februari yang lalu diperingati sebagai ‘cap go meh’, atau peringatan hari / malam ke lima belas setelah imlek. Secara harfiah, Cap berati Sepuluh, Go berarti Lima, dan Meh berarti Malam. Cap Go Meh adalah malam purnama pertama pada tahun baru Imlek. Secara umum, Cap Go Meh dikenal sebagai saat puncak sekaligus penutupan tahun baru, atau penutup dari rangkaian tahun baru Imlek. Mengutip laman CNNIndonesia.com, Cap Go Meh adalah perayaan menyambut musim semi dengan rasa syukur dan terimakasih kepada Sang Pencipta atas hasil panen yang baik sekaligus harapan agar pada panen berikutnya hasilnya juga baik.
Ada satu menu yang dihadirkan saat merayakan Cap Go Meh ini, yaitu lontong Cap Go Meh. Lontong Cap Go Meh adalah hasil adaptasi masakan peranakan Tionghoa-Indonesia terhadap masakan Indonesia, khususnya masakan Jawa. Hidangan ini terdiri dari lontong yang disajikan dengan opor ayam, sayur lodeh, sambal goreng hati, acar, telur pindang, abon sapi, bubuk koya, sambal, dan kerupuk.
Dari berbagai literatur yang saya baca, saya menyimpulkan bahwa lontong cap go meh berisi perlambang keberuntungan, contohnya lontong yang padat dianggap berlawanan dengan bubur yang encer. Mengapa? Karena biasanya bubur dianggap sebagai konsumsi orang tidak mampu atau orang sakit. Sedangkan lontong bermakna sebaliknya yaitu kesehatan dan kesejahteraan. Bentuk lontong yang panjang juga merupakan perlambang umur panjang. Demikian pula dengan telur dan kuah santan yang dibubuhi kunyit berwarna kuning keemasan melambangkan emas dan keberuntungan. Menyantap lontong cap go meh merupakan sebuah wujud permohonan kepada Sang Pencipta agar terwujud harapan-harapan yang baik. Dan tentunya ini selaras dengan makna perayaan cap go meh itu sendiri, yaitu harapan akan terciptanya atau terjadinya kebaikan-kebaikan di masa mendatang.
Rasanya memang tidak ada manusia yang berharap bahwa hal yang buruk akan terjadi pada diri dan keluarganya. Persoalannya adalah kadangkala kita merasa bahwa dengan kekuatan dan kehebatan diri, maka kita akan mampu untuk memenuhi apa yang menjadi pengharapan. Kita seringkali lupa bahwa hakikat hidup adalah buah karya ciptaan Allah Yang Mahakuasa. Maka, hanya kepada Allah sajalah kita seharusnya berharap dan bersandar. Manusia hanya punya ‘bisa’ tetapi Tuhanlah yang punya kuasa. Oleh karena itu, jangan sampai kita keliru meletakkan pengharapan kita. Pemazmur mengingatkan, ”Berbahagialah orang yang mempunyai Allah Yakub sebagai penolong, yang harapannya pada TUHAN, Allahnya”. Kita akan menjadi orang-orang yang berbahagia bila meletakkan pengharapan kepada Tuhan. Oleh karena itu, janganlah menggantungkan harapan pada apa yang fana, karena kuasa kasih Allah jauh lebih nyata, dan akan tetap ada untuk selamanya.
Seporsi lontong cap go meh kiranya menjadi pengingat bagi kita agar tidak mengandalkan diri sendiri, melainkan selalu berharap kepada Tuhan – Sang Pencipta. Selamat berjuang, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Ya Tuhan, kami tidak tahu apa yang akan terjadi di waktu-waktu mendatang, oleh karena itu kami rindu untuk selalu belajar berharap dan berserah kepada-Mu. Kiranya Roh Kudus menolong kami untuk dapat mewujudkannya. Terimakasih Tuhan Yesus. Amin.
