LEPAS KENDALI
Views: 0
Bahan: I Samuel 18:10-12,
Keesokan harinya roh jahat yang dari pada Allah itu berkuasa atas Saul, sehingga ia kerasukan di tengah-tengah rumah, sedang Daud main kecapi seperti sehari-hari. Adapun Saul ada tombak di tangannya. Saul melemparkan tombak itu, karena pikirnya: “Baiklah aku menancapkan Daud ke dinding.” Tetapi Daud mengelakkannya sampai dua kali. Saul menjadi takut kepada Daud, karena Tuhan menyertai Daud …
Sebuah bus berjalan kencang menurun yang sarat penumpang, akhirnya terjun ke jurang, ternyata sopir bus lepas kendali karena rem bus itu blong. Terdengar berita seorang polisi mendengar isu istrinya berselingkuh dengan salah seorang sesama anggota, langsung menembak mati teman yang tersangka itu, padahal bukan orang yang tertembak itu yang tersangka. Dengan kejadian seperti itu kita bisa katakakan saat LEPAS KENDALI, tetapi telah terlanjur terjadi membawa korban, yang tinggal disesali.
Bahan renungan kita raja Saul, lepas kendali, mendengar nyanyian pujian yang disampaikan oleh perempuan-perempuan di kota kerajaan yang menyambut pasukan yang dibawa oleh Saul, yang telah mengalahkan orang Filistin musuh mereka, dengan syair: “Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa,” yang memang itu adalah kenyataa. Tetapi Saul menanggapi nyanyian itu suatu pelecehan bagi dirinya dan pujian kepada Daud. Lebih jauh lagi Saul berpikir tahta kerajaan Israel akan jatuh kepada Daud. Pada hal Saul telah mempersiapkan putranya Yonatan untuk menggantikan dia. Nyanyian perempuan-perempuan tadi terus terngiang ditelinganya, sehingga dia mencari upaya untuk menyingkirkan Daud, sebagai saingan dan penghambat besar bagi Yonatan untuk naik takhta.
Suatu kesempatan baik, waktu Daud memetik kecapi menghibur hati Saul yang sering kerasukan roh jahat. Kecapi di tangan Daud dan tombak di tangan Saul, saat itu dia lepas kendali melihat saat yang baik untuk membinasakan Daud, Saul melemparkan tombak itu ke tubuh Daud yang jarak mereka tidak lebih dari 8 meter, dua tombak dilemparkan, dua kali juga Daud mengelak dan selamat. Dengan hilang kendali, Saul melemparkan tombak tetapi gagal, maka kejadian itu menyadarikan dia, pikirannya terkendali lagi, maka dia takut melihat Daud, karena Allah menyelamatkan dan menyertai dia. Daud juga sadar, dia segera meninggalkan istana untuk mnyelamatkan diri.
Saul berpikir bagaimana agar putranya Yonatan menggantikan dia menjadi raja Israel, pikiran yang sangat wajar. Pemimpin atau pejabat di negeri ini tidak jarang juga menghendaki agar anaknya bisa menjadi pemimpin di negeri ini, menjadi bupati, gubernur, walikota, bahkan menjadi presiden. Kita sangat berharap agar mereka-mereka bertindak tidak hilang kendali, karena untuk itu semua ada aturannya. Kita berharap Tuhan menempatkan orang-orang yang mampu menjadi pemimpin di negeri ini sesuai dengan aturan dan mekainsme yang benar.
Mari kita aplikasikan renungan ini dengan pokok berikut:
- Pernahkah Anda bertindak “lepas kendali,” perkara kecil atau besar yang kemudian menyesal?
- Sejauh mana kerelaan Anda memaafkan orang yang terlanjur berbuat salah (baik kerugian besar atau kecil) kepada Anda?
- Daud tetap mengasihi, menghormati Saul, walau Saul membenci dia. Mengapa?
Mari berdoa:
Bapa kami dalam sorga, dalam keterbatasan kami tidak jarang tindakan kami lepas kendali sehingga merugikan diri sendiri dan orang lain. Karuniakan hikmat penguasaan diri sehingga pikiran, perkataan dan perbuatan kami, sungguh terkontrol sesuai firman Tuhan. Inilah doa kami dalam nama Tuhan Yesus. Amin. [AS130223]
