DI BAWAH POHON JAMBU
Views: 0
Bacaan: 1 Samuel 17: 37
Pula kata Daud: “TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu”. Kata Saul kepada Daud: “Pergilah! TUHAN menyertai engkau”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Dahulu waktu kecil, saya dan teman-teman sebaya sering bermain di bawah sebuah pohon jambu air di halaman tetangga. Suatu kali, kami bermain di bawah pohon jambu di saat pohon itu berbunga. Karena asik bermain, kami tidak menyadari bahwa banyak benang sari bunga jambu itu yang jatuh di kepala kami. Tiba-tiba, seorang teman berkata, “mbah, ayo pada mulih, wis mulai sore” (artinya: mbah, ayo pulang, hari sudah mulai sore). Kami saling berpandangan karena tidak memahami maksud perkataannya. Kemudian seorang teman yang lain bertanya, “mbah, mbah…. Mbah sapa sing tok maksud?” (artinya: mbah, mbah…. Mbah siapa yang kamu maksudkan?). Teman yang pertama bicara tadi menunjuk kepala kami sambil berkata, “lha kuwi, rambute dadi putih kabeh” – (artinya: lha itu, rambutnya jadi putih semua). Kami pun baru menyadari bahwa rambut kami kelihatan putih seperti simbah-simbah – seperti seorang lanjut usia.
Saya sering tersenyum sendiri mengingat pengalaman tadi. Sekarang, rambut saya sudah berangsur menipis dan memutih. Putihnya rambut saya ini tentu bukan karena berada di bawah pohon jambu, melainkan karena faktor “U” – umur. Kadang saya bertanya di dalam hati demikian, “bila rambut sudah memutih alias semakin bertambah umur, apakah otomatis kedewasaan juga mengikutinya?” Ada orang yang berpendapat bahwa kedewasaan adalah hasil alami dari pertambahan usia. Akan tetapi banyak fakta membuktikan bahwa ada orang yang usianya sudah banyak namun seringkali masih berlaku kekanak-kanakan. Itu berarti bahwa kedewasaan tidak selalu bertumbuh seiring dengan bertambahnya usia. Orang dewasa adalah mereka yang mau belajar dari kegagalan, dapat dipercaya, dan memiliki emosi yang kuat sekaligus mental yang stabil dalam menghadapi kesulitan hidup.
Chili Davis, seorang pelatih bisbol Amerika Serikat, pernah mengatakan, “Growing old is mandatory; growing up is optional” (artinya: Bertambah umur adalah suatu kepastian, namun menjadi dewasa adalah pilihan). Di dalam Alkitab, kita dapat menjumpai Daud – salah seorang tokoh yang memilih bersikap dewasa saat menghadapi persoalan. Pada saat Daud maju berperang melawan Goliat, usianya masih sangat muda. Ia menyadari bahwa Goliat adalah masalah besar yang harus segera dibereskan. Sebab telah 40 hari lamanya Goliat melemahkan mental barisan tentara Allah dan menantang Allah. Oleh sebab itulah, Daud memutuskan pergi melawan Goliat. Sikap Daud ini jelas sangat berbeda dengan sikap Saul dan barisan tentara Israel yang memilih mendiamkan saja, padahal mereka setiap hari dihina. Alkitab menyaksikan, Pula kata Daud: “TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu”. Kata Saul kepada Daud: “Pergilah! TUHAN menyertai engkau”. Sikap Daud inilah yang menunjukkan bahwa Ia sudah dewasa, meskipun berusia muda. Pengalaman hidup selama menggembalakan domba membuat Daud belajar dari kegagalan, memperoleh keberanian, beriman kepada Tuhan, dan mau menghadapi tantangan hidup. Kedewasaan membuat Daud memilih bertindak, bukan hanya diam.
Waktu yang terus berjalan membawa kita semua ke dalam pertambahan usia. Kiranya perubahan warna rambut bukan hanya sebagai hiasan sementara seperti benang sari bunga jambu di atas kepala, melainkan kesadaran sepenuhnya untuk benar-benar menjadi dewasa. Ingat kita sedang tidak bermain di bawah pohon jambu, tetapi sedang memasuki dan menjalani hidup sehingga dibutuhkan sikap yang dewasa. Selamat berjuang, Saudaraku, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga
Doa:
Ya Tuhan, kami ingin belajar seperti Daud yang memilih untuk menjadi dewasa, sehingga berani mengambil tindakan yang tepat manakala menghadapi berbagai pergumulan hidup. Kiranya Roh Kudus menolong kami untuk mewujudkannya. Terimakasih Tuhan Yesus, Amin.
