BERONTAK MELAWAN MUSA
Views: 0
Bahan: Bilangan 16:1, 3 (1), Korah bin Yizhar bin Kehat bin Lewi, beserta Datan dan Abiram, anak-anak Eliab dan On bin Pelet, ketiganya orang Ruben mengajak orang-orang. (3), Maka mereka berkumpul mengerumuni Musa dan Harun, serta berkata kepada keduanya: “Sekarang cukuplah itu! Segenap umat itu adalah orang-orang kudus dan Tuhan ada di tengah-tengah mereka. Mengapa kamu meninggi-ninggikan diri di atas jemaah Tuhan?”
Saudara-saudari yang dikasihi Kristus, memberontak melawan kejahatan atau kesalahan sangat baik dan positif, memberontak tidak sekedar kritikan, tetapi suatu gerakan yang keras, agar kesalahan dan kejahatan itu disingkirkan. Tetapi tidak jarang juga pemberontakan dilancarkan terhadap kebenaran, untuk mencaplok kedudukan, kekuasaan yang syah. Pemberontakan seperti ini dapat terjadi dalam kebersamaan, melawan kejahatan atau juga melawan kebenaran dari pimpinan yang telah mendapat kuasa dan jabatan.
Bahan renungan kita ini suatu pemberontakan yang diprakarsai oleh beberapa orang untuk menyingkirkan Musa hamba Tuhan sebagai pemimpin umat Israel, mereka adalah Korah, Datan dan Abiram. Rupanya gerakan pemberontakan ini sudah matang direncanakan. Mereka ini telah mengadakan rapat dan telah menghimpun massa dua ratus lima puluh orang, mereka orang-orang kenamaan, para pemimpin umat itu. Umat itu sudah begitu jauh dalam perjalanan keluar dari Mesir menuju tanah perjanjian yang ditetapkan Tuhan dengan pimpinan Musa. Pembebasan Israel dari Mesir dan perjalanan menuju tanah perjanjian, merupakan pembentukan suatu umat yang telah direncanakan Tuhan dengan Abraham bapa leluhur umat itu. Tidak jelas apa dasar pemberontakan ini, hanya mereka merasa dirinya juga mampu memimpin umat itu, seperti Musa. Dari segi kepintaran, atau menyusun strategis peperangan, mereka merasa lebih pintar dari Musa, karena itu mereka melihat Musa hanya meninggi-ninggikan diri saja, karena itu sebaiknya Musa mengundurkan diri saja, dan kepemimpinan akan diambil alih oleh mereka yaitu: Korah, Datan dan Abiram dan mereka telah didukung oleh dua ratus lima puluh pengikutnya. Ketiga orang ini memang sudah dikenal di tengah umat itu, mereka imam-imam anak Lewi.
Secara mental keadaan umat Israel di padang gurun sangat labil, keluhan demi keluhan telah terdengar dari umat itu. Perjalanan yang berputar-putar seolah-olah tanpa tujuan. Tetapi Tuhan menuntun mereka sekaligus sebagai guru yang mengajar muridnya, bagaikan bapa mengajar anak-anaknya untuk belajar, percaya, setia, agar bertumbuh dalam iman mengandalkan Tuhan yang sekali-kali tidak akan meninggalkan umat-Nya itu. Karena itu Musa selalu bertanya dan meminta hikmat dan tuntunan tangan Tuhan. Sikap Musa ini disepelekan oleh mereka yang memberontak ini, menganggap hal itu sesuatu yang otomatis akan terjadi. Itulah yang mereka katakan: Segenap umat itu adalah orang-orang kudus dan Tuhan ada di tengah-tengah mereka. Mengapa kamu meninggi-ninggikan diri di atas jemaah Tuhan? Pemberontak ini lupa bahwa Musa ditetapkan oleh Tuhan melalui suatu pergumulan dalam perdebatan yang keras, yang awalnya Musa menolak, tetapi akhirnya Musa pasrah pada panggilan Tuhan ini. Menghadapi perlawanan ini Musa, tenang, sabar dan meminta mikmat dari Tuhan. Ternyata Tuhan membinasakan pemberontakan ini dan Musa tetap memimpin umat itu.
Kita aplikasikan renungan ini dengan pokok berikut:
- Korah, Datan dan Abiram menyebut Musa meninggikan diri, menurut Anda sejauh mana kebenarannya.
- Pernahkah Anda melihat pemberontakan melawan kejahatan atau kesesatan?
- Menurut Anda bagaimana sebaiknya Musa menangani pemberontakan ini?
Mari berdoa:
Bapa Sorgawi yang empunya segala kuasa, Bapa mengatur perjalanan hidup kami. Karuniakan hikmat bagi kami agar kami merasakan tuntunan tangan Tuhan, supaya kami tidak memberontak mencari kuasa-kuasa lain memimpin hidup kami, juga tidak mengandalkan diri sendiri. Kami berdoa untuk bangsa kami, karuniakan hikmat dalam pimpinan Roh Tuhan, agar kami terhindar dari kesesatan. Dalam Kristus kami berdoa. Amin. [AS021023]
