admin
Posts by :
RENDAH HATI
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Kisah Para Rasul 20: 18-24
Salam sejahtera semoga kita makin rendah hati dalam melayani Tuhan, walau dalam pelayanan banyak pencobaan yang membuat kita mencucurkan air mata seperti ungkapan dalam Kisah Para Rasul 20:19 dengan segala rendah hati aku melayani Tuhan. Dalam pelayanan itu aku banyak mencucurkan air mata dan banyak mengalami pencobaan dari pihak orang Yahudi yang mau membunuh aku.
Kerendahan hati adalah melihat diri seada kita. Kerendahan hati adalah kekuatan batin untuk melihat diri sesuai dengan kenyataannya. Orang yang rendah hati tidak hanya melihat kelemahannya melainkan juga kekuatannya. Ia sadar bahwa kekuatannya dan juga kebaikannya terbatas. Tetapi ia telah menerima diri. Ia tidak gugup atau sedih karena ia bukan seorang manusia super. Maka ia adalah orang yang tahu diri dalam arti yang sebenarnya. Justru karena itu ia kuat. Ia tidak perlu takut bahwa kelemahannya “ketahuan”. Ia sendiri sudah mengetahuinya dan tidak menyembunyikannya (Franz Magnis-Suseno, Etika Dasar, Masalah Masalah Pokok Filsafat Moral, Kanisius, 1987).
Orang yang rendah hati sering menunjukkan daya tahan yang paling besar apabila betul-betul harus diberikan perlawanan. Orang yang rendah hati tidak merasa diri penting dan karena itu berani untuk mempertaruhkan diri apabila ia sudah meyakini sikapnya sebagai tanggung jawabnya.
Bagi Paulus, kerendahan hati adalah sikap hidup yang menggantungkan segala sesuatu kepada Allah yang mengutusnya. Ia tidak memuji diri sendiri, sebaliknya memuji cinta kasih dan kesetiaan Allah yang telah dinyatakan dalam hidupnya dan kehidupan jemaat. Dalam menjalankan panggilan Tuhan, Paulus mengalami kasih Yesus dan juga mengalami kesusahan, penderitaan. Penderitaan pahit dialami karena perlawanan dari orang Yahudi dan pemimpin Yahudi. Dalam kerendahan hati, bergantung pada Allah maka penderitaan tidak menjadi hambatan untuk terus melayani Allah dan sesama, demi karya keselamatan. Rendah hati, hanya bergantung pada Allah, tidak bergantung pada manusia, maka hal itu yang membuat orang taat melayani Allah.
Melayani dengan rendah hati adalah untuk meninggikan kehormatan Allah dan kepentingan Kristus serta Kerajaan Allah. Paulus tidak pernah melayani diri sendiri, dan tidak menjadikan dirinya pelayan manusia berdasarkan nafsu dan pikiran manusia. Paulus senantiasa bergiat untuk melayani Tuhan. Dalam pelayanan, keseluruhan perilakunya, dia membuktikan diri sebagai hamba Kristus Yesus, dengan rendah hati mengabdi pada Yesus, sederhana, menyangkal diri. Meskipun dia diberi kehormatan tinggi oleh Allah dan telah melakukan banyak kebaikan, tidak pernah memegahkan diri atau menjaga jarak dengan orang yang lebih lemah, lebih rendah, lebih berkekurangan. Merendahkan hati dalam melayani adalah dengan kerelaan, bukan terpaksa.
Rendah hati, bergantung pada Allah berarti mau dikuasai dan dituntun Roh Kudus untuk pergi diutus ke mana saja. Paulus hanya mengikuti bimbingan Roh Kudus. Rendah hati adalah orang mau dipimpin Roh, bukan dipimpin oleh diri sendiri tentang apa yang dikerjakan dan ke mana arah pekerjaan atau pelayanan. Walau dipimpin Roh Kudus, bukan berarti lepas dari penderitaan, kesusahan hidup seperti di penjara karena pelayanan dan pekerjaan yang benar dan baik. Paulus menderita di penjara bukan karena kejahatan yang dilakukannya, tapi karena kebencian pemimpin Yahudi pada ajaran Yesus yang disaksikan oleh Paulus dan banyak orang yang percaya serta mau mengikut Yesus. Mereka hendak membunuh Paulus.
Orang yang rendah hati dan bergantung pada Allah, maka dalam penderitaan dan kesusahan, yakin akan mendapat penghiburan dan kekuatan seperti ungkapan dalam KJ 332 ayat 1. Kekuatan serta penghiburan diberikan Tuhan padaku. Tiap hari aku dibimbingNya; tiap jam dihibur hatiku. Dan sesuai dengan hikmat Tuhan ‘ku dib’rikan apa yang perlu. Suka dan derita bergantian memperkuat imanku. Orang yang rendah hati, bergantung pada Tuhan maka berbagai pencobaan, penderitaan, kesusahan hidup, tidak membuat orang melalaikan tugas pekerjaan, pelayanan yang berguna bagi anggota jemaat dan simpatisan atau bagi masyarakat. Paulus sudah memberi teladan agar tidak melalaikan tugas, pekerjaan atau pelayanan yang berguna bagi umat (Kisah Para Rasul 20:20). Walau menderita, susah, orang yang rendah hati dan bergantung pada Tuhan, akan mengimani bahwa ujian pencobaan, kesusahan penderitaan terhadap iman akan menghasilkan ketekunan (Yakobus 1: 2-3) Semakin tekun orang dalam bekerja, melayani maka akan memperoleh buah yang matang yaitu iman dan perbuatan yang sempurna dan utuh.
Paulus tidak menghindar dalam pelayanan atau tugas yang ada kesusahan dan penderitaan. Dalam pelayanan di gereja dan pekerjaan di rumah atau di kantor, kalau ada kesusahan dan penderitaan orang akan menghindar dan mundur, bersikap pasif. Ketika diajak menjadi guru sekolah minggu, akan ada yang menolak, karena mengajarkan firman Tuhan kepada anak-anak menyusahkan, butuh waktu untuk persiapan, ada saja omongan dari orangtua dan konflik dalam pelayanan. Ketika diajak menjadi pengurus badan pelayanan, menjadi penatua, menjadi panitia, menjadi petugas di dalam ibadah, ada orang yang menghindar karena menyusahkan, membuat menderita. Orang yang rendah hati, bergantung pada Tuhan, tidak bergantung pada manusia, akan mau dipimpin Roh Kudus untuk melakukan pekerjaan, tugas pelayanan di gereja, di dalam keluarga, di kantor, di masyarakat, dan tidak menghindar atau melalaikan tugas pengutusan dari Tuhan.
Paulus juga sudah memberi contoh agar tidak memelihara hidup untuk diri sendiri. Hidup kita adalah milik Tuhan, maka kita serahkan nyawa, tubuh, hidup kita untuk melayani Tuhan, memuliakan Tuhan. Tugas dan pelayanan adalah anugerah, pemberian dari Tuhan Yesus, kita menerima tidak dengan terpaksa, tapi segenap hati, segenap akal budi, segenap jiwa dan kekuatan. Tugas dari Yesus adalah menjadi saksi firman keselamatan melalui pengorbanan Yesus di salib (Marturia), melayani (diakonia) dan membangun persekutuan (koinonia).
Kita semua diberi Tuhan anugerah, supaya kita tekun dan rajin bekerja. Kita melakukannya dengan rendah hati dan menuruti firman Tuhan untuk saling mengasihi seperti ungkapan dalam KJ 249 ayat 3. Dan masing-masing kamu pun dib’ri anugerah, supaya kamu bertekun dan rajin bekerja. Hendaklah hatimu rendah, tahu: Tuhan berpesan, Jemaat menurut firmanNya berkasih-kasihan. Amin
Berdoa:
Ya Tuhan mampukan kami makin rendah hati dalam melayani Tuhan, walau dalam pelayanan banyak pencobaan yang membuat kami mencucurkan air mata, dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa, amin
REBUTAN KEKUASAAN
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bahan: 1 Raja-raja 1:5-9, (5),
Lalu Adonia, anak Hagit, meninggikan diri dengan berkata: “Aku ini mau menjadi raja.” Ia melengkapi dirinya dengan kreta-kreta dan orang-orang berkuda serta lima puluh orang yang berlari di depannya. (9), Sesudah itu Adonia mempersembahkan domba, lembu dan ternak gemukan sebagai korban dekat batu Zohelet yang ada di samping En-Rogel, lalu mengundang semua saudaranya, anak-anak raja, dan semua orang Yehuda, ….
Saudara-saudari yang dikasihi Kristus, kekuasaan dan penguasa dibutuhkan untuk menata kehidupan bersama. Bukan saja kehidupan manusia modern, kehidupan binatang liar juga ada penguasa dan kekuasaannya, yang sangat jelas pada kawanan singa liar. Dalam kebersamaan manusia, kita temukan kepala suku, pemegang kekuasaan dalam batas lingkungannya. Dalam masyarakat (negara) kerajaan, raja adalah penguasa; yang menjadi raja berasal dari keluarga yaitu anak raja. Demikian turun temurun kekuasaan dan penguasa berlanjut turun-temurun. Sesuai kemajuan zaman kekuasaan dan penguasa merupakan suatu perlombaan untuk menentukan pemenang. Di negara kita perlombaan itu dikemas dengan mengadakan pemilu, untuk menentukan presiden dan pilkada untuk menentukan penguasa di daerah.
Bahan renungan hari ini adalah suatu aksi untuk merebut kekuasaan dan merebut kedudukan sebagai raja Israel. Keadaan kesehatan Daud raja Israel dalam keadaan buruk sekali, sesuai dengan usianya yang sudah lanjut, nampaknya dia tidak mampu lagi menjalankan kekuasaan kerajaan, dia hanya terbaring di tempat tidur dan disediakan perawat khusus. Dalam kesehatan yang sangat buruk itu, salah seorang anaknya bernama Adonia, menyatakan diri sebagai raja. Dia melengkapi dirinya dengan kereta-kreta bangsawan di iring orang-orang menunggang kuda dan paling depan ada lima puluh orang berlari, semua itu menunjukkan kebesaran seseorang dan demikian pantasnya bagi seorang raja. Adonia melengkapi diri dengan panglima sebagai penasihat militer dan juga imam sebagai penasihat rohani. Dengan kehadiran para panglima dan imam, dia mempersembahkan korban yang cukup besar dan mengundang rakyat dalam acara itu sebagai pertanda dia seorang raja Israel.
Dibalik Adonia mengangkat dirinya sebagai raja, raja Daud telah bersumpah demi Tuhan, yang menyatakan Salomo akan menjadi raja sesudah Daud. Sebagian pembesar kerajaan yaitu panglima yang lain dan imam dan nabi yang tidak diundang Adonia, terkejut dan saatnya mereka harus bertindak agar kekuasaan dan penguasa kerjaan Israel, diserahkan kepada Salomo sesuai sumpah Daud. Nabi Natal salah satu saksi sumpah Daud itu, mengambil inisiatif agar kebenaran ditegakkan, yaitu Salomo yang telah ditetapkan sebagai raja Israel. Terjadilah REBUTAN KEKUASAAN, antara Adonia dengan pendukungnya dan Salomo dengan pendukungnya, terutama meluruskan hierarki kekuasaan sebagai raja Israel. Menjadi rebutan, karena jangan sampai Daud meninggal Salomo belum ditetapkan menjadi raja, kalau itu terjadi maka akan ada perang saudara dengan korban nyawa. Akhirnya raja Daud menetapkan Salomo menjadi penggantinya dengan memberi perangkat kerajaan dan takhta kerajaan Israel diduduki oleh Salomo.
Kita aplikasikan renungan ini dengan pokok berikut:
- Bapak-Ibu dan Saudara adalah seorang penguasa dalam lingkup apa saja?
- Di Jemaat gereja Anda, apakah ada penguasa untuk keteraturan kegiatan?
- Penguasa Gereja Tuhan adalah Kristus, bagaimana Dia menjalankan kekuasan-Nya di jemaat Anda?
Mari berdoa:
Bapa dalam Yesus Kristus, Penguasa bumi dan surga, oleh Roh Kudus kami terima kuasa menjadi saksi dan pelayan Bapa. Semoga kami mampu mendayagunakan kuasa itu secara bersama sebagai gereja dan juga secara pribadi sebagai murid Yesus agar makin banyak hati terima Kristus Juruselamat. Demi Kristus Kepala Gereja kami berdoa. Amin. [AS250324]
Views: 0
Kebaktian Minggu Prapaskah 6 - GKI Kwitang, 24 Maret 2024
TEMA: “TAAT SETIA DENGAN TEKAD YANG BULAT”
Minggu Prapaskah 6 – Minggu Palmarum
Bacaan Pertama : Yesaya 50: 4-9 (TB 2)
Antar Bacaan : Mazmur 118: 1-2, 19-29 (TB 2)
Bacaan Kedua : Filipi 2: 5-11 (TB 2)
Bacaan Injil : Yohanes 12: 12-16 (TB 2)
SAK KAREPMU!
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 1
Bacaan: Ulangan 30:19 – TB2
“Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: Kuperhadapkan kepadamu kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya kamu hidup, baik kamu maupun keturunanmu,”
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Kata ‘sak karepmu’ di dalam bahasa Jawa berarti ‘terserah’! Biasanya kata ini akan diucapkan kepada seseorang yang tidak mau melakukan nasihat yang telah diberikan. Nah, orang yang memberikan nasihat ini akan mengatakan “sak karepmu” (terserah). Maksudnya asalah segala risiko yang akan diterima agar ditanggung sendiri. Dari kata ini sebetulnya kita belajar bahwa hidup ini sesungguhnya merupakah rangkaian pilihan. Semua hal rasanya memang harus dipilih, hanya saja kita harus berani mempertanggungjawabkan setiap pilihan yang diambil. Supaya kita tidak salah memilih, maka kita harus mempertimbangkan terlebih dahulu segala kemungkinan dan konsekuensi yang mungkin akan muncul. Dengan demikian, pilihan kita akan menjadi pilihan yang dapat dipertanggungjawabkan. Maksudnya adakah agar orang lain tidak mengatakan kepada kita “sak karepmu” terhadap apa yang dipilih..
Saat ini, kita hendak belajar dari umat Israel. Rangkaian perjalanan selama 40 tahun dalam menyusuri padang gurun, tentunya telah membuat mereka belajar banyak tentang pengalaman mengenal dan berelasi dengan Tuhan. Segala tindakan yang mereka lakukan di hadapan Tuhan, akan menentukan langkah-langkah mereka selanjutnya. Ketika umat Israel memberontak kepada Tuhan, maka Tuhan akan memberikan konsekuensi baik berupa teguran maupuan hukuman. Dan sebaliknya, ketika umat Israel bersedia mengikuti kehendak Tuhan, maka berkat pun akan mengalir atas kehidupan mereka. Di akhir perjalanan Israel 40 tahun di padang gurun, Musa kembali memberikan tantangan kepada umat. Lokasi pada waktu itu kira-kira di Sitin, yaitu sebuah wilayah di sebelah timur sungai Yordan. Dan tentunya sebelum peritiwa Israel menyeberang sungai Yordan.
Waktu itu, Musa mengingatkan tentang kasih karunia Tuhan yang telah dicurahkan kepada umat Israel. Melalui pengalaman dipimpin dan disertai oleh Tuhan itulah, Musa meminta umat agar senantiasa berjalan mengikuti kehendak Tuhan. Dan pada saat itulah, Israel diminta dengan tegas untuk memilih kehidupan dengan cara beredia berjalan bersama Tuhan dengan ketaatan dan kesetiaan. Israel diminta untuk tidak memilih kematian. Melalui mulut Musa, Tuhan meminta: “Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: Kuperhadapkan kepadamu kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya kamu hidup, baik kamu maupun keturunanmu,” Israel diminta untuk memilih kehidupan dan berkat. Mengapa? Sebab ketika Israel bersedia memilih kehidupan, maka berkat kehidupan juga akan mengalir, bukan saja pada Israel masa itu tetapi juga untuk keturunan-keturuanan Israel di masa yang akan datang.
Apabila kita diminta untuk memilih, manakah yang akan kita pilih: kehidupan ataukah kematian? Ingat bahwa setiap pilihan yang akan kita pilih memiliki konsekuensi yang harus kita pertanggungjawabkan nanti. Jangan sampai Tuhan mengatakan: “sak karepmu!” Dan ternyata kita justru salah memilih. Bukanya kehidupan yang dipilih, melainkan kematianlah yang kita pilih. Apa yang menjadi kerinduan kita adalah: senantiasa berjalan di belakang Tuhan dan mengikuti kehendakNya dengan penuh ketaatan. Itu berarti kita memilih kehidupan. Sekali lagi, mana yang akan kita pilih: kehidupan ataukah kematian? Sak karepmu!
Selamat berjuang, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Ya Tuhan, Engkau memperhadapkan kepada kami kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Dan tentunya kami rindu, ya Bapa, agar kami memilih kehidupan dan berkat. Oleh karena itu kami rindu belajar agar senantiasa berjalan di balakang-Mu dan mengikuti apa yang menjadi kehendak-Mu dengan penuh ketaatan. Kiranya Roh Kudus menolong kami untuk dapat mewujudkannya. Terimakasih Tuhan Yesus, Amin.
HIKMAT UNTUK MENGAMPUNI
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: Mazmur 51: 8 (TB2)
”Sesungguhnya, Engkau berkenan akan ketulusan hati, dan dengan diam-diam Engkau memberitahukan hikmat kepadaku”
Syalom jemaat yang terkasih didalam Tuhan.. Semoga bapak/ibu/saudara-saudari dalam keadaan baik..
Jemaat yang terkasih.. Bayangan apa yang muncul dalam pikiran kita ketika kita melihat orang yang tidak kita sukai? Adakah bayangan cahaya kedamaian yang terlintas di pikiran kita? Atau muncul emosi negatif yang mempengaruhi imun pada tubuh kita? Dalam dunia medis disebutkan emosi negatif yang dipendam dapat mengendap pada salah satu bagian tubuh kita, dimana bagian tubuh tersebut akan terasa sakit.
Inilah yang disebut sebagai psiko neuro imunologi, dimana pikiran psikologis akan mempengaruhi gelombang-gelombang di otak, yang kemudian akan mempengaruhi secara hormonal, dan hormonal ini akan berdampak langsung kepada organ-organ tertentu dalam tubuh yang menyebabkan penyakit. Penyakit itu disebut dengan psikosomatik. (sumber: jurnal.fk.unanda).
Bacaan Firman Tuhan hari ini berkisah tentang sisi kelam Daud yang melakukan kesalahan atas perbuatannya dengan Betsyeba dan kesalahannya yang telah membunuh Uria. Dengan berani Daud mengakui dosanya di hadapan Tuhan. Melalui doanya, dia merendahkan diri, supaya Tuhan mengampuni, mentahirkannya serta memperbaharui batinnya dengan Roh yang teguh. Dengan kesadaran Daud dan rasa bersalah yang ada, apakah Tuhan akan membiarkannya? Tentu tidak. Iman yang dimiliki Daud, membuatnya yakin bahwa Tuhan penuh kasih dan pengampunan. Dia tidak menolak orang yang mau kembali kepada-Nya dan Daud yakin bahwa Tuhan akan memberikan hikmat dan pengampunan padanya.
Daud mempunyai keberanian untuk mengungkapkan kesalahan yang dilakukannya dan Tuhan memberikan pengampunan kepadanya. Demikian Tuhan menerima semua umat yang mau datang kepada-Nya untuk mengakui setiap dosa dan kesalahannya. Lalu bagaimana dengan kita? Apakah kita juga bisa menerima setiap orang yang bersalah pada kita? Atau kita malah menjauhi, mengucilkan, dan menghina orang yang ada di sekitar kita yang telah bersalah dan berdosa?
Respons kita terhadap orang yang bersalah kepada kita dengan menjauhi mereka, itu akan membuat tubuh kita dipenuhi dengan emosi negatif yang akhirnya akan mengurung diri kita dan membuat keadaan diri kita menjadi semakin tidak baik. Maka dari itu, mari kita bersama dengan teladan cinta dan ketulusan yang diberikan Tuhan, kita lakukan pengampunan terhadap diri kita sendiri dan sesama agar kehidupan kita penuh dengan kedamaian. Selamat menghayati minggu-minggu prapaskah. Tuhan memberkati🙏
TUHAN YESUS, KASIHMU TIADA DUANYA
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, Syalom Alekhem! Hari ini kita merenungkan Firman Tuhan yang berjudul: ”Tuhan Yesus, KasihMu Tiada Duanya” dengan dasar dari 2 Korintus 5:17 (TB2 ) “ *Jadi, siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: Yang lama sudah berlalu , sesungguhnya yang baru sudah datang .”
Demikianlah Firman Tuhan. Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan Firman Tuhan dan yang melakukannya. Tahukah Saudara, bahwa melalui ayat ini kita diyakinkan bahwa siapapun yang berada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru. Maksudnya bukan hanya transformasi secara fisik atau sosial, tetapi adalah transformasi jiwani yang sepenuhnya yang dihasilkan oleh kasih Kristus yang tiada duanya!
Pertama-tama, marilah kita memahami bahwa kasih Kristus melampaui segala batas. Dia tidak menunggu kita menjadi sempurna sebelum menerima kita. Sebaliknya, Dia memeluk kita dalam keadaan kita yang rapuh, berdosa, dan tidak sempurna. Sesungguhnya tidak ada yang terlalu jauh dari jangkauan belas kasihanNya, karena bagiNya, setiap jiwa di antara Saudara semua berharga dan layak diterima!
Kedua, kita diperbarui menjadi ciptaan baru. Kasih Kristus tidak berhenti pada penerimaan diri kita apa adanya. Dia juga berjanji memperbarui kita. Ketika kita datang kepadaNya dengan hati yang tulus, Dia memulai proses penyembuhan dan pembaruan yang luar biasa. Yang lama, yaitu dosa dan kelemahan kita, telah berlalu. Yang baru, yaitu hidup yang didamaikan dan dipenuhi dengan kasih dan kuasaNya, telah datang!
Firman Tuhan hari ini menyatakan kebenaran itu, sehingga kita menemukan dasar untuk keyakinan kita. Tidak ada yang terlalu jauh, terlalu rusak, atau terlalu berdosa bagi kasih Kristus. Setiap orang yang mempercayaiNya, yang datang kepadaNya dengan hati tulus, akan mengalami transformasi yang luar biasa.
Kita semua memiliki kesempatan untuk menjadi ciptaan baru dalam Kristus. Oleh karena itu, jangan ragu-ragu, marilah kita hidup dalam kebenaran ini. Marilah kita terus merenungkan kasih Kristus yang tiada duanya, yang mau menerima kita apa adanya dan memperbarui hidup kita.
Seperti kesaksian pujian yang dinyanyikan oleh Karyawan dan pengasuh Panti Werda Karya Kasih. Sebuah pujian yang berjudul: “KasihMu tiada duanya”. Para karyawan dan pengasuh Panti sungguh mengagumi kasih Tuhan Yesus Kristus yang tiada duanya itu. Mereka dapat bersaksi: “Belum pernah ada kasih di dunia, sanggup menerima diriku apa adanya, selain kasihMu Yesus. Sungguh tiada lagi kasih seperti ini, sanggup mengubahkan hidupku menjadi baru, selain kasihMu Yesus”
Dengan dasar kasih Kristus inilah mereka mempraktikkan kebenaran ini dalam pelayanan kepada Oma-oma di Panti Karya Kasih.
Saudara-saudara, Firman Tuhan hari ini mengajak kita semua untuk datang kepada Tuhan Yesus dan mempercayakan hidup kepadaNya. Ia mau menerima kita apa adanya dan mau memperbarui hidup kita.
Pada minggu-minggu Prapaskah ini marilah kita menghayati kebesaran kasih Tuhan yang tiada duanya itu, sehingga kita dapat bersaksi: “Tidak ada kasih seperti kasihNya Tuhan Yesus yang sanggup mengubah hidupku menjadi baru, selain kasihMu!”
Bersediakah Saudara datang ke hadapan Tuhan untuk menerima kasih dan pengampunanNya? Bersediakah Saudara mempraktikkan kebenaran ini dalam hidup sehari-hari, mulai dari dalam keluarga, persekutuan jemaat dan masyarakat? Lakukanlah saja. Itu sudah cukup. Tuhan memberkati!
Mari kita berdoa:
Ya Tuhan Yesus, KasihMu tiada duanya. Engkau mau menerima kami manusia berdosa ini apa adanya. Kiranya Engkau mau memperbarui hidup kami sehingga hidup kami memancarkan kasih Mu di tengah keluarga, persekutuan dan masyarakat kami. Dalam Nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa. Amin. Tuhan Yesus memberkati Saudara dan keluarga!
(AM21032024)
SUARA KENABIAN UNTUK PENGUASA
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bahan: Daniel 5:25-28, Inilah tulisan yang tertulis itu: Mene, mene, tekel ufarsin. Inilah makna perkataan itu: Mene: masa pemerintahan tuanku dihitung oleh Allah dan telah diakhiri; Tekel: Tuanku ditimbang dengan neraca didapati terlalu ringan; Peres: kerajaan tuanku dipecah dan diberikan kepada orang Media dan Persia.
Saudara-saudari yang dikasihi Kristus, Tuhan sering “berbicara” menyampaikan kuasanya melalui mimpi, penglihatan, dll. Seperti Tuhan menyatakan masa depan negeri Mesir melalui mimpi Firaun, dan dijelaskan oleh Yusuf maknanya. Nebukadnezar juga bermimpi dan Daniel, seorang Yahudi sebagai orang buangan, memberi arti mimpi itu dan terjadi, dijalani oleh raja Nebukadnezar. Dari bahan renungan ini, raja Belsyazar dalam suatu perjamuan istananya, tibat-tiba ada sepotong telapak tangan yang memegang alat tulis, dan menulis sebuah kalimat: “Mene, mene, tekel ufarsin,” tulisan itu asing bagi seisi istana, diminta juga kepada para orang bijak, yaitu ahli nujum dan ahli jampi untuk membaca dan mengartikannya. Tidak ada seorang pun yang dapat mengartikannya. Peristiwa itu membuat raja gelisah ketakutan.
Permaisuri, berkata: ada seorang yang penuh dengan roh para dewa yang kudus, dia dapat membaca dan menyatakan makna tulisan itu, dialah Daniel. Dengan rela Daniel akan menyatakan maknanya, dengan tidak akan menerima hadiah yang telah dijanjikan raja. Di sinilah dibutuhkan Suara Kenabian Kepada Penguasa, walau suara atau makna tulisan itu suatu hukuman kepada raja. Makna tulisan itu bukan janji kejayaan, tetapi kehancuran dan akhir kekuasaan raja itu. Tidak ada suatu beban atau ketakutan pada Daniel untuk menyampaikan makna tulisan itu, yang isinya hukuman kepada raja, dan kerajaan Babel akan direbut oleh bangsa Media dan Persia. Demikian juga raja Belsyazar mendengar dengan tenang, bahkan sempat memerintahkan agar hadiah yang dia janjikan itu diberikan kepada Daniel. Dengan tenang raja menerima makna tulisan itu. Pada malam itu juga terbunuhlah raja, dan kerajaan Babel runtuh oleh Persia dan Media.
Sebagai orang Kristen dan kehadiran Gereja di negeri ini, menyuarakan “suara kenabian” adalah tugas kita. Bapak TB Simatupang dengan penghayatannya bahwa “Pembangunan adalah pengamalan Pancasila,” turut disebut-sebut oleh penguasa di jaman Orde Baru. Seorang teolog Jerman Dietrich Bonhoeffer, seorang pemrakarsa untuk menentang kekejaman Hitler, demikian dia menyuarakan suara kenabian bagi penguasa, akhirnya Hitler menggantung dia. Kemungkinan resiko seperti itu akan muncul. Apakah dibayangi resiko ini maka kita enggan menyuarakan suara kenabian di masyarakat kita, atau karena alasan lain? Saya rasa suara kenabian dari kita tidak harus berskala besar, tetapi dilingkungan kecil, lingkungan kerja atau kantor. Di mana kita menyuarakan kebenaran sesuai firman Tuhan, di mana kita menolak atau melawan kejahatan sesuai firman Tuhan, maka itulah suara kenabian kita.
Kita aplikasikan renungan ini dengan pokok berikut:
- Di setiap penolakan oleh sekelompok atas kehadiran bangunan gereja, di sana selalu kandas “suara kenabian” kita, apa penyebabnya?
- Apakah Anda mempunyai tips untuk kita menyampaikan “suara kebenaran”? di masyarakat kita?
- Apakah menurut Anda kita cukup berbicara tentang kasih, kebenaran, keadilan sesuai firman Tuhan, hanya untuk kalangan jemaat gereja saja?
Mari berdoa: Bapa surgawi, kami telah menerima firman Tuhan, kami berusaha agar firman Tuhan itu menjadi dasar hidup, usaha dan kerja kami. Karena itu karuniakan hikmat agar suara kenabian, suara kebenaran, kasih dan keadilan dapat kami sampaikan baik dalam lingkup kecil maupun besar sesuai dunia kehidupan kami. Dalam Kristus kami mohon, Amin. [AS180324]
Views: 0
Kebaktian Minggu Prapaskah 5 - GKI Kwitang, 17 Maret 2024
TEMA: “SEPERTI BIJI GANDUM YANG JATUH DAN MATI”
Bacaan Pertama : Yeremia 31: 31-34 (TB 2)
Antar Bacaan : Mazmur 51:2-13 (TB 2)
Bacaan Kedua : Ibrani 5:5-10 (TB 2)
Bacaan Injil : Yohanes 12:20-33 (TB 2)
