admin
Posts by :
JANGAN BERBUAT DOSA LAGI
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 1
Bacan: Yohanes 8:1-11
Salam sejahtera semoga kita makin memuliakan rahmat Tuhan yang memberikan belas kasihan, pengampunan dan kesempatan untuk hidup baru yaitu hidup dengan tidak berbuat dosa lagi seperti ungkapan dalam Yohanes 8:11 Jawabnya: “Tidak ada, Tuhan.” Lalu kata Yesus: “Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”
Yesus setuju dengan hukuman atas orang berdosa, tapi bukan sekarang, melainkan pada saat Yesus datang kembali. Dan yang menghakimi adalah Yesus. Yesus mau mengatakan bahwa orang berdosa, tidak pantas menghukum orang berdosa lainnya, hanya Tuhan yang tidak berdosa, pantas menghukum orang berdosa. Yesus tidak menghukum perempuan itu, tapi meminta agar ia tidak berbuat dosa lagi. Tujuan Yesus datang ke dunia bukan menghukum orang berdosa, tapi mendorong orang menyadari dosa atau kesalahan, menyadari betapa beratnya hukuman atas dosa. Setelah menyadari, mengakui dosa maka orang hidup dalam pertobatan, hidup baru, yaitu hidup dengan tidak berbuat dosa lagi.
Ahli Turat dan Farisi menggambarkan sikap manusia yang sering menghukum, menghakimi, melihat dan mencari kesalahan orang lain, tidak mau melihat dosa dan kesalahan diri sendiri. Mereka tidak peduli dengan orang yang berdosa, tidak mencari orang yang berdosa, tidak mendorong orang berdosa untuk menyesali dosa, tidak memulihkan tapi langsung menghukum mereka tanpa mengenal ampun, dan menyingkirkan orang berdosa. Berbeda dengan Yesus yang penuh belas kasih, memahami keadaan orang berdosa. Betapa lemahnya orang berdosa ketika menghadapi penggoda yang begitu kuat. Yesus tidak langsung menghukum, menghakimi, orang berdosa. Yesus peduli dan mencari orang berdosa yang membutuhkan dan percaya Yesus, serta memberi kesempatan untuk menyadari dosa diri sendiri dan mendorong hidup baru yaitu tidak berbuat dosa lagi.
Ahli Taurat dan Farisi memandang orang berdosa sebagai barang, bukan sebagai manusia, dan memberikan rumusan tuduhan atas dosa orang lain. Yesus memandang orang berdosa sebagai manusia ciptaan Allah, bukan sebagai barang. Ketika manusia jatuh dalam dosa, Ia selamatkan dengan kasih Tuhan. Yesus mengenal secara pribadi orang berdosa, dan mengasihi orang berdosa secara pribadi. Gereja dan anggota gereja mengikuti sifat, sikap, cara berpikir, cara merasakan dan cara bertindak Yesus dalam menghadapi orang berdosa, orang bersalah, bukan mengikuti ahli Taurat dan orang Farisi.
Prinsip yang Yesus ajarkan melalui perikop ini adalah orang yang berdosa, tidak boleh menghakimi, menghukum, orang berdosa lainnya. Janganlah kita menghakimi supaya kita tidak dihakimi (Matius 7:1). Orang yang menghakimi adalah orang yang melihat selumbar (sepercik debu) di mata orang lain, tapi tidak melihat balok di mata sendiri. Orang yang menghakimi adalah orang munafik, harusnya orang yang menghakimi mengeluarkan dulu balok di mata sendiri, barulah mengeluarkan selumbar di mata orang lain (Matius 7:3-5).
Hanya Tuhan yang berhak menghakimi, karena Tuhan tidak berdosa dan punya hikmat menghakimi. Tuhan memilih hakim-hakim, nabi-nabi, utusan Tuhan untuk menasehati, bukan untuk menghakimi.
Ahli Taurat dan Farisi kalau melihat orang berdosa langsung emosi, berbeda dengan Yesus, melihat orang berdosa, muncul rasa belas kasih, rasa ingin menolong, memulihkan orang berdosa, seperti dokter kalau melihat orang yang sakit, ingin segera menolong, menyembuhkan. Ahli Taurat dan Farisi mengambarkan sifat manusia yang tidak mau berhubungan dengan orang berdosa, benci dengan orang berdosa, tidak ada pikiran untuk menolong, memulihkan orang berdosa. Sifat ahli Taurat dan orang Farisi adalah menghukum dan merasa diri suci tapi Yesus berbelas kasih, mengampuni.
Sikap Yesus terhadap orang berdosa bukan meringankan dosa, sehingga mudah diampuni. Sikap Yesus adalah menunda penghukuman dan memberi kesempatan bertobat, hidup baru. Setelah ditunda penghukuman tetap keras hati tidak mau bertobat, barulah menerima penghukuman yang sangat berat di akhir zaman, yaitu penghukuman dengan penderitaan kekal.
Berita Injil, berita sukacita adalah berita kesempatan kedua untuk bertobat, kesempatan untuk mendapat keselamatan dari dosa, tapi waktunya sudah dekat, jangan ditunda-tunda, sebab Kerajaan Allah sudah dekat, akhir zaman sudah dekat.
Orang yang sudah diampuni Yesus, diberi tantangan, yaitu karena sudah dikasihi Tuhan, maka tidak berbuat dosa lagi artinya melakukan perintah Tuhan untuk mengasihi Tuhan dan kehendakNya, mengasihi sesama manusia. Mengapa mengasihi Tuhan? Sebab tanpa dekat dengan Tuhan, tanpa menghormati Tuhan, tanpa ditolong Tuhan, tanpa dibimbing Roh Kudus, orang tidak bisa lepas dari dosa. Baptisan Roh adalah cara Tuhan menolong orang yang sudah menyesali dosa, untuk melakukan kehendak Tuhan, untuk lepas dari dosa dengan bimbingan Roh Kudus.
Fokus perikop ini, bukan pada sifat ahli Taurat dan orang Farisi, tapi pada sikap dan perintah Tuhan Yesus yaitu orang yang tidak layak mendapat belas kasih tapi diberi belas kasih, dilayakkan, dibenarkan, agar tidak mengulang perbuatan dosa, dan melakukan kehendak Tuhan. Orang menjauhi dosa seksual yang merusak hidup masyarakat dan dosa-dosa lainnya. Menjauhi sikap menghakimi. Pembenaran yang dilakukan Yesus menimbulkan hidup baru. Pembenaran adalah Tuhan membebaskan kita dari utang dosa dan hukuman berdasarkan kebenaran Kristus karena kasih setiaNya. Itulah berita sukacita Injil. Tiap hari kita memerlukan pembebasan. Tiap hari kita bersalah. Tiap hari kita memerlukan pembenaran oleh iman. Sampai akhir hidup kita, kita adalah manusia yang hidup dari anugerah Tuhan. (J. Verkuyl, Etika Kristen Bagian Umum, BPK Gunung Mulia, 1986) Hakim di pengadilan, tujuannya bukan sekedar membuktikan kesalahan orang dan menghukum tapi mendorong orang untuk mengakui kesalahan dan bertobat. Penggembalaan di gereja bagi orang yang jatuh dalam dosa tujuannya bukan untuk menghukum tapi membawa orang pada penyesalan dosa dan bertobat.
Kita memuliakan rahmat Tuhan yang sungguh mulia, yang memberikan belas kasih, walau kita tidak layak menerimanya, seperti ungkapan dalam KJ. 39 ayat 1. ‘Ku diberi belas kasihan, walau tak layak hatiku; tadi ‘ku angkuh, kini heran: Tuhan, besarlah rahmatMu! Kidung imanku bergema: rahmatMu sungguh mulia, Kidung imanku bergema: rahmatMu sungguh mulia! amin
Berdoa:
Ya Tuhan kiranya kami makin memuliakan rahmat Tuhan yang memberikan belas kasih, pengampunan dan kesempatan untuk hidup baru yaitu hidup dengan tidak berbuat dosa lagi. Kiranya Roh Kudus membimbing kami untuk hidup baru. Dalam nama Yesus kami berdoa. amin
HUKUM ALAM
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: Kejadian 1:31-2:1,
Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh sangat baik. Lalu jadilah petang dan jadilah pagi; itulah hari keenam. Demikianlah diselesaikan langit dam bumi serta segala isinya.
Archimedes seorang insinyur matematikawan, fisikawan mengeluarkan suatu pernyataan yang berintikan: suatu benda bila dicelupkan ke dalam cairan (seperti air) pada suatu wadah, maka benda itu memindahkan air sebanyak volume benda yang tercelup dalam air itu. Dengan hukum inilah orang membuat kapal atau kapal selam yang bisa terapung dan bisa tenggelam seluruhnya dan mengapung seruluhnya. Archimedes membuat rumusan-rumusan untuk menghitung volume benda dan berat massa benda baik benda padat mau pun benda cair. Bagi teman-teman yang berminat di bidang ini tentu banyak rumusan yang dibuat oleh Archimedes untuk dipelajari.
Hukum itu sudah ada jauh sebelum Archimedes hidup, hukum itu merupakan HUKUM ALAM, yang merupakan bagian dari ciptaan Allah bersama dengan alam raya ini. Penemuan baru ini ternyata terus berkembang, hingga saat ini dari segi IT sudah sampai pada jenjang 4.0. Demikian juga dari segi “pembiakan keturunan” baik hewan mau pun manusia. Pada hewan dikenal dengan “inseminasi” yang pada manusia dikenal dengan “bayi tabung.” Riset tetap terus berkembang, tetapi firman Tuhan berbunyi: “Tak ada sesuatu yag baru di bawah matahari” (Pengkh 1:9), karena Tuhan telah meletakkan hukum alam yang merupakan rel yang harus diikuti oleh segala ciptaan Tuhan.
Dalam perjalanan hukum alam inilah manusia hidup, bertumbuh dan berkembang, manusia sebagai makhluk, diberi kemampuan beradab dan berbudaya, sedangkan kepada hewan, mereka hanya diberi kemampuan beradaptasi, atau mereka punah. Kita bersyukur diikut sertakan memasuki dan menjalani tahun baru 2024, itu hanya hitungan waktu atau zaman yang telah diletakkan oleh Allah dalam peredaran matahari, bulan, bintang. Secara bendawi matahari, bulan, bintang dan semua benda yang diciptakan sudah ada sejak diciptakan. Manusia diciptakan untuk memelihara, merawat apa yang telah diciptakan Allah itu, secara moral diberi tanggung jawab kepada manusia untuk memelihara dan merawat. Dengan kata “tanggung jawab,” bagian dari moral atau susila kehidupan manusia, termasuk terhadap HUKUM ALAM. Demikian manusia pertama Adam ditempatkan Allah di sebuah taman di Eden, dan pertama tugas dan tanggung jawab itu dia lakukan dengan memberi nama kepada makhluk yang bersama dengan dia, maka jadilah nama makhluk itu seperti yang diberikan oleh manusia itu. Nampaknya Allah senang dan berkenan dengan pekerjaan manusia Adam itu.
Kita sudah menjalani tahun 2024, tugas kita sebagai ciptaan merawat dan memelihara ciptaan Tuhan akan berjalan terus. Archimedes seorang matematikawan, Plato seorang filsuf, ilmu pengetahuan berkembang, kepemimpinan berkembang melahirkan negarawan, pemimpin bangsa dalam bentuk monarki, dan demokrasi, ada pemimpin negara otoriter, semua berada dalam hukum alam yang telah diletakan Allah sejak penciptaan. Negeri kita telah menuju pemilu untuk penggantian presiden dan wakil presiden, kita mengartikan itu sebagai tanggung jawab kita sebagai pemelihara dan merawat negeri ini. Dengan penuh tanggung jawab kita doakan, dan ikut ambil bagian dalam apa yang harus dan dapat dilakukan untuk negeri ini khususnya pemilu 2024 mendatang.
Kita aplikasikan renungan ini dengan pokok berikut:
- Sejauh mana Anda menghargai Allah Pencipta dalam diri Anda?
- Dari Sabang sampai Merauke, dipersatukan menjadi satu negeri, adakah Hukum Alam turut mempersatukannya?
- Adakah keterlibatan Anda merawat dan memelihara negeri kita ini?
Mari berdoa:
Bapa Tuhan Yesus Kristus, kami bersyukur atas ciptaan ini. Negeri kami ini juga ciptaan-Mu, beri hikmat bagi rakyat negeri ini bersyukur, memelihara dan merawat negeri ini untuk memuliakan Tuhan. Dalam Kristus kami mohon, Amin. [AS080124]
MANIFESTASI
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: Yohanes 1:14 – TB2
“Firman itu telah menjadi manusia, dan tinggal di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh anugerah dan kebenaran”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Dalam kalender liturgi, kita mengenal satu hari raya yang diselenggarakan setelah Natal, yaitu: epifani. Kata epifani ini berasal dari bahasa Yunani epiphaneia yang berarti manifestasi atau penampakan yang jelas. Epifani juga dapat disebut sebagai Teofani – dari dari bahasa Yunani Τheophaneia yang berarti penampakan Tuhan. Epifani dirayakan dan dipahami sebagai manifestasi atau penampakan Tuhan Yesus Kristus secara jelas kepada dunia. Epifani juga menjadi puncak perayaan masa Natal. Gereja barat dan gereja timur sepakat tentang makna epifani tersebut. Hanya saja keduanya mempunyai cara yang berbeda di dalam memeringati dan menghayati epifani tersebut.
Dalam Gereja Barat, epifani dirayakan untuk memperingati kedatangan Orang-orang Majus dari Timur yang mengunjungi Yesus yang baru saja lahir. Peristiwa kedatangan Para Majus ini menunjukkan manifestasi Bayi Yesus Kristus terhadap orang Yahudi maupun di luar bangsa Yahudi (berarti seluruh dunia) sebagai Anak Allah. Sedangkan dalam Gereja Timur, epifani dirayakan untuk memperingati pembaptisan Yesus Kristus oleh Yohanes Pembaptis di sungai Yordan. Peristiwa pembaptisan Yesus ini menunjukkan manifestasi Yesus Kristus yang memulai karya pelayanan-Nya sebagai Anak Allah.
Penghayatan epifani ini menunjuk kepada kebiasaan kerajaan di zaman kuno. Pada saat yang dianggap paling baik – seperti misalnya hari ulang tahun kenaikan tahta –, raja memperkenalkan putra mahkota kerajaan kepada seluruh rakyat. Peristiwa ini dirayakan secara besar-besaran karena dengan penampakan putra mahkota itu, maka terjaminlah pewarisan kerajaan dan pemerintahan. Dengan menunjuk pada tradisi kerajaan kuno tersebut, maka epifani Kristus hendak menyatakan kepada kita semua bahwa rancangan damai sejahtera Allah untuk menyelamatkan manusia dan dunia itu benar-benar hendak dinyatakan melalui karya penebusan Tuhan Yesus Kristus – Sang Firman. Penegasan inilah yang disebuat oleh Yohanes, “Firman itu telah menjadi manusia, dan tinggal di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh anugerah dan kebenaran”. Dalam karya-Nya itulah anugrah keselamatan akan dinyatakan, sehingga kita yang berdosa akan dibenarkan.
Sampai di sini, kita sudah semakin mengerti tentang epifani. Tetapi menurut saya, ada yang jauh lebih penting dibanding hanya sekedar mengerti epifani, yaitu: kesediaan untuk berani berubah setelah mengalami perjumpaan dengan Sang Firman yang menjadi manusia Yesus itu. Setelah Orang-orang Majus menemukan Yesus dan menyembah-Nya sebagai Raja dan Mesias, mereka memilih pulang dengan melalui jalan lain. Pemilihan jalan lain ini bukan saja karena menghindari Herodes, melainkan menunjukkan adanya suatu perubahan jalan kehidupan yang tak terhindarkan setelah berjumpa dengan Sang Mesias.
Saudaraku, sikap seperti Para Majus itulah yang mesti kita tumbuhkan. Kita sadar bahwa hidup mesti dilanjutkan. Namun, menjalani hidup itu mesti dilakukan dengan keberanian, yaitu: keberanian untuk meninggalkan zona nyaman untuk bisa menemukan kondisi yang baru di mana kita bisa lebih terbuka terhadap kehendak Tuhan. Meskipun kondisi baru yang kita jumpai itu bisa jadi tampak aneh dan suram, namun kita mesti berani menjalaninya bersama dengan Tuhan. Selamat merayakan epifani, selamat berjuang, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Ya Tuhan, kami rindu untuk melanjutkan langkah kami dengan berani karena kami yakin bahwa Engkau akan senantiasa menyertai langkah kami. Kiranya Roh Kudus menolong kami agar semakin peka mendengar dan memahami kehendak-Mu. Terimakasih Tuhan Yesus, amin.
BERHIKMAT: MENGHIDUPI BUAH BUAH KEBAJIKAN
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 1
Yakobus 3:17 (TB2)
”Namun, hikmat yang dari atas pertama-tama murni, selanjutnya cinta damai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tulus ikhlas”
Syalom jemaat yang terkasih didalam Tuhan.. Semoga bapak/ibu/saudara-saudari dalam keadaan baik..
Jemaat yang terkasih.. Pada bacaan kita hari ini, Yakobus mengajak kita untuk hidup dengan pedoman hikmat yang dari atas. Apa artinya? Yakobus menolong kita, ia memberikan jembatan antara konsep rumit tentang hikmat, untuk kehidupan yang bijaksan. Hikmat itu bukan sekedar konsep dan pengetahuan, melainkan sesuatu yang nyata dan terlihat dalam perilaku sehari-hari.
Ada dua jenis hikmat, yaitu hikmat dunia dan hikmat Allah. Keduanya menghasilkan perilaku hidup yang berbeda. Orang yang menyepelekan hikmat Allah, hidupnya akan terus dikuasai oleh perasaan iri hati, pementingan diri sendiri, congkak, dusta, dan melawan kebenaran (Ay. 14). Sebaliknya, setiap orang yang hidup berdasarkan hikmat Allah akan hidup dalam kedamaian, jauh dari perselisihan, ramah terhadap orang lain, menghasilkan buah-buah kebajikan, tidak memihak, dan tidak munafik (Ay. 17). Di sinilah Yakobus menolong kita untuk menjadi manusia ciptaan baru yang menghadirkan damai sejahtera.
Mari kita lihat ayat 17 ini lebih mendalam, Pertama, ketika disebutkan “murni,” kita diajak untuk memiliki niat yang tulus dan bebas dari segala motif yang tidak benar. Kebijaksanaan sejati tidak tercemar oleh kepentingan diri sendiri. Selanjutnya, “damai” mengajarkan bahwa kebijaksanaan membawa harmoni, bukan konflik. Ini adalah panggilan untuk memelihara perdamaian dengan sesama.”Sikap penyayang” menekankan kepedulian dan empati terhadap sesama. Kebijaksanaan sejati membangun hubungan yang penuh kasih dan kebaikan. “Lemah lembut” mencerminkan kekuatan yang dikendalikan dengan lembut, bukan dominasi atau kekerasan. Ini merupakan panggilan untuk memiliki kontrol diri yang bijaksana.
Selanjutnya, “penuh kasih dan kebaikan” menggambarkan kebijaksanaan yang tulus dan bermuatan etika. Kebijaksanaan sejati memberi ruang bagi kasih dan kebaikan untuk bersinar. “Tidak berprasangka” mengajarkan untuk tidak membuat penilaian prematur terhadap orang lain, melainkan memberi kesempatan bagi perubahan dan pertumbuhan.Terakhir, “tidak berpura-pura” menegaskan kejujuran dan autentisitas dalam berinteraksi dengan orang lain. Kebijaksanaan sejati memerlukan ketulusan dalam tindakan dan perkataan.
Setiap kita diajak untuk menggali dan menerapkan kebijaksanaan yang sejati dalam kehidupan sehari-hari. Ini bukan sekadar pengetahuan intelektual, tetapi suatu bentuk karakter dan sikap hidup yang mencerminkan nilai-nilai spiritual. Dengan hidup sesuai dengan sifat-sifat kebijaksanaan ini, kita dapat memberikan kontribusi positif bagi lingkungan sekitar dan menciptakan suasana damai serta penuh kasih.
Mari di minggu pertama pada awal tahun ini, marilah kita bersama-sama memohon hikmat yang dari Allah agar kita dimampukan menjalani hari-hari yang penuh misteri ini seturut dengan kehendak Allah. Ketika kita hidup berpedoman pada hikmat Allah, kita akan menjadi sosok pembawa damai dan pelaku kebajikan yang jauh dari perselisihan. Dengan demikian, damai sejahtera akan terwujud dalam kehidupan kita sehari-hari. Selamat berefleksi, Tuhan memberkati.
DI TAHUN BARU: HATIKU PERCAYA
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, Syalom Alekhem! Diawal Tahun Baru ini kita merenungkan firman Tuhan yang berjudul: “Di Tahun Baru: Hatiku Percaya” dengan dasar dari kitab Yeremia 17:7-8 (TB2) ” Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang mempercayakan dirinya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akarnya ke tepi sungai , dan tidak takut akan datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau , yang tidak khawatir dalam tahun kekeringan, yang tidak berhenti menghasilkan buah.” Demikianlah Firman Tuhan. Yang berbahagia ialah setiap orang yang mendengarkan firman Tuhan dan yang memeliharanya.
Bacaan Firman Tuhan hari ini memberikan gambaran yang indah kepada kita tentang orang yang percaya, yang menaruh harapannya pada Tuhan. Mereka digambarkan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang akarnya menjangkau ke sungai-sungai. Demikian juga kehidupan iman kita, yang mengakar pada Kristus, sumber kehidupan yang kekal.
Dalam Yohanes 4:14 Kristus menyatakan DiriNya sebagai sumber air kehidupan yang mengalir, yang memberikan kekuatan, kesegaran, dan kehidupan kekal bagi setiap orang yang percaya pada-Nya.
Maka melalui iman dalam Kristus, kita memperoleh kehidupan yang sejati dan berkelanjutan sampai kekal. Sebagaimana pohon yang ditanam dan digambarkan dalam Yeremia, kita dijanjikan keberanian, keteguhan, dan berkat kebahagiaan dalam hidup kita, ketika kita mengakar pada Kristus sebagai sumber utama kehidupan rohani kita.
Ketika kita mengakar pada Dia, kita diberikan keteguhan di tengah-tengah pencobaan, kita diberikan ketenangan dalam ketidakpastian, dan kita diberikan kekuatan untuk terus berbuah dalam perbuatan baik dan kasih kepada sesama.
Oleh karena itu, di awal tahun ini ketika kita merenungkan *Yeremia 17:7-8, kita diingatkan untuk memperkuat iman kita pada Kristus sebagai sumber utama harapan, kekuatan, dan keberanian kita. Dengan mengakar pada-Nya, kita akan terus berbuah dalam kasih dan kebaikan, menjadi saksi-saksi Kristus yang menerangi dunia di sekeliling kita.
Seperti kesaksian pujian yang dinyanyikan oleh Nagahuta Voice sebuah pujian yang berjudul: Hatiku Percaya. Sebuah pujian yang dikarang oleh Edward Chen berdasarkan pengalaman pribadi nya ketika menghadapi pergumulan hidup yang berat, tangis dan kesesakan. Lagu ini kemudian menjadi berkat bagi banyak orang.
Lirik dari lagu ini menyampaikan sebuah pesan yang amat dalam dan penting: “Saat ku tak melihat jalan-Mu, saat ku tak mengerti rencana-Mu, namun tetap kupegang janji-Mu. Pengharapanku hanya pada-Mu!”
Pada saat-saat ketika jalan terasa tak jelas, ketika rencana Tuhan nampak tak terpahami, itulah saatnya iman kita diuji. Namun, seperti yang dinyatakan dalam lirik tersebut, “Pengharapanku hanya padaMu!” Itu adalah fondasi yang kokoh bagi iman kita, yaitu meletakkan segala harapan dan percaya kita hanya pada Allah.
Seperti lirik yang menyatakan, “Hatiku percaya, s’lalu ku percaya.” Marilah kita juga memegang teguh kepercayaan, bahwa Tuhan adalah sumber harapan kita! Mengapa? Karena hati yang percaya selalu akan menemukan kedamaian dalam situasi apapun!
Saudara-saudara, di awal tahun ini, marilah kita berkomitmen untuk mengakar lebih dalam pada Tuhan. Biarkanlah harapan kita tidak tergantung pada keadaan sekitar, tetapi hanya pada Allah yang setia.
Dengan mengakar pada-Nya, kita akan mengalami berkat yang melimpah, yaitu kita akan tetap teguh dalam iman, dan kita akan terus menghasilkan buah yang membawa kemuliaan bagi-NamaNya.
Marilah kita membuat komitmen di hadapan Tuhan: di tahun baru ini melangkah dengan hati yang percaya lebih dalam pada Tuhan, sehingga Saudara dapat menjadi saksi Kristus bagi dunia di sekeliling kita! Bersediakah Saudara? Lakukanlah saja. Itu sudah cukup. Tuhan memberkati!
Mari kita berdoa:
Ya Tuhan, Bapa yang kami kenal dalam Tuhan Yesus Kristus, Sumber pengharapan kami. Di awal tahun baru ini, terimalah komitmen kami: hati kami tetap percaya pada Tuhan, tuntunlah kami menjadi saksi InjilMu. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa. Amin.
Selamat Tahun Baru, Tuhan memberkati Saudara dan keluarga!
(AM4012024)
IA MEMBIMBING AKU
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: Mazmur 23
Selamat Tahun Baru 2024, semoga perjalanan hidup kita pada tahun 2024 dibimbing Tuhan sehingga kita mengalami ketenangan dan kesegaran hidup seperti ungkapan dalam Mazmur 23 : 2-3 Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.
Dalam memasuki tahun 2024, kita mengimani bahwa Tuhan adalah Gembala yang baik dan kita adalah domba yang taat dengan mengikuti arah tongkat Tuhan sebagai Gembala kita. Tongkat Tuhan adalah firman Tuhan yang memberi arah perjalanan hidup kita. Tongkat adalah peringatan dari Tuhan agar tidak mengikuti jalan yang sesat, jalan yang membuat orang terjatuh dalam dosa. Tuhan Gembala yang baik juga menggunakan gada untuk melindungi domba dari bahaya yang mengancam. Tuhan Gembala yang baik, menggunakan kuasaNya yang besar untuk mengalahkan musuh yang menerkam manusia sehingga jatuh dalam dosa, menjadi lemah, tidak berdaya. Tuhan Gembala yang baik mampu melepaskan manusia yang taat, dari segala bahaya. Bahaya di sini adalah kejatuhan manusia dalam dosa, kerusakan hidup manusia. Bahaya adalah hukuman Allah yang berat jika orang tidak bertobat dari dosa.
Tuhan membimbing orang ke jalan yang benar, kepada tujuan yang baik, yang menghidupkan dan menyegarkan, seperti Tuhan menuntun bangsa Israel dari perbudakan di Mesir menuju tanah perjanjian. Tuhan membimbing melalui perantara seperti Musa. Tuhan juga menggunakan orangtua untuk membimbing anak-anak mengikuti kehendak Tuhan. Tuhan menggunakan pendeta dan penatua, pengkotbah untuk membimbing umat ke jalan yang benar, menghidupkan iman, menyegarkan jiwa. Tuhan juga menggunakan pemimpin untuk membawa bangsa ke jalan yang benar, adil, makmur, damai sejahtera.
Tuhan membimbing orang yang mengharapkan Tuhan, dan mengalami kasih setia Tuhan yang tidak berubah. Sekalipun kita berjalan dalam lembah kekelaman kita tidak takut sebab Tuhan beserta kita. Tuhan selalu menghibur dengan firman dan kuasaNya.
Ketika kita menjadi putus asa, Gembala yang Baik membangkitkan dan menghidupkan kembali jiwa kita melalui kuasa dan kasih karunia-Nya. Tuhan membimbing kita dengan Roh Allah pada jalan yang benar, yang sesuai dengan jalan kekudusan-Nya. Tanggapan kita adalah ketaatan, mengikuti Gembala dan mendengarkan suara-Nya dan tidak akan mengikuti suara orang-orang asing, yang tidak dikenal ajaran dan tujuannya.
Dari Mazmur 23 kita mendapat gambaran tentang pemazmur yang mengalami ancaman dan tantangan hidup, namun Tuhan menyertainya sehingga aman, tenang. Dalam menghadapi ancaman dan tantangan tersebut pemazmur menggunakan pikiran Tuhan, yang diilhamkan oleh Roh Kudus. Ia meyakini Tuhan memberi perhatian dan memelihara orang yang tekun mengikut Tuhan dan mengalami kasih Allah dan sangat dihargai Tuhan. Tuhan peduli terhadap kita masing-masing seperti seorang gembala peduli kepada domba-dombanya.
Ketika Yesus menjadi Gembala yang baik dalam hidup kita, maka kita tidak kekurangan, apapun yang diperlukan bagi pelaksanaan kehendak Allah dalam kehidupan kita, maka Tuhan mencukupkan. Allah menghendaki bahwa orang percaya itu sehat-sehat dan kehidupan kita disertai berkat-Nya. Dia ingin segala sesuatu beres dalam hidup kita. Pekerjaan, rencana, maksud, pelayanan, keluarga kita, berjalan sesuai dengan kehendak dan petunjuk-Nya. Berkat Allah melalui penebusan Kristus dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan jasmaniah dan rohani.
Orang percaya yang dipimpin Gembala yang baik akan menempuh jalan keselamatan, berjalan dalam kehendak Allah dan kebenaran-Nya serta menikmati berkat-Nya. Allah menghendaki bahwa kita mendapatkan upah cukup untuk menyediakan rumah, makanan, dan pakaian bagi diri dan keluarga kita, dan masih cukup untuk menolong orang lain sambil ikut menyebarluaskan Injil Kristus. Allah mampu memberikan kecukupan untuk kebutuhan kita
Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kita, supaya kita senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan (2 Korintus 9:8). Kita diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Allah. Walaupun kita berdoa supaya Allah menyediakan seluruh kebutuhan jasmani kita, kita harus mengakui ajaran Alkitab bahwa Allah mungkin mengizinkan anak-Nya mengalami penderitaan atau kekurangan. Dalam melayani Tuhan mengikuti kehendak Tuhan kita bisa mengalami penderitaan kekurangan, tapi kita terus tekun, tabah dalam iman. Kita mungkin menderita kemiskinan disebabkan oleh bencana nasional atau alam seperti peperangan, bencana kelaparan, bencana kekeringan, atau keadaan sosio-ekonomi yang parah. Kita mengimani Tuhan Gembala yang baik hadir menolong memberi berkat Tuhan dalam kehidupan jasmaniah kita.
Kita terus mencari kehendak Allah, menaati Roh Kudus mengasihi Firman Allah memohon pertolongan-Nya di dalam doa, bekerja keras dan mempercayai Tuhan akan memenuhi kebutuhan kita, dan tidak membiarkan kita kekurangan. Kita hidup berdasarkan prinsip mencari dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya. Walaupun jiwa kita dalam keadaan yang cukup baik, itu tidaklah berarti bahwa kita akan otomatis bebas dari kesulitan dalam bidang kehidupan lainnya. Kesengsaraan, kesulitan, dan kebutuhan harus dihadapi dengan doa dan percaya kepada Allah. Kita bersyukur dan puas dengan bimbingan dan pemeliharaan Gembala yang Baik serta perhatian-Nya kepada kita bahkan pada saat-saat mengalami kesulitan pribadi, karena kita mengandalkan kasih dan komitmen Allah kepada kita.
Tuhan selalu membimbing mengatur tiap langkah kita dan tanga kasih Tuhan memimpin kita. Walau ada badai dunia yang menakutkan, hati kita akan tetap tenang teduh seperti ungkapan dalam NKB 188 ayat 1 Tiap langkahku diatur oleh Tuhan dan tangan kasihNya memimpinku. Di tengah badai dunia menakutkan, hatiku tetap tenang teduh. Tiap langkahku ‘ku tahu yang Tuhan pimpin ke tempat tinggi ‘ku dihantarNya, hingga sekali nanti aku tiba di rumah Bapa sorga yang baka. amin
Berdoa:
Ya Tuhan dalam menjalani hidup pada tahun 2024, kiranya kami dibimbing Tuhan sehingga kita mengalami ketenangan dan kesegaran hidup. Tuhan adalah Gembala kami yang baik, kami taat dengan mengikuti arah firman Tuhan, dalam nama Yesus kami berdoa. amin
S.G.I.E.
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: Yesaya 9:5 – TB2
“Sebab, seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; tampuk pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebut orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Mungkin Anda menduga bahwa saya akan membahas akronim ‘S.G.I.E.’ – seperti yang sedang hangat dibicarakan di media sosial akhir-akhir ini. Bila Anda menduga seperti itu, maka Anda keliru. Karena ‘S.G.I.E.’ yang hendak dibicarakan di dalam renungan ini berkaitan erat dengan iman. Karena baik disadari atau tidak, ternyata hari ini kita berada pada 2 (dua) hari terakhir tahun 2023. Sepanjang waktu itu, tentu ada berbagai peristiwa yang yang telah kita alami. Mungkin kita telah melalui pengalaman sukacita maupun pengalaman dukacita. Hanya saja, apakah di dalam setiap pengalaman itu, kita dapat merasakan campur tangan Tuhan atau malah sebaliknya kita merasa ditinggalkan sendirian oleh Tuhan?
Tidak dapat dipungkiri bahwa adanya hal-hal yang baru dan terasa kurang familiar memang kerap menimbulkan rasa tidak nyaman hingga takut. Meskipun situasi seperti itu sebetulnya merupakan kewajaran, namun tidak berarti bahwa kita bisa membiarkan sikap itu terus ada di dalam hati kita. Mengapa? Sebab jika dibiarkan, maka secara psikologis dapat memicu gangguan kecemasan (anxiety disorder). Oleh karena itu kita mesti memiliki keyakinan bahwa bersama Tuhan maka kita mampu mengatasi kekuatiran, ketakutan atau ketidaknyamanan mamasuki suatu situasi atau peristiwa baru.
Sebagai anak-anak Tuhan tentu kita merindukan agar kita dapat menghadapi hal’-hal baru itu dengan berani sehinga perjalanan kehidupan ini bisa terus berlanjut. Keyakinan iman bahwa Tuhan hadir dan menopang menjadi kunci agar kita tidak dikuasai oleh kekuatiran, ketakutan atau ketidaknyamanan. Kepastian kepedulian Tuhan bagi kita telah dinyatakan melalui peristiwa kelahiran Kristus bagi kita. Kelahiran Kristus menjadi penggenapan atas rancangan Allah untuk membebaskan manusia sehingga kita mempunyai keberanian melanjutkan hidup dengan penuh harapan. Yesaya menyebutkan, “Sebab, seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; tampuk pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebut orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai”. Kepastian penyertaan dan pertolongan Tuhan itu nampak dalam gelar yang diberikan kepada Kristus, yaitu: Penasihat Ajaib, bermakna bahwa Dia akan benar-benar menjadi Penasehat Ajaib yang tiada bandingannya. Kebijaksanaan-Nya melebihi segala kebijaksanaan dunia maupun manusia. Allah yang Perkasa, bermakna bahwa Kristus adalah pahlawan yang menang atas musuh-musuhNya. Bapa yang Kekal, bermakna bahwa Dia bukan hanya sebagai Penguasa atas kekekalan, melainkan pencipta hidup kekal bagi orang-orang yang ditebus. Pemerintahan-Nya berdasarkan kasih seorang Bapa terhadap anak-anak-Nya. Raja Damai, bermakna bahwa Dia akan memberikan damai-sejahtera. Dengan demikian, maka tidak ada alasan untuk dibelenggu oleh kekuatiran, ketakutan atau ketidaknyamanan manakala mesti meninggalkan tahun 2023 dan memasuki tahun yang baru.
Sampai di sini, mungkin Anda mulai penasaran dan bertanya tentang ‘S.G.I.E.’. Akronim ini sering saya gunakan untuk memperkenalkan nama saya dan bunda – ketika khususnya pembinaan pasangan suami istri – yaitu: “Saya Guruh & Ini Endya”*. Tetapi bukan itu juga kepanjangan dari ‘S.G.I.E.’ Karena ‘S.G.I.E.’ yang saya maksudkan adalah *“Saatnya Galau Itu Enyah”_*. Kita mesti yakin bahwa _Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai itu sudah hadir di dalam hati kita sehingga tidak perlu kita menjadi galau apalagi takut dan kuatir mengahadapi tahun baru.
Mari melangkah meninggalkan tahun 2023 dan memasuki tahun 2024 dengan sikap iman ‘S.G.I.E.’ – “Saatnya Galau Itu Enyah”. Selamat berjuang, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Ya Tuhan, kami menyadari bahwa kadangkala kekuatiran membelenggu hati dan pikiran kami. Kiranya Roh Kudus menolong kami agar tetap yakin bahwa Engkau hadir dan mempin perjalalan kehidupan kami. Terimakasih Tuhan Yesus, Amin.
