firman
MENJADI LEBIH BIJAK
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: Amsal 9:1-12
Salam sejahtera, semoga kita makin menjadi lebih bijak karena orang bijak mau menerima nasehat seperti ungkapan dalam Amsal 9:9 berilah orang bijak nasihat, maka ia akan menjadi lebih bijak, ajarilah orang benar, maka pengetahuannya akan bertambah.
Marilah kita menyanyikan PKJ 280 ayat 1 Takut akan, yaitu permulaan pengetahuan, tapi orang bodoh, selalu menghina hikmat dan didikan. Baiklah orang bijak belajar dan menambah ilmu yang arif agar beroleh pengertian yang bijaksana.
Menjadi lebih bijak berarti belajar menghadapi situasi yang tidak baik, susah, sedih, gagal, dihina, dan lain-lain. Orang bijak akan belajar dari pengalaman sendiri dan orang lain dalam menghadapi masalah atau tantangan. Belajar dan menambah ilmu yang arif agar mendapat pengertian yang bijaksana dalam menghadapi situasi yang menyulitkan dan dapat mengambil keputusan, langkah-langkah yang bijak, dapat dimengerti dan baik hasilnya.
Orang bijak bukanlah orang yang ber-IQ tinggi. Ada seorang teman di SMA mengatakan IQ-nya tinggi , tapi ia banyak baca komik, mata pelajaran tidak dikuti dengan serius, begitu ujian mendapat nilai jelek. Ia tidak bijak dalam menggunakan waktu, pilihan atau langkah yang harus dilakukan dalam belajar dan bekerja. Seorang teman di waktu kuliah, mengatakan IQ-nya tinggi, banyak bicara, merasa paling pintar, banyak baca buku, kalau bicara atau menghadapi orang, suka dengan emosi marah dan mencemoh orang lain. Kalau di tempat kost, malam hari bernyanyi berteriak, sampai atap rumah kost di lempar batu. Orang ini ber-IQ tinggi tapi tidak bijak dengan lingkungan.
Amsal 9 ini mendorong kita menjadi bijak dalam arti arif, berakal budi, tajam pikiran, pandai dan cermat serta teliti ketika menghadapi situasi diri sendiri dan sekitarnya. Menggunakan akal budi berarti mempelajari pengalaman-pengalaman diri dan orang lain pada masa lalu, pengetahuan yang ada, untuk menghadapi masalah atau tantangan. Membaca itu penting, belajar dari pengalaman diri dan orang lain juga penting untuk membuat kita lebih bijak. Kalau ada acara keluarga, sering ada nasihat diberikan dari beberapa orang, nasihat itu berdasarkan pengalaman hidup orang tersebut, misal acara orang yang baru baptis, acara nikah dan lain-lain selalu ada nasihat yang berguna. Orang yang bijak akan menyerap nasihat, pengalaman hidup orang, dengan teliti, cermat, hati-hati, sesuai kebutuhan hidup diri sendiri, sesuai kondisi situasi dan pekerjaan masing-masing.
Orang bijak akan hati-hati menjawab pertanyaan yang bersifat menjerat, seperti ada telepon dari orang yang mengaku anak yang ditangkap di kantor polisi pada pukul 02.00 pagi. Kalau orang tidak bijak, tidak hati-hati akan terbawa perasaan, akan merespon telepon tersebut, padahal telepon itu adalah jebakan, tipuan, agar uang orang tersebut di transfer kepada penipu. Orang yang bijak akan hati-hati cermat dengan pertanyaan atau pernyataan yang menjebak, seperti Tuhan Yesus, bijak dan hati-hati atas pertanyaan orang Farisi, ahli Taurat, yang menjebak. Tuhan Yesus tidak langsung emosi, tidak merasa pintar dalam menjawab pertanyaan orang Farisi, ahli Taurat. Yesus dengan sikap bijaksana menanggapi pertanyaan yang menjebak, bisa dengan membuat perumpamaan agar yang menjebak mengerti. Tapi orang Farisi, ahli Taurat tetap mengeraskan hati, tetap mencari kesalahan Yesus, bukan ingin berubah. Orang bijak menggunakan sikap tepat dalam menyikapi setiap keadaan dan peristiwa sehingga memancarkan keadilan, kebenaran, kebaikan dan damai. Ada seorang pemimpin karena ditanya dengan pertanyaan menjebak, akhirnya emosi, marah, menghina, merendahkan. Orang yang hebat dalam pelayanan, tapi kalau ada pertanyaan yang menjebak dan membuat dia emosi maka hal ini membuat tidak bijak menghadapi situasi.
Orang-orang bijak diharapkan menghasilkan kebijakan, membuat rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis besar dan dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan, dan cara bertindak, menyusun visi misi, tujuan, prinsip, atau maksud sebagai garis pedoman dalam usaha mencapai sasaran di dalam keluarga, gereja, pemerintah. Orang bijak sangat diperlukan untuk menyusun kebijakan dan penerapan kebijakan tersebut.
Dalam pengadilan, mahkamah, kita mengharapkan hakim membuat keputusan yang bijak, tidak memihak kepada kepentingan keluarga, kelompok tertentu, kekuasaan, dan kekayaan untuk diri sendiri atau kelompok. Tapi keputusan yang berguna bagi banyak orang, berguna untuk keadilan, kedamaian kebenaran.
Orang bijak makin tambah bijak kalau menerima nasehat, menerima kritik, masukan. Orang yang tidak mau terima nasehat, kritik, adalah orang bebal, orang yang tidak mau bertambah bijak. Orang bijak bukan karena hebat sendiri, karena ia terbuka untuk menerima masukan, nasehat dari orang lain berdasarkan pengalaman mereka.
Kritik dari orang bijak disertai uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap suatu hasil pendapat, menunjukkan kekuatan dan kelemahan, kelebihan dan kekurangan hasil suatu karya, pendapat, kinerja. Kritik dari orang yang bijak melalui analisis dan evaluasi terhadap sesuatu dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman, memperluas apresiasi, atau membantu memperbaiki pekerjaan.
Orang yang mengkritik dengan bijak adalah orang yang memberikan pendapat dengan alasan yang baik, dengan analisis, dengan pertimbangan, dengan pengamatan dan data dan bukan menghina.
Orang yang bijak menerima kritik dari orang yang bijak, maka akan menambah dirinya bijak. Kalau kritik diberikan kepada pencemooh, orang yang bebal, maka dia tidak akan menerima nasihat atau kritik sebaliknya, ia mencemooh orang yang memberi kritikan atau nasihat tersebut. Misal orang memberi nasihat, kritik, dibalas dengan ucapan sok hebat lu, sok pintar lu. Orang yang mau menjadi lebih bijak akan menerima dan mempelajari, mencermati dengan teliti, hati-hati, nasihat yang berguna untuk membangun akan diterima, kalau tidak membangun tidak diterima.
Orang yang bijak adalah orang takut akan Tuhan, rendah hati mau belajar tentang Tuhan Yang Maha Kudus, Maha Kuasa, belajar sifat Tuhan. Pencemooh, bebal hati adalah orang yang menghina hikmat dan didikan, orang yang tidak takut Tuhan, tidak rendah hati, sombong, tidak mau menerima nasihat, ajaran Tuhan. Orang bodoh yang takut Tuhan, rendah hati, mau menerima ajaran dan nasihat Tuhan, maka ia akan bertambah bijak dalam hidupnya. Kiranya kita makin menjadi lebih bijak dalam hidup kita. amin
Berdoa:
Ya Tuhan jadikan kami makin bijak, mau menerima nasihat, mau menerima ajaran yang benar dan pengetahuan tentang Allah dan kehendak Tuhan. Jadikan kami makin takut akan Tuhan agar makin menjadi bijaksana, dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin
PEMBUNUH TAKUT DIBUNUH
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bahan: Kejadian 4:14-15,
“Engkau menghalau aku sekarang dari tanah ini dan aku tersembunyi di hadapan-Mu, seorang pelarian dan pengembara di bumi; maka barangsiapa yang akan bertemu dengan aku, tentulah akan membunuh aku.” Firman Tuhan kepadanya: “Sekali-kali tidak! Barangsiapa yang membunuh Kain akan dibalaskan kepadanya tujuh kali lipat.” Kemudian Tuhan menaruh tanda pada Kain, supaya ia jangan dibunuh oleh barang siapa pun yang bertemu dengan dia.
Suatu kesatuan militer Jepang yaitu “kamikaze,” pasukan berani mati. Pasukan ini adalah pilot pesawat tempur, yang membawa bom, kemudian pilot menabrakan pesawatnya ke kapal musuh, sehingga si pilot akan terbunuh bersama dengan kehancuran kapal yang ditabrak. Kesatuan kamikaze ini telah dilakukan oleh Jepang saat menghadapi Amerika dan Sekutunya dalam perang dunia ke II. Ada pengamat mengatakan kamikaze ini diadakan Jepang karena mereka putus asa melawan tentara Amerika, walau pun Jepang telah menghancurkan pangkalan angkatan laut Amerika di Pearl Harbor di Hawai. Akhirnya perang ini terhenti karena Jepang menyerah ke pasukan Sekutu, akibat hancurnya Nagasaki dan Hirosima, oleh bom atom yang dijatuhkan oleh Amerika.
Bacaan kita, kisah kelanjutan hidup Kain, setelah dia membunuh Habel adiknya, dengan alasan iri hati dan marah, karena Tuhan mengindahkan Habel dan korban persembahannya, sedangkan Kain dan korban persembahannya tidak diindahkan-Nya. Dengan penampilan yang manis, Kain dengan tiba-tiba membunuh Habel adiknya, mencurahkan darannya hingga tewas. Atas pembunuhan itu Tuhan menjatuhkan hukuman dan kutukan kepada Kain dan tanah yang telah menampung darah Habel adiknya itu tidak lagi bersahabat dengan Kain, tanah yang digarap oleh Kain tidak lagi memberi hasil yang baik. Sepanjang hidup Kain, dia menjadi seorang pelarian dan pengembara di bumi. Tema kita berbunyi Pembunuh takut dibunuh, itulah keadaan Kain, melihat kematian Habel di tangannya, maka dia pun takut mati. Hatinya tidak tenteram karena selalu takut dibunuh orang lain, seperti dia membunuh Habel. Rasa takut ini dikemukakannya kepada Tuhan katanya: “… maka barangsiapa yang akan bertemu dengan aku tentulah akan membunuh aku.” Menenteramkan hati Kain, maka Tuhan memberi perlindungan, Tuhan melindungi Kain dari pembunuhan orang lain, untuk perlindungan ini, Tuhan menaruh tanda pada diri kain. Kain melanjutkan kehidupannya sampai dia beranak cucu. Ternyata seorang cucu Kain bernama Lamekh juga terlibat dengan pembunuhan, mungkin dengan perkelahian, tetapi Lamekh cucu Kain ini disebutkan telah membunuha seorang muda (Kej 4:23).
Dalam beberapa kisah pembunuh yang dijatuhi hukuman mati, saat mereka dieksekusi, mereka takut menghadapai tiang gantung atau peluru yang ditembakkan, mereka meronta menangis meraung-raung. Bisa kita katakan tipe seperti ini juga tipe Kain yang takut dibunuh setelah membunuh Habel.
Seorang pahlawan kebenaran yang digirng menuju tiang gantung, Dia bukan pasukan kamikaze, Dia bukan pembunuh seperti Kain, Dia adalah Yesus Kristus yang rela menderita dan digantung dengan disalibkan, agar kutuk untuk semua manusia berdosa, apakah sebagai pembunuh, penjahat, pencuri, penista kebenaran, memperoleh keselamatan. Lebih daripada Kain, kita mendapat perlindungan, bukan kutuk tetapi berkat keselamatan hidup kekal oleh Kristus.
Kita aplikasikan renungan ini dengan pokok berikut:
- Apakah Anda menyimpan “rasa bersalah” atas sesuatu hal, kecil atau besar?
- Adilkah Tuhan yang tidak membunuh Kain karena dia sudah membunuh Habel?
- Kalau kita dirugikan oleh seseorang, dan orang itu telah tiada, apa sikap Anda?
Mari berdoa:
Bapa yang mengasihi, di dalam kasih Bapa terbungkus keadilan yang tidak seperti keadilan duniawi. Karena kasih, Bapa mengutus Yesus Kristus bagi kami; dalam kasih dan keadilan Kristus, Dia rela menebus dosa yang paling berat yaitu maut yang mencengkram kami. Roh Kudus menolong agar kami mampu hidup dalam kasih dan keadilan Bapa dalam Kristus. Dalam nama Yesus Tuhan, Amin.
[AS161023]
KELELAWARNYA GAK SEKOLAH
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: Yesaya 5:7 (TB 2)
“Sebab kebun anggur TUHAN semesta alam ialah kaum Israel, dan orang Yehuda ialah tanam-tanaman kegemaran-Nya; dinanti-Nya keadilan, tetapi hanya ada kelaliman, dinanti-Nya kebenaran tetapi hanya ada keonaran”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Karena Pastori duren Sawit – tempat tinggal kami – sedang diperbaiki, maka untuk sementara kami tinggal di rumah kontrakan. Di halaman rumah kontrakan tersebut tumbuh pohon mangga, namun kami belum pernah melihat buahnya. Kira-kira dua minggu terkahir ini, di setiap pagi, kami selalu melihat potongan-potongan kecil buah dan kotoran keleawar di bahwa pohon mangga tersebut. Kotoran ini tentu membuat tugas anak perempuan kami ini semakin berat, karena kotoran itu menempel di lantai halaman.
Persoalan kami belum selesai, karena ternyata kotoran kelelawar itu juga jatuh di beberapa potong baju yang masih ada di jemuran karena kami lupa mengangkatnya. Rupanya, sejak kelelawar itu bertenger di dahan / ranting pohon mangga, maka baju yang lupa diangkat di jemuran itu turut terkena getahnya. Suatu pagi, ketika hendak mengangkat baju yang ada di jemuran, bunda menjumpai ada beberapa potong pakaian yang terkena kotoran kelelawar. Waktu melhat ada baju yang terkena kotoran kelelawar itu, bunda berkata, “dasar kelelawar gak sekolah, buang kotoran sembarangan…!” Akhinrya baju yang terkena kotoran kelelawar itu mesti dicuci kembali.
Di dalam hati saya berpikir, seandainya kelelawar ini pernah sekolah, mungkin ia akan tahu bagaimana bertindak yang benar. Bila kelelawar pernah sekolah, mungkin ia akan tahu di mana mesti buang kotoran tanpa merugikan pihak lain. Bukankah belajar hal yang baik akan menuntun ke dalam kebaikan juga. Pertanyaannya adalah: bila ternyata kelelawar itu pernah sekolah, apakah ia pasti akan buang kotoran di WC? Ah… sudahlah….
Dalam kehidupan, kadang kala kita menjumpai ada orang-orang yang berpendidikan baik dan berasal dari keluarga yang terhormat, namun perilakunya buruk dan tidak menjadi berkat. Bisa jadi bahwa pergaulan yang tidak baik telah memengaruhi perilaku yang buruk itu. Umat Israel dan Yehuda pernah dianalogikan sebagai kebun anggur milik Tuhan. Tuhan juga sudah melakukan terbaik bagi umat – sebagai pohon-pohon anggur Tuhan – dapat memberikan hasil yang baik. Akan tetapi bukan anggur manis yang dihasilkan, melainkan anggur yang masam. Tentu Tuhan kecewa dengan kenyataan itu, sehingga Tuhan akan membuat Israel dan Yehuda menjadi reruntuhan. Dalam kekecewaan-Nya, Tuhan menyampaikan, “Sebab kebun anggur TUHAN semesta alam ialah kaum Israel, dan orang Yehuda ialah tanam-tanaman kegemaran-Nya; dinanti-Nya keadilan, tetapi hanya ada kelaliman, dinanti-Nya kebenaran tetapi hanya ada keonaran”. Umat Tuhan diharapkan menegakkan keadilan dan kebenaran, akan tetapi mereka tidak melakukan. Padahal umat telah belajar bahwa Tuhan adalah Allah yang adil dan benar. Hanya karena ketegartengkukan umat, maka mereka tidak meneladani Tuhan dan hanya mengikuti kehendak diri sendiri.
Anda dan saya, tentu telah merasakan berkat dan anugerah dari Tuhan, oleh karena itu mari kita menjadi berkat di manapun kita berada. Kita bukanlah kelelawar yang makan dan membuang kotoran sembarangan. Kita adalah kebun anggur Tuhan, yang mesti menghasilakn buah yang manis. Selamat berjuang, saudaraku, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
YA Tuhan, kami rindu untuk dapat menjadi berkat di manapun kami berada. Oleh karena itu, kami ingin menjadi serupa dengan Engkau, sehingga keadilan dan kebenaran dapat kami nyatakan. Kiranya Roh Kudus menolang kami untuk dapat mewujudkannya. Amin.
KINTSUGI
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: 2 Korintus 5:17(TB2)
”Jadi, siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: Yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang”
Syalom jemaat yang terkasih didalam Tuhan.. Kiranya bapak/ibu/saudara-saudari dalam keadaan baik.
Kintsugi atau yang sering juga disebut dengan Kintsukuroi, adalah suatu seni tradisional Jepang untuk merangkai kembali tembikar atau porselin yang pecah dengan cara dicampur menggunakan pernis bubuk emas atau perak. Seni ini memiliki filosofi yang sangat dalam, yaitu bahwa sebuah objek atau benda yang telah rusak dan pecah memiliki banyak sejarah, karena itu perlu untuk dirayakan ketimbang hanya disimpan apalagi dibuang. Dengan seni ini, tembikar atau porselin yang rusak dan pecah tadi dapat diperbaiki kembali bahkan dapat menambah nilai baru pada dirinya. Sesuatu yang rusak bahkan tidak berarti menjadi sesuatu yang baru dan kembali bernilai.
Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat Korintus mengingatkan akan makna pengorbanan Sang Kristus di kayu Salib. Dimana, hal tersebut dilakukan untuk pendamaian Allah dan manusia. Pendamaian tersebut diberikan kepada siapa saja yang mau dan bersedia untuk menerima Kristus dalam hidupnya. Inilah anugerah besar yang telah diberikan Allah kepada manusia, yakni pembaharuan hidup. Manusia yang karena dosa dan kejahatannya telah rusak dan hancur, dipulihkan oleh pengorbanan Kristus. Sehingga setiap orang yang dipulihkan Allah menjadi ciptaan baru dan hidupnya lebih bermakna. Hidup manusia yang hancur karena dosa telah dirangkai kembali menjadi manusia baru dengan kehidupan yang baru.
Pelayanan pendamaian yang telah dilakukan oleh Allah kepada manusia membuat kita menjadi ciptaan baru. Sebagaimana tembikar hasil Kintsugi, demikianlah hidup kita di dalam Kristus. Kita yang telah dipulihkan oleh Allah harus meninggalkan kehidupan lama, yaitu kehidupan yang penuh dosa. Karena pendamaian Kristus telah memberikan makna dan nilai yang baru atas kehidupan kita sebagai umat tebusan. Umat tebusan yang mampu untuk hidup di dalam kasih, seperti kasih yang telah diberikan Kristus. Umat tebusan Kristus sudah selayaknya mampu menyatakan pengampunan kepada sesamanya, sebagaimana pengampunan yang diberikan oleh Allah. Mari kita isi hidup baru hasil pemulihan Kristus ini dengan senantiasa mengasihi Allah dan sesama, sebab kita adalah ciptaan baru. Selamat terus diperbaharui, Tuhan memberkati kita.
FIRMANMU, TUHAN, ADALAH KEBUN
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 1
Bapak, ibu dan saudara sekalian yang setia mengikuti renungan harian GKI Kwitang, Syalom Alekhem! Di Bulan Keluarga GKI Kwitang, hari ini kita merenungkan firman Tuhan yang berjudul: “FirmanMu, Tuhan, adalah Kebun” dengan dasar dari surat 2 Timotius 3:15 (TB 2) “Ingatlah juga bahwa sejak kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan melalui iman kepada Kristus Yesus.” Demikianlah Firman Tuhan. Berbahagialah setiap orang yang mendengarkan firman Tuhan dan yang memeliharanya.
Surat 2 Timotius ini pertama-tama ditujukan kepada Timotius seorang muda yang telah mengenal Tuhan, tetapi juga kepada kita semua yang masih muda usia maupun dewasa bahkan lansia.
Firman ini mengingatkan kita bahwa di antara kita ada yang sejak kecil sudah mengenal Kitab Suci yaitu Firman Tuhan sumber kebenaran yang menuntun kita kepada keselamatan melalui iman kepada Tuhan Yesus Kristus.
Di tengah segala pergumulan dan tantangan kehidupan saat ini, biarlah kita tetap berpegang teguh pada Firman Tuhan, sehingga hidup kita semakin berakar kuat, bertumbuh dan berbuah yang manis.
Untuk itu kita diajak untuk semakin mencintai Firman Tuhan dengan cara membaca dan merenungkan Kitab Suci: menggali dan menghayati kebenaran-kebenaran di dalamnya, serta yang paling penting ialah melakukan Firman Tuhan itu dalam hidup kita.
Firman Tuhan itu sungguh-sungguh bermanfaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan, dan untuk mendidik orang dalam kebenaran ( ay. 16).
Sungguh indah Alkitab yang sudah dikaruniakan Tuhan kepada kita!
Seperti pujian yang dinyanyikan oleh para Aktivis GKI Kwitang, sebuah lagu pujian yang berjudul: FirmanMu, Tuhan, adalah Kebun. Syair pujian oleh Edwin Hodder , dan lagu oleh William J. Reynolds. Terjemahan oleh E.L. Pohan.
Lagu pujian ini menceritakan keindahan Firman Tuhan yang sangat mempesona, digambarkan sebagai sebuah kebun yang penuh kembang. Setiap orang yang datang, ingin memetik, bersuka dan senang.
Orang tidak pernah berhenti untuk menggali kekayaan Firman Tuhan. Firman Tuhan seperti tambang yang penuh permata mulia; siapapun yang mau menggalinya tidak akan kecewa!.
Setiap orang pasti membutuhkan tuntunan yang benar. Firman Tuhan seperti bintang yang cemerlang, maka setiap musafir yang mengikuti petunjuknya pasti tidak akan tersesat, karena jalannya selalu dituntun oleh terangNya.
Bagaimana dengan Saudara? Apakah Saudara dan keluarga sudah mengalami keindahan Firman Tuhan dalam hidup Saudara?
Firman Tuhan hari ini mengajak kita semua, supaya mau dituntun selalu oleh Firman Tuhan kepada keselamatan di dalam Tuhan Yesus Kristus.
Bagaimana Saudara melakukannya? Buatlah komitmen setiap hari membaca dan menggali kebenaran-kebenaran Firman Tuhan dan mau menjadi pelaku Firman Tuhan dalam hidup sehari-hari.
Bersediakah Saudara mewujudkan tekad melakukan Firman Tuhan itu di tengah keluarga, persekutuan jemaat, dan di tengah masyarakat? Lakukanlah saja! Itu sudah cukup. Amin.
Mari kita berdoa:
Ya Bapa yang di surga, kami bersyukur dan memuji Engkau, karena firmanMu menuntun kami kepada keselamatan melalui iman kepada Tuhan Yesus Kristus. Ya Tuhan, FirmanMu sungguh-sungguh menjadi tambang permata mulia, menjadi taman yang permai, dan menjadi bintang pemandu hidup kami.
Mampukanlah kami semakin mencintai Alkitab, supaya hidup kami menghasilkan buah yang manis. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa. Amin.
Tuhan Yesus memberkati Saudara dan keluarga!
(AM12102023)
DIDIKLAH MEREKA
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: Efesus 6:1-4
Salam sejahtera, semoga banyak orang semakin memahami tugas dan panggilan sebagai orangtua terhadap anak-anak, yaitu tugas mendidik anak-anak dalam ajaran dan nasihat Tuhan seperti ungkapan dalam Efesus 6:4. Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.
Pendidikan itu dikerjakan oleh Tuhan Yesus melalui perantaraan orangtua. Allah Bapa, Yesus adalah pendidik dan guru yang sebenarnya. Dialah yang menjaga disiplin kita semuanya. Tuhan yang menjaga disiplin orangtua maupun anak-anak, orang dewasa maupun orang muda. Tuhan jugalah yang menjaga disiplin bangsa-bangsa, raja-raja, gereja, dan masyarakat.
Ketika kita membicarakan pendidikan anak-anak, maka kita mendasarinya dengan didikan dan pendidikan Tuhan. Orangtua mendidik anak, dibawah pimpinan Tuhan dan kehendak Tuhan bukan dengan kehendak dan pikiran sendiri. Orangtua harus belajar memahami kehendak Tuhan terlebih dulu, dalam persekutuan suami istri, baru kemudian mendidik anak sesuai ajaran dan nasihat Tuhan. Kemudian orangtua membangun keluarga yang mencerminkan citra Allah dan memuliakan Allah, setelah itu orangtua dimampukan membentuk keluarga yang bahagia, sejahtera, dan bertanggungjawab sebagai anggota gereja dan anggota masyarakat.
Tujuan pendidikan adalah mengajar dan melatih anak-anak, orang muda sehingga mereka dapat memenuhi tugas mereka terhadap Tuhan, sesama manusia dan sekeliling mereka sebagai anak-anak Kerajaan. Menjadi anak-anak Kerajaan berarti orangtua adalah penggarap atau petani di kebun anggur Tuhan yang menghasilkan buah anggur yang manis, atau menghasilkan buah Kerajaan (Matius 21: 43). Orang-orang muda yang sedang berkembang itu haruslah menjadi hamba-hamba Allah, anak-anak Kerajaan yang sempurna, diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik. Tujuan pendidikan agar anak-anak menjadi pengikut teladan Yesus, menjadi murid Yesus bukan murid orangtua.
Tugas mendidik hanyalah dapat dilaksanakan oleh Roh Kudus. Jika orangtua tidak dilahirkan kembali, anak-anak tidak dilahirkan kembali, maka ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah (Yohanes 3:3). Apa yang dilahirkan oleh daging adalah daging, apa yang dilahirkan dari roh adalah roh (Yohanes 3:6). Orangtua tidak dapat mengambil alih pekerjaan Roh Kudus, yaitu menciptakan kembali, melahirkan kembali. Roh Kudus menggunakan kerja orangtua untuk melaksanakan pekerjaanNya. Dalam Roh Kudus terletak pekerjaan pendidikan Kristen.
Mendidik anak berarti anak lebih dulu diakui bukan ditolak. Anak yang ditolak akan tidak menguntungkan bagi perkembang pribadinya. Ada orangtua yang menolak anak yang lemah, berkebutuhan khusus, kurang berkualitas. Anak ini merasa dibuang dalam keluarga dan merusak mental dirinya.
Pendidikan anak yang pertama menurut Efesus 6 adalah anak-anak dididik untuk menghormati orangtua, dengan mematuhi perintah orangtua. Dalam hukum Taurat kelima, Tuhan juga memberi perintah agar menghormati ayah dan ibu supaya lanjut umur di tanah yang diberikan Tuhan. Perintah Tuhan ini menyatakan hubungan yang erat keluarga, masyarakat dan negara. Keluarga adalah inti negara dan masyarakat. Barang siapa merusak kehidupan keluarga, maka iapun merusak dasar-dasar kekuatan masyarakat dan negara (J. Verkuyl, Etika Kristen Seksuil, BPK Gunung Mulia, 1993).
Orang Israel sejak masa perjanjian Lama, mereka bertahan dan tetap berdiri, walau mengalami kesukaran, sengsara, dan kekurangan sekian lama, ini karena mereka selalu memperbaiki eratnya hubungan kekeluargaan dalam masyarakat Yahudi. Suatu bangsa yang kokoh, disebabkan hubungan yang erat dalam kekeluargaan bangsa tersebut. Ketika anak-anak direbut dari keluarga, di bina dalam lingkungan yang jahat, buruk, kekerasan, anak-anak diperlakukan sewenang-wenang maka rusaklah bangsa, negara tersebut. Tuhan akan menimpakan hukuman bagi bangsa yang tidak memberi kesempatan orangtua mendidik anak-anak untuk mengenal kebenaran Tuhan, keadilan, kebaikan, kedamaian dalam keluarga.
Kehidupan bangsa yang kuat dapat berkembang atas dasar keluarga yang yang sehat. Kehidupan keluarga harus dibangun, diperbaharui, diperdalam. Oleh sebab itu pembinaan kepada orangtua dalam mendidik anak perlu dilakukan terus menerus. Jika hendak membangun masyarakat yang bersatu berdasarkan nilai-nilai Pancasila, maka orangtua juga dibina dalam mengajarkan nilai-nilai Pancasila kepada anak-anak, bukan mengajarkan nilai-nilai intoleran, diskriminatif, radikal, terorisme yang dibawa dari aliran kelompok agama tertentu.
Didikan yang diberikan orangtua bukan dengan kemarahan, kekerasan verbal atau fisik, bukan dengan mengekang, bukan dengan menghina, merendahkan, menyebarkan aib anak kepada orang lain melalui media sosial tapi dengan lembah lembut yang membangkitkan semangat bukan membuat patah semangat. Ada orangtua yang mendidik dengan memberi hukuman, dalam rangka tidak memanjakan anak, tapi juga jangan hanya menghukum, juga memberikan sesuatu yang baik, membesarkan hati anak ketika ia telah melakukan sesuatu yang baik. Seorang ibu melihat anaknya yang sedang melukis dan telah mengotori rumah dengan cat, ibu ini tidak marah pada anaknya, tapi mencium anaknya dan memberi pujian atas lukisan anaknya. Setelah dewasa, anak ini mengingat pujian ibunya, dan dia menjadi pelukis yang berbakat. Ibu ini tidak mengecilkan hati anaknya tapi membesarkan hatinya. Anak-anak didik menghormati orangtua dan orangtua dinasehati oleh firman Tuhan agar tidak mengecilkan hati anaknya.
Tuhan berjanji akan membuat panjang umur warga dari suatu bangsa atau negara, jika orangtua dan generasi penerus bertobat dan taat kepada perintah kelima ini. Jika orangtua bertobat dalam mendidik anak-anak sesuai ajaran dan nasihat Tuhan, dan anak-anak bertobat menaati dan menghormati orangtua dalam Tuhan, maka Tuhan akan memberi kebahagiaan dan panjang umur di bumi (Efesus 6:1-4),
Anak-anak agar mendengar didikan orangtua, agar kasih setia, dan kebajikan tidak meninggalkan diri anak, terus tertulis dalam hati, seperti ungkapan dalam PKJ 268 ayat 1 Reff: Hai dengarlah anakku didikan yang dib’rikan orang tuamu, kar’na panjang umurmu serta sejaht’ra ditambahkan padamu. Ayat 1. Janganlah kiranya kasih dan setia serta kebajikan meninggalkanmu. Tuliskanlah itu dalam hatimu serta kalungkan itu pada lehermu. Amin
Berdoa: Ya Tuhan kiranya makin banyak orang memahami tugas dan panggilan sebagai orangtua terhadap anak-anak, yaitu tugas mendidik anak-anak dalam ajaran dan nasihat Tuhan dan anak-anak mau menghormati orang tua dan menerima didikan dalam Tuhan. dalam nama Yesus kami berdoa amin.
MENARA, LAMBANG KEKUASAAN
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 2
Bahan: Kejadian 11:3-4
Mereka berkata seorang kepada yang lain, “Marilah kita membuat batu bata dan membakarnya baik-baik.” Lalu bata itu mereka pakai sebagai batu dan ter sebagai bahan perekat. Mereka juga berkata, “Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit. Marilah kita mencari nama supaya kita tidak terserak ke bumi.”
Saudara-saudari yang dikasihi Kristus, dua bulan lalu saya berkunjung ke negeri Belanda, saya memanfaatkan kunjungan itu. Salah satu yang penting bagi saya ialah bagaimana kehidupan kekristenan di situ. Dengan latar belakang bahwa banyak misionaris yang diutus dari Belanda. GKI Kwitang khususnya diawali oleh pelayanan missionari dari Gereformered Netherland Kerk, untuk itu kita bersyukur, demikianlah Roh Kudus menuntun para missionaris ini membawa Injil ke negeri kita ini. Saya menyaksikan gereja yang sangat-sangat besar di setiap kota dengan menara yang sangat tinggi dan orgel pipa yang masih berfungsi baik sebagai tanda kebesaran gereja itu. Tetapi sangat kontras, pengunjung kebaktian Minggu, di gereja yang besar itu tidak lebih dari 100 orang, itu pun lebih dua pertiga adalah orang lanjut usia. Saya bertanya kepada seorang teman pendeta, yang dulu pernah sebagai dosen di STT Jakarta, “mengapa tidak ada pengunjung kebaktian Minggu di gereja yang begitu besar?” Beliau menjawab, “Itulah, dulu penguasa negeri ini menyatakan kekuasaannya sebagai “wakil” Tuhan, dengan mendirikan gereja besar dan menara yang tinggi.”
Penguasa pusat menyatakan kekuasaannya dengan menara gereja yang tinggi, maka menyusul pemerintah daerah, sampai pemerintah di kota-kota lain mendirikan gereja sebagai lambang kekuasaan mereka. Pejabat-pejabat gereja diberi pakaian yang megah tidak mau kalah dengan pakaian pejabat negara. Sekarang jaman berobah, sistim pemerintahan dan kekuasaan di negeri ini berobah, sehingga gereja-gereja tidak lagi dibutuhkan untuk menyatakan kekuasaan. Dia melanjutkan, di Indonesia, agama juga sebagai kekuatan dan kekuasaan sehingga gereja-gereja turut menguatkan umatnya menghadapi kehidupan berdampingan dengan agama lain, kehadiran gereja sangat utama di Indonesia membangun iman.
Bahan renungan kita, adalah suatu prakarsa orang-orang yang trauma dengan kisah peristiwa air bah pada zaman Nuh. Untuk itu cucu-cicit Nuh, mereka membangun suatu menara yang puncaknya sampai ke langit (dunia ilahi). Kalau dulu Nuh saat keluar dari bahtera, mendirikan mezbah mempersembahkan korban bagi Tuhan, sebagai ucapan syukur dan untuk kemuliaan Tuhan. Atas korban persembahan itu Tuhan berkenan dan Tuhan berjanji tidak lagi mendatangkan air bah seperti jaman Nuh. Bagaimana dengan cucu-cicit Nuh itu? justru mereka mencari nama, untuk memuliakan nama sendiri.
Melihat tindakan orang-orang itu, Tuhan tidak berkenan. Akhirnya Tuhan menggagalkan rencana itu, dengan mengacau bahasa mereka, tidak lagi saling mengerti, mereka berpisah satu dengan yang lain, dengan itu rencana Tuhan akan berjalan, agar manusia memenuhi seluruh bumi. Sampai pada jaman ini agama-agama di segala negeri menyatakan kekuasaan Tuhan yang mereka sembah dengan meninggikan lambang kehadiran Tuhan di menara rumah ibadah mereka.
Kita aplikasikan renungan ini dengan pokok berikut:
- Bagaimana Anda memberi makna “icon/lambang” agama di rumah ibadah Anda, baik di luar mau pun di dalam rumah ibadah itu.
- Jaman “now” dengan apa bangsa-bangsa menyatakan kekuasan mereka.
- Sebagai orang Kristen siapa pengusa tertinggi bagi Anda, apa tandanya?
Mari berdoa:
Allah Bapa yang di Sorga, kami bersyukur Injil keselamatan telah sampai pada kami melalui utusan misionaris. Kami mengimani Allah Bapa adalah penguasa sejati bagi kami seluruh umat manusia, Bapalah yang kami tinggikan dalam hidup kami dengan berserah hati kepada Bapa. Bapa mengasihi manusia berdosa; Bapa yang penuh kuasa dan kasih telah mengutus Yesus Kristus, yang wafat di kayu salib. Karena itu kami mengangkat salib sebagai kesaksian kami. Inilah doa kami dalam nama Yesus Kristus. Amin. [AS 091023]
BRAKE LAMP
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: Matius 5:16 (TB 2)
“Demikian hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Ketika berkendara di ruas jalan di Jakarta ini, kita sering menjumpai pengendara yang dengan sengaja mencopot atau membiarkan brake lamp-nya mati. Dan betapa tidak nyamannya diri kita bila berkendara di belakang kendaraan yang semacam itu. Seringkali kita dibuat sport jantung karena tidak tahu kapan persisnya kendaraan di depan kita itu akan berhenti atau memperlambat lajunya. Sebaliknya, ada juga pengendara yang sengaja membuka penutup brake lamp yang berwarna merah, sehingga setiap kali pengendara itu menginjak pedal rem, maka brake lamp menyala terang dan sangat menyilaukan pengendara di belakangnya.
Brake lamp atau lampu rem belakang kendaraan bermotor adalah komponen penerangan yang sangat penting. fungsi utama dari brake lamp itu adalah memberikan tanda kepada pengemudi kendaraan lain di belakang agar memperlambat lajunya dan tetap menjaga jarak aman karena kendaraan sedang melakukan pegeréman. Saat pengemudi menginjak pedal rem, maka lampu rem pada bagian belakang kendaraan secara otomatis akan menyala. Dalam kenyataan, komponen yang sangat penting ini ternyata kerap kali dianggap sepele oleh para pengemudi. Bahkan, banyak pengemudi yang membiarkan lampu remnya mati atau bahkan membuka penutupnya sehingga menyilaukan mata pengendara di belakangnya. Memang seharusnya brake lamp ini digunakan sebagaimana mestinya agar dapat menghindari kejadian menabrak bagian belakang kendaraan. Atau sebaliknya tidak menyilaukan mata pengendara lain di belakangnya dan dapat berakibat kecelakaan juga. Pada sisi yang lain, brake lamp yang berfungsi dengan baik menunjukkan bahwa sang pemilik mampu merawat kendaraannya dengan baik dan peduli terhadap keselamatan orang lain juga.
Kehidupan kita, seharusnya juga seperti brake lamp yang berfungsi sempurna, yaitu membawa kebaikan bagi orang-orang lain, bukan mencelakakan. Bukankah kita ini adalah terang yang mesti bersinar di tengah-tengah dunia? Tuhan Yesus bersabda, “Demikian hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga”. Agar berfungsi sempurna, maka terang itu tidak boleh di tutupi atau disembunyikan. Apa yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus tentu bukan supaya kita senang pamer di hadapan orang lain, melainkan memberikan pengaruh yang baik terhadap orang-orang di sekitar kita. Kadang kala kejahatan merajalela bukan karena tidak adanya orang baik, melainkan karena orang-orang baik itu diam. Terang yang menyala akan selalu berusaha menyuarakan dan memperjuangkan baik kebenaran maupun keadilan di manapun serta kapan pun. Bila kebenaran dan keadilan ini diperjuangkan dengan sungguh-sungguh, maka Nama Tuhan-lah yang akan dimuliakan. Oleh karena itu, di manapun kita berada, jangan pernah kita melupakan tugas kita sebagai terang yang harus memberikan pengaruh yang baik terhadap lingkungan kita.
Kiranya brake lamp yang ada di kendaraan kita senantiasa mengingatkan kita untuk selalu menghadirkan terang yang berpengaruh baik kepada masyarakat di sekitar kita. Selamat berjuang, Saudaraku, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Ya Tuhan, kami rindu untuk senantiasa menyatakan terang di mana pun kami berada. Kami Kiranya melalui apa yang kami pikirkan, katakan dan lakukan, kami dapat memuliakan Nama Tuhan di surga. Mampukanlah diri kami, ya Tuhan Yesus. Amin.
