JANGAN IKUT-IKUTAN GADUH
Views: 0
Bacaan: Kisah 16:19-34 dan Lukas 2:15-20
Salam dalam kasih dan setia Kristus.
Sahabat Kristus (Bapak-ibu, para muda dan para anak),
Gaduh dalam bahasa sunda itu adalah Ribut. Lebih jauh arti Gaduh dalam KBBI berbuat gaduh artinya ribut, rusuh, bercekcok, bercampur aduk (yang buruk dengan yang baik) susah dibedakan lagi. Dalam hidup, Gaduh menunjukkan bahwa kita tak punya pendirian: mengikuti apa yang sedang trend saja. Padahal sebagai umat Tuhan kita diharapkan untuk selalu berpegang pada kehendak Tuhan, ketika kita menjalankan kehidupan ini; Sementara ketika kita mengikuti kegaduhan, maka kita bisa menjadi orang yang tak bertanggung jawab, ikut-ikutan apa yang beredar saja di kehidupan kita, lalu kita biarkan semuanya bercampur aduk dengan apa yang buruk nantinya. Ikut dalam kegaduhan di sekitar membuat kita menjadi orang yang suka menyebarkan cekcok sana-sini. Jadi, selain kita membuat diri ini bercampur dengan yang buruk, kitapun dapat membuat ketidaknyamanan terjadi bagi orang di sekitar kita.
Bayangkanlah apa yang terjadi dengan Paulus dalam bacaan di atas. Paulus memberitakan Firman Tuhan, lalu ada orang-orang yang bertobat. Karena hal itu, para perempuan petenung merasa dirugikan, karena cukup banyak pelanggannya menjadi Kristen dan berarti mereka yang Kristen itu tak lagi datang kepada para perempuan petenung itu. Tentu “pemasukan” para perempuan petenung itu menjadi berkurang kan… lalu para perempuan petenung itu membuat kegaduhan: dengan menyebarkan isyu
Kita tahu bahwa kegaduhan itu memang disengaja. Pulus dituduh mengacaukan kota dengan mengajarkan adat istiadat yang tak boleh dilakukan oleh masyarakat tersebut. Para perempuan petenung itu telah menyesatkan pikiran masyarakat agar berpihak pada yang tak benar, agar Paulus disingkirkan, dan mereka yang telah menjadi Kristen kembali ke jalan para perempuan petenung itu.
Jadi, kalau para perempuan petenung itu, kita sudah tahu motifnya, yakni: uang, namun persoalannya di sini adalah bagaiman masyarakat bisa ikut dalam arus menyebarkan kebencian kepada Paulus?. Jika kita memperhatikan, maka kita mengetahui bahwa masyarakat yang ikut kegaduhan utu, adalah mereka yang tak menggunakan akal sehatnya dengan sungguh, sehingga mudah ikut-ikutan. Sayang sekali, akibat mudahnya ikut-ikutan, seorang yang tak bersalah seperti Paulus hari itu di lucuti dan disiksa lalu dipenjarakan.
Kita, sebagai anggota masyarakat, dapat belajar dari apa yang terjadi seperti di atas. Marilah kita hindarkan diri dari sekedar ikut-ikutan yang akan sangat memberi pengaruh pada kesengsaraan diri dan bahkan orang lain juga. Jangan terlalu mudah ikut dalam arus kegaduhan. Jangan sampai kita malah menjadi seorang yang ikut terlibat dalam sebuah rancangan buruk atau jahat dari pihak-pihak tertentu. Bukankan kita akan dengan mudah mengikuti mereka yang kedudukannya terhormat di tengah masyarakat?(spt para petenung perempuan itu). Itulah sebabnya, kita diminta berhati-hati, jangan mudah terbawa dalam kegaduhan yang beredar di sekitar kita.
Dalam hal ini, saya juga ingin mengajak kita untuk suka merenungkan terlebih dahulu segala apa yang kita dengar dan kita lihat, dengan bijaksana. Kita dapat mencontoh Maria, ibu Yesus. Maria memang telah diberitahu oleh Malaikat bahwa ia akan mengandung dari Roh Allah. Dalam benak Maria, ada banyak yang terselubung yang tak harus segera ia umbar-umbar, bahkan ketika ia didatangi oleh para Gembala itu tentang bayi Yesus. Semua orang bercakap-cakap, dengan keheranan tentang apa yang dikatakan oleh para Gembala itu, Namun ini yang terjadi dengan Maria:”…ia menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya”(ay 19). Pastilah saat itu Maria melihat keanehan dan muncul pertanyaan yang menari-nari di kepalanya. Alih-alih sibuk untuk menambahkan dengan kisahnya sendiri lalu membuat kisah baru sesuai dengan kesempitan pemahamanNya, Maria memilih untuk menyimpan dan merenungkannya. Ini artinya bahwa Maria adalah sosok yang ingin bertanggung jawab pada setiap apa yang ia katakan, sampaikan dan perbuat. Selama ia belum memahami utuh kisah dan kehendak Tuhan, serta apa seharusnya yang ia buat dalam peristiwa kelahiran Tuhan Yesus, ia memilih untuk menyimpan dalam hatinya dan merenungkannya. Maria dalam hal ini, bukanlah sosok yang mudah bercampur aduk dalam kegaduhan. Sehingga mudah mengatakan sesuatu yang belum diketahui dengan benar. Jangan seperti orang banyak sekitar yang mudah mengatakan, lalu kalau salah tinggal buat pernyataan permohonan maaf di selembar kertas bermaterai dan selesai…padahal sudah ada seseorang atau orang banyak yang dirugikan dan disengsarakan karena sikap yang tak bertanggung jawab tersebut.
Firman Tuhan hari ini mau mengajak kita menjadi orang-orang yang tak mudah ikut serta dalam kegaduhan yang diinisiasi seseorang atau sekelompok orang. Jangan sampai kita berkata bahwa asal semua orang berlaku demikian, maka biarlah saya juga bersikap demikian, padahal kata-kata tindakan dan perbuatan mereka tidak benar.. Untuk dapat mengetahui apakah tindakan kata-kata, tindakan dan perbuatan sata benar, maka marilah kita mengendalikan diri agar tak mudah terpicu oleh kegaduhan orang banyak. Simpanlah dahulu pikiran yang baru muncul sesaat dari seseorang atau orang banyak, dan renungkanlah. Jika kita yakin, apakah yang akan kita katakan dan lakukan sesuai dengan kehendak Tuhan, maka katakan dan lakukanlah. Kiranya Hikmat dan pengertian dari Tuhan yang kita tempatkan utama dalam kehidupan kita, sehingga jika kita harus bertobat ataupun harus meneruskan apa yang kita lakukan, semuanya itu lahir dari hasil perenungan kita yang terdalam, dan karena hikmat dari Tuhan yang menunjukkan kita bagaimana menjadi pengikutNya yang setia.
Kita akan menyatakan: “Ikut kegaduhan, No.🤚 Melakukan kehendak Tuhan, Yes👌”. Tuhan menolong kita. Amin. (LiN15-02-2023)
