renungan
”GATHOT”
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Keluaran 17:12 (TB 2)
“Tetapi, tangan Musa menjadi penat. Sebab itu, mereka mengambil sebuah batu dan meletakkannya di bawah Musa, supaya ia duduk di atasnya. Harun dan Hur menopang kedua tangannya, di sebelah kiri dan di sebelah kanan, sehingga tangannya tetap terangkat sampai matahari terbenam”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Bila renungan yang lalu kita membahas tentang ‘tiwul’, maka sekarang kita mengupas tentang ‘gathot’. Gathot merupakan makanan yang juga diolah dari singkong yang dikeringkan (gaplék). Meski sama-sama terbuat dari gaplék, namun tampilan dan tekstur gathot berbeda bila dibandingkan dengan tiwul. Gathot memiliki tekstur yang kenyal dan berwarna hitam sebagai hasil dari proses fermentasi gaplék. Biasanya, gathot dihidangkan bersama dengan parutan kelapa dan sedikit taburan gula pasir. Hal itu membuat cita rasa manis, asin, dan gurih menyatu saat disantap. Meskipun terlihat hitam, gathot memiliki kandungan nutrisi yang cukup tinggi. Gathot merupakan makanan berserat tinggi dan mengandung probiotik. Kandungan karbohidratnya juga lebih rendah dibanding nasi.
Selain sebagai makanan, gathot juga memiliki filosofi yang menarik. Menurut Kamus Bahasa Jawa Kawi karangan S.O Robson (2003), kata ’gathot’ berasal dari gabungan kata “gatha” dan ”ut” yang berarti gimbal. Kata gimbal disini diartikan sebagai banyak dan lengket, tidak mudah terurai, serta susah untuk dipisah-pisahkan. Sementara dalam kamus Bahasa Jawa Baru karangan Purwadarminta, kata ’gathot’ berarti kenyal. Jadi makna dari gathot bagi kehidupan bermasyarakat ialah: tetap dekat satu sama lain, tidak mudah terpisahkan, memiliki ikatan yang kuat dan tidak mudah tercerai berai. Filosofi ’gathot’ ini akan dapat terwujud apabila setiap orang di dalam komunitas dapat saling menghargai dan mewujudkan peran masing-masing sesuai dengan talentanya.
Filosofi gathot ini mengingatkan kita tentang kisah Israel melawan Amalek. Saat itu, umat Israel sudah sampai di wilayah Rafidim (Kel. 17:8-16). Tiba-tiba, orang Amalek datang hendak memerangi mereka. Musa memerintahkan Yosua dan orang-orang pilihan untuk maju berperang. Sedangkan Musa akan naik ke puncak bukit dengan didampingi Harun dan Hur. Selama peperangan berlangsung, Musa akan mengangkat tangan yang menggenggam tongkat Allah. Ketika tangan Musa terangkat tinggi, maka pasukan Israel lebih kuat dari orang Amalek. Namun, bila Musa lelah dan tangannya turun, maka orang Amalek lebih kuat dari orang Israel. Harun dan Hur memerhatikan hal itu, oleh karena itu mereka memutuskan untuk menolong Musa agar orang Israel dapat menang melawan orang Amalek. Alkitab mencatat, “Tetapi, tangan Musa menjadi penat. Sebab itu, mereka mengambil sebuah batu dan meletakkannya di bawah Musa, supaya ia duduk di atasnya. Harun dan Hur menopang kedua tangannya, di sebelah kiri dan di sebelah kanan, sehingga tangannya tetap terangkat sampai matahari terbenam”. Meski Harun dan Hur tidak berada di garis depan pertempuran, namun mereka ikut ambil bagian dalam kemenangan Israel atas Amalek.
Ada sebagian orang yang menganggap bahwa berperan dalam pelayanan itu harus kelihatan dan selalu ada di ‘garis depan’. Mereka ini akan dengan mudah menuduh orang-orang yang ada di balik layar sebagai ‘yang tidak ikut berperan’. Bahkan tidak jarang mereka juga mencibir dan menyindir. Kita seringkali lupa bahwa persekutuan itu ibarat tubuh dengan banyak angggota dengan peran masing-masing. Bukankah kadangkala bagian tubuh yang tidak nampak itu perannya justru sangat vital? Oleh karena itu, kita mesti mengingat filosofi ‘gathot’ ini, agar tetap menjaga persekutuan tetap utuh dengan menghargai dan berperan sesuai dengan talenta masing-masing. Seperti halnya Harun dan Hur, meski tidak berada di garis depan, tetapi ikut berperan dalam kemenangan Israel melawan Amalek. Yuuk kita makan gathot…. Eh, yuuk terus berperan baik secara nampak maupun tidak nampak, namun tetap berdampak signifikan dan relevan. Selamat berjuang, Saudaraku, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Ya Tuhan, kami rindu untuk dapat melakukan peran sesuai dengan talenta kami masing-masing, sehingga gereja-MU terus bertumbuh dan berkembang. Kami belajar untuk tetap rendah hati, sehingga mampu menghargai orang-orang lain dengan perannya masing-masing. Kiranya Roh Kudus menolong kami untuk dapat mewujudkannya. Terimakasih Tuhan Yesus, Amin.
DIPILIH DAN DIPILAH
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Wahyu 21: 27(TB2)
”Namun, tidak akan masuk kedalamnya sesuatu yang Najis, atau oorang yang melakukan kejijikan atau dusta, melainkan hanya mereka yang namanya tertulis di dalam kitab kehidupan Anak Domba itu.”
Syalom jemaat yang terkasih didalam Tuhan.. Kiranya bapak/ibu/saudara-saudari dalam keadaan baik..
Jemaat yang terkasih.. Menampi adalah salah satu kegiatan yang bertujuan untuk membersihkan beras dengan cara tradisional. Sebelum ditanak menjadi nasi, beras terlebih dahulu dibersihkan dari benda-benda yang dapat mengganggu kenyamanan dan kenikmatan ketika makan.
Kenyataannya, ada banyak benda yang ada di dalam tumpukan beras. Mulai dari kerikil, kutu, ataupun padi yang tidak dapat terkupas. Semua benda-benda itu diambil dan dibuang supaya beras tersebut menjadi nasi yang bermutu tinggi.
Semuanya dipilih dan dipilah dengan cermat dan teliti, sehingga ketika disajikan dapat memberikan rasa enak bagi yang memakannya.
Bacaan kita saat ini menceritakan penglihatan Yohanes tentang Yerusalem baru. Sebagaimana yang kita baca bahwa keadaan Yerusalem baru digambarkan sangat berbeda dengan keadaan dunia saat ini. Yerusalem baru menjadi satu pengharapan dari Yohanes tentang pemulihan Allah terhadap konteks kehidupannya bersama jemaat-jemaat di Asia Kecil, yang mana saat itu mengalami penderitaan.
Yerusalem baru digambarkan dalam kondisi yang sangat kudus dan suci, dimana tidak ada lagi laknat, kenajisan, kekejian ataupun dusta. Kondisi kehidupan yang tidak lagi ada dosa di dalamnya. Sehingga, hanya orang-orang yang kudus dan suci yang akan merasakan kehidupan di Yerusalem baru. Semua akan dipilih dan dipilah sesuai dengan kuasa dan kasih karunia Allah.
Dari apa yang menjadi kesaksian Yohanes dalam kitab Wahyu, sekiranya dapat mengingatkan kita bersama untuk senantiasa mengupayakan kesucian hidup kita.
Kita sebagai umat Kristus adalah bagian dari orang-orang yang telah dipilih oleh Allah untuk mendapat bagian di Yerusalem baru.
Maka, marilah kita menjauhkan diri kita dari tindakan-tindakan cemar dan senantiasa hidup dalam kekudusan sebagaimana yang Allah kehendaki. Supaya pada saatnya, ketika Tuhan Allah memilih dan memilah, nama kita ikut tertulis dalam kitab kehidupan Anak Domba Allah. Selamat berefleksi. Tuhan memberkati.
INILAH KASIH SELUAS SAMUDERA
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Jemaat Tuhan yang dikasihi Kristus, Syalom Alekhem! Apa kabar Saudara? Semoga semua dalam keadaan baik. Hari ini kita merenungkan betapa luar biasa kasih Tuhan dengan tema: “Inilah Kasih Seluas Samudera” dengan dasar dari Efesus 3:18-19 (TB 2) “ Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan semua orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus dan dapat mengenal kasih itu yang melampaui segala pengetahuan .” Demikianlah Firman Tuhan. Yang berbahagia ialah setiap orang yang mendengarkan Firman Tuhan dan yang melakukannya.
Tahukah Saudara, Rasul Palulus berdoa untuk jemaat Tuhan supaya tiap pribadi dapat memahami dan mengenal kasih Kristus seluas samudera, kasih yang melampaui segala pengetahuan.
Kasih Kristus begitu lebar, mencakup seluruh umat manusia tanpa pandang bulu. Tidak ada satu pun yang dikecualikan dari kasih-Nya. Seperti samudera yang membentang luas, kasih Kristus merangkul setiap orang dari segala bangsa, suku, dan bahasa.
Kasih Kristus tidak hanya lebar, tetapi juga panjang, tak berkesudahan. Kasih ini tidak mengenal batas waktu. Tuhan mengasihi kita sejak awal penciptaan hingga selama-lamanya. Seperti ombak yang terus-menerus datang ke pantai, kasih Kristus selalu hadir, tak pernah berakhir. Dalam kehidupan kita, mungkin ada saat-saat di mana kita merasa jauh dari Tuhan, tetapi kasih-Nya selalu setia dan tidak pernah meninggalkan kita.
Kasih Kristus juga tinggi, melampaui pemahaman kita. Kasih ini mengangkat kita dari keterpurukan dan dosa, memberikan kita pengharapan dan keselamatan. Dalam Kristus, kita menjadi anak-anak Allah yang berharga. Kasih ini mengajarkan kita untuk melihat diri kita dan orang lain dengan cara yang berbeda, sebagai ciptaan yang berharga dan dikasihi oleh Tuhan.
Kasih Kristus begitu dalam, menjangkau hingga ke lubuk hati kita yang terdalam. Kasih ini memahami setiap rasa sakit, kesedihan, dan kebahagiaan kita. Seperti samudera yang dalam, kasih Kristus mampu menenangkan badai dalam hidup kita dan memberikan kita damai sejahtera yang sejati.
Saudara-saudari yang terkasih, kasih Kristus adalah kasih yang seluas samudera. Kasih yang lebar, panjang, tinggi, dan dalam. Kasih yang tidak terbatas ini adalah anugerah yang harus kita syukuri dan bagikan kepada orang lain. Mari kita hidup dalam kasih ini dan menjadi saluran kasih Tuhan bagi sesama kita. Amin, Saudara? Puji Tuhan!
Seperti kesaksian pujian yang dinyanyikan oleh Cherubim Orchestra GKI Kwitang, sebuah pujian yang berjudul: “Here is Love” Pujian ini sungguh menginspirasi dan meneguhkan banyak orang percaya. Lagu ini menyatakan suatu kesaksian “Inilah kasih seluas samudera” Kasih Tuhan mengalir bagai air bah.
Ketika Penebus kita menumpahkan darah-Nya bagi kita. Siapakah yang dapat melupakan kasih-Nya dan berhenti menyanyikan pujian bagi-Nya? KasihNya tidak akan pernah terlupakan kekal selamanya. Oleh sebab itu Cherubim tak pernah brhenti memuji Tuhan! Puji Tuhan!
Di Bukit penyaliban, sumber kasih terbuka lebar. Lewat kemurahan Tuhan mengalir kasih-Nya. Kasih karunia-Nya mengalir deras, mengalir tiada henti dari surga. Damai sejahtera serta keadilan yang sempurna. Merangkul dunia yang berdosa dengan kasih-Nya.” O, sungguh luar biasa!
Apakah Saudara akan melupakan kasih karunia yang telah merangkul Saudara? Saya yakin, Saudara tidak akan pernah melupakan kasihNya, Saudara akan terus memuji Tuhan, bahkan Saudara akan menjadi saksi dari kasih Kristus seluas samudera itu!
Bersediakah Saudara selalu memuji kasihNya yang seluas samudera itu? Bersediakah Saudara menjadi saksi kasih Kristus dalam kehidupan sehari-hari? Bersediakah Saudara melakukannya? Lakukanlah saja. Itu sudah cukup! Amin.
Mari kita berdoa:
Ya Bapa yang di surga, Bapa yang kami kenal dalam Tuhan Yesus, kasihMu sungguh luar biasa, kasih yang seluas samudera. Mampukanlah kami semakin memahami dan mengenal kasihMu. Pakailah kami menjadi saksi kasihMu dalam kehidupan sehari-hari. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus, kami berdoa. Amin. Tuhan Yesus memberkati Saudara dan keluarga!
(RH AM 40724)
SETIAP HARI MEMUJI ENGKAU
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Mazmur 145
Salam sejahtera semoga kita makin mampu dan berniat teguh untuk memuji, mengagungkan, memuliakan nama Tuhan setiap hari seperti ungkapan dalam Mazmur 145:1-2 (TB2) Puji-pujian dari Daud. Aku hendak mengagungkan Engkau, ya Allahku, ya Raja, dan aku hendak memuji nama-Mu untuk seterusnya dan selamanya. Setiap hari aku hendak memuji Engkau, dan hendak memuliakan nama-Mu untuk seterusnya dan selamanya.
Kita memuji Tuhan bukan karena kebiasaan, ikut-ikutan, atau terpaksa tapi karena alasan yang jelas, dimengerti dan direnungkan setiap hari. Kita membuat keputusan, tekad yang tidak berubah untuk memuji, memuliakan Tuhan setiap hari, seumur hidup kita. Kita belajar dari pemazmur bagaimana ia merumuskan alasan untuk memuji Tuhan.
Orang yang memuji Tuhan adalah orang yang mengalami kemenangan dalam iman, mengalami pembaharuan hidup, sehingga sadar dan mau melakukan kehendak Tuhan dengan taat sesuai bimbingan Roh Kudus. Kehendak Tuhan diantaranya adalah memuji, memuliakan, mengagungkan Tuhan. Orang yang memuji Tuhan adalah orang yang mempunyai hubungan pribadi yang dekat dengan Tuhan. Mempunyai cara pandang yang benar tentang Tuhan.
Memuji Tuhan dilakukan dalam ibadah, berdoa, membaca firman. Memuji Tuhan berarti menyebut nama Tuhan dengan penghayatan, perenungan yang mendalam, semua perhatian diarahkan untuk memahami tentang Tuhan dengan benar, dan tidak menyebut nama Tuhan dengan sembarangan seperti yang ungkapkan dalam Keluaran 20:7 (TB2), Jangan menyebut nama Tuhan Allahmu, untuk disalahgunakan, sebab Tuhan akan memandang bersalah orang yang menyalahgunakan nama-Nya. Maknanya adalah kita harus selalu menghormati Tuhan, menjaga kekudusan nama Tuhan, tidak menggunakan nama Tuhan untuk lelucon, candaan, tidak menyebut nama Tuhan, kalau tidak pada tempatnya. Tempat kita menyebut nama Tuhan adalah dalam bersekutu, ibadah, doa, membaca firman Tuhan, bersaksi, menjelaskan firman Tuhan dan melayani. Menyebut nama Tuhan bukan untuk memuliakan nama diri sendiri, bukan untuk kepentingan pribadi tapi yang utama adalah untuk memuliakan, memuji nama Tuhan.
Melalui kalimat doa, nyayian memuji Tuhan, kita mengenal hati jiwa, sikap iman orang terhadap Allah. Kita mengenal hati jiwa dan sikap iman pemazmur melalui doa, nyanyian yang tertulis dalam kitab Mazmur. Kita belajar dari doa pemazmur tentang sikap iman, sikap dan dasar memuji dan bersyukur pada Tuhan. Dalam ibadah, yang diutamakan adalah persekutuan, kebersamaan dalam memuji Tuhan. Ini berarti ada sikap iman bersama agar bersama-sama mengagungkan, memuliakan dan memuji Tuhan.
Dalam memuji Tuhan, maka diri sendiri tidak dipuji. Daud seorang raja, tapi ia tidak memuji diri sendiri sebagai raja yang hebat, ia mengagungkan Tuhan sebagai Allah dan Raja yang agung, mulia, tidak ada bandingnya, perkasa. Hanya Allah sebagai raja yang disembah, sujud untuk menerima perintah Raja, menerima tugas dan kuasa untuk melakukan rencana atau kehendak Allah. Menyembah dengan sujud dihadapan Allah dengan sukacita, bukan perasaan kesal, marah, hampa, ketika menerima perintah, kuasa dari Tuhan. Kita menyapa Tuhan karena hasil perenungan yang mendalam dan membuat sukacita hati kita.
Alasan pemazmur memuji, memuliakan Tuhan karena Tuhan itu besar dan patut dipuji setinggi tingginya. Kebesaran Tuhan mengagumkan, tidak dapat diselami, tidak ada yang mampu memahami rahasia Allah. Ketidakmampuan memahami Allah membangkitkan pujian. Pemazmur sadar akan kebesaran Tuhan yang tidak terduga karena itu ia semangat, meluap-luap menyapa dan memuji Tuhan. Dan ia mengharapkan agar semua generasi memuji Tuhan. Pujian kepada Tuhan terus dijelaskan berulang-ulang kepada setiap generasi. Kita diingatkan agar anak-anak diajarkan agar mau dan mampu memuji Tuhan dengan sikap iman yang benar.
Memuji Tuhan berarti memberitakan, membicarakan, menyanyikan, memasyurkan pekerjaan-pekerjaan Tuhan yang mulia agung, semarak ajaib, kuat, dahsyat baik adil. Karya Tuhan yang besar harus dijadikan peringatan, perayaan. Tuhan yang membangkitkan peringatan. Dalam ibadat, karya Allah yang agung dikenang kembali melalui pewartaan dan perayaan.
Alasan memuji Tuhan, yang lain adalah karena Tuhan itu pengasihi dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setianya. Tuhan itu baik dan penuh kerahiman, yaitu sifat seorang ibu, yang memelihara kandungannya. Kerahiman Allah yaitu melindungi, menghidupi, menghangatkan, memberi pertumbuhan, menjaga, menerima tanpa syarat. Kita dalam ibadah atau perayaan mengajak seluruh umat manusia untuk menyadari kembali belas kasih Allah yang tiada batasnya, yang dibutuhkan manusia dalam segala kondisi terutama ketika manusia telah menjadi korban tirani kuasa dosa, tirani kematian. Orang beriman agar lebih sering mengakui kebaikan dan kerahiman Allah yang tidak ada batas agama, suku, warna kulit kedudukan sosial, usia, jenis kelamin. Pemazmur berharap agar seluruh ciptaan ikut bersama-sama memuji Tuhan. Bersama-sama dengan orang yang dikasihi Tuhan yaitu orang beriman yang telah menerima kasih dan kesetiaan Tuhan. Kita berharap makin banyak orang yang memberitakan, menceritakan Kerajaan dan keperkasaan Allah, yang mulia, kepada setiap orang.
Alasan ketiga memuji Tuhan adalah Ia setia dan adil. Setia dalam segala perkataan-Nya, setia berpegang pada janji-Nya, penuh kasih setia dalam segala perbuatan-Nya. Pemazmur dalam penderitaannya berulang-ulang memohon kasih setia Tuhan. Bukti kasih setia Tuhan tampak dalam tindakanNya menopang orang yang jatuh dan menegakkan yang tertunduk. Orang yang berharap kepadaNya tidak pernah dikecewakan, karena Dia memberi mereka makanan pada waktunya dan memenuhi kebutuhan segala yang hidup. Keadilan Tuhan tampak dalam kasih setiaNya terhadap orang yang menderita. Dia dekat pada setiap orang yang berteriak minta tolong kepada-Nya. Tapi orang fasik dibinasakan-Nya.
Marilah kita memuji Tuhan setiap hari dengan jiwa yang bernyanyi, dalam terang surgawi. Kita berharap agar dunia turut bermazmur dan bersyukur padaNya seperti ungkapan dalam PKJ 220 ayat 1. Jiwaku, mari, nyanyi! Tuhanmu pujilah, yang dalam t’rang sorgawi dipuji, disembah. Hendak di dunia ini ‘ku turut bermazmur, selagi ‘ku di sini padaNya bersyukur! Amin
Berdoa;
Ya Tuhan mampukan kami untuk memuji, mengagungkan, memuliakan nama Tuhan setiap hari dengan alasan yang kami renungkan tentang Tuhan yang baik, perkasa, pengasih, penyayang. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin
”TIWUL”
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Efesus 4:2-3 (TB 2)
“Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dengan saling membantu. Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Tiwul mengingatkan masa kecil saya. Setiap hari Minggu pagi, Mamah selalu membelikan kami tiwul krawu, yaitu penganan dari tiwul manis dengan parutan kelapa di atasnya. Tiwul krawu itu kami santap sebelum berangkat ke Sekolah Minggu. Bagi yang belum tahu, tiwul adalah salah satu makanan tradisional Jawa pengganti nasi yang dibuat dari gaplék (singkong yang sudah dikeringkan) kemudian ditumbuk dan dikukus hingga matang. Tak hanya lezat, nasi tiwul memiliki kandungan gizi yang tinggi dan bermanfaat. Kandungan serat dalam tiwul juga sangat bagus bagi pencernaan untuk mencegah sembelit. Cukup makan sedikit saja, sudah dapat mengenyangkan perut. Selain itu kandungan karbohidratnya lebih rendah dari nasi putih dan bebas gluten sehingga cocok untuk diet menurunkan berat badan.
Tiwul mudah ditemukan di Wonosobo, Gunungkidul, Wonogiri, Pacitan, dan Blitar. Tidak diketahui secara pasti kapan tiwul ini mulai dibuat, namun tiwul sudah menjadi makanan pokok sebagian besar rakyat Jawa pada masa penjajahan Jepang seiring dengan mahal dan langkanya beras kala itu. Saat agresi militer Belanda yang ke-2 tahun 1948-1949, tiwul menjadi bekal makanan yang dibawa oleh para pasukan republik. Oleh karena itu, nasi tiwul menjadi bagian dari sejarah perjuangan melawan penjajah. Bagi pasukan republik dan rakyat yang berjuang melawan penjajah, tiwul bukan hanya sekedar makanan, melainkan mengandung filosofi yang dalam.
Dalam kamus bahasa Jawa modern Bausastra oleh Purwadarminta dijelaskan bahwa kata tiwul ini merupakan keratabasa (akronim) dari _‘setiti bén aja di awul-awul’ (terjemahannya teliti / cermat agar tidak berantakan). Dengan kata lain tiwul bermakna agar bertindak hati-hati, seksama, cermat, dan tidak ceroboh supaya tetap satu dan tidak mudah dipecah belah. Tiwul mengajarkan kepada manusia untuk tetap bersatu, berhati-hati dalam mengambil tindakan, dan juga tidak mudah dibuat berantakan atau terpecah-belah.
Filosofi tiwul mengingatkan kita kepada nasihat Rasul Paulus kepada jemaat Efesus tentang rendah hati, lemah lembut, dan sabar agar dapat memelihara kesatuan dan persekutuan di tengah perbedaan latar belakang setiap anggota jemaat. Rasul Paulus mengingatkan, “Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dengan saling membantu. Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera”. Kerendahhatian mengarahkan kita kepada pengenalan diri, sehingga dapat memiliki kesadaran bahwa yang ada pada pada diri kita hanyalah karunia dari Tuhan. Dengan demikian, tidak ada hal yang patut kita sombongkan di hadapan orang lain. Kelemahlembutan mengajarkan kita agar menjaga persekutuan supaya lebih baik. Nasihat ini sesdungguhnya tentang pegendalian nafsu supaya tidak semena-mena terhadap orang lain. Khususnya, bagi anggot ajemaat yang dipercaya untuk menjadi pemimpin. Kesabaran mengarahkan agar semangat kita tidak kendor meski menghadapi gesekan, gunjingan dan perbedaan pendapat di tengah persekutuan. Kerendahhatian, kelemahlembutan, dan kesabaran yang dinyatakan ini menjadi bukti bahwa kasih itu menguasai hati kita. Dengan demikian, damai sejahtera Allah dapat hadir di tengah-tengah persekutuan jemaat.
Saudaraku, hari ini filosofi tiwul alias ‘setiti bén aja di awul-awul’ mengajak kita untuk tetap memelihara persekutuan dengan sebaik-baiknya. Bila setiti (teliti / cermat) itu dapat diwujudkan dalam sikap rendah hati, lemah lembut dan sabar, maka niscaya tidak akan di awul-awul karena damai sejatera Allah berada di tengah-tengah persekutuan. Selamat berjuang, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Ya Tuhan, kami rindu agar persekutuan jemaat Tuhan tetap menjadi satu sama seperti Bapa dan Yesus adalah satu. Kami sadar bahwa kami harus terus berupaya agar tetap rendah hati, lemah lembut dan sabar. Untuk itu kami memohon pertolongan Roh Kudus agar mampu mewujdukannya. Terimakah Tuhan Yesus, Amin.
TANTANGAN YANG MENEGUHKAN PELAYANAN
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 1
Bacaan: Kisah Para Rasul 20: 2 (TB2)
”Ia menjelajahi daerah itu dan dengan banyak nasihat menguatkan hati saudara-saudara di situ. Lalu tibalah ia di tanah Yunani”
Syalom jemaat yang terkasih didalam Tuhan.. Kiranya bapak/ibu/saudara-saudari dalam keadaan baik..
Jemaat yang terkasih.. Sebelum bertobat, Chang Shen adalah pencuri, penjudi, dan seorang hidung belang. Ia pernah dipukuli sampai buta. Para tetangga menganggapnya sebagai hukuman para dewa. Pada suatu hari, ia pergi ke sebuah rumah sakit misionari untuk menyembuhkan matanya, lalu menerima Injil dengan sukacita. Ia pulang dan memperbaharui hidupnya.
Suatu hari, kelalaian dokter lokal membuatnya kembali buta, tetapi dalam kebutaannya, ia berkeliling dari desa ke desa untuk memberitakan Injil. Ia tak menyerah meskipun menghadapi tantangan besar. Akhirnya, ia menyerahkan diri dan dibunuh agar orang-orang yang menerima pemberitaan Injilnya dibebaskan dari tawanan kelompok penguasa. Demikian kisah Chang Shen sang martir, penginjil yang paling terkenal di Manchuria, Cina.
Sama halnya dengan Paulus, setelah bertobat dan memberitakan Injil, tekanan yang dialami Paulus semakin berat. Ia mengalami penganiayaan sekaligus ancaman kematian dari waktu ke waktu. Paulus harus mengubah rute perjalanannya karena ia sedang dikejar orang-orang Yahudi yang hendak membunuhnya. Tetapi ancaman dan derita tidak membuatnya gentar. Ia memilih jalan lain lalu bertemu dengan jemaat-jemaat yang pernah didirikannya.
Disanalah ia berjumpa dengan banyak pengikut Kristus yang juga menderita aniaya. Ia menguatkan hati saudara-saudaranya agar tetap teguh dalam iman meskipun ia sendiri menderita. Secara lahiriah, Paulus tampak lemah dan hina, tetapi kehadiran teman-teman yang menyertai perjalanannya menopang dan menunjukkan bahwa kehadirannya berharga. Paulus juga membangkitkan Eutikhus dari kematiannya. Peristiwa itu semakin meneguhkan kerasulan Paulus dan penyertaan Tuhan atas dirinya.
Di minggu terakhir bulan Diakonia ini, kita diingatkan bahwa perjalanan pelayanan tidak mungkin lepas dari tantangan. Gereja dan umat yang turut serta dalam pelayanan akan selalu berhadapan dengan tekanan pelayanan dari banyak sisi. Perkara diragukan, diremehkan, dihina, dicaci maki, tak dihargai, dan berbagai pergumulan yang dihadapi justru menjadi tantangan yang meneguhkan.
Dalam kerapuhan, tangan Tuhan menopang. Di batas kelemahan, Tuhan meneguhkan perutusan-Nya. Seperti Paulus diberi-Nya kuasa untuk membangkitkan orang mati, demikian Tuhan menyatakan kuasa-Nya melampaui batas-batas kemampuan manusia. Kiranya kuasa dan penyertaan Tuhan di tengah tantangan semakin meneguhkan kita untuk melayani dan menjadi berkat bagi sesama. Selamat melayani, Tuhan memampukan kita.
KUPERCAYA HANYA YESUS PENOLONG YANG SETIA
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Jemaat Tuhan yang dikasihi Kristus, Syalom Alekhem! Apa kabar Saudara? Semoga semua dalam keadaan baik. Hari ini kita merenungkan Firman Tuhan yang berjudul: “Kupercaya hanya Yesus Penolong yang setia” dengan dasar dari Mazmur 23:1-4 (TB 2) “ TUHANlah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar demi nama-Nya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang meneguhkan aku.” Demikianlah Firman Tuhan. Yang berbahagia ialah setiap orang yang mendengarkan Firman Tuhan dan yang melakukannya.
Saudara-saudara, apakah Saudara saat ini sedang mengalami berbagai tantangan, pergumulan, dan kesulitan? Tahukah Saudara dalam Mazmur 23 yang sangat terkenal ini kita memiliki janji Tuhan yang pasti bahwa Dia adalah Penolong yang setia, yang senantiasa menyertai dan menuntun kita? Ya, Dialah Gembala yang baik dalam hidup kita. Dalam Yohanes 10:11 Tuhan Yesus menyatakan: “Akulah Gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawa-Nya bagi domba-domnba-Nya.” Tuhan Yesus sebagai Gembala yang baik bukan hanya memelihara, menuntun, dan melindungi kita. Tetapi juga mengasihi kita dengan kasih yang tak terhingga. Dia memberikan nyawa-Nya demi keselamatan kita! Karena itu, kita dapat percaya bahwa hanya Dia adalah Penolong yang setia. Amin, Saudara? Puji Tuhan!
Seperti kesaksian pujian yang dinyanyikan oleh Joyful Choir GKI Kwitang, sebuah pujian yang berjudul: “Hanya Yesus Penolong yang Setia” Pujian ini sungguh menginspirasi dan meneguhkan banyak orang percaya, karena lagu ini mengandung pesan yang meneguhkan iman, tidak takut dan bimbang, karena Tuhan lebih tahu yang terbaik bagi kita. Ia sanggup memulihkan setiap orang yang berserah dan percaya kepadaNya.
Saudara-saudara, mungkin saat ini ada Saudara yang sedang berjalan menghadapi lembah kekelaman, seperti masa-masa sulit yang penuh dengan ketidakpastian dan kesedihan. Namun, firman Tuhan hari ini meneguhkan kita: kita tidak perlu takut, tak perlu bimbang, karena Tuhan Yesus senantiasa menyertai kita. Dia adalah Terang yang menerangi jalan kita dan memberikan penghiburan di tengah kegelapan seperti kesaksian pemazmur: “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang meneguhkan aku.”
Yakinlah Saudara, Tuhan Yesus adalah Penolong yang setia. Dia tidak pernah meninggalkan atau membiarkan kita. Dalam setiap situasi, kita dapat berserah kepada-Nya dan percaya bahwa Dia sanggup memulihkan kita! Dialah Penolong yang setia!. Marilah kita mempercayakan hidup kita sepenuhnya kepada Tuhan Yesus. Dia adalah Penolong yang setia, yang selalu menyertai dan menuntun kita.
Dalam setiap pergumulan dan tantangan, mari kita ingat bahwa kasih-Nya menerangi jalan kita, dan kita tidak perlu takut dan bimbang karena Dia selalu bersama kita.
Percayalah bahwa Tuhan Yesus tahu yang terbaik bagi kita dan sanggup memulihkan hidup kita. Ketika kita mengandalkan Tuhan Yesus, kita menemukan damai sejahtera yang sejati.
Bersediakah Saudara menyerahkan hidup sepenuhnya dalam pimpinan Tuhan? Bersediakah Saudara bersaksi dalam kehidupan sehari-hari dan menyatakan: “Kupercaya hanya Yesus Penolong yang setia.” Bersediakah Saudara melakukannya? Lakukanlah saja. Itu sudah cukup! Amin.
Mari kita berdoa:
Ya Bapa yang di surga, Bapa yang kami kenal dalam Tuhan Yesus, Gembala yang baik. Kami bersyukur dan memuji Engkau karena Engkaulah Penolong yang setia. Kami berdoa bagi setiap pribadi anak-anakMu yang sedang mengalami pergumulan hidup yang berat, kiranya Tuhan menolong dan memulihkan serta memberi damai sejahtera. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus, kami berdoa. Amin. Tuhan Yesus memberkati Saudara dan keluarga!
(RH AM 270624)
