tuhan
MEREKA DAPAT MAKAN
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Yohanes 6:1-15
Salam sejahtera semoga kita makin percaya pada Yesus yang sangat mengasihi peduli peka terhadap pergumulan hidup kita dan semua orang yang lapar dan lelah. Yesus tahu apa yang harus dilakukanNya agar mereka yang lapar dan lelah dapat makan seperti ungkapan dalam Yohanes 6: 5-6 (TB2) Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya dan melihat, bahwa orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus: “Di mana kita dapat membeli roti, supaya mereka dapat makan?” Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu, apa yang hendak dilakukan-Nya.
Orang banyak yang berbondong-bondong mengikuti Yesus, bukanlah murid Yesus tapi orang yang tertarik melihat mujizat Yesus. Orang yang berbondong-bondong itu sudah hampir 15 km berjalan dengan bergegas, datang kepada Yesus hendak melihat mujizat penyembuhan. Yesus sangat mengasihi, peka hatinya dan peduli kepada orang banyak yang telah berjalan jauh. Mereka lapar dan lelah. Yesus tahu harus berbuat apa bagi orang yang lapar dan lelah. Tapi Yesus bertanya kepada murid-murid, di mana dapat membeli roti supaya dapat memberi makan orang banyak itu ? Pertanyaan Yesus adalah untuk melibatkan dan mengajarkan murid-murid agar peduli, peka kepada orang yang lapar dan lelah. Sikap Yesus sangat relevan dengan kehidupan kita. Yesus peka, peduli dengan pergumulan hidup kita. Ia mempunyai rencana untuk menjawab pergumulan hidup kita.
Respon Filipus terhadap pertanyaan Yesus, menggambarkan sikap manusia masa kini, yang pengetahuannya sangat terbatas dalam menjawab pergumulan manusia. Filipus menjelaskan bahwa sangat sulit dan mustahil mencari roti untuk orang banyak dalam waktu singkat, roti seharga dua ratus dinar tidak cukup untuk orang banyak, walau dipotong-potong kecil. Jawaban Filipus sesuai akal manusia, tidak mungkin memberi makan banyak orang dengan uang terbatas. Ini berarti dengan uang terbatas tidak dapat berbuat apa-apa untuk menolong orang yang lapar dan lelah.
Pertanyaan Yesus kepada Filipus juga menjadi pertanyaan pada gereja masa kini. Apakah kita sebagai gereja peka, peduli, mengasihi orang yang lapar dan lelah di sekitar kita, mau mengenal orang yang benar-benar lapar dan lelah dan mau bertemu Yesus? Apakah kita menjadi gereja yang hanya tenang, diam, hanya berdoa dan membaca mendengar firman saja tapi tidak berbuat apa-apa terhadap pergumulan di sekitar kita? Apakah gereja mau peka terhadap masalah kelaparan, kekurangan gizi di sekitar kita? Apakah kita hanya sibuk dengan kebutuhan sendiri, kita yang sudah cukup gizi tapi merasa lapar akan makanan enak, lapar karena nafsu kedagingan, padahal sudah berlebihan menurut ilmu kesehatan. Apakah kita tidak tergerak hati kita seperti Yesus tergerak hatinya terhadap orang yang lapar akan roti hidup, yang memberi hidup kekal. Yesus tidak membiarkan kita tenang, diam, karena itu Yesus bertanya kepada diri kita masing-masing, di mana kita dapat membeli roti supaya mereka dapat makan, supaya mereka tercukupkan gizi? Pertanyaan Yesus ini juga menguji kita pribadi, menguji gereja seberapa pekanya, pedulinya kita kepada orang yang kekurangan gizi dan kekurangan kebutuhan hidup lainnya.
Tuhan Yesus mengajarkan kepada Filipus, bahwa untuk peka, untuk melayani Yesus dan sesama, tidak bergantung kepada kekuatan diri sendiri, kemudian kita menyerah, putus asa, tidak mungkin, mustahil melayani, menolong orang banyak, uang terbatas, potensi terbatas. Kita jangan bersikap seperti Andreas, yang berkata, apa artinya untuk orang sebanyak ini? Ketika kita tidak mampu, Yesus dalam kuasa Allah Bapa, lebih mampu, tidak ada yang mustahil bagi Allah. Kemampuan kita terbatas, tapi kita menyerahkan apa yang ada pada kita kepada Yesus, untuk dipakai Yesus. Ia mempersembahkan kemampuan kita yang terbatas kepada Allah, maka Allah membuat suatu yang tidak mungkin menjadi mungkin, buktinya 5000 orang kenyang hanya dengan 5 roti dan 2 ikan. Cara Allah melakukan mujizat tidak sama bagi setiap orang, dan kita tidak tahu cara Allah melakukan mujizat, tapi Allah mampu mengubah yang tidak mungkin menjadi mungkin. Inilah yang dimaksud Yesus bahwa Ia tahu apa yang dilakukanNya untuk menolong orang yang lapar dan lelah, orang yang punya pergumulan hidup. Kita percaya bahwa kemampuan Allah dan kehendakNya untuk memakai kita. Hal itu terletak pada penyerahan diri kita kepada Tuhan, maka Tuhan akan memakai kita untuk melayani, menolong sesama.
Usaha Andreas adalah membawa seorang anak kecil kepada Yesus. Melalui anak kecil Yesus menggunakan apa yang ada, mengubahnya dengan kuasa Yesus menjadi sesuatu yang sangat berguna bagi banyak orang. Andreas tidak tahu apa yang akan diperbuat Yesus, tapi Yesus Maha Tahu apa yang akan diperbuatNya dengan menggunakan apa yang ada pada anak kecil tersebut. Orang tua bisa membawa anaknya yang kecil pada Yesus, dan Yesus juga bisa menggunakan apa yang dimiliki anak-anak tersebut dengan kuasaNya menjadi berguna bagi banyak orang. Guru sekolah minggu membawa anak-anak kepada Yesus, maka Yesus dapat menggunakan kuasaNya untuk mengubah apa yang ada pada anak kecil menjadi berguna bagi banyak orang nantinya, bagi gereja, bagi masyarakat.
Yesus memerlukan apa saja yang kita bawa pada Yesus untuk diubah Yesus menjadi berguna bagi Yesus bagi gereja bagi masyarakat. Mungkin yang kita bawa pada Yesus tidak banyak, tapi Yesus dengan kuasaNya mampu mengubah menjadi suatu mujizat. Kita membawa diri kita kepada Yesus, membawa waktu, tenaga, pikiran, uang, potensi kepada Yesus dan minta Yesus memakainya menjadi suatu mujizat yang berguna, membuat orang kenyang atau membuat orang lain berkembang, hidup dalam kemenangan. Kita perlu menyesali dosa kita karena tidak membawa apa-apa pada Yesus agar diubahkan Yesus menjadi berguna. Kita membawa sesuatu pada Yesus karena Yesus tahu apa yang hendak dilakukanNya melalui diri kita.
Gereja yang berdiakonia, berarti gereja yang dilibatkan dan diajarkan untuk peka, peduli kepada orang yang lapar, lelah seperti pertanyaan Yesus: “Di mana kita dapat membeli roti, supaya mereka dapat makan?” Pertanyaan ini, berarti Tuhan mengutus kita ke dalam dunia untuk yang miskin dan lapar berkeluh, kita melayani dengan sepenuh, dengan senang, dan kita memuliakan namaNya seperti ungkapan dalam PKJ 185 ayat 3. Tuhan mengutus kita ke dalam dunia untuk yang miskin dan lapar berkeluh. Meski dihina serta dilanda duka, harus melayani dengan sepenuh. Reff: Dengan senang, dengan senang, marilah kita melayani umatNya. Dengan senang, dengan senang, berarti kita memuliakan namaNya.amin.
Berdoa:
Ya Tuhan kiranya kami makin percaya pada Yesus yang sangat mengasihi peduli peka terhadap pergumulan hidup kami dan semua orang yang lapar dan lelah. Kami mau dilibatkan Yesus untuk peka, peduli mengasihi orang yang lapar dan lelah, dalam nama Yesus kami berdoa, amin.
SKALA PRIORITAS
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 2
Bahan: Hagai 1:2-4,
“Beginilah firman TUHAN semesta alam: Bangsa ini berkata: Sekarang belum tiba waktunya untuk membangun kembali rumah TUHAN!” Maka datanglah firman TUHAN dengan perantaraan nabi Hagai, bunyinya: “Apakah sudah tiba waktunya bagi kamu untuk mendiami rmah-rumahmu yang dipapani dengan baik? Sedang Rumah ini tetap menjadi reruntuhan?
Saudara-saudari yang dikasihi Kristus, saat kita mau makan, yang menjadi prioritas ialah berdoa. Karena yang kita akan makan adalah dari tangan Tuhan. Tetapi dalam suasana lapar sekali dan mengejar waktu, ada saatnya kita tidak berdoa atau doanya di bawah standar sebelum makan. Kita bisa memaafkan diri sendiri, tetapi bagaimana “perasaan Tuhan”? Demikian juga waktu kita mau tidur malam, ngantuk sekali sehingga lupa berdoa. Demikian dengan prioritas.
Kitab nabi Hagai, suatu keadaan setelah umat Israel pulang dari pembuangan, mereka telah sampai di Yehuda dan Yerusalem, itulah waktu yang ditunggu telah tiba, merdeka dan keluar dari tawanan. Alangkah bahagianya mereka, mereka membangun rumah tinggal, membuka usaha pertanian, segala keperluan mereka usahakan. Tetapi keadaan sehari-hari ternyata sulit, tidak maju-maju, kehidupan sangat berat, tidak cukup sandang pangan, dan harga membubung tinggi. Apa sebabnya? Karena prioritas hidup bangsa yang merdeka ini keliru. Setiap orang semata-mata hanya memikirkan kepentingan diri sendiri, mereka lupa siapa yang mengembalikan, membawa pulang ke negeri mereka. Peran dan kedudukan Tuhan diabaikan, nafsu mencari kenikmatan menjauhkan mereka dari peran dan kehadiran Tuhan. Itulah yang terjadi, masing-masing sibuk membangun rumah untuk mereka, ladang mereka buka untuk meraih hidup yang lebih baik dan layak. Padahal segala yang baik dalam hidup ini, sampai saat ini bagi kita berasal dari Tuhan, Dia berkenan mengaruniakannya, Dia juga berkenan menahannya, bahkan menstop aliran karunia itu bagi kita. Bagi orang yang tak berTuhan, mengatakan untung atau rugi, sukses atau gagal, terletak dalam “studi kelayakan” atau perhitungan usaha seseorang.
Nabi Hagai menunjukkan skala prioritas yang disingkirkan oleh umat itu, yaitu mencari Tuhan, (mencari kebenaran dan Kerajaan Allah, Mat 6:33). Hagai dengan telak menusuk hati sanubari umat itu. Rumah Tuhan, Bait Allah yang dalam puing reruntuhan, sama dengan rumah mereka, Rumah tempat perjumpaan umat dengan Tuhan, tidak ada yang menggubris. Sama juga dengan sikap kita saat ini, apakah Mat 6:33, menjadi prioritas dalam keseharian kita? Atau biarkan saja ayat itu tinggal di Alkitab, kemudian kita berusaha menurut skala prioritas dengan studi kelayakan atau perhitungan logika kita saja. Apa yang menjadi prioritas aktivitas keseharian kita? Tegoran nabi Hagai, membuat umat memandang pada puing reruntuhan Bait Allah. Dengan tegoran itu umat menghentikan kepentingan diri sendiri dan mereka membangun Bait Allah, walau tidak seindah aslinya, tetapi suatu kenyamanan hidup terpancar bagi setiap orang yang berdoa dan bersekutu dalam ibadah umat di Bait itu.
Aplikasi:
- Dapatkah Anda membuat skala prioritas dalam menjalani kehidupan ini?
- Bagaimana Anda menyatakan tanggung jawab pada Jemaat Anda?
- Mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya, (Mat 6:33) bisakah menjadi prioritas Anda?
Mari berdoa:
Bapa surgawi yang kaya dengan karunia yang baik bagi kami, kami mohon Roh Kudus membimbing hati dan pikiran kami untuk mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya. Kami mohon dalam usaha dan kerja kami Tuhan karuniakan kesuksesan bagi kami, sehingga nama Tuhan termulia bagi kami. Amin. [AS170624]
”WOW…, KĒRÉN…!”
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Pengkhotbah 11:5 (TB 2)
“Sebagaimana engkau tidak mengetahui pergerakan angin dan tulang-tulang dalam rahim seorang perempuan yang mengandung, demikian juga engkau tidak mengetahui pekerjaan Allah yang membuat segala sesuatu”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Ungkapan “wow, kērén!” merupakan sebuah ungkapan yang wajar dikatakan pada saat melihat atau menjumpai sesuatu yang menakjubkan, indah, baik, cantik dlsb. Ungkapan “wow, kērén!” ini juga yang muncul di benak saya hampir 24 tahun lalu, ketika pertama kali melihat bunda beberapa saat sebelum pernikahan kami berdua diteguhkan dan diberkati. Saya percaya, Anda pasti dapat membayangkan perasaan saya kala itu, bukan?
Ungkapan “wow, kērén!” itu mestinya juga sering muncul di dalam benak kita. Mengapa? Karena bila kita dengan jujur menengok kebelakang dan melihat kembali rangkaian perjalanan kehidupan, maka sesungguhnya kita hanya akan melihat rangkaian berkat-berkat Tuhan yang tak henti-hentinya mengalir. Bukan berarti bahwa kita tidak pernah mengalami persoalan, musibah atau bahkan tragedi; namun jumlah permasalahan yang kita jumpai ternyata masih jauh lebih sedikit didandingkan dengan berkat-berkat Tuhan yang dicurahkanNya.
Saya dan teman-teman pernah mengungkapkan frasa “wow, kērén!” ini juga. Betapa tidak? Ada sebuah peristiwa yang banyak menguras perhatian dan energi kami sebagai lembaga. Kami berusaha mengambil bagian sesuai dengan peran dan tugas masing-masing. Sedikit demi sedikit persoalan itu akhirnya mampu kami dihadapi dan diatasi. Bila persoalan dapat diselesaikan, maka itu pasti bukan karena kehebatan kami, melainkan Tuhan Yesus-lah yang berada di depan dan berkarya bagi kami. Kami menghayati bahwa Anugerah Tuhan itu: “wow, kērén!”. Di dalam hidup ini sudah seharusnya kita menghayati bahwa Tuhan sudah melakukan yang terbaik bagi kita, kita hanya perlu melakukan apa yang menjadi bagian kita sesuai dengan kemampuan dan talenta masing-masing. Ya, betul! “God already do the best, and then we will do the rest!”
Pemahaman seperti itulah yang disampaikan oleh Penulis Kitab Pengkhotbah. Dalam Kitab Pegkhotbah 11, diajarkan tentang sikap iman di tengah ketidakpastian. Dalam nasihatnya, Pengkhotbah secara khusus memberi pedoman tentang bagaimana kita mesti terus berjuang, berusaha dan bersikap dengan benar di tengah-tengah kehidupan yang tidak pasti. Menurut Pengkhotbah, jika hanya memerhatikan risiko-risiko dan / atau gejolak-gejolak yang ada saja, maka bisa jadi kita malah tidak akan pernah melakukan apapun. Kita mesti selalu yakin bahwa Tuhan hadir dan telah berkarya bagi kita. Tugas kita hanya melakukan bagian kita dengan upaya yang seoptimal mungkin. Oleh karena itu Pengkhotbah menasihatkan, “Sebagaimana engkau tidak mengetahui pergerakan angin dan tulang-tulang dalam rahim seorang perempuan yang mengandung, demikian juga engkau tidak mengetahui pekerjaan Allah yang membuat segala sesuatu”. Tuhan bekerja dengan cara-Nya yang ajaib yang seringkali terjadi di luar dari apa yang bisa kita bayangkan.
Saudaraku, mari kita dengan jujur melihat setiap berkat yang telah diberikan oleh Tuhan, maka niscaya kita akan mengatakan bahwa kasih dan berkat Tuhan itu: “wow, kērén!” Sampai hari ini pun ketika saya melihat bunda, kakak, dhedhek, semua keluarga besar, teman-teman dan seluruh pengalaman hidup ini, maka tidak ada alasan bagi kami untuk tidak mengatakan, “wow, kērén!”. Selamat berjuang, Saudaraku, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Ya Tuhan berilah kepada kami kepekaan untuk dapat melihat dan merasakan setiap campur tangan Tuhan di dalan kehidupan kami. Dengan demikian, kami akan terus dapat belajar mengucapkan syyukur atas kebaikan-Mu. Kiranya Roh Kudus menolong kami untuk dapat melakukannya. Terimakasih Tuhan Yesus, Amin.
KISAH PAK TANEM DAN PAK TANDUR
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Lukas 8:5-8 (TB2)
”Adalah seorang penabur keluar untuk menaburkan benihnya. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu diinjak orang dan burung-burung di udara memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, dan setelah tumbuh ia menjadi kering karena tidak mendapat air. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, dan Semak itu tumbuh bersama-sama dan menghimpitnya sampai mati. Sebagian jatuh di tanah yang baik, dan setelah tumbuh berbuah serratus kali lipat. “Setelah berkata demikian Yesus berseru,” Siapa yang memiliki telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar”
Syalom jemaat yang terkasih didalam Tuhan.. Semoga bapak/ibu/saudara-saudari dalam keadaan baik..
Jemaat yang terkasih.. Suatu ketika terjadi percakapan di antara dua orang petani, sebut saja namanya Pak Tanem dan Pak Tandur. Pak Tandur mengeluh bahwa hasil panennya tidak begitu baik. Sementara itu Pak Tanem malah dapat memperoleh hasil panen yang maksimal, baik dari segi kuantitas maupun kualitas.
Pak Tandur merasa heran, karena benih yang dipergunakan adalah sama dengan yang dipakai oleh Pak Tanem, bahkan pupuk yang digunakan sudah sesuai dengan aturan pemupukan. Lalu ia berusaha mencari tahu kepada Pak Tanem apa kira-kira hal yang tidak dilakukannya sehingga hasil panennya kalah dengan pak Tanem.
Setelah berdiskusi, barulah ia tahu bahwa selama ini Pak Tanem juga menggunakan pupuk organik untuk memelihara kualitas tanah miliknya. Menurut Pak Tanem penggunaan pupuk kimia lambat laun akan menurunkan kualitas tanah yang menjadi media tumbuhnya tanaman. Dengan menggunakan pupuk organik maka kualitas tanah dapat dipulihkan kembali sehingga hasil panenan akan tetap terjaga.
Setiap orang Kristen tentu juga berharap agar kualitas iman dan spiritualnya dapat tumbuh dengan baik. Ibarat tanah, maka sebenarnya kitapun juga harus mau mengolah iman dan spiritualitas kita dengan sebaik mungkin. Bagaimana mungkin kita dapat mengharapkan hasil yang terbaik bila kita tidak mau mengolah atau mempersiapkan diri kita? Apakah iman dan spiritualitas dalam kehidupan kita akan dapat tumbuh dan berbuah dengan sendirinya?
Kehidupan iman dan spiritualitas setiap pribadi Kristen ibarat tanah yang harus senantiasa diolah dan dirawat. Benih yang ditaburkan oleh Tuhan kepada semua orang adalah sama kualitasnya. Namun apabila ia jatuh di tempat yang kurang baik maka ia akan sulit bertumbuh. Jadi, merawat/ mempersiapkan diri adalah perlu, agar anugerah Allah dapat tumbuh dan membuahkan hasil yang maksimal, baik untuk diri kita sendiri maupun orang lain. Tuhan memampukan kita.
PAKAI AKU TUHAN UNTUK MELAYANIMU
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bapak Ibu, Saudara-saudari, dan kaum muda yang dikasihi Kristus, Syalom Alekhem! Apa kabar Saudara? Semoga semua dalam keadaan baik. Masih dalam Bulan Diakonia GKI Kwitang kita akan merenungkan tentang hal yang sangat penting yaitu panggilan pelayanan. Maka kita merenungkan Firman Tuhan yang berjudul: “Pakai aku Tuhan untuk melayaniMu” dengan dasar dari Yesaya 6:8 (TB 2) Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Kita?” Maka sahutku: “Ini aku, utuslah aku!” Demikianlah Firman Tuhan. Yang berbahagia ialah setiap orang yang mendengarkan Firman Tuhan dan yang melakukannya.
Saudara-saudara, dalam Yesaya pasal 6 ini, Nabi Yesaya mendengar suara Tuhan yang memanggilnya. Yesaya merasa tidak layak saat dia dipanggil (Yesaya 6:5). Namun, Tuhan menguduskan dan mempersiapkannya untuk tugas besar. Yesaya merespon dengan menyatakan kesediaannya: “ Ini aku Tuhan, utuslah aku!”
Bagaimana dengan kita, saudara-saudara, perlu peka mendengar panggilan Tuhan dalam hidup kita. Tuhan memanggil kita untuk berbagai tujuan dan peran dalam kehidupan ini. Kita perlu merespon dengan berkomitmen menyatakan kesediaan.
Rasul Paulus mengatakan: “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati” (Roma 12:1).
Sebelum menjawab panggilan Tuhan, tentunya kita perlu percaya bahwa setiap langkah yang kita ambil di bawah pimpinan-Nya akan membawa kita ke dalam rencana yang indah. Tuhan sendiri menyatakan: ~“ Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan” (Yeremia 29:11).
Seperti kesaksian pujian yang dinyanyikan oleh seorang pemudi aktivis jemaat GKI Kwitang, sebuah pujian yang berjudul: “Pakai aku Tuhan” ciptaan Franky Sihombing. Pujian ini sungguh menginspirasi banyak orang percaya untuk menyerahkan hidup kepada Tuhan. Pujian ini mengandung pesan yang begitu kuat tentang kerinduan untuk dipakai oleh Tuhan untuk melayani dalam kehidupan sehari-hari. Suatu kesaksian yang indah: Sebenarnya Tuhan sudah memberikan segalanya: “Sungguh aku merasakan kasih sayangMu, Tuhan. Dengan apa aku dapat membalas kasih sayangMu, Tuhan? Tak ada sesuatupun yang dapat aku berikan sebagai persembahan yang berarti bagiMu.” Dengan pemahaman ini, ia berkomitmen: “Kuserahkan hidup ini, pakailah aku Tuhan untuk melayaniMu.” Bagaimana dengan Saudara? Tuhan sudah memanggil Yesaya dan banyak orang percaya sepanjang zaman, saat ini Tuhanpun juga memanggil Saudara dan saya untuk melayani.
Saudara-saudara, bersediakah Saudara menyatakan komitmen untuk siap diutus dan melayani Tuhan di bidang-bidang pelayanan yang Tuhan kehendaki sesuai dengan kemampuan kita masing-masing? Bersediakah Saudara menjawab panggilan Tuhan dengan segala kesediaan dan menyatakan: “Ini aku, Tuhan, utuslah aku!” Lakukanlah saja. Itu sudah cukup! Amin.
Mari kita berdoa:
Ya Bapa yang di surga, kami bersyukur dan memuji Engkau yang telah memanggil kami untuk melayani Tuhan. Berkatilah jemaat GKI Kwitang dalam menjalankan Bulan Diakonia pada tahun ini. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus, kami berdoa. Amin. Tuhan Yesus memberkati Saudara dan keluarga!
(RH AM 130624)
TUHAN MENJAWAB
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Ayub 38 : 1-11
Salam sejahtera. Kita bisa memohon jawaban dari Tuhan tentang pergumulan, penderitaan, kemalangan sakit penyakit yang kita alami, dan minta tolong Tuhan agar kita tidak mengeluarkan perkataan-perkataan yang tidak berpengetahuan dan mengaburkan rancangan Tuhan, pada saat kita mengalami penderitaan hidup, seperti pengalaman Ayub yang diungkapkan dalam Ayub 38:1-2 (TB2) Lalu dari dalam badai TUHAN menjawab Ayub: “Siapakah dia yang mengaburkan rancanganKu dengan perkataan-perkataan yang tidak berpengetahuan?
Ada masalah yang perlu digumuli dalam kitab Ayub ini yaitu bagaimana mungkin manusia yang baik hati, jujur, taat beragama dan saleh, nyatanya menderita sengsara dan tertimpa kemalangan. Banyak orang berhikmat dalam terang iman menggumuli tentang penderitaan manusia. Ada orang berpikir bahwa penderitaan itu adalah semacam hukum pembalasan, semacam karma yang ditetapkan Tuhan yang adil. Kalau orang baik dan saleh, pasti hidupnya bahagia, makmur, sejahtera serta berhasil hidupnya. Sengsara dan kemalangan untuk sementara waktu dapat menimpa orang baik dan saleh. Tapi itu hanya semacam ujian dan pencobaan. Pada akhirnya orang baik dan saleh, diberkati Tuhan dan menjadi bahagia. Tapi orang bodoh, jahat, dan fasik pasti dihukum Tuhan. Kalaupun mereka bahagia dan sejahtera itu sifatnya sementara saja dan kebahagiaannya semu belaka. Orang fasik pasti dihukum setimpal.
Ketiga sahabat Ayub (Elifaz, Bildad, Zofar) menggunakan pemahaman di atas. Ketika Ayub tertimpa kemalangan, maka ketiga teman Ayub mengambil kesimpulan bahwa Ayub memang berdosa karena itu menderita, ditimpa kemalangan. Masih ada dosa yang disembunyikan Ayub. Karena itu Ayub harus merendahkan diri, mengaku dosa, dan bertobat, maka Tuhan akan memulihkan kebahagiaan. Pendapat Elihu, bahwa penderitaan Ayub merupakan ujian dan cobaa bagi Ayub dengan maksud membersihkan dan meningkatkan kesalehan Ayub. Kalau Ayub menerima penderitaan itu maka kebahagiaan akan diberikan. Pendapat ketiga teman Ayub, masih banyak yang menggunakannya pada masa kini. Kalau melihat teman menderita, gagal, sakit dan tidak sembuh, maka mereka mengambil kesimpulan pasti ada dosa yang disembunyikan. Orang yang sakit, menderita itu harus mengakui dosa dan bertobat.
Ayub menolak pemahaman ketiga temannya tersebut. Ayub menyadari bahwa dirinya tidak bersalah, ia selalu setia pada Tuhan, ia tidak melakukan dosa dengan sengaja. Ayub membela kesucian dirinya. Ayub yakin dirinya tidak berdosa, maka Allah yang adil, harusnya memberi kebahagiaan pada dirinya. Tapi dalam kenyataan, Ayub yang saleh, setia, tidak berdosa, mengalami penderitaan, kemalangan, sakit. Ketiga sahabat Ayub menuduh Ayub tidak mau mengakui dosa dan sombong. Ayub merasa dirinya tidak berdosa dan tidak sombong. Ayub yang dalam penderitaan makin tertekan dengan pendapat ketiga temannya itu. Sama seperti seorang ibu yang sedang sakit di rumah sakit, makin tertekan ketika ada orang yang besuk mengatakan bahwa masih ada dosa yang disembunyikan, karena itu tidak sembuh sakitnya.
Kitab Ayub ini menjelaskan tentang pergumulan dengan Allah dalam penderitaan. Penderitaan hidup yang berlawanan dengan keadilan Allah. Ada orang berpendapat mengenai penderitaan dengan berkata : apa boleh buat ya sudah nasib. Atau ada yang berpendapat bahwa Tuhan memang senang menyiksa manusia dengan semena-mena. Tuhan tidak adil, Tuhan tidak sayang. Dalam kitab Ayub kita tidak diajarkan berkata seperti ini.
Kitab Ayub mengajarkan orang tentang Allah, tapi tidak menggunakan cara berpikir manusia yang lama, yang dipahami oleh teman-teman Ayub dan Ayub sendiri. Cara berpikir manusia yang lama dapat mengaburkan tentang rancangan Tuhan, menggelapkan pikiran manusia tentang keputusan Tuhan. Perkataan manusia berdasarkan pengetahuan yang tidak lengkap dan tidak sempurna tentang Tuhan, manusia tidak dapat memahami sepenuh bahwa Tuhan yang sangat berkuasa dan mulia.
Allah sendiri memberikan jawaban atas pergumulan Ayub mengenai penderitaan, kemalangan, sakit penyakit yang dihadapinya. Tuhan menjawab Ayub dengan menjelaskan tentang kebesaran dan kemuliaan Tuhan, yang jauh melampaui akal Ayub dan semua manusia. Allah dan hikmatnya adalah suatu rahasia yang tidak dapat diselami manusia. Manusia tidak boleh mencocokan Tuhan sesuai pikiran dan pemahaman sendiri. Manusia tidak bisa sempurna dan lengkap dalam memahami Tuhan dan kuasa, serta hikmatNya. Manusia sering tergoda untuk menciptakan pemahaman sendiri tentang Allah. Kalau Tuhan tidak sesuai dengan pemahaman sendiri, maka mereka akan mengutuki, menuduh, menghujat Tuhan, bahkan menyangkali Tuhan, memberontak pada Tuhan, meninggalkan Tuhan dan menjadi ateis. Orang yang menolak Tuhan, menghujat Tuhan, menertawakan Tuhan akhirnya menjadi orang fasik, orang durhaka. Ayub akhirnya berkesimpulan bahwa sikap yang baik adalah berserah kepada rahasia Tuhan. Allah itu baik, adil, dan penuh cinta kasih. Tapi apa itu kebaikan, keadilan dan cinta kasih Tuhan, manusia tidak mampu memahaminya.
Berserah itu adalah bertekuk lutut dihadapan Tuhan, menyembah Tuhan, tidak merasa diri lebih hebat dari Tuhan, sebab Tuhan itu perkasa, kita terbatas pengertian tentang keperkasaan Tuhan. Kekuasaan Tuhan ada dalam seluruh alam semesta. Tuhan meletakan dasar dari bumi, dan manusia tidak ada yang ikut memberi pikiran pada saat Tuhan meletakan dasar bumi ini. Berapa besar ukuran alam semesta yang harus dibuat, manusia tidak memberikan pendapatnya pada Tuhan. Kalau membuat sebuah perumahan, manusia bisa memberi pendapat tentang ukuran, berapa besar luas perumahan dan bangunan, tapi tentang alam semesta tidak ada pikiran manusia yang disumbangkan kepada Tuhan, karena manusia terbatas pikirannya, pengertiannya tentang alam semesta. Banyak kejadian di laut, di langit, yang tidak dipahami manusia, hanya Tuhan yang tahu rahasia semuanya dan Tuhan yang mengatur, mengendalikan semuanya, karena Tuhan sangat berkuasa, penuh kasih, dan pemelihara.
Ketika kita menghadapi pergumulan, penderitaan hidup, kita bisa bertanya pada Tuhan, namun dalam memohon jawaban dari Tuhan kita tetap percaya akan kesetiaan Tuhan karena Tuhan adil, seperti ungkapan dalam PKJ 139 ayat 1. Tuhan, ya Allahku, dengarkan permohonanku. Jawablah aku dalam kesetiaanMu karena keadilanMu. Jawablah aku dalam kesetiaanMu karena keadilanMu. Amin
Berdoa:
Ya Tuhan kami memohon jawaban dari Tuhan tentang pergumulan, penderitaan, kemalangan sakit penyakit yang kami alami, dan tolong kami agar tidak mengeluarkan perkataan-perkataan yang tidak berpengetahuan dan mengaburkan rancangan Tuhan, pada saat kita mengalami penderitaan hidup, dalam nama Yesus kami berdoa. amin
NEW LIFE’S JOURNEY
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bahan: Nehemia 8:4a, 5,
Ezra, ahli kitab itu, berdiri di atas mimbar kayu yang dibuat untuk peristiwa itu. Ezra membuka kitab itu di depan mata seluruh umat, karena ia berdiri lebih tinggi dari semua orang itu. Pada waktu ia membuka kitab itu semua orang bangkit berdiri.
Saudara, saudari yang dikasihi Kristus, suatu ucapan banyak disampaikan kepada mempelai saat pesta pernikahan yaitu: “Selamat menempuh hidup baru.” Ucapan ini mengingatkan pasangan suami-isteri itu memulai perjalanan baru, memulai ikatan suami-isteri membangun rumah tangga. Kehidupan lama, sebelumnya harus mereka tinggalkan. Selain itu, banyak peristiwa yang kita alami memasuki New life”s journey, seperti wisuda menerima gelar akademis, memulai berkarya dengan jabatan baru, dilantik menjadi pejabat, dst.
Bahan renungan kita bagi umat Israel memasuki New Life’s Journey, yaitu setelah 70 tahun meringkuk di tanah pembuangan, yang diawali penaklukan Yehuda dan Yerusalem oleh Nebukadnezar raja Babel. Yehuda dan kota Yerusalem dihancurkan, tembok kota dijebol, pintu-gerbang kota di bakar, terutama Bait Allah di Yerusalem diruntuhkan, alat-alat persembahan dari emas dan perak dijarah dan dibawa ke Babel. Hanya para lansia dan orang miskin tinggal dan mereka menderita dalam kehancuran itu. Berikutnya kerajaan Babel direbut oleh Kerajaan Persia dan Media. Setelah 70 thn, penguasa negeri Persia yaitu raja Koresh memperkenankan umat Israel pulang kembali ke Yehuda, ke tanah Benyamin dan Yerusalem dan Ezra salah satu menjadi pelopor membawa umat itu pulang. Demikian juga pada pemerintahan raja Artahsasta memperkenankan Nehemia kembali ke Yerusalem untuk membangun kembali kota itu. Demikian juga pada jaman raja Darius, Hagai diperkenankan membangun tembok Yerusalem. Akhirnya Yehuda dan Yerusalem kembali menjadi kota bagi umat Israel di mana Tuhan setahap demi setahap menepati janji-Nya sampai Yesus lahir pada jaman kekaisaran Romawi menguasai “dunia.”
Suatu dasar yang kokoh, telah diletakkan Tuhan sejak Abraham di panggil. Pengikat bangsa itu menjadi umat Tuhan yaitu Taurat diterima oleh Musa di tambah dengan berbagai hukum dan aturan. Sejak mereka dalam pembuangan Taurat, hukum dan peraturan Tuhan itu telah dibungkam, mereka harus menyembah dewa negeri pembuangan itu. Itu yang dialami oleh Daniel, Mesakh, Sadrakh dan Abednego. Namun setelah mereka kembali ke Kanaan, kota Yerusalem telah dibangun, Bait Allah masih dalam pembangunan, umat itu teringat akan Kitab Taurat Tuhan. Selama dalam pembuangan 70 tahun Taurat Tuhan tidak tahu keberadaannya, datanglah Ezra yang rupanya ahli Kitab Taurat itu. Suatu hari ditetapkan agar Kitab Taurat itu diperdengarkan kepada seluruh umat. Sebuah mimbar dari kayu telah disiapkan agar umat bisa melihat kitab itu dan mendengar apa yang tertulis di dalamnya. Semua umat laki-laki dan perempuan telah berkumpul, Ezra membawa kitab itu ke atas mimbar, semua mata dan telinga tertuju pada perkataan dari kitab itu. Ezra membuka Kitab Taurat Tuhan, semua umat bangkit berdiri, sebagai tanda hormat dan tekad mendengar dan melakukan firman Tuhan, dengan firman itulah mereka memasuki New Life’s Journey.
Aplikasi:
- Mendengar Kitab Taurat Tuhan, apa kesannya yang baik bagi Anda?
- Dari Sepuluh Hukum Tuhan, hukum keberapa yang sangat penting bagi Anda?
- Dalam hidup Anda, New Life’s Journey mana yang paling berkesan?
Mari berdoa:
Bapa kami yang di surga, dalam kasih setia Tuhan setiap pagi kami menerima perjalanan hidup baru. Semoga setiap hari kami rindu mendengar firman Tuhan yang menuntun, menerangi jalan kami. Karya dan kerja kami menjadi baru karena Tuhan memberkati. Demikianlah permohonan dan syukur kami, dalam nama Kristus. Amin. [AS100624]
MANGGA MONYET
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: 1 Tes. 5:21 (TB 2)
“Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik. Jauhkanlah dirimu dari segala jenis kejahatan”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Mangga monyet? Mungkin pertanyaan itu muncul dalam benak Anda. Atau bisa saja Anda berpikir bahwa saya salah dalam memberikan judul bagi renungan ini. Bukankah tidak ada buah yang bernama ‘mangga monyet’? Yang ada adalah jambu monyet? Betul sekali! Apa yang saya sebut sebagai mangga monyet ini sesungguhnya adalah jambu monyet. Tetapi mengapa saya menyebutnya dengan mangga monyet? Begini ceritanya.
Tentu kita tidak asing dengan buah tersebut. Kita mengenalnya dengan bentuk buahnya yang berdaging lunak, berair, bewarna kuning hingga kemerahan dan di bawahnya terdapat biji keras berbentuk seperti ginjal berwarna coklat kehitaman. Ketika melihat tanaman dengan buahnya yang bergelayutan di pohon tersebut, maka kita akan menyebutnya jambu monyet. Banyak orang mengira bahwa yang berdaging lunak pada jambu monyet adalah buahnya. Padahal sebenarnya yang berdaging lunak itu adalah dasar bunga (receptaculum) yang mengembang setelah terjadinya pembuahan atau bisa disebut dengan buah semu. Sedangkan yang berbiji keras itu adalah buah sejatinya. Biji keras inilah yang setelah diolah kita sebut dengan kacang mete / kacang mede.
Masyarakat memasukkan buah ini ke dalam kerabat jambu-jambuan karena bentuk dan warnanya yang mirip sekali dengan jambu air. Akan tetapi, bila diteliti berdasarkan taksonominya (atau berdasarkan pengaturan jenis tanaman dalam hierarki kelompok), maka sesungguhnya jambu monyet tidak termasuk keluarga jambu-jambuan. Buah jambu merupakan keluarga myrtaceae, sedangkan jambu monyet termasuk dalam keluarga anacardiaceae. Buah yang termasuk dalam keluarga anacardiaceae adalah mangga. Oleh karena itu, jambu monyet sebetulnya merupakan bagian dari keluarga besar mangga-manggaan. Nah, dari latar belakang inilah, saya memberikan judul untuk renungan ini adalah “mangga monyet”.
Saudaraku, dari cerita tentang jambu monyet (atau mangga monyet) ini, kita belajar tentang pentingnya memeriksa ulang dan memempelajari lebih dalam apa yang sebelumnya kita kenal, sehingga kita benar-benar mengenal dan tidak keliru dalam memahami. Dan rasanya ini berlaku pada semua hal, termasuk juga di dalam ajaran iman. Untuk itulah, Rasul Paulus memberikan nasihat kepada jemaat Tesalonika, demikian: “Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik. Jauhkanlah dirimu dari segala jenis kejahatan”. Nasihat iini merupakan bagian dari kumpulan nasihat Paulus yang tertulis dalam perikop 1 Tesalonika 5. Apa yang disampaikan oleh Paulus itu merupakan nasihat-nasihat bagi jemaat agar damai sejahtera Tuhan terpelihara di antara mereka (5:13). Salah satu nasihat itu mengingatkan jemaat untuk menguji segala sesuatu (5:21). Jemaat perlu peka pada apapun yang tidak berasal dari Tuhan, termasuk nubuatan-nubuatan yang berasal dari kehendak manusia atau bahkan dari si jahat. Jemaat perlu menguji apakah yang mereka dengar atau ucapkan itu merupakan kehendak Tuhan atau bukan?
Menguji segala sesuatu dengan tetap berpegang pada apa yang baik tentu akan dapat menjauhkan kita dari kejahatan. Oleh karena itu sebelum berprasangka, maka kita perlu menguji segala sesuatu dengan tetap berpegang pada hal yang baik dan benar. Seperti halnya jambu monyet tadi. Ternyata ia bukan keluarga jambu-jambuan, melainkan mangga-manggaan. Jadi sepertinya lebih tepat disebut mangga monyet. Ha… ha… ha… Mari kita menguji segala sesuatu dengan berpegang pada hal yang baik dan benar. Selamat berjuang, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Ya Tuhan, kami rindu untuk tidak mudah jatuh pada prasangka. Oleh karena itu kami mau belajar menjadi peka, sehingga dapat menguji segala sesuatu serta berpegang pada yang baik dan benar. Kiranya Roh Kudus menolong kami untuk dapat melakukannya. Terimakasih Tuhan Yesus, Amin.
