tuhan
MERINDUKAN KEDATANGANNYA
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: 2 Timotius 4 : 6-8
Salam sejahtera semoga kita merindukan kedatangan Yesus kembali, sebagai hakim yang adil dan rindu disediakan Yesus, mahkota kebenaran seperti ungkapan dalam 2 Timotius 4:8 Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.
Ayat ini mengajak kita untuk memikirkan tentang kehidupan masa mendatang, yaitu akhir hidup manusia, dan akhir dari sejarah dunia. Sangat penting memahami akhir zaman, seperti ungkapan dalam pengakuan iman rasuli : ..naik ke sorga, duduk disebelah kanan Allah, Bapa yang mahakuasa. Dan dari sana Ia akan datang untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati. Memikirkan tentang kehidupan masa datang, selalu berkaitan dengan hidup masa sekarang seperti yang dinyatakan dalam 2 Timotius 4:7 Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Hidup sekarang adalah pertandingan memelihara iman, sampai kita mencapai garis akhir hidup kita dan tetap setia kepada Kristus. Orang yang hanya memikirkan masa mendatang tanpa memikirkan dan mengisi hidup masa kini dengan pertandingan iman, berarti orang tersebut tidak merindukan kedatangan Yesus kembali.
Pertandingan iman dan merindukan kedatangan Yesus kembali, merupakan hal yang saling terkait.
Hidup Yesus sejak lahir, melayani, sengsara, mati, bangkit, naik ke surga dan kembali, menjadi contoh bagi hidup kita dalam pertandingan iman, menjadi contoh kesetiaan pada Allah. Yesus memberi contoh etika hidup yang kita jalani sekarang dalam pertandingan iman. Kita tidak menunggu masuk Kerajaan Allah, baru etika yang dicontohkan Yesus kita lakukan. Etika yang dicontohkan Yesus kita laku saat ini dalam pertandingan iman dan dilanjutkan dalam Kerajaan Allah secara sempurna. Jika pengharapan pada masa yang akan datang dapat mempengaruhi kehidupan kita masa kini, maka akan bermanfaat untuk mengetahui apakah masa sekarang harus dipahami dalam terang masa yang akan datang atau apakah sebaliknya (Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru 3, BPK Gunung Mulia 1993).
Masa yang akan datang dibedakan secara jelas sekali dengan masa sekarang, dan masa peralihan dari masa sekarang ke masa depan dikenal sebagai hari Tuhan. Orang banyak bertanya kepada Yesus sebagai Mesias, tentang masa depan. Timbul ketegangan yang tidak dapat dielakan, antara kesadaran bahwa zaman baru telah dimulai dan harapan yang teguh akan kedatangan Yesus kembali. Yesus menjelaskan bahwa Kerajaan Allah mengandung aspek masa sekarang dan masa akan datang, hadir secara berdampingan. Pengajaran mengenai masa depan berpusat pada Kristus yang akan menyatakan diri, dan inilah pusat perhatian kita.
Kedatangan Yesus kembali, sudah pasti, bukan kemungkinan. Namun sebelum kedatangan Yesus kembali ada tanda-tanda akhir zaman, seperti peperangan, gempa bumi, kelaparan, penganiayaan, ada nabi-nabi palsu yang menyesatkan banyak orang, matahari dan bulan menjadi gelap. Betapa menderitanya manusia menjelang akhir zaman. Kejadian-kejadian ini menakutkan manusia, tapi apakah manusia akan menghormati dan takut akan kedatangan Tuhan Yesus kembali sebagai hakim yang adil. Bagi orang yang ateis, yang bebal hati, tidak peduli akan Tuhan, mereka peduli dan mengandalkan pada pikiran, kekuatan diri sendiri, kepintaran manusia saja. Bagi orang seperti ini, tidak ada kerinduan akan kedatangan Tuhan Yesus kembali.
Waktu kedatangan Yesus kembali, tidak ada yang tahu, tapi sudah dekat dan segera, karena itu kita diminta bertobat, berjaga-jaga. Waktu ada di tangan Allah, sebab waktu itu milik Allah. Setiap apa yang dikerjakan Yesus, baik kedatanganNya kembali, semua diatur oleh Allah Bapa. Yesus adalah Anak Allah yang taat pada perintah, peraturan, dan rencana Allah Bapa. Ketika orang menghayati kedatangan Yesus kembali sudah dekat dan segera, maka kerinduan akan kedatangan Yesus makin bertambah-tambah. Dan orang beriman makin mempersiapkan diri menyambut kedatangan Yesus kembali, dengan berjaga-jaga, mengisi minyak dalam pelita, melakukan pertandingan iman sampai akhir hidup kita. Walau menderita, berduka, terkena bencana, peperangan, ada pembinasaan yang keji, matahari dan bulan menjadi gelap, kita terus bersemangat mempersiapkan diri menyambut kedatangan Yesus karena kita sangat rindu akan kedatangan Yesus. Jangan sampai karena penderitaan yang berat, orang kehilangan keyakinan pada Tuhan Yesus, kehilangan pengharapan pada Tuhan Yesus, hilang kerinduan pada kedatangan Yesus kembali.
Paulus yang menderita di penjara, diperlakukan sebagai penjahat karena memberitakan Injil, tapi ia tetap merindukan kedatangan Yesus kembali. Dalam penderitaan dan kesepian di penjara, dan akan dihukum mati, Paulus merindukan ada orang yang meneruskan pemberitaan Injil. Timotius diharapkan setia dalam pelayanan. Kita semua diharapkan setia memberitakan Injil walau harus menderita, dan berkorban, untuk menjelaskan kepada banyak orang agar segera bertobat, berjaga-jaga.
Orang yang merindukan kedatangan Yesus, akan ikut pertandingan iman yang baik sampai akhir hidup. Pertandingan iman adalah pertandingan kekayaan iman bukan kekayaan materi dan kekuasaan. Iman itu memberi kekuatan kepada orang yang bertanding. Pertandingan iman dilakukan dengan memberitakan Injil kepada anggota keluarga, teman dan sesama. Pemberitaan Injil tidak boleh berhenti, sampai akhir hidup kita, dan akhir zaman. Orang yang merindukan kedatangan Yesus akan tekun, setia memberitakan Injil sesuai talenta yang Tuhan berikan. Pemberitaan Injil dilakukan dengan berkorban, rela mati, karena kematian kita sudah dekat. Kita berkorban demi mendapat mahkota kebenaran, yaitu hidup yang dibenarkan Tuhan Yesus, dan dituntun Roh Kudus melakukan perintah Allah.
Kita yang rindu akan kedatangan Yesus, ingin agar Tuhan menghiburkan hati yang rindu. Kita dengan hati terbuka menyambut kedatangan Yesus dan rindu mendapat bahagia karena terang surgawi. Yesus adalah harapan dunia, dan menerangi jiwa manusia seperti ungkapan dalam KJ. 84 ayat 1. Ya Yesus, Dikau kurindukan, lipurkan lara batinku; seluruh hatiku terbuka menyambut kedatanganMu. Bahagia, Terang sorgawi, Engkau harapan dunia: Terbitlah, Surya Mahakasih, dan jiwaku terangilah! amin
Berdoa:
Ya Tuhan kami merindukan kedatangan Yesus kembali, sebagai hakim yang adil dan rindu disediakan Tuhan Yesus mahkota kebenaran setelah kami melakukan pertandingan iman sampai akhir hidup kami, dalam nama Yesus kami berdoa amin
KECIL-KECIL CABE RAWIT
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bahan: Mika 5:1-2,
Tetapi, engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari antaramu akan bangkit bagi-Ku seorang yang memerintah Israel, yang asalnya sudah sejak dahulu kala, sejak zaman dahulu. Sebab itu, ia akan membiarkan mereka sampai waktu perempuan yang sedang melahirkan telah melahirkan. Lalu selebihnya dari saudara-saudaranya akan kembali kepada anak-anak Israel.
Saudara-Saudari yang dikasihi Kristus, kita menyimak bahan renungan kita rasanya pas seperti yang disebut dalam tema: KECIL-KECIL CABERAWIT. Banyak jenis cabe, tetapi caberawit mendapat tempat yang khusus karena pedas dibanding dengan jenis cabe yang lain. Kecil-kecil caberawit menjadi pepatah, yang diberi arti: Kecil tetapi berprestasi, kecil bentuknya tetapi bertenaga atau berkekuatan besar.
Bahan renungan kita dalam memasuki Minggu Adven II, mengangkat peran dan kedudukan kota Betlehem Efrata, jika dibandingkan dengan kota-kota lainnya di daerah Yehuda, maka Betlehem kota yang terkecil. Beberapa catatan membuat kota kecil ini menjadi penting, di tepi kota ini Rahel istri Yakub di kuburkan, Naomi berasal dari Betlehem dia membawa Rut yang akhirnya menikah dengan Boas yang menjadi leluhur Daud dan ikut dalam garis keturunan Yesus Kristus yang memang lahir di Betlehem Efrata di tanah Yehuda. Kalau kita perhatikan dalam rangkaian peristiwa ini, maka semua itu bukan secara kebetulan dan bukan juga diatur dan dipaksakan sehingga Betlehem kota kecil terangkat. Kota Betlehem yang kecil itu yang tidak mengikuti logika manusia, tetapi telah menggambarkan kerendahan hati Tuhan yang penuh kasih, menerima kelahiran Yesus Kristus di kandang domba. Dengan terbuka, Betlehem telah di nubuatkan sebagai kota kelahiran Sang Mesias Juruselamat.
Menurut pengamatan logika manusia yang terlihat dalam kedatangan orang majus dari Timur, karena mereka telah melihat bintang kelahiran raja orang Yahudi yang baru dilahirkan. Orang majus ini menuju dan sampai di kota besar Yerusalem dan di sana mereka bertanya: Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang bari dilahirkan itu? Tetapi bahan renungan kita ditemukan oleh imam dan ahli Taurat, ternyata kelahiran Mesias di Betlehem, kota kecil dan Dia terbaring di palungan di kandang domba. Orang majus dengan gembira dan sukacita bertemu dengan raja yang mereka cari, persembahan yang telah mereka siapkan untuk kelahiran raja mereka persembahan.
Demikianlah telah diletakkan dasar pengutusan Kristus ke dunia ini, terlihat kecil tetapi Dia menjadi Juruselamat umat manusia, lahir di kota kecil tetapi diperuntukkan bagi seluruh kota besar di dunia. Akhirnya Dia disingkirkan karena dianggap kecil oleh kaum yang merasa diri besar, penguasa, tetapi justru Dia merangkul dan memeluk semua dosa orang besar dan kecil untuk disucikan dan diselamatkan oleh darah-Nya yang tercurah di salib di Golgota.
Kita aplikasikan renungan ini dengan pokok berikut:
- Kita gampang menemukan orang yang memandang Yesus Kristus itu “kecil,” bagaimana sikap anda atas pandangan ini?
- Dari sudut pandang mana kita melihat kebesaran Yesus Kristus.
- Nubuat apa saja yang Anda tahu tentang hidup dan karya Kristus?
Mari berdoa:
Bapa yang di Surga, Bapa telah mengutus Yesus Kristus dalam kerendahan, agar kami manusia yang rendah di hadapan Bapa diselamatkan, diangkat tinggi bersama Dia. Kami belajar menghayati kerendahan manusia berdosa agar kami mampu bertobat terima keselamatan dalam Yesus Kristus. Inilah doa kami dalam nama Tuhan Yesus, Amin. [AS111223]
BLACKY DAN BOXIE MEMANG BERBEDA
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 1
Bacaan: Keluaran 14:13-14 – TB2
“Tetapi Musa berkata kepada bangsa itu: “Jangan takut, berdirilah teguh dan lihatlah keselamatan dari TUHAN, yang akan diberikan-Nya kepadamu hari ini, sebab orang Mesir yang kamu lihat hari ini, tidak akan kamu lihat lagi untuk selama-lamanya. TUHAN akan berperang untuk kamu, dan kamu berdiam diri saja”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Kami pernah memiliki 2 ekor anjing, yang satu bernama blacky dan satunya bernama boxie boxer. Mereka memiliki karakter yang sangat berbeda. Blacky selalu menggonggong jikalau ada sesuatu yang dianggap mengganggu, seperti: binatang kecil, ada suara dan bila ada orang lain. Bila blacky melihat orang lain di depan pintu gerbang, maka ia akan menggonggong. Meski demikian, ia akan menggonggong sembari meletakkan ekornya di sela-sela kaki belakang. Menurut artikel, ciri-ciri seperti itu menunjukkan adanya ketakutan dan kekuatiran yang berlebihan terhadap segala sesautu yang dianggap sebagai ancaman. Di satu sisi, gonggongan blacky bisa menjadi alarm. Namun di sisi yang lain, sangat berisik dan lumayan mengganggu.
Berbeda sekali dengan boxie. Ia lebih tenang dan cenderung tidak pernah menggonggong. Boxie malah akan ikut “menyanyi” bila kakak dan dhedhek memainkan alat-alat musik tertentu. Bagaimana bila ada orang lain datang? Ya, meski boxie tidak menggonggong, namun ia akan berperilaku waspada. Matanya akan selalu mengikuti gerak orang tersebut dan posisi tubuhnya siap menerjang. Menurut artikel, perilaku seperti ini adalah perilaku ‘alert’. Oleh karena itu bila berjumpa dengan anjing seperti itu, kita mesti waspada dan menjaga jarak.
Melihat blacky dan boxie, saya jadi teringat bahwa dalam kehidupan ini kadang dijumpai ada orang yang terlalu ribut dengan sungut-sungut karena kekuatiran terhadap persoalan yang melanda. Namun ada juga orang yang lebih tenang walau tetap waspada bila ada persoalan datang. Pertanyaannya adalah mengapa ada yang bersungut-sungut dan ada yang tenang – tidak bersungut-sungut? Menurut saya, jawabannya terletak pada iman dan keyakinan. Bila seseorang kuatir alias gentar, maka ia akan cenderung untuk bersungut dan marah tidak jelas. Namun, bila ia memiliki keyakinan bahwa Tuhan akan menolong, maka ia akan mampu bertenang tidak perlu bersungut-sungut.
Persoalan seperti itu dapat kita lihat juga dalam salah satu pengalaman perjalanan Israel keluar dari tanah Mesir. Baru saja Isarel keluar dari Mesir, mereka harus menghadapi kenyataan bahwa mereka dikejar oleh bala tentara mesir. Bangsa Israel merasa sangat ketakutan, dan mulai bersungut-sungut kepada Musa. Mereka menyalahkan Musa karena telah membawa mereka keluar dari tanah Mesir. Kanyataan ini sebetulnya merupakan sebuah ironi, karena mereka baru saja mereka merasakan pertolongan Tuhan yang telah membebaskan mereka dari tanah Mesir. Bagaimana sikap Musa? Musa mengatakan, “Jangan takut, berdirilah teguh dan lihatlah keselamatan dari TUHAN, yang akan diberikan-Nya kepadamu hari ini, sebab orang Mesir yang kamu lihat hari ini, tidak akan kamu lihat lagi untuk selama-lamanya. TUHAN akan berperang untuk kamu, dan kamu berdiam diri saja”. Musa sangat yakin bahwa Tuhan pasti akan menolong mereka seperti halnya Tuhan membebaskan bangsa Israel dari tanah Mesir. Oleh karena itu tidak perlu befsungut-sungut, melainkan berserah kepada Tuhan.
Persoalan bisa saja datang siling berganti, hanya saja apakah kita akan menjadi orang yang mudah bersungut-sugut karena kuatir atau sebaliknya tenang dan yakin karena Tuhan akan menolong. Pengalaman memiliki blacky dan boxie memberi pelajaran indah bagi saya, untuk tetap berani bertenang karena yakin bahwa Tuhan akan menolong dan meberi jalan keluar. Selamat berjuang, Saudaraku, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Ya Tuhan, kami rindu untuk tetap tenang dan teguh ketika menghadapai berbagai persoalan. Kiranya Roh Kudus menolong kami untuk dapat mewujdukannya. Di dalam nama Tuhan Yesus, Amin.
BERJALAN BERSAMA TUHAN
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: Mikha 4:5 (TB2)
”Sekalipun segala bangsa berjalan masing-masing demi nama ilahnya, kita akan berjalan demi nama Allah kita untuk seterusnya dan selama-lamanya”
Syalom jemaat yang terkasih didalam Tuhan.. Semoga bapak/ibu/saudara-saudari dalam keadaan baik.. Alkisah ada dua orang pemuda asik bercengkrama, menimang harapan dan saling membisikkan pergumulan. Salah seorang dari mereka berucap dengan wajah memelas, ”Hidup itu berat, banyak yang harus diperjuangkan dan dikorbankan.” Mendengar keluhan itu, sahabatnya berkata, ”Hidup itu berat karena kamu pikul, padahal hidup bukan untuk dipikul, melainkan untuk dijalani. Bukankah jika hidup dijalani akan terasa lebih ringan, apalagi jika kamu minta Tuhan untuk menyertai.” Seketika hening kembali melanda di sore itu, entah karena ingin semakin meresapi atau justru mencari pembenaran diri.
Bacaan kita saat ini menceritakan tentang nubuatan yang akan terjadi, yaitu ketika bangsa Israel kembali dari tanah pembuangan Babel. Jika kita melihat pasal sebelumnya (psl. 1-3), maka akan terlihat bahwa hukuman dijatuhkan kepada bangsa Israel, karena mereka menyembah allah lain dan melakukan segala yang jahat di mata Tuhan. Namun ketika mereka bertobat dan kembali menyembah Tuhan, maka dinubuatkan bangsa Israel akan dibebaskan. Mereka akan kembali ke Sion dan dipimpin oleh Tuhan sendiri. Tuhanlah yang akan menghakimi dengan adil dan memerintah dengan penuh kasih. Saat itulah Sion akan menjadi terang bagi semua bangsa, karena keadilan dan kebenaran akan diajarkan serta diberlakukan. Setiap orang akan hidup aman dan sejahtera, karena Tuhanlah yang memimpin dan memerintah sebagai Raja.
Sesungguhnya, Kristuslah Tuhan Sang Raja Damai itu. Ia telah datang ke dalam dunia, untuk menunjukkan jalan, kebenaran, dan kehidupan. Ilustrasi dan bacaan kita saat ini, hendak menegaskan supaya kita terus mengandalkan Tuhan dalam setiap langkah hidup kita. Sejarah membuktikan jika manusia hanya mengandalkan kemampuannya dan dipimpin oleh egonya, maka hal itu hanya akan membawa pada malapetaka.
Oleh karena itu, pada minggu Adven ini mari kita berkomitmen untuk terus berjalan bersama Tuhan. Yakinlah jika Tuhan yang memimpin hidup kita dan hanya Dia yang memerintah dalam hidup kita, maka kita akan dituntun pada hidup yang penuh ketentraman, kedamaian, dan keselamatan. Selamat berefleksi untuk kita semua, Tuhan memberkati.
MAKA JIWAKU MEMUJIMU
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, Syalom Alekhem! Hari ini kita merenungkan firman Tuhan yang berjudul: “Maka jiwaku memujiMu.” dengan dasar dari Kitab Mazmur 29:1-4 “ Kepada TUHAN, hai penghuni surgawi, berilah kepada TUHAN kemuliaan dan kekuasaan! Berilah kepada TUHAN kemuliaan namaNya , sujudlah kepada TUHAN dalam kekudusan. Suara TUHAN di atas air. Allah yang mulia mengguntur, TUHAN di atas air yang besar. Suara TUHAN penuh kekuatan, suara TUHAN penuh semarak .” Demikianlah Firman Tuhan. Yang berbahagia ialah setiap orang yang mendengarkan firman Tuhan dan yang memeliharanya.
Dalam Mazmur 29 ini, Raja Daud mengawalinya dengan seruan kepada seluruh penghuni surgawi memuji dan sujud menyembah TUHAN. “seluruh penghuni sorgawi” dalam ayat 1, perkataan ini berasal dari bahasa Ibrani yang arti harfiahnya adalah “anak-anak Allah”. Jadi, yang dimaksud bukan hanya para malaikat di surga, tetapi juga semua orang percaya kepada Allah, diajak untuk menyembah dan memuliakan TUHAN bersama dengan dirinya.
Mengapa kita harus memuji TUHAN? Karena TUHAN adalah Allah semesta alam. Raja Daud memberikan gambaran betapa besarnya kuasa TUHAN. Suara-Nya mampu mengatasi segala air, baik yang ada di atas maupun yang ada di bawah (3). Suara TUHAN penuh kuasa dan kekuatan (4). Suara-Nya mampu mematahkan pohon aras Libanon yang ukurannya sangat besar itu (5). Suara TUHAN menggetarkan gunung-gunung. Suara TUHAN itu seperti kilat yang menyambar dan menggetarkan padang gurun Kadesh dan sebagainya. Raja Daud mengakhiri mazmur ini dengan pengakuan bahwa TUHAN adalah Raja dan permohonan berkat kepada seluruh umat-Nya.
Ada hal yang menarik sekali, frase “Suara TUHAN” yang diulang sampai tujuh kali. Angka tujuh adalah angka sempurna bagi orang Yahudi. Perhatikan bagaimana Daud menggunakan frase “Suara TUHAN” yang mengatur alam (29:3-9). TUHAN berkuasa penuh atas alam.
Gambaran tentang suara TUHAN dalam Mazmur 29 mengingatkan kita pada peristiwa penciptaan dalam Kejadian 1 yang mencatat bagaimana TUHAN menciptakan dunia beserta segala isinya. “Berfirmanlah Allah…. Maka jadilah demikian.”
Seperti pujian yang dinyanyikan dalam Kebaktian jemaat di GKI Kwitang, lagu yang berjudul: “Bila kulihat bintang gemerlapan.” Syair dengan judul asli ” O store Gud ” ini ditulis oleh Carl Gustaf Boberg. Syair lagu ini menggambarkan kekaguman penulis kepada Allah ketika melihat karya ciptaan Tuhan. Ia begitu kagum akan kebesaran Tuhan sehingga tidak tahan untuk tidak memuji-Nya.
Syair tersebut berbunyi demikian: “Bila kulihat bintang gemerlapan, dan bunyi guruh riuh kudengar. Ya Tuhanku tak putus aku heran, melihat ciptaan-Mu yang besar.”
Di bait kedua penulis juga menceritakan kekagumannya atas anugerah Allah yang dinyatakan dalam Penebus : Ya Tuhanku, ‘pabila kurenungkan pemberianMu dalam Penebus, ‘ku tertegun: bagiku dicurahkan oleh PutraMu darahNya kudus.” Sehingga dalam reffren ditekankan berkali-kali : Maka jiwakupun memujiMu, sungguh besar Kau Allahku!
Ketika pujian ini dikumandangkan bersama, kitapun mengagumi kuasa TUHAN atas ciptaan dan kita mengagumi kasih karunia TUHAN yang telah datang untuk ke dalam dunia menebus kita. Bagaimana dengan Saudara hari ini? Apakah kekaguman Saudara mendorong untuk memuji Tuhan, dan menyambut kedatanganNya? Bersediakah Saudara-saudara dan keluarga, menyatakan: Maka jiwakupun memuji Mu: Sungguh besar Kau Allahku! Lakukanlah saja. Itu sudah cukup. Terpujilah Tuhan!
Mari kita berdoa:
Ya Tuhan, Bapa yang di surga, terpujilah NamaMu kekal selama-lamanya. Engkaulah Tuhan Pencipta dan Penyelamat kami. Kami menantikan kedatanganMu membawa damai sejahteraMu. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa. Amin.
Selamat menantikan kedatangan Tuhan kembali!
(AM7122023)
TUHAN TELAH MELAKUKAN PERKARA BESAR
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: Mazmur 126:1-6
Salam sejahtera, semoga kita bersukacita, bersorak sorai, mulut penuh tawa, karena Tuhan telah melakukan perkara besar seperti ungkapan dalam Mazmur 126:2 Pada waktu itu mulut kita penuh dengan tertawa, dan lidah kita dengan sorak-sorai. Pada waktu itu berkatalah orang di antara bangsa-bangsa: “TUHAN telah melakukan perkara besar kepada orang-orang ini!”
Ketika kita merenungkan bahwa Tuhan telah melakukan perkara atau perbuatan yang besar bagi pribadi kita, bagi keluarga, bagi gereja, bagi masyarakat kita, maka kita bisa bersukacita. Kalau orang tidak mengingat perbuatan Tuhan yang besar, maka hidupnya datar saja, tidak ada sukacita.
Menurut Mazmur 126 ini, perbuatan Tuhan yang besar adalah tindakan pemulihan. Kita diajak untuk merenungkan perbuatan Tuhan yang besar, pemulihan yang Tuhan lakukan, bukan melihat perbuatan besar diri kita, keluarga, gereja kita. Kalau orang hanya merenungkan perbuatan besar yang dilakukan diri sendiri, keluarga, gereja sendiri, maka orang ini bersukacita jika ada yang memuji dirinya. Jika tidak ada yang memuji maka orang tersebut tidak bersukacita. Seorang ayah, ibu, teman kerja, ketua program bisa mengatakan karena dirinya maka pekerjaan besar ini bisa terjadi. Ketika orang yang menghayati dirinya yang telah melakukan perbuatan besar, bukan Tuhan yang melakukan perbuatan besar, maka orang ini jarang bersukacita, karena tidak ada orang yang setiap hari memuji dirinya. Ada orang lebih sering mencari kesalahan, kekurangan orang lain. Seorang ketua program, hidupnya menjadi tertekan, karena bukan pujian yang didapatkan tapi penghakiman, dicari-cari kesalahan dirinya. Kita belajar dari Mazmur 126, yang perlu kita renungankan bahwa Allah telah melakukan perbuatan yang besar, Tuhan sudah melakukan pemulihan dalam diri pribadi, keluarga, gereja dan masyarakat kita, maka kita bersukacita, ada semangat, mau melanjutkan pelayanan, bukan mundur dari pelayanan, ketika ada yang menghakimi.
Pemulihan dari Tuhan seperti Tuhan memulihkan keadaan Sion. Pemulihan itu adalah pembebasan bangsa Israel dari perbudakan Babel. Bertahun-tahun pintu gerbang Babel tertutup bagi bangsa Israel yang di dalam perbudakan. Setelah raja Koresy berkuasa, maka Tuhan membukakan pintu gerbang Babel dan bangsa Israel bebas, bisa berjalan menuju Yerusalem.
Pemulihan pada masa kini adalah pembebasan dari perbudakan dosa, perbudakan ketakutan, kekuatiran penindasan, yang menutup pintu gerbang kebahagiaan, kedamaian, dan keadilan. Hanya Tuhan yang bisa membukakan pintu gerbang yang tertutup tersebut dan kita berjalan menuju Kerajaan Allah, kerajaan penuh bahagia, bersorak sorai, damai, adil, benar, aman. Ini semua karena perbuatan Allah yang besar dan telah dilakukannya terhadap kita.
Setelah bebas dan sampai di Yerusalem, ternyata kota Yerusalem sudah hancur, tembok kota hancur, bait Allah hancur. Orang Israel yang sudah dibebaskan, terus berdoa pada Tuhan agar Yerusalem dipulihkan, bait Allah dan tembok kota dibangun lagi. Orang yang dalam perbudakan hidup menderita, kerja keras, tidak punya uang yang disimpan, tapi mereka setia mengikuti kehendak Tuhan dan selalu berdoa pada Tuhan. Mereka tidak sanggup membangun tembok dan bait Allah yang hancur. Tuhan melakukan perbuatan yang besar, sehingga tembok dan bait Allah bisa dibangun. Cara Tuhan melakukan perbuatan yang besar adalah menggerakan raja Koresy, agar mendorong bangsa-bangsa lain membantu proses pembangunan tembok dan bait Allah di Yerusalem. Raja Koresy bukan orang yang percaya Tuhan, tapi Tuhan bisa melakukan perbuatan besar dengan menggerakkan siapapun yang Tuhan pilih.
Kita sebagai orang Kristen yang setia pada Tuhan, dalam penderitaan, kesulitan, kesusahan, apapun, baik di rumah, di gereja, di tempat kerja, kita tetap menghayati bahwa Tuhan mampu melakukan perbuatan yang besar, Tuhan mampu memulihkan keadaan kita. Dengan penghayatan seperti ini Tuhan akan memberikan sukacita ketika melayani di rumah, di gereja, di masyarakat.
Pemulihan Tuhan yang utama bukan bangunan fisik tapi pemulihan hati jiwa pikiran menjadi umat yang bebas, iman yang murni, setia pada Tuhan, mengalami kasih Tuhan, bersukacita, bersemangat. Setelah dibebaskan bangsa Israel berjalan bersama-sama menuju kota Yerusalem, kota suci. Perjalanan ini disebut ziarah, yang dilakukan dengan berarak-arak, bersama-sama, tidak sendirian, tidak egois, tidak individualis. Kita masa kini juga dalam ziarah menuju Kerajaan Allah, kita melayani bersama-sama, tidak sendiri. Ketika ada penderitaan, kesulitan, kita tetap memuji Tuhan bahwa Tuhan telah melakukan perbuatan yang besar. Ketika kita kesulitan keuangan, kita tetap mengimani Allah mampu melakukan perbuatan yang besar, kita tetap bersukacita, bersemangat. Cara Tuhan melakukan perbuatan yang besar tidak dapat kita pikirkan. Kita hanya mengimani Tuhan melakukan perbuatan yang besar.
Kita yakin Tuhan melakukan perbuatan yang besar, tapi kita tetap bekerja, kita tetap menabur benih dengan menderita sambil menangis. Setelah bekerja kita akan menuai panen, dengan bersorak sorai, seperti Yusuf menabur benih kebaikan, kerajinan ketekunan, keuletan di rumah Potifar dan di penjara, dan akhirnya Yusuf menuai panen dengan sorak sorai. Yusuf percaya Tuhan mampu melakukan perbuatan besar, tapi tetap tekun bekerja walau menderita, susah dalam menjadi budak. Kita belajar seperti Yusuf, walau menderita, susah dalam bekerja sebagai budak, ia tidak putus asa, ia terus bekerja, bertanggungjawab, sampai Tuhan melakukan perbuatan yang besar, yang ajaib dan tidak bisa diduga manusia. Tangisan, penderitaan tidak membuat orang beriman, berhenti bekerja, berhenti melayani, berhenti menabur benih, kita terus menabur sambil menangis, sampai menghasilkan panen dengan bersukacita.
Yesus terus menabur benih dengan penderitaan dan air mata, dihina, disalib. Dengan perbuatan Allah yang besar, Yesus menuai kebangkitan dan murid-murid juga bangkit, menjadi berani, memberitakan Injil, walau mereka mengalami derita, di penjara. Mereka terus menabur benih sambil menangis, sampai Tuhan melakukan perbuatan besar, memberi hasil panen yang membawa sukacita. Seorang ibu terus menabur benih yang baik bagi anak-anaknya, seorang pelayan gereja terus menabur benih kebaikan, kebenaran sampai Tuhan melakukan perbuatan besar dan menghasilkan panen yang membuat sukacita. Mari kita memuji perbuatan Tuhan dan memberitakan perbuatan Tuhan serta firmanNya seperti ungkapan dalam KJ 391 ayat 4 Reff: Puji Tuhan, haleluya! Puji Tuhan, haleluya, kini dan selamanya! Amin. Sampaikanlah firmanNya di mana-mana pun, serta perbuatanNya teruskan bertekun! Reff
Berdoa:
Ya Tuhan kiranya kami semakin bersukacita, karena Tuhan telah melakukan perkara besar, Tuhan memulihkan kami. Kami terus menabur benih yang baik, walau ada penderitaan, karena kami percaya Tuhan mampu melakukan perbuatan besar, dalam nama Yesus kami berdoa amin
TIDAK ADA TINGGAL KELAS
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bahan: Ulangan 28:1, 13,
Jika engkau baik-baik mendengarkan suara Tuhan, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka TUHAN, Allahmu, akan mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi. (13), Tuhan akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu yang kusampaikan pada hari ini …
Undang-undang Diknas, terlihat peserta didik di SD, tidak lagi ada murid yang disebut tinggal kelas. Karena itu guru harus kerja keras agar murid bisa berkembang mencapai prestasi sebaik-baiknya, sesuai dengan kemampuan murid. Setiap sekolah dipantau oleh instasi atasannya, memonitor apa saja kesulitan sekolah itu menyampaikan pelajaran kepada murid. Saya mohon maaf kalau pantauan saya ini keliru, tetapi saya hendak mengangkat satu pokok penting dalam pendidikan dan juga di bidang-bidang kehidupan kita, yaitu TIDAK ADA TINGGAL KELAS, kecuali akan binasa kekal.
Umat Israel sudah berjalan 40 tahun, sejak keluar dari Mesir menuju Tanah Perjanjian. Selama 40 tahun itu umat Israel, bagaikan anak murid dalam bimbingan sang guru yaitu Musa, umat itu terus naik kelas, tidak akan kembali ke landasan, tidak akan tinggal kelas, walau suka-duka yang mereka alami dan tidak sedikit yang menjadi korban. Mereka tidak akan mengulang kembali, walau ada kegagalan mereka, bersama Musa mereka naik terus. Karena mereka harus naik kelas, maka Musa memberi nasihat yang lebih pas jika disebut sebagai perintah. Bacaan ini di awali dari pasal 28:1, “Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN …” kemudian dia sampaikan banyak perintah, firman Tuhan kepada umat Israel. Di dalam perintah itu tertanam janji Tuhan, suatu keadaan dan masa depan yang indah bersama Tuhan. Sebagai contoh nyata, bagaimana Israel mengalahkan bangsa Moab yang memanggil Bielam untuk mengutuk Israel, tetapi mereka gagal, di situ juga ada orang Midian, ada bangsa Amalek, kerajaan Basan, yang semua dipukul Allah untuk kemengan Israel. Maka Tuhan berjanji: “… TUHAN, Allahmu mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi;” “… mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik …” Tetapi ada suatu syarat: “Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya …”
Menjadi kepala, dan naik terus di hadapan Tuhan adalah dambaan semua orang. Keadaan ini disebut juga “bukan menjadi ekor,” dan “bukan turun,” tema kita ingin menegaskan: Tidak ada yang tinggal kelas. Tinggal kelas di sekolah, akan mengalami kerugian besar, waktu, biaya dan moril (harga diri). Demikian kita renungkan untuk perjalanan iman mengikut Kristus, ada pasang surutnya, ada keterbatasan kemampuan, dengan semua keadaan kita maju menjadi kepala, bukan ekor, naik terus tidak akan turun. Janji Tuhan ini didasarkan dalam landasan: “… apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu yang kusampaikan pada hari ini …” Dengan ketetapan ini, maka tidak ada yang tinggal kelas, kecuali binasa total.
Kita aplikasikan renungan ini dengan pokok berikut:
- Menurut Anda apakah Tuhan mengangkat Anda sebagai kepala dan bukan ekor.
- Dapatkah Anda sebut akhir pengangkatan Anda sebagai kepala itu?
- Apa yang harus dilakukan agar pengangkatan sebagai kepala akan terjadi?
Mari berdoa:
Bapa sorgawi, janji Bapa indah dan agung menjadi harapan dalam hidup ini. Oleh Kristus kami telah dibebaskan dari perhambaan dosa menjadi hamba Allah yang mengangkat kami menjadi kepala mengendalikan dan memimpin hidup kami melakukan kehendak dan firman Tuhan, itulah makna sesungguhnya kehidupan kami. Roh Kudus menolong kami, dalam Kristus kami mohon. Amin.
[AS041223]
ADA DRAMA DI DALAM RAGA
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: 1 Korintus 12:26-28 – TB2
“Jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita. Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya. Allah telah menetapkan dalam gereja: pertama para rasul, kedua para nabi, ketiga para pengajar; selanjutnya mereka yang berkarunia untuk membuat mujizat, untuk menyembuhkan, untuk melayani, untuk memimpin, dan untuk berbicara dalam berbagai jenis bahasa lidah”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Saudaraku, suatu kali, terjadilah drama perdebatan di antara anggota-anggota tubuh. Mata menyampaikan protes kepada tangan. Mata mengatakan, “akulah yang selalu melihat makanan tetapi aku sama sekali tidak pernah mengambilnya. Aku protes kepada tangan yang berani mengambil makanan yang aku lihat”. Mendengar hal itu, tangan berteriak, ”sembarangan saja kamu mata! Memang akulah yang mengambil makanan yang kau lihat tetapi aku tidak pernah mengecap rasanya. Lihatlah si mulut, dialah yang menikmati makanan yang aku ambil. Jadi mata, jangan engkau protes terhadapku tetapi proteslah kepada mulut itu!”
Mendengar dirinya disebut-sebut, mulut menyambung, ”ada apa ini, ribut-ribut. Apa kalian tidak tahu aku sedang beristirahat!” Mata segera menyahut, ”Hai mulut, enak-enakan kamu istirahat. Tahukah kamu bahwa kamu ini adalah organ tubuh yang paling tidak tahu diri?” Mendengar apa yang dikatakan oleh mata, maka mulut menyahut dengan sengit, ”sembarangan saja kamu mengatakan bahwa aku tidak tahu diri! Memang, apa yang aku lakukan?” Tangan pun menyahut, ”Nah, itulah keegoisanmu! Masih saja tidak merasa bersalah! Kamu itu selalu makan apa yang dilihat oleh mata dan yang aku pegang. Kamu menikmati yang enak sementara mata dan aku yang berjuang untuk melihat dan mengambilnya!” Mulutpun menyahut dengan sengit, ”Oooo, urusan makanan, toh! Eh kalian berdua perhatikan baik-baik! Aku memang yang mengunyah dan merasakan makanan itu, tetapi tengoklah yang menikmati itu bukan aku, tetapi perut! Kalian perhatikan saja, bahwa aku ini seperti kalian. Aku yang mengunyah tetapi perutlah yang menikmati!” Mata menyahut, ”ooo, jadi selama ini kamulah yang selalu mengambil untung dari kami, hai perut…! Ternyata kamulah yang paling egois, selalu mengambil keuntungan dari kami!”
”Lho, kok aku? Dengar dulu penjelasanku. Kalian tidak mengerti apa yang sedang kalian percakapkan itu. Kalian salah menilai aku,” begitu sahut perut mengiba. ”Tidak bisa!” timpal mulut, ”aku sudah terhina oleh ucapan mata dan tangan, maka mulai saat ini aku akan tutup mulut. Aku tidak akan mau makan dan mengunyah lagi!” Mata dan tangan juga sepakat untuk tidak mau melihat dan tidak mau mengambil makanan.
”Hai mulut, pikirkan kembali keputusmu itu! Bila kamu tidak mengunyah makanan, aku akan sakit sekali dan semua organ tubuh juga akan merasakan akibatnya, please!” pinta perut kepada mulut. ”Tidak peduli, toh yang sakit itu kamu bukan aku. Terserah aku!”, demikian sahut mulut dengan ketus. Sejak saat itu, mulut melakukan aksi tutup mulut.
Setengah hari sudah lewat, perut mulai merintih, ”aduh, sakit dan perih. Mata lihatlah di sekitarmu adakah makanan di sana, tangan ambilah sesuatu yang bisa dimakan dan engkau, mulut, membuka dan kunyahlah makanan.” Mata, tangan dan mulut pun menyahut bersamaan, ”Tidak mau!” Sehari telah lewat, perut makin merintih-rintih karena perih dan sakit. Perut tetap mengiba tetapi mata, tangan dan mulut tetap diam. Tiba-tiba terdengar suara kaki, ”aku merasa lemas, susah bergerak!” Sesaat kemudian, otak pun berseru, ”oi… aku tidak bisa berpikir!” Mata juga berbisik kepada tangan, ”aku juga merasa selalu ngantuk, lemas!” Tangan menyahut, ”aku juga lemas enggak bisa pegang apa-apa”. Ternyata mulut juga berkomentar, ”lidahku kok, jadi pahit, ya?” Namun, hidung berteriak kepada mulut, ”Hoi mulut, jangan dibuka lebar-lebar! Engkau berbau sekali!”
Dengan suara pelan dan menahan sakit, perut bersuara, ”teman-teman, inilah akibatnya jika mulut tidak mau makan. Aku sudah berusaha menjelaskan, tetapi kalian tidak mau dengar. Memang benar bahwa mata yang melihat makanan, tangan yang mengambil, mulut yang mengunyah dan aku yang mengolahnya. Namun, aku tidak menikmatinya bagi diriku sendiri. Melalui usus halus, aku menyerap sari-sari makanan dan melalui aliran darah hasil olahan itu dibawa ke seluruh organ agar menjadi tenaga, termasuk untuk kalian juga”.
Saudaraku, untung itu semua hanya mimpi karena rupanya saya terlalu menghayati perkataan Paulus, “Jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita. Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya. Allah telah menetapkan dalam gereja: pertama para rasul, kedua para nabi, ketiga para pengajar; selanjutnya mereka yang berkarunia untuk membuat mujizat, untuk menyembuhkan, untuk melayani, untuk memimpin, dan untuk berbicara dalam berbagai jenis bahasa lidah”. Setiap orang tentu memiliki talenta masing-masing. Mari kita menghargai perbedaan talenta yang ada dan membangun kerjasama agar persekutuan semakin erat. Tidak perlu ada drama dengan tema iri dan dengki karena orang lain bisa berbuat lebih dibanding diri kita. Selamat berjuang, Saudaraku, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Ya Tuhan, tolonglah kami agar dapat melihat setiap talenta yang ada dengan jujur dan benar, sehingga mampu membangun sinergi dengan orang-orang lain. Kiranya Roh Kudus menolong kami untuk melakukannya. Di dalam Nama Tuhan Yesus kami sudah berdoa. Amin.
