GAYUNG…!
Views: 0
Bacaan: 1 Yohanes 5:14
”Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Sebagai Sekretaris Sinode GKI Sinode Jawa Tengah, saya pernah mengikuti Persidangan Kombinasi -atau sering diakronimkan menjadi Sidang Kombi – antara Badan Pekerja Majelis Sinode (BPMS) GKI Jateng dengan Deputat Sinode Gereja Kristen Jawa (GKJ). Sidang kombi diselenggarakan dalam rangka membahas lembaga-lembaga kerja sama antara sinode GKI Jateng dan Sinode GKJ.
Suatu kali, untuk mengisi waktu rehat makan siang di salah satu sidang kombi yang di selenggarakan di Yogyakarta, saya dan beberapa pendeta senior – GKI Jateng maupun GKJ – bermain tebak-tebakkan. Seorang pendeta Senior dari GKJ memberikan tebakan kepada saya, namun saya dapat menjawab tebakan tersebut. Dan ketika gantian saya yang memberikan tebakan, ternyata beliau tidak dapat menjawab. Setelah itu, beliau meninggalkan ruang makan sambil tertawa dan berkata, “wah, aku ora biso njawab bêdhékkané Mas Guruh…!” (wah, saya tidak bisa menjawab pertanyaan tebakan yang diberikan oleh Mas Guruh). Kira-kira sepuluh menit kemudian, dengan tergopoh-gopoh beliau kembali masuk ke ruang makan sambil berkata, “Mas Guruh, saiki tak bêdhékki. Coba bisa njawab opo ora. Barang opo nek isuk nang dapur, nek awan nang kamar mandi, lan nek bengi nang gêndhéng?” (mas Guruh, sekarang saya berikan pertanyaan tebakan. Bisa menjawab atau tidak. Benda apa yang kalau pagi ada di dapur, kalau siang di kamar mandi dan kalau malam di genting?”). Sebetulnya saya ingin menjawab sekenanya saja, namun saya ragu karena tidak tahu alasannya mengapa memberikan jawaban itu. Beberapa saat saya terdiam. Tiba-tiba beliau berkata, “Wes, mesti orang ngerti. Iki tak kandhani. Jawabané kui gayung!” (Wah pasti tidak tahu jawabnya. Saya beri tahu. Jawabannya adalah gayung!). Mendengar itu, saya spontan merespon, “lho kok bisa, pak?” (“Lha kok bisa, pak?”). “Ya bisa waé. Lha wong gayung-gayungku dhéwé, kok. Terserah meh tak déléh nang êndi”, sahut beliau sambil tertawa menang. (Ya bisa saja. Karena itu gayung-gayungku sendiri. Terserah mau aku letakkan di mana). Terus terang saya gondok karena merasa dipercundangi.
Belasan tahun kemudian, saya menghayati bahwa alasan untuk jawaban dari tebakan tadi: “Ya bisa waé. Lha wong gayung-gayungku dhéwé, kok. Terserah meh tak déléh nang êndi” itu seperti pernyataan Tuhan kepada diri kita. Seringkali kita merasa sangat tidak puas dan kecewa dengan jawaban yang Tuhan berikan atas permohonan yang kita sampaikan, karena ternyata jawaban Tuhan itu berbeda dengan keinginan kita. Ketika kita kecewa atas jawaban itu, maka sebetulnya Tuhan berkata, “Ya terserah Aku, tho. Apa yang Aku berikan itu kan berasal dari milik-KU sendiri, Aku bebas untuk memberi atau tidak memberi”. Dari sini saya belajar bahwa seringkali kita mau memaksakan keinginan kita kepada Tuhan. Kita lupa bahwa apa yang kita inginkan itu seringkali bukan merupakan apa yang sesungguhnya menjadi kebutuhan kita. Bukankah seharusnya – sebelum meminta kepada Tuhan – kita bertanya terlebih dahulu “apa sebetulnya yang Tuhan kehendaki”?
Dengan memahami apa yang sesungguhnya Tuhan kehendaki itu, maka akan membuat permohonan kita selaras dengan kehendak Tuhan. Dan ketika permohonan kita itu selaras dengan kehendak-NYA, maka yakinlah bahwa Tuhan pasti akan mengabulkanya. Inilah yang disampaikan oleh Yohanes, ”Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya”. Oleh karena itu, mari kita terus menjalin relasi yang akrab dengan Tuhan. Dengan demikian kepekaan kita akan terasah sehingga akan dapat mengerti apa yang menjadi kehendak Tuhan atas diri kita itu. Janganlah memaksakan keinginan kita kepada Tuhan, tetapi pahami dan ketahuilah apa yang menjadi kehendak Tuhan atas diri kita.
Selamat berjuang, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Ya Tuhan, kami rindu untuk mengasah kepekaan diri untuk mendengar suara-Mu agar dapat mengetahui apa yang Engkau kehendaki di dalam hidup kami. Kiranya Roh Kudus menolong kami. Amin.
