WARUNG TENDA SEA FOOD – PART 2
Views: 1
Bacaan: Matius 16:2-4
“Tetapi jawab Yesus: “Pada petang hari karena langit merah, kamu berkata: Hari akan cerah, dan pada pagi hari, karena langit merah dan redup, kamu berkata: Hari buruk. Rupa langit kamu tahu membedakannya tetapi tanda-tanda zaman tidak. Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Kisah yang hendak saya sharingkan ini adalah lanjutan dari cerita dalam renungan Sabtu yang lalu, dan masih di warung tenda lesehan yang sama.
Setelah dinyatakan bahwa seafoodnya hanya lele saja, maka kami pun memesan menu yang ada saja. Pesanan kami terdiri dari 5 (lima) lauk dan 1 (satu) tumis kangkung serta minuman. Sembari menunggu makanan disiapkan, kami mengobrol ringan termasuk berbicara tentang harapan yang tidak sesuai dengan realita.
Tiba-tiba datang mas-mas satunya lagi menghampiri kami. Sepertinya ia adalah juru masak di warung tenda tersebut. Dengan sopan ia bertanya, “nyuwun pangapunten, pak. Niki kan tiangipun gangsal, tapi pesen maemanipun kok enem?” (minta maaf, pak. Ini orangnya kan berjumlah lima, tapi pesan makanannya kok enam?). Mendengar pertanyaan itu, kami berlima saling pandang satu sama lain. Kakak saya merespon, “lho, nang warung iki nek pesen kudu cacah jiwo, po mas?” (Di warung ini bila hendak pesan makanan, apakah jumlah makanan yang dipesan mesti sama dengan jumlah orangnya?) Saya pun menyahut, “mas, urusan jumlahe piro, kan sak karepku tho?” (mas, persoalan pesanannya berjumlah berapa, itu kan urusan kami?). Mendengar perkataan kami berdua, si mas-mas tadi tampaknya baru menyadari, dan segera menjawab sambil tertawa, “oh, njih njih leres, pak”. (oh, iya iya, betul, pak). Ia pun segera kembali untuk menyiapkan makanan. Kami melihat bahwa ia masih senyum-senyum sendiri.
Kadangkala sikap kita terhadap Tuhan juga mirip dengan si mas-mas tadi. Kita berusaha mempertanyakan kembali kepada Tuhan tentang maksud dan rencana-Nya atas kehidupan kita. Tanpa sadar, sikap itu justru menunjukkan ketidakyakinan kita akan penyertaan dan rencana-Nya. Dengan kata lain, pertanyaan yang kita ajukan kepada Tuhan itu bukanlah mengonfirmasi melainkan mencobai Tuhan.
Suatu kali orang Farisi dan Saduki mencobai Tuhan Yesus dengan menuntut tanda untuk membuktikan kemesiasan-Nya. Yang terjadi sesungguhnya adalah bahwa mereka tidak sedang meminta petunjuk dari Allah, melainkan sedang menantang otoritas-Nya sebagai Tuhan. Tuhan Yesus merespon, “Pada petang hari karena langit merah, kamu berkata: Hari akan cerah, dan pada pagi hari, karena langit merah dan redup, kamu berkata: Hari buruk. Rupa langit kamu tahu membedakannya tetapi tanda-tanda zaman tidak. Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus”. Respons keras dari Tuhan Yesus itu tidak dimaksudkan untuk mencegah orang mencari petunjuk dari Allah atau mengonfirmasi imannya. Sebaliknya, Yesus menegur mereka dengan keras karena telah mengabaikan nubuat-nubuat di dalam Kitab Suci yang jelas-jelas mengisyaratkan bahwa Dia adalah Mesias. Meminta Tuhan untuk memberikan arahan yang jelas kepada kita memang merupakan sikap yang bijaksana, namun kita harus ingat bahwa Dia tidak selalu memberikan petunjuk-Nya dengan cara-cara yang kita harapkan atau inginkan.
Pelajaran indah kedua di malam hari di sebuah warung tenda lesehan “sea food”, yaitu bahwa kita mesti semakin akrab dan intim dengan Tuhan agar kita dapat mengerti serta memahami apa yang menjadi kehendak-Nya di dalam hidup kita. Dengan demikian, kita juga terhindar dari sikap mencobai Tuhan. Selamat berjuang, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Ya Tuhan, kami rindu untuk semakin mengenal-Mu sehingga kami juga dapat memahami kehendak-Mu itu di dalam kehidupan kami. Kiranya Roh Kudus menolong kami untuk melakukannya. Terimakasih Tuhan Yesus. Amin.
