MARTABAK
Views: 0
Bacaan: Roma 12:1
”Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Siapa tidak kenal dengan martabak? Ya sajian ini dikenal sangat merakyat. Nama martabak sendiri merupakan kosa kata serapan dari bahasa Arab Murtabak atau Muttabaq yang artinya ‘dilipat’. Nama itu disematkan karena merujuk pada proses pembuatannya yang dilipat-lipat. Jenis sajian ini kadang disebut sebagai martabak asin, martabak Mesir atau martabak telur. Bahan utamanya adalah telur – baik telur ayam atau bebek, potongan daun bawang, daging cincang, dan potongan bawang bombai. Semua bahan ini dibungkus dalam lembaran tipis tepung, kemudian di goreng dan dibentuk menjadi persegi.
Di hampir semua sudut jalanan di Jakarta ini, kita dapat menjumpai pedagang martabak. Bisa jadi, selain bakso dan mie ayam, pedagang martabak merupakan profesi pedagang yang paling banyak dijumpai. Saya pernah mencoba menghitung jumlah pedagang matabak yang ada di sepanjang jalan dari traffict light Klender sampai ke traffic light Buaran. Menurut google map, panjang jalan itu kira-kira hanya 3 km. Akan tetapi di sepanjang jalan itu, saya menjumpai ada belasan pedagang martabak yang menjajakan dagangannya. Bukankah, itu menunjukkan bahwa martabak merupakan sajian yang diminati dan selalu dicari.
Betul, martabak merupakan sajian yang bisa dinikmati dalam suasana apapun. Ia cocok untuk suasana santai sebagai camilan, ia juga bisa dinikmati sebagai lauk ketika makan, bisa juga sebagai sajian ketika arisan dan sebagainya. Bahkan untuk kalangan remaja / pemuda yang sedang menjalin asmara, martabak dikenal sebagai alat negosiasi dengan calon mertua agar hubungan asmara dapat direstui. Ah, mungkin Anda dulu juga pernah mengalaminya bukan?
Kali ini, saya tidak akan mengulik bagaimana proses pembuatannya, karena saya memang hanya pembeli dan penikmat saja. Saya mengajak melihat martabak dari sisi yang lain. Banyaknya pedagang martabak di hampir semua ruas jalan memunculkan sebuah refleksi bagi saya. Oleh karenanya, saya melihat martabak sebagai sebuah akronim dari “MARi kiTA berBAKti”. Maksud saya begini, bila di sepanjang jalan kita dapat menjumpai pedagang martabak, itu artinya bahwa setiap melangkah kita juga diingatkan untuk tidak melupakan bakti kepada Tuhan.
Kepada jemaat di Roma, Paulus mengingatkan bahwa ibadah itu dilakukan di sepanjang kehidupan sebagai pesembahan hidup. Paulus menyebutkan, ”Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati”. Frasa terakhir yang diterjemahkan dengan ‘yang sejati’ merujuk pada arti spiritual atau masuk akal (reasonable). Maksud Paulus sangat jelas, bahwa bila kita hidup oleh kemurahan-kemurahan Allah, maka mempersembahkan hidup kepada Allah seharusnya menjadi hal yang mudah. Dengan kata lain, karena hidup merupakan persembahan kepada Tuhan, maka seluruh kehidupan kita ini juga merupakan bakti kita kepada Tuhan.
Martabak yang dijajakan disepanjang jalan mengingatkan kita agar setiap saat kita menggunakan hidup kita sebagai bakti kita kepada Tuhan. Martabak – mari kita berbakti! Selamat berjuang, Saudaraku, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga
Doa:
Ya, Tuhan kami rindu untuk menggunakan pikiran, perkataan dan tingkah laku kami sebagai persembahan yang hidup kepada-Mu. Kiranya Roh Kudus menolong kami untuk mewujudkannya. Terimakasih Tuhan Yesus, Amin.
