AREM-AREM
Views: 0
Bacaan: 2 Raja-raja 6:16-17
”Jawabnya: “Jangan takut, sebab lebih banyak yang menyertai kita dari pada yang menyertai mereka.” Lalu berdoalah Elisa: “Ya TUHAN: Bukalah kiranya matanya, supaya ia melihat”. Maka Tuhan membuka mata bujang itu, sehingga ia melihat. Tampaklah gunung itu penuh dengan kuda dan kereta berapi sekeliling Elisa”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Arem-arem merupakan salah satu jenis makanan tradisional yang keberadaannya sudah sangat dikenal oleh masyarakat. Secara fisik, tampilan arem-arem sangat mirip dengan lontong. Bahan dasar keduanya sama, yaitu dari beras. Dalam proses pembuatannya pun, keduanya akan dibungkus dengan daun pisang dan melalui tahapan pengukusan. Sehingga ketika matang keduanya akan memiliki tampilan fisik yang mirip sekali. Perbedaan keduanya akan tampak bila kita membelahnya. Lontong hanya terdiri dari nasi padat, sedangkan di tengah-tengah arem-arem terdapat isian seperti: sambal goreng kentang, sambal oncom dan tumisan daging sapi atau ayam cincang. Karena memiliki isian, maka – oleh sebagian orang – arem-arem disebut juga sebagai lontong isi.
Ketika kecil dahulu, saya cenderung untuk menolak ketika diberi arem-arem karena yang terbayang adalah lontong yang hambar rasanya. Kadangkala saya mesti dibujuk terlebih dahulu agar mau memakannya. Nah, setelah dibelah, barulah saya percaya bahwa makanan itu bukan lontong seperti yang saya bayangkan. Saat ini, dengan mudah saya bisa membedakan keduanya dengan baik, walau mesti berhati-hati ketika menyantapnya sebab kadang terselip ‘ranjau’ cabe di tengahnya.
Memperhatikan pengalaman dalam mengenal arem-arem, saya melihat bahwa seringkali kita masih berkecenderungan seperti anak-anak yang membutuhkan bukti terlebih dahulu baru kemudian dapat percaya. Seharusnya kita yakin bahwa makanan itu adalah arem-arem dan bukan lontong, meskipun tanpa membelahnya terlebih dahulu, bukan?
Kadang kala berkat, penyertaan dan pertolongan Tuhan itu tersembunyi mirip seperti isian arem-arem. Meski tidak nampak, tetapi jelas ada dan nyata. Hanya saja, karena ketidakpercayaan, maka seringkali kita masih bertanya-tanya bahkan menyangsikan kehadiran dan pertolongan Tuhan itu. Seperti halnya pernah dialami oleh Gehazi – asisten Nabi Elisa. Waktu itu Raja negeri Aram bermaksud hendak menangkap Nabi Elisa. Raja Aram mengirimkan bala tentara yang cukup besar ke Dotan untuk menangkap Nabi Elisa. Ketika pagi tiba, Gehazi melihat bala tentara yang besar itu telah mengepung Dotan – kota tempat tinggal mereka, maka ketakutanlah ia. Namun, Nabi Elisa mengatakan agar ia tidak perlu takut sebab bala tentara Tuhan yang akan menolong mereka jumlahnya lebih banyak dari pada para pengepungnya. Setelah itu Nabi Elisa berdoa meminta kepada Tuhan agar Gehazi dapat melihat apa yang dikatakannya. Alkitab memberikan kesaksian, ”Maka Tuhan membuka mata bujang itu, sehingga ia melihat. Tampaklah gunung itu penuh dengan kuda dan kereta berapi sekeliling Elisa”. Akhirnya Gehazi percaya bahwa Tuhan lebih berkuasa dan sanggup melepaskan mereka dari ancaman bahaya.
Ketika kita menghadapai hidup yang penuh dengan tantangan dan persoalan, maka kita mesti yakin bahwa pertolangan Tuhan itu nyata walaupu kita tidak melihatnya secara kasat mata. Seperti arem-arem, walau tidak nampak tetapi pasti ada isiannya yang akan membuat rasanya semakin nikmat. Selamat berjuang, Saudaraku, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Ya Tuhan, kami rindu untuk selalu belajar percaya akan penyertaan dan kehadiran-Mu, walaupun kami tidak melihatnya secara kasat mata. Kiranya Roh Kudus menolong kami untuk mewujudkannya. Terimakasih Tuhan Yesus, amin.
