BERPUASA, MENDEKAT PADA TUHAN DAN TETAP TENANG
Views: 0
Bacaan:
Matius 4:1-11
Markus 6:45-52
Matius 26:39
Senang dapat hadir kembali menyapa sahabat Kristus: bapak ibu, para muda dan para anak. Sekalian dan merenungkan Firman Tuhan.
Kita berada dalam masa puasa. Puasa kita adalah dengan tujuan agar kita semakin mendekat pada Tuhan. Oleh karena itu, bukan soal tak makan saja namun juga soal bagaimana kita mengendalikan diri menghadapi berbagai godaan dan tantangan kehidupan kita. Kuta rentu tahu bahwa karena kelemahan kita, kita seringkali digoda untuk membiarkan diri digoda oleh tantangan dari dalam (nafsu) dan juga dari luar, yang diluar kendali kita. Disanlah kita membutuhkan ketenangan.
Sering kita mendengar bhwa jika seorang mengikut Tuhan, maka perjalanan kehidupannya akan mulus dan lancar; tak menghadapi tantangan. Namun kenyataannya ternalik. Umat Tuhan bisa menghadapi tantangan juga. Mereka yang dalam masa puasa ini lalu memilih untuk tak makan, metinya menyadari bahwa, ketika memilih untuk berpuasa tak makan, maka saat itu ia ingin lebih dekat pada Tuhan: berdoa, mengingat Firman dan melakukan Firman Tuhan. Mereka yang memutuskan untuk pantang, aedang menyadari bahwa tibuhnya telah berbicara bahwa ia tak membutuhkan makanan yang dipantang itu, yang memvuat ia makan makanan itu adalah nafsunya semata. Dengan demikian ia sedang fokus memperhatikan kehendak dan hikmat Tuhan untuk hidup lebih baik di hadapan Tuhan, Sang Sumber hikmat. Namun ada juga orang yang mendekatkan diri lebiiiih dekat pada Tuhan, agar ia dapat memiliki kekuatan dan kesabran menaggung beban yang sebenarnya tak ia kehendaki, namun diijinkan Tuhan atas hidupnya. Lihatlah Tuhan Yesus. Bsrpuasa membuatnya sungguh- sungguh menyerahkan dirinya kepada Tuhan Allah dan semakin setia kepada FirmanNya. Menuruti kehendak BapaNya adalah yang utama. Lalu ini semua kita lihat juga dalan diri Tuhan Yesus yang mau melakukan kehendak Allah dan menyerahkan diri kepada Bapa ketika ia berdoa di taman Getsemani. Jadi kemudian dalam kehidupan keseharian pun setelah berpusa, Tuhan melanjutkan kedekatan dengan Tuhan, dan kehendak diri untuk mengutamakan melakukan kehendak Allah.
Sahabat, puasa kita, adalah sebuah ladang praktek sekaligus latihan bagi kita untuk memiliki _habit_selalu dekat dengan Tuhan, dan melakukan krhendakNya dengan tenang dan sabar. dan menjadi sabar.
Kadang kala, ketika badai menerpa kehidupan kita, kita segera menjadi kalang kabut. Seperti para murid yang berteriak-teriak menghadapi Angin Sakal yang menerpa perahu mereka. Namun Tuhan Yesus Berkata: Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” . Kuranya kita kuga selalu beriman bahwa Tuhan hadir dalam perahu kehidupan kita. Kita yang bergantung dan beriman kepadanya, ketika mengahadapi badai dan pencobaan hidup, kita akan tetap tenang dan percaya bahwa Tuhan Juruselamat, akan memberikan kita kekuatan, bimbingan dan hikmatNya selalu dalam menyelesikan badai itu.
Jadi, biarlah puasa kita, jita jalankan dengan kesungguhan iman dan membuat kita lebih dekat pada Tuhan, Sumber ketenangan. (LiN01-03-2023)
