IA MEMELIHARA KAMU (PEMELIHARAAN ALLAH)
Views: 0
Bacaan: 1 Petrus 5:5-7
Salam sejahtera, semoga kita makin menyerahkan kekuatiran kita pada Tuhan yang memelihara hidup kita seperti ungkapan dalam 1 Petrus 5:7 Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.
Jean Jacques Rousseau, menjauhkan diri dari semua pendapat yang menyalahkan pemeliharaan Allah, karena Allah tidak menghalangi terjadinya peristiwa-peristiwa buruk dalam kehidupan manusia. Voltaire mencemooh pemeliharaan Allah, karena Tuhanlah yang menyebabkan gempa bumi di suatu tempat, sehingga banyak umat Tuhan meninggal saat mereka beribadah. Rousseau menasehati Voltaire agar tidak menyalahkan Tuhan sebab tindakan manusia sendirilah yang tidak bijaksana. Beberapa orang setuju dengan pendapat Rousseau, ketimbang pendapat Voltaire. Benar bahwa banyak bencana menimpa manusia, itu disebabkan oleh keputusan manusia bukan karena Tuhan marah. Umpamanya, pak Tani menggarap tanah pada lereng gunung berapi, karena mengharapkan panen yang lebih baik sebagai hasilnya, tapi ia sadar akan kemungkinkan yang lain, pada waktu terjadi musibah bencana letusan gunung merapi. Resiko dan keuntungan perlu dipertimbangkan tanpa menyalahkan pemeliharaan Allah (Robert R. Boehlke, Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek Agama Kristen, BPK Gunung Mulia, 2015).
Pemeliharaan Tuhan yaitu karya Tuhan untuk melangsungkan adanya dunia ini. Dunia ini tidak pernah sendiri berjalan tanpa kehadiran Tuhan. Dunia ini tetap kokoh, disebabkan karena pemeliharaan Tuhan. Tuhan Allah tetap bekerja bagi dunia, maka dunia tetap berada dan berkembang menuju kepada tujuan Allah. Pemeliharaan Allah tidak boleh dipisah dari pemerintahan Allah. Pemeliharaan Allah atas dunia, dalam rangka mencapai tujuan Allah atas dunia dan manusia. Tujuan Allah, agar manusia menjadi sekutu Allah dan diselamatkan. Allah itu setia tidak meninggalkan perbuatan tanganNya. Ia menuntun dunia sesuai dengan rencana dan tujuan Allah. Allah memelihara dunia serta memerintah atasnya.
Ada orang berpikir, semua yang terjadi, baik dan buruk sudah diketahui, dikehendaki Allah, ditetapkan Allah terlebih dulu. Keadaan perang, damai, miskin, makmur, sakit, sehat, kecelakaan, perceraian semua sudah ditetapkan Allah sebelumnya. Semua perbuatan kita yang baik dan jahat sudah ditetapkan Allah terlebih dulu, karena itu disebut takdir Allah. Manusia tidak bisa mengubah takdir Allah. Dalam hidup sehari-hari muncul kalimat, “apa boleh buat sudah takdir atau sudah nasib”. Dengan kalimat ini, manusia mengeluh dengan takdir susah, sedih, yang didapatnya. Pemahaman pemeliharaan Allah seperti ini membuat manusia menjadi pasif sama sekali, tidak butuh perjuangan. Termasuk orang yang percaya sudah ditakdirkan masuk surga, maka orang tersebut tidak perlu bersusah-susah melakukan sesuatu karena sudah pasti masuk surga.
Pemahaman pemeliharaan Allah seperti diatas berarti orang tidak perlu percaya pada Allah dan kehendakNya, karena orang bergantung pada nasib, fatalistis (segala sesuatu terjadi menurut hukumnya, tidak bisa berubah dari nasib yang telah ditetapkan). Percaya pada pemeliharaan dan pemerintahan Allah (providentia), seperti Abraham percaya bahwa Allah menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi Tuhan ( Kejadian 22:8). Percaya pada pemeliharaan dan pemerintah Allah berarti orang mau dituntun Tuhan, dengan hidup dalam Tuhan Yesus. Jika Yesus menguasai hati kita, maka Allah memelihara manusia sesuai tujuan Allah. Allah menyediakan Yesus sebagai korban penebusan dosa, manusia tidak perlu dikorbankan, seperti Allah menyediakan domba sebagai korban, sehingga Ishak tidak perlu dikorbankan. Dalam Yesus, kita percaya Allah memelihara, memerintah hidup kita sesuai rencana dan kehendak Allah.
Orang yang berjumpa Allah, akan menyerahkan diri pada Allah, maka Allah akan menjadikan segala sesuatu menjadi baik. Allah lebih dulu mengasihi kita, maka kita juga mengasihi Allah lebih dulu, dan mencari Kerajaan Allah lebih dulu, maka akan ditambahkan yang lain dalam pemeliharaan Allah.
Pemeliharaan Allah adalah pengakuan iman kita, yang timbul dari percaya pada Allah. Percaya bukan hasil penelitian keilmuan. Percaya bukan berarti manusia tidak perlu berjuang, tidak perlu bertanding, berlari mencapai tujuan hidup, tidak perlu bertanggungjawab atas hidup pribadi dan sesama, tidak bertanggungjawab mencari nafkah sendiri dan keluarga. Percaya pada pemeliharaan Allah bukan berarti bahwa setelah kita menyerahkan segala kekuatiran kita kepada Tuhan ( 1 Petrus 5:7), maka kita tidak berbuat apa-apa, kita tidak melakukan tanggungjawab sebagai manusia karena kita percaya Allah memelihara kita. Seorang ayah muda A, tidak bekerja, malas mencari kerja, suka main game, perilakunya kasar terhadap istri, minta uang dari ibunya. Istri A kesal melihat perilaku suami, ditambah sikap kasar A, maka istri A minta bercerai dan dikabulkan pengadilan. A kecewa pada Tuhan Yesus, karena Tuhan tidak memelihara pernikahan mereka. A mau murtad meninggalkan iman pada Yesus. A berpikir pemeliharaan Allah, berarti tidak perlu tanggungjawab dari manusia.
Percaya pada pemeliharaan Allah berarti manusia sebagai gambar Allah, akan melakukan tugas dan tanggungjawab dalam kehidupan. Berbeda dengan seekor burung yang tidak menabur, tidak menuai, tidak mengumpulkan bekal. Kita wajib bertanggungjawab terhadap diri sendiri, sesama, lingkungan. Dalam melakukan tanggungjawab, kita tidak perlu kuatir akan hari esok, karena hari esok punya kesusahan sendiri. Kita bertanggungjawab dalam tugas kita hari ini, dan merencanakan tanggungjawab, tugas kita hari esok tanpa kuatir.
Mengapa kita tidak perlu kuatir? karena kita merendahkan diri, tahu diri kita lemah, dan mengakui tangan Tuhan yang kuat, yang mampu memelihara kita dengan baik sesuai tujuan kehendak Tuhan (1 Petrus 5:6). Tuhan memelihara untuk mendatangkan kebaikan bagi kita. Kita menyerahkan kekuatiran pada Allah pemelihara yang kuat dan hebat. Kita terus berjaga-jaga agar kepercayaan pada Tuhan pemelihara tidak menjadi sesat karena pengaruh pikiran jahat di sekitar kita seperti yang dialami ayah muda A.
Kita membuka hati kita agar Allah menempati hati kita dan menyucikan kita, Tuhan menjadi raja di hati kita yang berkuasa penuh memelihara seluruh hidup kita seperti ungkapan dalam PKJ 122 ayat 5. Bukalah hatimu jadi tempatNya, agar Dia masuk menyucikannya. Dialah Rajamu kuasaNya penuh yang memelihara s’luruh hidupmu. Amin
Berdoa:
Ya Tuhan mampukan kami makin rendah hati, untuk mengakui tangan Tuhan yang kuat, dan kami menyerahkanlah segala kekuatiran kami kepada Allah yang memelihara kami, serta terus berjaga-jaga. Dalam nama Yesus kami berdoa, amin.
