MUKJIZAT DI SUNGAI YORDAN
Views: 0
Bahan: Yosua 3:14-15
Ketika bangsa itu berangkat dari tempat perkemahan mereka untuk menyeberangi sungai Yordan, para imam pengangkat tabut perjanjian itu berjalan di depan bangsa itu. Segera sesudah para pengangkat tabut itu sampai ke sungai Yordan, dan para imam pengangkat tabut itu mencelupkan kakinya ke dalam air di tepi sungai itu – sungai Yordan itu sebak sampai meluap sepanjang tepinya selama musim menuai – maka berhentilah air itu mengalir.
Orang Kristen senang sekali membahas tentang mujizat sebagai tanda dan kuasa Tuhan di bumi ini. Dengan mujizat Tuhan, ada orang menjadi percaya, menerima Yesus Kristus Juruselamat, kalau itu cara Tuhan menyatakan kehadiran dan kuasa-Nya untuk menyelamatkan seseorang, tentu jadilah kehendak-Nya. Malaikat Tuhan mengatakan kepada Maria ibu Yesus: “Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil,” itulah mujizat bagi kita.
Bahan renungan kita adalah perjalanan Israel yang akan memasuki tanah Kanaan yang dipimpin oleh Yosua. Salah satu garis batas sebelah barat tanah Kanaan yang dijanjikan Tuhan menjadi milik pusaka Israel ialah sungai Yordan, kecuali untuk suku Gad, Ruben dan setengah suku Manasye, diijinkan (diberikan) oleh Musa sebagai milik pusaka mereka. Yosua yang akan memimpi rombongan bangsa itu yang datang dari sebelah Timur sungai Yordan, mereka harus menyeberangi sungai itu. Atas perintah Yosua, para pengatur pasukan, memperiapkan bangsa itu, masing-masing berkumpul menurut suku-sukunya. Sebetulnya ada tempat penyeberangan, tetapi Tuhan tidak memakai tempat itu, Tuhan hendak menunjukan kuasa-Nya yang terus menyertai bangsa itu, dengan mujizat mengeringkan sungai Yordan, agar bangsa itu dengan aman dan menyenangkan akan menyeberangi sungai Yordan itu. Mujizat itu juga sebagai peringatan kepada bangsa lain bahwa Tuhan yang menyertai bangsa Israel sanggup membelah laut Teberau dan mengeringkan sungai Yordan. Sungguh dengan mujizat itu membuat penduduk kota Yerikho menjadi gentar dan tawar hati, demikian dikatakan oleh Rahab (Yos 2:9).
Tabut perjanjian sebagai tanda dan lambang kehadiran Tuhan yang menyertai mereka. Telah ditentukan para imam yang mengangkat tabut itu, karena tidak semua imam bisa mendekat dan mengangkat tabut itu. Perjalanan menyeberangi sungai Yordan dimulai. Yosua menempatkan tabut perjanjian yang diusung oleh para imam sebagai kepala barisan, mereka sekaligus sebagai penunjuk jalan, cukup jauh jarak tabut perjanjian itu di depan, baru disusul oleh rombongan tiap-tiap suku dengan pemimpinnya. Kalau dulu menyeberangi laut Teberau, umat itu dalam kecemasan, takut dan gentar, maka saat menyeberangi sungai Yordan mereka penuh pengharapan dan perjalanan yang pasti, karena di depan mereka tanah perjanjian sudah menanti. Imam pengusung tabut melangkah memasuki tepi sungai, begitu semua pengusung mencelupkan kakinya, ke air maka sungai itu sebak, yang kehilir mengalir dan yang dari hulu terbendung maka terbukalah dasar sungai menjadi jalan raya bagi umat itu. Mereka menyaksikan mujizat “sungai Yordan kering” sebagai peringatan untuk kelanjutan hidup mereka agar mujizat ini tanda kuasa Tuhan yang menuntun perjalan mereka. Mujizat, yang banyak dipercakapkan orang Kristen, diharapkan terjadi ketika penyakit mendera, ketika perjalanan dalam kecelakaan, namun dalam suasana damai, sejahtera tidak mengharapkan mujizat Tuhan menjadi penunjuk jalan hidup kita, mujizat tinggal di syair nyanyian saja.
Mari kita aplikasikan renungan ini dengan Pokok berikut:
- Berapa mujizat yang terjadi oleh rasul Petrus dan rasul Paulus?
- Adakah mujizat dari Tuhan yang terjadi dalam jemaat gereja Anda?
- Mujizat apa yang telah Anda alami dari Tuhan?
Mari berdoa:
Bapa Tuhan Yesus Kristus, kehidupan kami adalah mujizat dari Tuhan, karena itu kami jadikan Tuhan Yesus sebagai penuntun hidup kami. Tujuan hidup kami menjadi pasti karena Yesus Kristus ada di depan kami. Kami mohon kiranya Roh Kudus mengaruniakan hikmat agar kami mampu ikut jalan Tuhan. Dalam nama Yesus kami mohon. Amin. [AS210823]
