KEBODOHAN DAN KEJAHATAN
Views: 0
Bacaan: Amsal 1:7
Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.
Dalam kehidupan kita, kira menyadari bahwa kita membutuhkan pengetahuan. Itulah sebabnya para orang-tua menyekolahkan anak-anak nya. Harapannya mereka orang-tu kepada anak-anaknya, tak hanya menjadi orang yang tumbuh berbadan besar dan memiliki banyak uang, karena warisan?namun juga mereka terutama.memiliki hikmat dan kepandaian.
Mengapa menjadi bodoh itu mesti dihindari, walau kita telah dewasa dan selama ini belajar, namun kita tetap terbuka pada kehendak diri mau belajar. Karena jika kita membiarkan diri menjadi bodoh, maka kita akan membiarkan si jahat menguasai. Lalu akibatnya selain kita sendiri dapat melakukan kejahatan karena kebodohan kita, hal ini juga dapat membuat orang lain lain terkena kejahatan kita yang dibodohi oleh sekitar. Sehingga jika kita bodoh, kita dapat menjadi sumber kesengsaraan atau dapat menyengsarakan orang-orang di sekitar kita. Itulah gambaran, bagaimana orang-orang bodoh laku menjadi jahat.
Bacaan kita hari ini mengisyaratkan bahwa hikmat hanya dimilki oleh orang yang takut akan Tuhan, berarti orang yang takut akan Tuhan akan menyukai pengetahuan, suka belajar dan berarti mereka ini adalah orang-orang pintar. Sementara orang-orang bodoh menjauhkan diri malah menghina didikan. Maka mereka yang bodoh sangat terbuka pada kejahatan. Meski karena kebodohan mereka mereka sering berkata “saya tidak jahat”, namun mengakui bahwa tak mau belajar, angkuh dan terbawa pada godaan kejahatan, lalu mereka berkata lagi “saya tidak tahu”, sebagai ungkapan bahwa mereka membenarkan dan setuju pada kebodohan mereka yang berefek pada tindakan jahat. Dalam kalimat ini seolah mau dikatakan mereka yang menyukai dan membela kebodohannya tentu juga tak takut akan Tuhan.
Lihatlah Sokrates yang pandai, bagaimana ia dihukum karena kepandaiannya oleh sekumpulan orang bodoh yang menjadi jahat. Orang bodoh yang di dalam hatinya tak mau menghargai didikan, ia menjadi dapat menjadi penjahat-penjahat. Atau orang yang bodoh itu sama dengan orang yang jahat.
Dalam rangka menyongsong Pemilu 14 Februari, tahun depan, mari kita menjadi orang-orang -orang yang takut akan Tuhan, yang menghargai pengetahuan. Mari kita kembangkan pengetahuan kita dengan berbagai macam cara untuk memahami kehendak Tuhan yang Tuhan mau nyatakan dalam kehidupan bersama masyarakat berbangsa dan bernegara di Bumi Indonesia yang kita cintai ini. Kita akan memilih bukan hanya untuk kepentingan diri sendiri saja namun bagaimana pilihan saya, ini adalah untuk kemuliaan Tuhan yang mana itu berarti mengasihi dan menghargai kehidupan bersama yang damai, adil dan makmur bersama. Walau kita hanya punya 1 suara, namun kita tahu bahwa suara satu itu juga ikut berperan dalam menghadirkan kerajaan Allah di muka bumi ini, Tanah Air kita Indonesia.
Mari kita pelajari siapakah calon-calon yang akan kita pilih nanti. Kita tentu tak mau membiarkan negara kita dikuasai kejahatan. Seperti Frans Magnis Suseno berkata: Pemilu itu bukan untuk memilih yang terbaik namun agar yang terburuk memimpin. Yang terburuk itu adalah yang jahat, bodoh dan sombong, yang membiarkan kebodohan menguasai, agar dirinya menjadi pemimpin dan terus berkuasa, dan orientasi nya adalah kenyamanan diri sendiri semata.
Nah dalam kehidupan kita, marilah kita menjauhkan diri dari mereka yang membenarkan dan menyuburkan kebodohan , dan berpikiran sempit. Namun kita akan berpihak, mendukung dan mengembangkan kepandaian. Dalam keluarga, setiap ayah dan ibu akan memperhatikan pendidikan anak-anak mereka agar anak-anak tumbuh, tidak hanya menjadi pencetak uang, namun juga memiliki hikmat dan kepandaian yang takut akan Tuhan. Dalam kehidupan sehari-hari, kita akan menjadi sosok yang mendukung upaya belajar dan bertumbuh, bukan mereka yang membela kebodohan. Dan PR bagi setiap kita yg sudah bosa ikut Pemilu 14 Februari 2023. Mari kita ikut mencoblos, mari kita memilih mereka yang berpengetahuan untuk mewujudkan kasih dan kebaikan Allah, bukan mereka yang jahat, berpihak pada kebodohan, dan mengutamakan keuntungan dan kesejahteraan diri, kelompok dan kepentingannya sendiri. Pelajari dan teruslah belajar untuk takut pada Tuhan Allah, sebagai permulaan hikmat. (LiN-RH, Rabu 23-08-2023)
