SUNGGUH TUGAS ITU BERAT
Views: 0
Bahan: Keluaran 4:10, 13-14,
“… Lalu kata Musa kepada Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulu pun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mu pun tidak sebab aku berat mulut dan berat lidah.” … Tetapi Musa berkata: “Ah, Tuhan, utuslah kiranya siapa saja yang patut Kauutus.” Maka bangkitlah murka Tuhan terhadap Musa dan Ia berfirman: “Bukankah di situ Harun, orang Lewi itu kakakmu? Aku tahu bahwa ia pandai bicara; …”
Sebuah kisah seorang prajurit Amerika yang diterjunkan ke garis depan pertempuran merebut sebuah pulau yang dikuasai Jepang. Si Prajurit ini dalam usia yang masih muda telah mendapat Pendidikan dan Latihan militer, bagaimana menggunakan bayonet kalau musuh ada di depan mata. Tiba saatnya dia mendarat dengan kapal khusus, maka mereka langsung mendapat serangan, tembakan beruntun dari pasukan Jepang. Mendengar rentetan tembakan dan suara desing peluru dia gentar, ngompol di celana, lutut tidak bisa digerakkan karena kaget dan takut. Peperangan dalam latihan, simulasi peperangan ternyata sangat berbeda, hilang entah ke mana semangat dan keberanian perangnya. Tetapi hanya satu yang harus dilakukan: harus maju, SUNGGUH TUGAS ITU BERAT dan akhirnya dia selamat setelah usai tugasnya.
Musa pada masa muda belia, begitu semangat untuk membela saudara-saudaranya di camp kerja paksa, sampai seorang mandor Mesir dipukulnya sampai tewas. Demikian juga dia menunjukkan solidaritasnya dengan merelai saudaranya yang bertengkar. Demikian yang tersirat di hatinya, yang tidak dapat dilakukannya secara terang-terangan, karena dia berstatus anak Firaun, berada di istana Firaun. Namun firman Tuhan renungan kita, tiba saatnya Musa ditugaskan ke lapangan, untuk membela saudara-saudaranya yang kerja paksa, ditindas. Dia mendapat mandat dan wewenang langsung dari Tuhan. Di dunia pengasingannya, dia tidak lagi memikirkan saudara-saudaranya, justru dikejutkan agar dia kembali ke Mesir untuk melepaskan bangsanya dari perbudakan itu. Bukan sekedar melepaskan dari perbudakan, melainkan membawa, menuntun mereka ke negeri yang telah disiapkan oleh Tuhan. Namun kita lihat berbagai alasan Musa untuk menghindar, menolak panggilan itu, sampai Tuhan jengkel, marah kepada Musa. Coba kita renungkan: Mengapa Musa menghindar dan menolak panggilan itu? walaupun akhirnya Musa dengan rela hati menerima panggilan itu dengan petunjuk dan penyertaan Tuhan dengan karunia dari Tuhan. Jawabannya SUNGGUH TUGAS ITU BERAT.
Demikian juga dengan Yunus yang melarikan diri dari panggilan tugas dari Tuhan, SUNGGUH TUGAS ITU BERAT, tetapi dengan peristiwa yang besar akhirnya Yunus melaksanakan tugas membawa seruan pertobatan ke kota Niniwe dan berhasil. Nabi Yesaya, setelah Tuhan membeberkan situasi umat yang butuh kehadiran utusan membawa kelepasan dan hiburan, kekuatan bagi Israel, akhirnya Yesaya mengatakan: “Ini aku, utuslah aku” (Yes 6:8). Demikian juga kita lihat Elisa begitu bersemangat agar dia bisa menggantikan Elia dan berkata: “Biarlah kiranya aku mendapat dua bagian dari rohmu.” Demikian besarnya semangat nabi Elisa menjadi nabi Tuhan yang akhirnya terkabul. Kita lihat juga bagaimana Tuhan Yesus memanggil murid-murid-Nya, terlihat tidak ada yang menolak seperti Musa. Pada umunya semua murid dengan spontan dan senang hati ikut Tuhan menjadi murid-Nya, walau pun Yudas Iskariot menghianati panggilannya. Panggilan untuk tugas besar patut dipersiapkan, seperti prajurit Amerika tadi, melalui pendidikan militer, begitu pun Musa yang memiliki semangat juang, mendapat latihan dan pendidikan singkat, akhirnya berhasil melaksanakan tugas kenabiannya.
Kita refleksikan bagi diri kita renungan ini dengan pokok berikut:
- Menurut Anda, kenapa Musa pada awal panggilan, dia menolak?
- Apakah Tuhan memanggil Anda untuk suatu tugas, yaitu tugas apa?
- Apa yang wajib kita persiapkan agar kita mampu menjawab panggilan Tuhan dengan berkata: “Ini aku, utuslah aku!”
Mari berdoa:
Bapa Tuhan Yesus Kristus, kami terpanggil menjadi saksi, murid dan anak Tuhan. Tugas yang indah, mulia namun berat, karena tantangan juga besar dan diri kami terbatas. Namun kami tidak sendiri ada Roh Kudus yang memampukan kami. Pakailah kami ya Bapa, karena tekad kami selalu berkata: ini aku Tuhan, utuslah aku, baik secara pribadi, mau pun bersama sebagai umat dan jemaat. Kami terus berlatih menjadi utusan Tuhan yang setia. Dengarlah doa kami ini dalam nama Tuhan Yesus. Amin. [AS31012022]
