JANJI YANG DIIMANI
Views: 1
Bahan: Kejadian 15 : 3-4.
Lagi kata Abram: “Engkau tidak memberikan kepadaku keturunan, sehingga seorang hambaku nanti menjadi ahli warisku.” Tetapi datanglah firman Tuhan kepadanya demikian: “Orang ini tidak akan menjadi ahli warismu, melainkan anak kandungmu, dialah yang akan menjadi ahli warismu.”
Pada awal pemilihan pejabat di negeri kita selalu menebar janji sebagai landasan kerjanya bila dia menduduki jabatan yang dikehendakinya. Teringat pada awal Presiden Jokowi pada Oktober 2014 dicecar oleh wartawan apa janji utama presiden menjalankan tugasnya sebagai presiden yang baru. Diharapkan Jokowi menyampaikan priorotas mungkin 3 atau 4 poin yang menjadi perhatian besar baginya. Tetapi Jokowi mengatakan yang akan dia lakukan sebagai presiden ialah: kerja, kerja dan kerja. Terlihat hingga saat ini beliau terus bekerja, terlihat apa yang dia kerjakan, baik secara phisik maupun kebijakan pemerintah dan dia mampu melakukannya. Pejabat selalu berjanji melakukan sesuatu atau banyak hal, tetapi tidak sedikit pejabat yang tidak melakukan seperti yang dijanjikannya, tentu dengan alasan yang dihadapinya.
Alkitab adalah dua bagian besar, janji Allah, yaitu Perjanjian Lama (PL) dan Perjanjian Baru (PB). Bagaimana Tuhan memenuhi janji-Nya itu, dalam PL pengutusan Juruselamat telah dipenuhi-Nya dengan mengutus Yesus Kristus. PB telah tergenapi yaitu Yesus Kristus telah menebus dosa dunia dengan mengorbankan diri-Nya dan menang. Tetapi kita masih menantikan janji-Nya bahwa Dia akan datang kembali menggenapkan semua janji Allah dengan langit baru dan bumi baru dan kita akan dihimpun di kota Allah yang disebut Yerusalem Baru.
Janji para pejabat yang kita singgung tadi, kita nantikan segera, selama dia menjadi pejabat, bahkan kita bisa kalkulasi apakah janjinya itu mungkin atau tidak. Tetapi tidaklah demikian janji Tuhan, janji Tuhan dalam kuasa-Nya yang tidak mungkin kita kalkulasi dari segi apapun. Seperti kuasa Allah menciptakan alam raya ini dari tidak ada menjadi ada tanpa bahan dasar. Demikianlah Allah menebar janji dengan Abram, yaitu dia harus pergi ke negeri yang akan ditunjukkan kemudian, Allah memberkati dia, dan akan menjadikan Abraham menjadi bangsa yang besar. Abraham setuju dengan janji itu dan melakukan seperti yang difirmankan Tuhan kepadanya, inilah Akta Perjanjian Abraham dengan Allah.
Abraham dengan segala keberadaannya, antara lain Sara isterinya mandul, sudah mati pucuk, tetapi Abraham percaya akan janji Tuhan bahwa dia akan menjadi bangsa yang besar. Dia menungu dan menunggu, waktu berjalan terus tetapi janji Tuhan itu tidak kunjung tiba, sehingga dia berkata kepada Tuhan: “Engkau tidak memberikan kepadaku keturunan, sehingga seorang hambaku nanti menjadi ahli warisku.” Tetapi datanglah firman Tuhan kepadanya demikian: “Orang ini tidak akan menjadi ahli warismu, melainkan anak kandungmu, dialah yang akan menjadi ahli warismu.” Tuhan tidak lalai akan janji-Nya, pada waktu dan cara Tuhan, janji itu digenapi-Nya, pada masa tua Abraham Ishak lahir dari Sara yang mandul.
Mari kita aplikasikan renungan ini dengan pokok berikut:
- Bagi Anda, mana yang lebih penting Perjanjian Lama atau Perjanjian Baru?
- Adakah janji Tuhan yang Anda pegang dan telah digenapi-Nya ?
- Bagaimana sikap Anda dengan janji Tuhan Yesus yang akan datang segera?
Mari berdoa:
Bapa Tuhan Yesus Kristus, janji Tuhan selalu pasti digenapi, secara pribadi, kami memegang banyak janji dalam kehidupan yang kami hadapi. Demikian juga kami banyak berjanji kepada Tuhan, Roh Kudus mampukan kami setia memegang janji Tuhan dan Roh Kudus juga menolong kami agar setia memenuhi janji kami sebagai anak Tuhan. Dalam nama Tuhan Yesus kami mohon. Amin. [AS060223]
