Kebaktian Malam Natal – 24 Desember 2024
Views: 0
Kebaktian Malam Natal - 24 Desember 2024
TEMA: “KELAHIRAN YANG MEMBAWA PEMBARUAN”
Mazmur : Mazmur 96 (TB2)
Bacaan : Titus 2:11-14 (TB 2)
Bacaan Injil : Lukas 2:1-20 (TB 2)
Views: 0
TEMA: “KELAHIRAN YANG MEMBAWA PEMBARUAN”
Mazmur : Mazmur 96 (TB2)
Bacaan : Titus 2:11-14 (TB 2)
Bacaan Injil : Lukas 2:1-20 (TB 2)
Views: 0
TEMA: “KETAATAN YANG MEMBAWA SUKACITA”
Bacaan Pertama : Mikha 5:2-5 (TB 2)
Antar Bacaan : Lukas 1:46b-55 (TB 2)
Bacaan Kedua : Ibrani 10:5-10 (TB 2)
Bacaan Injil : Lukas 1:39-45 (TB 2)
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 1
Bapak Ibu, Saudara-saudari dan anak-anak yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, Syalom Alekhem! Hari Natal sudah makin dekat, mari kita sambut dengan sukacita. Hari ini kita merenungkan Firman kebenaran yang sangat mendalam dan penuh makna yang berjudul: “Firman Allah Menjadi Manusia” dengan dasar dari Injil Yohanes 1:14 , ** yang menyatakan: “ Firman itu telah menjadi manusia, dan tinggal di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh dengan anugrah dan kebenaran.” Demikianlah Firman Tuhan. Yang berbahagia ialah setiap orang yang mendengarkan Firman Tuhan dan yang memeliharanya.
Tahukah Saudara bahwa ayat ini menyatakan dasar dan inti dari iman Kristen: Allah yang Mahakuasa secara sukarela mengambil bentuk menjadi manusia. Istilah “Firman”(Yun: Logos) dalam ayat ini merujuk kepada Yesus Kristus sebagai wahyu Tuhan yang sempurna. Dalam teologi Kristen, Logos adalah pribadi yang bersatu dengan Allah dan melalui-Nya segala sesuatu diciptakan (Yoh. 1:1-3).
Pernyataan bahwa “Firman itu telah menjadi manusia” adalah pernyataan inkarnasi, yaitu Tuhan yang menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus. Ini menunjukkan bahwa Yesus sepenuhnya manusia dan sepenuhnya Tuhan.
“Tinggal di antara kita”, menunjukkan kedekatan dan kehadiran fisik Yesus di antara umat manusia. Yesus tidak hanya datang sebagai pengajar atau nabi, tetapi juga sebagai Pribadi yang hidup bersama manusia, berbagi pengalaman dan penderitaan.
“Kami telah melihat kemuliaan-Nya”, penyataan ini menekankan pengamatan langsung para murid terhadap kemuliaan Yesus, yang dapat dilihat dalam kehidupan, pengajaran, keajaiban, dan khususnya transfigurasi-Nya.
“Kemuliaan sebagai Anak Tunggal Bapa”, sebutan “Anak Tunggal” menunjukkan hubungan yang unik antara Yesus dan Allah Bapa. Ini menekankan posisi istimewa Yesus dalam rencana keselamatan Allah.
“Penuh anugerah dan kebenaran” Anugerah dan kebenaran adalah dua sifat utama dari Yesus. Anugerah/rahmat menunjukkan kasih karunia Allah yang diberikan kepada manusia, sedangkan kebenaran menunjukkan sifat Allah yang tidak bisa kompromi terhadap dosa. Dalam Kristus, kedua sifat ini bersatu.
Seperti kesaksian pujian yang dinyanyikan dengan penuh sukacita oleh Komuke sebuah lagu yang berjudul: “Dia Lahir Untuk Kami”. Kelahiran-Nya adalah tanda kasih Allah kepada umat-Nya. Dia datang ke dunia ini bukan untuk menghukum kita, tetapi untuk menyelamatkan kita. Kasih-Nya begitu besar sehingga Ia rela turun dari kemuliaan-Nya.
“Dia Mati untuk kami.” Pengorbanan-Nya di kayu salib bukan hanya sekedar tindakan heroik; tetapi hal itu adalah pemenuhan dari rencana keselamatan Allah bagi kita. Tanpa Dia tidak ada satu pun manusia dapat diselamatkan, Dia telah rela mati untuk menanggung semua dosa kita. Dengan kematian-Nya, kita mendapatkan pengampunan dan jalan untuk kembali kepada Bapa.
“Dia bangkit untuk kami”. Saudara-saudara, jangan lupa, kita melayani Tuhan yang hidup! Kebangkitan Yesus adalah jaminan bagi kita bahwa maut tidak lagi berkuasa atas kita, orang-orang yang diselamatkan. Dalam kebangkitan-Nya, Dia memberikan harapan baru, kehidupan yang kekal bagi setiap kita yang percaya kepada-Nya.
“Dia itu Tuhan kami”. Hari ini, marilah kita mengenBBBali dan mengakui Dia sebagai Tuhan kita. Dalam Roma 10:9, dikatakan “Jika engkau mengaku dengan mulutmu bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dengan hatimu bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka engkau akan diselamatkan.”
“Yesus adalah Raja di atas segala raja, Juruselamat dunia kita.” Dengan percaya kepada-Nya, kita memiliki hubungan yang intim dengan Sang Pencipta. Puji Tuhan!
Dalam menyambut Hari Natal, bersediakah Saudara memperbaharui komitmen untuk percaya dan tetap setia kepada Tuhan Yesus Sang Juruselamat dunia? Bersediakah Saudara? Lakukanlah saja! Itu sudah cukup! Amin. Selamat menyambut Natal!
Mari kita berdoa:
Ya Tuhan Allah Bapa yang di surga, Terpujilah Tuhan telah datang menjadi Juruselamat kami. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus, kami berdoa. Amin.
Selamat menyambut Natal!
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Yesaya 11: 1-5
Haaai Sahabat Kristus, kita yang di Indonesia, khususnya Jakarta, sepertinya baru saja mememasuki musim penghujan. Walau tetap waspada akan bahaya banjir, namun kita bersukur; pepohonan yang mulai kering dan layu, kini segar lagi. Hujan ini, sungguh tak dapat kita kendalikan datangnya, untuk membuat pepohonan di rumah kita terguyur air segar dari hujan, sehingga mereka dapat bertunas dan tumbuh kembali. Yang dapat kita selalu jaga dan kerjakan adalah kita menjaga agar tanah tetap terawat shg menjadi tanah yang subur, dan menghalau berbagai hama perusak di pepohonan milik kita.
Sahabat perbahkan kita membayangkan bawa hidup kita bagai pepohonan itu? Yang kering merana. Kita serung berkata, saya sudah jaga, pelihara hidup saya aebaik mungkin, namun mengapa tetap dapat mengalami hidup yang merana dan kering? Sahabat Kristus, spt juga pohon di rumah kita tang kita selalu rawat dan pelihara, kita menyadari bahwa dalam pertumbuhannya, Tuhan juga memiliki peran yang utama. Paulus bahkan berkata “….Tuhanlah yang memberi pertumbuhan…”. Dalam bacaan Alkita kita, pada masa Yesaya ini, umat Allah mengalami masa sedih dan pahit, karena mereka ada dalam masa pembuangan. Jauh dari kampung halaman, hidup tak seindah di “rumah” sendiri. Umat Allah merasakan ketidak adilan dan direndahkan, sebagai orang yang dipandang “berbeda”. Pada saat itulah Yermia memberitakan bahwa akan hadir Tunas baru. (Karena semua seolah sudah merasa tak ada daya dan tenaga untuk menjalani kehidupan, karena perlakuan ketidak adilan terhadap umat Allah. ) Tuhan inilah yang akan menjadi jalan kenenaran dan keadilan dan membawa kelepasan dan pembebasan; bagi setiap umat Allah yang tetap memelihara hubungan dan kasih kepada Allah dan sesama. Sehingga ketika “hujan rahmat” itu tiba, umat itu sedang ada dalam potensi untuk menyambut segala rahmat itu dengan hati dan tangan yang terbuka, yang lalu disambut oleh Tuhan Allah sendiri dengan segala bentuk berkat dari Nya. Mereka bagai orang-orang yang tetap merawat tanah agar selalu gembur dan subur, yang membuang segala gulma yang adalah toksik dan kotoran yang merampas nutrisi tanaman untuk tetap kuat dan sigap menyambut sabda dan kasih juga berkat dari Tuhan Allah. Umat Allah seperti ini adalah kita; saudara dan saya yang tak akan pernah melepaskan dan menjauh dari kasih dan pemeliharaan Tuhan Allah walau tantangan dan cobaan melanda. Umat Allah ini akan dikuatkan dan dimampukan untuk segera menangkap, dengan sigap, ketika Kasih rahmat Tuhan Allah kita. Kita yang demikian, tak mau dikuasai oleh pikiran dan sikap dan pengalaman buruk yang pernah menderanya, pun tak mau membiarkan godaan buruk menjauhkannya dari sang Allah yang berkuasa. Inilah yang menyebabkan kita jadi dapat melihat atau dan mennglami atau dan merasakan bagaimana Tuhan Allah terus menghembuskan nafas kegidupan yang menghidupkan semangat dan jiwa kita
Di sepanjang waktu.
Terpujilah Tuhan Allah yang membuat kita mengalami kebesaranNya, dapat hidup bersama dalam kedamaian, keadilan, dan ketentraman bersama siapapun yang Tuhan perkenan untuk hidup bersama-sama di jalan kita, dalam pengampunan, menghindarkan asumsi negatif segingga terjadi perdamaian, satu kepada yang lain. Kini kita terpanggil untuk terus memelihara Sukacita Surgawi dalam hidup kita dan juga membawanya dalam kehidupan kita bersama yang lain. Maranatha, Sampai Tuhan datang kembali (LiN-RH, Rabu, 18-Desember-2024)
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Keluaran 19: 4-8
Salam sejahtera semoga kita makin percaya bahwa kita adalah milik kesayangan Tuhan, yang sungguh-sungguh mendengarkan firman Tuhan dan berpegang pada perjanjian Tuhan seperti yang diungkapkan dalam Keluaran 19:5 (TB2) Jadi sekarang, jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi milik kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa, sebab seluruh bumi adalah milik-Ku.
Milik kesayangan Tuhan adalah orang hidupnya sepenuhnya menyesuaikan dengan janji-janji Tuhan, selalu mendengar Tuhan, melakukan perintah, kehendak Tuhan, seperti Abraham, Musa. Tuhan Yesus mendengar dan melakukan secara sempurna seluruh perintah dan kehendak Allah karena itu Yesus selalu disebut Anak yang diperkenan Allah, Anak yang dikasihi Allah Bapa, yang disayang Allah Bapa.
Orang yang menjadi milik kesayangan Tuhan, hidupnya sesuai janji Tuhan, yang sudah diucapkan Tuhan sejak Abraham dipanggilNya. Janji Tuhan adalah menjadi keluarga yang sangat besar, meliputi bangsa-bangsa di seluruh dunia. Keluarga yang sangat besar itu milik Allah, dari keturunan Abraham. Orang yang menjadi milik kesayangan Allah adalah orang yang mau meniru Abraham, yaitu mau pergi dari hidup lama menuju hidup baru di negeri atau kerajaan yang ditunjukkan Allah yaitu negeri atau kerajaan perjanjian. Pada waktu kedatangan Yesus kembali, negeri perjanjian kita adalah Kerajaan Allah atau Kerajaan Sorga. Janji Tuhan yang lain adalah hidup anak-anakNya diberkati Tuhan dan menjadi berkat bagi orang lain, yaitu untuk membawa orang lain diselamatkan Tuhan, masuk dalam negeri atau Kerajaan Allah yang dijanjikanNya.
Orang yang menjadi milik kesayangan Tuhan adalah orang yang mau dipelihara Tuhan seperti anak burung rajawali dipelihara, diangkat induknya di atas sayapnya (keluaran 19:3). Burung rajawali, memelihara anaknya dengan memberi makan yang dipilih induknya. Anak burung rajawali tidak makan semaunya, tapi sesuai kehendak induknya. Anak burung rajawali harus latihan terbang, tapi kalau mau jatuh, induk akan segera menolong ketika hampir sampai di tanah. Induk rajawali sangat cermat melihat anaknya sedang latihan terbang, ia tahu kapan anaknya jatuh dan hampir sampai ke tanah, dan segera menyelamatkan dan membawa kembali ke tempat aman, tenang, terlindungi di sarang induknya. Tuhan menyayangi kita adalah Tuhan yang kuat, berkuasa, sanggup melindungi, menyelamatkan, menolong pada waktunya seperti digambarkan dengan burung rajawali. Allah sudah memberi pengalaman iman di Mesir, betapa besar kuasa, kekuatan dan keperkasaan Allah ketika melepaskan bangsa Israel dari perbudakan Mesir dan membawa ke tempat aman, terlindungi damai sejahtera, bahagia, seperti anak rajawali di bawa ke tempat tenang damai bahagia di sarang induknya.
Kita milik kesayangan Allah, walau kita jatuh dalam dosa, Allah tidak ingin semua orang binasa dalam mati kekal karena dosa. Allah menyelamatkan orang berdosa, melalui penyesalan dosa, diampuni Yesus dan bertobat, mau menerima firman, perintah, kehendak Tuhan dan mau melakukan perintah Tuhan. Menerima firman adalah makanan roti hidup, yang dipilih Tuhan agar kita hidup, selamat, seperti rajawali memilihkan makanan untuk anaknya. Anak tidak bisa pilih sendiri makanannya.
Seperti burung rajawali menyelamatkan anaknya yang jatuh, Allah juga menyelamatkan kita dari dosa dan membawa kita ke tempat yang aman, terlindungi, damai Sejahtera, adil, bahagia, tempat itu adalah Kerajaan Allah atau Kerajaan Sorga. Kita semua bersukacita menanti kedatangan Yesus Kembali, saat kita diangkat , dibangkitkan dalam hidup kekal, masuk dalam Kerajaan Allah. Kita menanti kedatangan Yesus dengan menyesali dosa, diampuni, bertobat dan menerima kehendak, perintah Tuhan. Kita bersukacita karena berpegang pada janji Tuhan untuk hidup diberkati dan menjadi berkat, memberitakan kabar keselamatan kepada sebanyak mungkin orang agar mereka juga menyesali dosa, diampuni, bertobat, meninggalkan hidup lama, menerima hidup baru, menerima kehendak perintah Tuhan, masuk dalam Kerajaan Allah.
Apakah kita sadar bahwa kita milik kesayangan Allah? Kalau sadar kita milik kesayangan Tuhan, apakah kita juga menyayangi atau mengasihi Tuhan ? atau kita lebih mengasihi harta, uang, kekuasaan, kesenangan diri sendiri? Kalau orang lebih menyayangi harta, uang, kekuasaan, kesenangan diri sendiri maka orang tersebut, tidak akan menerima kehendak, perintah Tuhan, tidak akan merenungkan perintah atau kehendak Tuhan siang dan malam.
Apakah kita bangga menjadi milik kesayangan Tuhan, atau kita masa bodoh kalau kita disayang Tuhan ? Ada anak sangat disayang orangtua, tapi anak itu masa bodoh bahwa dirinya disayang orangtua. Anak ini masa bodoh, tidak mau mendengar perintah, kehendak orangtua, yang sebetulnya sangat berguna bagi anak itu. Apakah orangtua sakit hati diabaikan oleh anak kesayangannya ? ya sakit hati. Apakah orangtua membenci anaknya yang masa bodoh terhadap orangtua? Tentu tidak. Orangtua akan berusaha terus agar anaknya hidupnya benar, berhasil, selamat, semua upaya dilakukan orangtua sampai akhir hidup orangtua. Memang ada orangtua yang putus asa, akhirnya mengusir anaknya dari rumah karena kejahatan anak yang disayangi sangat keterlaluan. Allah Bapa, adalah orangtua yang sangat setia menyayangi anak-anakNya, anggota keluarga Allah. Ia tidak pernah membenci anak-anak kesayanganNya, terus diupayakan dengan segala cara agar anak-anakNya semuanya selamat masuk dalam Kerajaan Allah atau Kerajaan Sorga. Ada anak yang jatuh dalam dosa karena memberontak terhadap Allah , seperti anak yang hilang. Ketika anak yang hilang itu menyesali dosa, dan mau bertobat, maka Allah mengampuni, dan anak yang hilang mau hidup bersama Allah, hidup dalam aturan Allah, hidup dalam janji Allah, mau menerima perintah, kehendak Allah dalam Kerajaan Allah. Anak yang hilang itu, sejak ia lahir sampai selama-lamanya tetap menjadi milik kesayangan Allah. Allah tidak pernah berubah hatinya, kita tetap milik kesayangan Allah, hanya kita yang selalu berubah, ketika kita berdosa, memberontak seperti anak yang hilang. Kalau kita tidak mau menyesali dosa dan tidak mau bertobat, itu salah kita sendiri. Kita percaya bahwa Allah tidak berubah, kasihNya setia, sayangNya selama-lamanya.
Dalam menanti kedatangan Yesus kembali, kita percaya pada kehendak, perintah dan janji Tuhan, kita dirangkul Tuhan dan menjadi mutiara kesayangan Tuhan, kita bercahaya, bagai intan permata, kita bercahaya dengan perilaku hidup yang memberitakan keselamatan, seperti ungkapan dalam KJ 274 ayat 3. Anak-anak yang percaya dirangkul olehNya dan menjadi mutiara kesayanganNya. Reff: Tiap orang percaya kelak bercahaya bagai intan permata di mahkotaNya. amin
Berdoa:
Ya Tuhan kiranya kami makin percaya bahwa kami adalah milik kesayangan Tuhan, yang sungguh-sungguh mendengarkan firman Tuhan dan berpegang pada perjanjian Tuhan. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Nas: Bilangan 24:15-17, (15),
Lalu ia mengucapkan sanjaknya, katanya: “Tutur kata Bileam bin Beor, tutur kata orang yang terbuka penglihatannya: … (17), Aku melihatnya, tetapi bukan sekarang; aku memandangnya tetapi belum dekat. Bintang terbit dari Yakub, tongkat kerajaan yang timbul dari Israel, dan meremukkan pelipis-pelipis Moab, dan menghancurkan semua anak Set.
Saudara-saudari yang dikasihi Kristus, kita telah memasuki masa Adven III, menantikan kedatangan Kristus kembali yang kita presentasikan dalam merayakan Natal yang semakin dekat. Pada masa Adven kita patut mendalami nubuat-nubuat tentang pengutusan atau kedatangan Mesias.
Kehidupan Israel yang masih bersusah payah dalam perjalanannya dari Mesir menuju Tanah Kanaan. Perjalanan mereka sudah sampai di selatan Laut Mati dan menuju ke utara. Mereka berhadapan dengan negeri Edom, Musa mengutus beberapa orang menemui raja Edom agar umat Israel diijinkan melewati negeri itu, walau hanya sekedar lewat saja. Tetapi raja Edom tidak mengijinkan mereka melintasi jalan raya di negeri itu, Musa terpaksa dengan bersusah payah mencari jalan menyusur perbatasan negeri itu dan akhirnya sampai melewati negeri Edom tiba di perbatasan dengan negeri Moab. Tentu saja orang Moab berprasangka buruk atas kehadiran umat Israel. Sebenarnya adalah suatu kesempatan besar mendapatkan berkat Tuhan, kalau Moab memberkati Israel, tetapi justru sebaliknya, dia mengundang seorang dukun (Yos 13:22) namanya Bileam.
Balak raja Moab mengundang Bileam dengan janji upah besar, agar dia mengutuki, menyerapah umat Israel. Utusan telah menyampaikan permintaan raja Moab, tetapi atas nasihat Tuhan, Bileam menolak. Untuk kedua kalinya Balak raja Moab mengundang dengan menjanjikan upah lebih besar lagi, atas nasihat Tuhan Bileam berangkat ke negeri Moab. Balak raja Moab menyambut Bileam, dan Balak membawa Bileam untuk memandang dari atas gunung ke umat Israel di perkemahan mereka. Bileam, meminta waktu agar dia meminta nasihat Tuhan, apa yang harus diucapkannya, karena dia tidak mungkin menyampaikan yang tidak berasal dari Tuhan. Ternyata Tuhan menaruh kata-kata selamat agar diucapkannya kepada Israel. Untuk kedua kali, Balak membawa Bileam ke tempat lain untuk memandang umat Israel yang sedang berkemah itu. Bileam minta waktu agar dia menerima nasihat Tuhan apa yang harus dia ucapkan terhadap umat Israel, rupanya Tuhan menyuruh Bileam menyampaikan berkat kepada Israel. Kesempatan ketiga, Balak membawa Bileam menatap dari jauh ke perkemahan Israel, maka Tuhan menaruh kata-kata berkat, dan suatu nubuat tentang: “Terbitnya bintang dari Yakub, tongkat kerajaan timbul dari Israel dan meremukkan pelipis-pelipis Moab, dan menghancurkan semua keturunan Set.” Inilah nubuat kedatangan Mesias yang disampaikan Bileam. Tentu saja Balak marah dan mengusir Bileam, dengan ucapan: “Bileam dipanggil untuk mengutuki dan menyerapah Israel, tetapi Bileam memberkati,” dan menjanjikan kehancuran Moab oleh Israel. Akhirnya Balak mengusir Bileam, dan dia kembali ke negerinya dan Balak dengan marahnya kembali ke istananya.
Aplikasi:
Mari berdoa:
Bapa kami yang di surga, berkat dilimpahkan bagi kami agar kami menjadi berkat kepada orang lain. Jauhkan kami untuk berbuat jahat kepada sesama. Kami mohon dalam nama Yesus Kristus, Amin. [AS161224]
Views: 0
TEMA: “MENANTI KEDATANGAN TUHAN DENGAN MELAKUKAN PERTOBATAN DAN SUKACITA”
Bacaan Pertama : Zefanya 3:14-20 (TB 2)
Antar Bacaan : Yesaya 12:2-6 (TB 2)
Bacaan Kedua : Filipi 4:4-7 (TB 2)
Bacaan Injil : Lukas 3:7-18 (TB 2)
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Amsal 3: 11-12 (TB 2)
“Hai anakku, janganlah engkau menolak didikan TUHAN , dan janganlah engkau bosan akan peringatan-Nya. Karena TUHAN menghajar orang yang dikasihi-Nya, seperti seorang ayah kepada anak yang disayangi”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Saudaraku, lada katokkon (atau sering disebut hanya ‘katokkon’ saja) adalah cabai andalan masyakarat Suku Toraja. Katokkon memang belum banyak menyebar ke daerah lain. Masyarakat Toraja biasa memasak masakan pedas dengan katokkon sebagai pengganti jenis cabai lain. Katokkon mempunyai bentuk bulat tak sempurna, agak mirip paprika tetapi lebih kecil dan gemuk. Besarnya kira-kira sebesar ibu jari tangan orang dewasa. Katokkon memiliki tingkat kepedasan yang cukup tinggi. Berdasarkan penelitian tingkat kepedasan atau Scoville Heat Unit (SHU) – yaitu: satuan yang mengukur konsentrasi capcaisin atau zat pedas pada cabai, katokkon memiliki tingkat SHU sebesar 400.000 – 600.000. Agar bisa membayangkan tingkat kepedasannya, cabai rawit biasa memiliki tingkat SHU sebesar 100.000. Artinya, kepedasan katokkon ini 4 kali lipat lebih pedas dibandingkan dengan cabai biasa. Uniknya, rasa pedas katokkon ini tidak serta merta muncul di lidah pada saat digigit, melainkan perlahan. Sensasi pertama yang dirasakan saat katokkon ini digigit adalah rasa manis asam segar seperti buah tomat. Setelah beberapa detik barulah muncul rasa pedasnya secara perlahan-lahan. Oh ya, katokkon mengandung vitamin A, vitamin C, dan antioksidan yang dapat melindungi tubuh dari radikal bebas. Selain itu, katokkon juga dapat meningkatkan nafsu makan, memperlambat penuaan, anti stres, menurunkan kadar kolesterol, melancarkan aliran darah, mencegah strok, meredakan batuk berdahak, melegakan hidung tersumbat, dan meredakan migrain. Ternyata pedasnya katokkon tidak membuat orang-orang kapok untuk menyantapnya, melainkan ingin mencoba dan mencoba lagi.
Saudaraku, lada katokkon ini mengingatkan pada salah seorang murid Tuhan Yesus yang bernama Petrus. Ia termasuk tiga orang terdekat Tuhan Yesus selain Yakobus dan Yohanes. Ia adalah seorang yang pemberani dan cepat berbicara, namun lambat untuk berpikir. Atas sikapnya itu, maka Tuhan Yesus beberapa kali menegur dan mengoreksinya. Dalam peristiwa angin ribut di tengah danau, ketika Petrus berjalan di atas air, ia tenggelam karena dirasakannya angin dan air. Tuhan Yesus menegur, “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” (Mat. 14:31 – TB 2). Rupanya saat itu Petrus ingin beraksi di depan para murid yang lain. Kemudian, saat Tuhan Yesus berbicara mengenai penderitaan dan kematian yang akan dialami-Nya, Petrus segera menasihatiNya. Tuhan Yesus pun menegur Petrus, ”Enyahlah, Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia” (Mat. 16.23 – Tb 2). Nampaknya saat itu Petrus ingin menunjukkan betapa rohani dan berimannya dirinya. Dalam peristiwa perjamuan malam terakhir, Petrus menyatakan bahwa dirinya tidak akan terguncang imannya. Dan Tuhan Yesus kembali menegurnya, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Malam ini, sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali” (Mat. 26:34). Kali ini, Petrus ditegur karena omong besarnya. Meski sempat hancur hati, namun berkat peneguhan dari Tuhan Yesus, Petrus kembali bangkit untuk melayani. Kitab Kisah Rasul mencatat bahwa setelah peristiwa Pentakosta, Petrus menjadi pemimpin para Rasul yang memperoleh wibawa dan karunia dari Tuhan. Dari rangkaian kisah tentang Petrus ini, kita belajar Tuhan tidak segan untuk menegur dan mengoreksi orang yang dikasihi-Nya. Maka benarlah apa yang dinasihatkan oleh Penulis Amsal, demikian: “Hai anakku, janganlah engkau menolak didikan TUHAN , dan janganlah engkau bosan akan peringatan-Nya. Karena TUHAN menghajar orang yang dikasihi-Nya, seperti seorang ayah kepada anak yang disayangi”.
Saudaraku, seringkali kita berharap agar Tuhan memanjakan diri kita. Namun ternyata itu adalah sikap yang keliru, sebab Tuhan tidak segan-segan untuk menegur dengan keras dan mengoreksi kekeliruan kita melalui berbagai macam hal. Oleh sebab itu, jangan pernah putus asa dan kapok untuk menjadi murid Tuhan yang lebih baik dan lebih baik. Seperti menyantap lada katokkon, walau super pedas toh tetap juga disantap karena nikmat dan bermanfaat, bukan? Selamat berjunag, Saudaraku, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Tuhan, kami ingin hidup seturut dengan kehendak-Mu. Silahkan Tuhan membentuk kami, sebab kami adalah tanah liat dan Engkau adalah penjunannya. Kiranya Engkau semakin dimuliakan melalui kehidupan kami. Terimakasih Tuhan Yesus. Amin.
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Yesaya 1: 25 (TB 2)
”Aku akan berbalik melawanmu dengan tangan-Ku: Aku akan memurnikan perakmu, dan akan menyingkirkan segala kotoran darimu”
Syalom jemaat yang terkasih didalam Tuhan.. Semoga bapak/ibu/saudara-saudari dalam keadaan sukacita.. Jemaat yang terkasih..
stilah pemurnian biasanya merujuk pada proses pemisahan materi atau zat sumber daya alam yang berguna dan yang tidak berguna. Tujuan pemurnian ini adalah untuk meningkatkan nilai ekonomis dari materi atau zat yang berharga. Namun proses pemurnian ini adalah proses yang tidak mudah. Seringkali harus melalui proses yang panjang yang membuat zat yang baik itu harus ditempa bersama zat yang tidak baik dan harus dibuang. Setelah melalui proses tempaan yang berat dan panjang, maka zat atau material yang baik itu kemudian menjadi murni dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi.
Pemurnian ini juga berlaku dalam kehidupan manusia, khususnya dalam hal iman, karena manusia juga kadangkala harus melalui tempaan cobaan hidup untuk memurnikan imannya. Nubuatan Yesaya dalam bacaan saat ini dalam rangka menjelaskan proses pemurnian yang dialami oleh bangsa Israel. Bangsa Israel yang tidak setia kepada Tuhan menjadi penyebab mereka harus menjalani proses pemurnian. Proses pemurnian ini dilakukan melalui hukuman Allah kepada bangsa Israel. Hal ini bukan karena Allah tidak mengasihi bangsa Israel tetapi supaya mereka kembali murni dan setia kepada-Nya. Proses pemunian ini disampaikan oleh Yesaya seperti yang tertulis di ayat 25 (TB1): “Aku akan bertindak terhadap engkau: Aku akan memurnikan perakmu dengan garam soda, dan akan menyingkirkan segala timah dari padanya.” Bangsa Israel memang dikenal sebagai bangsa yang bebal dan sering melupakan Tuhan, karena itu tidak ada cara lain untuk memurnikan mereka, selain memberikan hukuman sebagai sarana untuk mengingatkan dan mengembalikan mereka menjadi bangsa yang setia kepada Tuhan.
Proses pemurnian yang dialami bangsa Israel mungkin saja kita alami dalam kehidupan kita saat ini. Adakalanya kita mengalami tantangan, pergumulan, dan cobaan yang berat dalam hidup kita, namun itu bukan berarti Tuhan Allah tidak mengasihi. Tantangan, pergumulan, dan cobaan bisa saja menjadi cara Tuhan Allah untuk memurnikan iman percaya kita kepada-Nya. Mari tetap setia memandang kepada Tuhan, meyakini bahwa setiap proses hidup yang kita alami adalah bagian proses Tuhan Allah memurnikan hidup kita sebagai umat yang dikasihi-Nya.
Selamat berefleksi dan menghayati minggu-minggu adven. Tuhan memberkati.
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bapak Ibu, Saudara-saudari dan anak-anak yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, Syalom Alekhem! Dalam menanti kedatangan Tuhan, hari ini kita merenungkan firman Tuhan yang berjudul: “Hevenu Syalom” dengan dasar dari Injil Lukas 1:78-79 “ Oleh rahmat dan belas kasihan Allah kita, Surya pagi dari tempat yang tinggi akan melawat kita, untuk menyinari mereka yang tinggal dalam kegelapan dan dalam naungan maut untuk mengarahkan kaki kita ke jalan damai sejahtera .” Demikianlah firman Tuhan. Yang berbahagia ialah setiap orang yang mendengarkan firman Tuhan dan yang melakukannya.
Tahukah Saudara bahwa ayat ini adalah bagian dari nyanyian pujian Zakharia setelah kelahiran Yohanes Pembaptis, anaknya. Zakaria telah dberitahu Tuhan bahwa Yohanes akan menjadi pelayan Tuhan untuk mempersiapkan umat-Nya menyambut Sang Surya Pagi yang dari tempat tinggi.
Dalam konteks ayat ini, Yesus datang sebagai Surya Pagi yang menerangi setiap kegelapan dalam hidup kita. Kehadiran-Nya memberikan pengharapan baru, seperti matahari yang terbit setiap pagi dengan janji hari yang baru. Ketika kita berada dalam kegelapan, Yesus melawat kita untuk membawa terang-Nya. Dia adalah sumber kehidupan dan harapan yang tidak pernah pudar. Dia hadir untuk mengusir kegelapan dan memberikan kita arah yang jelas menuju kehidupan yang penuh damai sejahtera atau syalom.
“Syalom” dalam bahasa Ibrani mencakup lebih dari sekadar kondisi damai tiada konflik; tetapi syalom juga mencakup kesejahteraan, kesempurnaan, keselarasan, dan keselamatan. Ketika Yesus mengarahkan kaki kita ke jalan syalom atau damai sejahtera, Dia mengundang kita untuk mengalami kehidupan yang selaras dengan kehendak Tuhan.
Ketika Alkitab berbicara tentang syalom bagi kita, juga berbicara tentang hubungan yang harmonis dengan Tuhan, dengan diri sendiri, dan dengan sesama. Dia mengajarkan kita untuk hidup dalam harmoni, saling mencintai, dan saling mengampuni.
Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk tidak hanya menerima damai sejahtera dari Allah, tetapi juga menyebarkannya kepada orang lain. “ Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah” (Mat. 5:9 ). Kita harus menjadi agen damai di tengah kekacauan dunia ini. Setiap tindakan kasih, pengertian, dan pengampunan adalah cerminan dari shalom yang telah diberikan Tuhan kepada kita.
Seperti kesaksian pujian yang dinyanyikan oleh Komuke sebuah lagu yang berjudul: “Hevenu Syalom”. Tahukah Saudara bahwa “Hevenu Syalom” adalah sebuah ungkapan dalam bahasa Ibrani yang berarti “Kami membawa perdamaian” atau “Kami datang dengan damai”. Ungkapan ini sering digunakan dalam konteks yang lebih luas untuk menggambarkan harapan dan usaha menuju perdamaian, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam hubungan antar individu, kelompok, atau bangsa.
“Hevenu Syalom” juga merupakan bagian dari lagu yang populer, yang sering dinyanyikan dalam berbagai acara, termasuk perayaan, pesta, dan kegiatan bersama. Lagu ini mengekspresikan semangat persatuan dan keinginan untuk saling menghormati dalam suasana yang harmonis. Oleh karena itu, makna “Hevenu Syalom” tidak hanya terletak pada kata-kata itu sendiri, tetapi juga pada pesan yang lebih besar tentang pentingnya perdamaian dalam kehidupan kita.
Di tengah masyarakat kita yang majemuk, hidup harmonis dalam perbedaan bukanlah hal yang mustahil, karena hidup bersama itu bukan untuk menebar kebencian, melainkan mewujudkan kasih. Hidup itu bukan untuk merendahkan sesama, melainkan mengangkat dan mengutamakan sesama. Hidup itu bukan bagaimana menghadirkan lawan, melainkan bagaimana menjadi kawan yang bekerjasama membangun kehidupan yang lebih baik. Membawa syalom adalah hidup dengan sikap iman inklusif dan toleransi yang benar.
Bersediakah Saudara memperbaharui komitmen untuk membawa syalom di tengah keluarga, persekutuan, dan masyarakat? Bersediakah Saudara? Lakukanlah saja! Itu sudah cukup! Amin. Maranatha!
Mari kita berdoa:
Ya Tuhan Bapa yang di surga, terima kasih firmanMu hari ini menguatkan komitmen kami untuk menjadi pelaku syalom di mana pun kita berada. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus, kami berdoa. Amin. Tuhan Yesus memberkati Saudara dan keluarga!