harian
IA MEMELIHARA KAMU (PEMELIHARAAN ALLAH)
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: 1 Petrus 5:5-7
Salam sejahtera, semoga kita makin menyerahkan kekuatiran kita pada Tuhan yang memelihara hidup kita seperti ungkapan dalam 1 Petrus 5:7 Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.
Jean Jacques Rousseau, menjauhkan diri dari semua pendapat yang menyalahkan pemeliharaan Allah, karena Allah tidak menghalangi terjadinya peristiwa-peristiwa buruk dalam kehidupan manusia. Voltaire mencemooh pemeliharaan Allah, karena Tuhanlah yang menyebabkan gempa bumi di suatu tempat, sehingga banyak umat Tuhan meninggal saat mereka beribadah. Rousseau menasehati Voltaire agar tidak menyalahkan Tuhan sebab tindakan manusia sendirilah yang tidak bijaksana. Beberapa orang setuju dengan pendapat Rousseau, ketimbang pendapat Voltaire. Benar bahwa banyak bencana menimpa manusia, itu disebabkan oleh keputusan manusia bukan karena Tuhan marah. Umpamanya, pak Tani menggarap tanah pada lereng gunung berapi, karena mengharapkan panen yang lebih baik sebagai hasilnya, tapi ia sadar akan kemungkinkan yang lain, pada waktu terjadi musibah bencana letusan gunung merapi. Resiko dan keuntungan perlu dipertimbangkan tanpa menyalahkan pemeliharaan Allah (Robert R. Boehlke, Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek Agama Kristen, BPK Gunung Mulia, 2015).
Pemeliharaan Tuhan yaitu karya Tuhan untuk melangsungkan adanya dunia ini. Dunia ini tidak pernah sendiri berjalan tanpa kehadiran Tuhan. Dunia ini tetap kokoh, disebabkan karena pemeliharaan Tuhan. Tuhan Allah tetap bekerja bagi dunia, maka dunia tetap berada dan berkembang menuju kepada tujuan Allah. Pemeliharaan Allah tidak boleh dipisah dari pemerintahan Allah. Pemeliharaan Allah atas dunia, dalam rangka mencapai tujuan Allah atas dunia dan manusia. Tujuan Allah, agar manusia menjadi sekutu Allah dan diselamatkan. Allah itu setia tidak meninggalkan perbuatan tanganNya. Ia menuntun dunia sesuai dengan rencana dan tujuan Allah. Allah memelihara dunia serta memerintah atasnya.
Ada orang berpikir, semua yang terjadi, baik dan buruk sudah diketahui, dikehendaki Allah, ditetapkan Allah terlebih dulu. Keadaan perang, damai, miskin, makmur, sakit, sehat, kecelakaan, perceraian semua sudah ditetapkan Allah sebelumnya. Semua perbuatan kita yang baik dan jahat sudah ditetapkan Allah terlebih dulu, karena itu disebut takdir Allah. Manusia tidak bisa mengubah takdir Allah. Dalam hidup sehari-hari muncul kalimat, “apa boleh buat sudah takdir atau sudah nasib”. Dengan kalimat ini, manusia mengeluh dengan takdir susah, sedih, yang didapatnya. Pemahaman pemeliharaan Allah seperti ini membuat manusia menjadi pasif sama sekali, tidak butuh perjuangan. Termasuk orang yang percaya sudah ditakdirkan masuk surga, maka orang tersebut tidak perlu bersusah-susah melakukan sesuatu karena sudah pasti masuk surga.
Pemahaman pemeliharaan Allah seperti diatas berarti orang tidak perlu percaya pada Allah dan kehendakNya, karena orang bergantung pada nasib, fatalistis (segala sesuatu terjadi menurut hukumnya, tidak bisa berubah dari nasib yang telah ditetapkan). Percaya pada pemeliharaan dan pemerintahan Allah (providentia), seperti Abraham percaya bahwa Allah menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi Tuhan ( Kejadian 22:8). Percaya pada pemeliharaan dan pemerintah Allah berarti orang mau dituntun Tuhan, dengan hidup dalam Tuhan Yesus. Jika Yesus menguasai hati kita, maka Allah memelihara manusia sesuai tujuan Allah. Allah menyediakan Yesus sebagai korban penebusan dosa, manusia tidak perlu dikorbankan, seperti Allah menyediakan domba sebagai korban, sehingga Ishak tidak perlu dikorbankan. Dalam Yesus, kita percaya Allah memelihara, memerintah hidup kita sesuai rencana dan kehendak Allah.
Orang yang berjumpa Allah, akan menyerahkan diri pada Allah, maka Allah akan menjadikan segala sesuatu menjadi baik. Allah lebih dulu mengasihi kita, maka kita juga mengasihi Allah lebih dulu, dan mencari Kerajaan Allah lebih dulu, maka akan ditambahkan yang lain dalam pemeliharaan Allah.
Pemeliharaan Allah adalah pengakuan iman kita, yang timbul dari percaya pada Allah. Percaya bukan hasil penelitian keilmuan. Percaya bukan berarti manusia tidak perlu berjuang, tidak perlu bertanding, berlari mencapai tujuan hidup, tidak perlu bertanggungjawab atas hidup pribadi dan sesama, tidak bertanggungjawab mencari nafkah sendiri dan keluarga. Percaya pada pemeliharaan Allah bukan berarti bahwa setelah kita menyerahkan segala kekuatiran kita kepada Tuhan ( 1 Petrus 5:7), maka kita tidak berbuat apa-apa, kita tidak melakukan tanggungjawab sebagai manusia karena kita percaya Allah memelihara kita. Seorang ayah muda A, tidak bekerja, malas mencari kerja, suka main game, perilakunya kasar terhadap istri, minta uang dari ibunya. Istri A kesal melihat perilaku suami, ditambah sikap kasar A, maka istri A minta bercerai dan dikabulkan pengadilan. A kecewa pada Tuhan Yesus, karena Tuhan tidak memelihara pernikahan mereka. A mau murtad meninggalkan iman pada Yesus. A berpikir pemeliharaan Allah, berarti tidak perlu tanggungjawab dari manusia.
Percaya pada pemeliharaan Allah berarti manusia sebagai gambar Allah, akan melakukan tugas dan tanggungjawab dalam kehidupan. Berbeda dengan seekor burung yang tidak menabur, tidak menuai, tidak mengumpulkan bekal. Kita wajib bertanggungjawab terhadap diri sendiri, sesama, lingkungan. Dalam melakukan tanggungjawab, kita tidak perlu kuatir akan hari esok, karena hari esok punya kesusahan sendiri. Kita bertanggungjawab dalam tugas kita hari ini, dan merencanakan tanggungjawab, tugas kita hari esok tanpa kuatir.
Mengapa kita tidak perlu kuatir? karena kita merendahkan diri, tahu diri kita lemah, dan mengakui tangan Tuhan yang kuat, yang mampu memelihara kita dengan baik sesuai tujuan kehendak Tuhan (1 Petrus 5:6). Tuhan memelihara untuk mendatangkan kebaikan bagi kita. Kita menyerahkan kekuatiran pada Allah pemelihara yang kuat dan hebat. Kita terus berjaga-jaga agar kepercayaan pada Tuhan pemelihara tidak menjadi sesat karena pengaruh pikiran jahat di sekitar kita seperti yang dialami ayah muda A.
Kita membuka hati kita agar Allah menempati hati kita dan menyucikan kita, Tuhan menjadi raja di hati kita yang berkuasa penuh memelihara seluruh hidup kita seperti ungkapan dalam PKJ 122 ayat 5. Bukalah hatimu jadi tempatNya, agar Dia masuk menyucikannya. Dialah Rajamu kuasaNya penuh yang memelihara s’luruh hidupmu. Amin
Berdoa:
Ya Tuhan mampukan kami makin rendah hati, untuk mengakui tangan Tuhan yang kuat, dan kami menyerahkanlah segala kekuatiran kami kepada Allah yang memelihara kami, serta terus berjaga-jaga. Dalam nama Yesus kami berdoa, amin.
DALAM KEMURAHAN TUHAN
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bahan: Ezra 8:31-36,
Berangkatlah kami dari sungai Ahawa pergi ke Yerusalem pada tanggal dua belas bulan pertama untuk berjalan ke Yerusalem, … (35) Pada waktu itu juga orang-orang yang telah kembali dari penawanan, yakni mereka yang pulang dari pembuangan, mempersembahkan sebagai korban bakaran kepada Allah Israel: Lembu jantan dua belas ekor untuk seluruh Israel, domba jantan sembilan puluh enam ekor, … semuanya itu sebagai korban bakaran bagi TUHAN.
Teringat umat Israel keluar dari Mesir dengan sepuluh tulah yang menimpa Mesir dan terakhir pasukan Mesir dicampakkan ke laut Teberau dan umat Israel selamat berjalan dalam laut yang terbelah. Renungan kita hari ini, hampir sama dengan keluarnya Israel dari Mesir, yakni keluargnya umat Israel dari pembuangan. Selama 70 tahun umat itu mendekam di pembuangan, yang berawal dari Nebukadnezar raja Babel menyerang dan mengalahkan Yehuda dan Yerusalem, raja Israel, pejabat negeri, para imam dan nabi, seluruh rakyat diangkut ke Babel dan diperbudak sebagai pekerja tanpa gaji. Ada perbedaan kedua perbudakan di dua negeri ini, di Mesir Taurat dan hukum-hukum Tuhan belum diperkenalkan kepada umat, sedangkan di Babel justru umat itu melanggar dan meninggalkan firman dan hukum Tuhan, sehingga Tuhan menghukum Israel dengan penghancuran negeri mereka, termasuk Bait Suci dan umat itu direndahkan sebagai budak. Di sinilah kita lihat kisah Daniel, Mesakh, Sadrakh, Abednego, juga kisah Ester yang sempat menjadi ratu bagi raja Ahasweros. Memang mereka umat Tuhan, yang mewarisi tanah perjanjian, tetapi dalam waktu yang ditentukan Tuhan, mereka mengalami pengasingan yaitu selama 70 tahun yang berarti terjadi regenerasi di pembuangan.
Tiba tahun ke-70, Babel jatuh ke tangan Persia, raja Persia dan Media di tangan Artahsasta, Tuhan menggenapi janjinya untuk membawa pulang kembali umat Israel ke negeri mereka. Kepulangan dari pembuangan ini tidak dengan kekerasan, seperi keluar dan Mesir, tetapi Tuhan merobah hati raja sehingga memprakarsai kepulangan Israel kembali ke negeri mereka yaitu Yehuda dan Yerusalem. Ada beberapa gelombang kepulangan mereka, robongan pertama dipimpin oleh Zerubabel, rombongan kedua dibawa oleh Ezra, rombongan ke tiga dibawa oleh Nehemia. Ayat renungan kita (Ezr 8:31-36), Ezra dan robongannya telah tiba di Yerusalem. Disebut yang mereka lakukan ialah membarui hubungan dengan Allah melalui ibadah korban bakaran, karena demikianlah yang ditetapkan dalam Taurat Tuhan. Rombongan Ezra telah melihat Bait Allah dibangun kembali, setelah menjadi puing yang dibakar dan dijarah oleh Nebukadnezar. Mereka tidak berpesta pora dengan makan, minum dan perayaan lainnya, tetapi membangun dan membarui hubungan iman mereka dengan Tuhan. Dari hewan piaraan yang mereka bawa dari Persia (Babel) mereka menyiapkan korban bakaran untuk Tuhan.
Dalam kemurahan Tuhan ini mereka tidak diberi pelajaran baru atau hukum Tuhan yang baru, mereka cukup membuka Kitab Suci dan mencari dan mempelajari hukum Tuhan yang telah ada di tangan mereka. Salah satu, yang sangat mengharukan ialah mereka membaca dan mendengar Taurat Tuhan dalam suatu perkumpulan ibadah yang selama 70 tahun mereka tidak pernah berkumpul untuk itu.
Kita aplikasikan renungan ini dengan pokok berikut:
- Bagaimana Anda (Pribadi atau keluarga) menyambut kemurahan Tuhan?
- Apakah Anda selalu, sering atau tidak mempersembahkan sejumlah uang menyambut kemurahan Tuhan, ke jemaat gereja Anda?
- Umat Israel mempersembahkan korban bakaran kepada Allah, selanjutnya apa yang harus mereka lakukan.
Mari berdoa:
Bapa dalam Tuhan Yesus Kristus, ajar kami merasakan kemurahan Tuhan dalam kehidupan kami. Ajar kami menyambut kemurahan Tuhan dengan persembahan hati kami dan dalam wujud persembahan yang terbaik untuk memuliakan Tuhan melalui jemaat kami. Semua yang ada pada kami tubuh dan rohani kami adalah dalam kemurahan Tuhan, untuk kemuliaan Tuhan. Demikianlah doa kami dalam nama Yesus Juruselamat, Amin. [AS17072023]
”YOBEN TO, ISAKU IKI!”
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 11
Bacaan: Lukas 10: 29
Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: “Dan siapakah sesamaku manusia?”
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Waktu kecil dahulu, saya dan teman-teman sering bermain bersama setelah pulang sekolah. Salah satu permainan yang kami mainkan adalah “sekolah-sekolahan”. Dalam permainan itu, kakak sepupu saya biasanya berperan sebagai guru sedangkan saya dan teman-teman sebaya yang lain berperan sebagai murid. Suatu kali, kami berperan seolah-olah sedang mengikuti pelajaran menggambar. Masing-masing diberi sebuah kertas kosong oleh ‘guru’ yang diperankan oleh kakak sepupu saya. Dan kami mulai menggambar. Setelah beberapa saat, ‘guru’ mulai memeriksa hasil pekerjaan ‘murid-muridnya’. ‘Guru’ bertanya kepada salah seorang ‘murid’, “gambar omahé kok miring?” (Gambar rumahnya kok miring). Dan dijawab, “Yoben to, bu!” (biarkan saja bu, tidak apa-apa). Kemudian ‘guru’ menasihati, “gambaré mestiné ora kaya ngono” (seharusnya gambarnya tidak seperti itu). Dan dijawab, “Yoben to, bu. Isaku iki!” (biarkan saja, bu. Mampuku hanya ini!).
Cerita masa kecil itu kembali muncul ketika saya membaca artikel tentang pembenaran diri. Secara psikologi pembenaran diri didefinisikan sebagai: “Tindakan yang dilakukan oleh manusia untuk menciptakan berbagai alasan demi membenarkan perilaku yang ia perbuat, atau pemikiran dan ide yang ia usulkan. Dan itu ia maksudkan untuk seakan-akan menjadi sebab hakiki dari apa yang lakukan dan ia usulkan tersebut”. Itu berarti bahwa pembenaran diri adalah tindakan menutupi kenyataan dengan menggunakan alasan yang dapat diterima dan dibenarkan oleh jiwa, tanpa reaksi atau teguran dari hati kecil. Dari pengertian ini, kita dapat memahami perbedaan antara kebenaran dan pembenaran diri. Kebenaran dilakukan dengan didasari oleh kejujuran dan integritas. Orang yang melakukan kebenaran akan mampu memberikan pertanggungjawab secara terbuka dengan menampilkan fakta-fakta secara transparan. Sebaliknya, pembenaran diri justru ditempuh karena seseorang tidak melakukan kebenaran. Untuk membenarkan diri, kebenaran itu justru dimanipulasi sedemikian rupa untuk menyembunyikan kenyataan yang berbeda. Sikap pembenaran diri ini dilakukan manaka seseorang itu ditegur atau diberi masukan terkait dengan tindakan, pemikiran atau ide yang sudah dinyatakan. Nah, “Yoben to, isaku iki!” merupakan satu contoh dari pernyataan yang menunjukkan sikap pembenaran diri.
Dalam sebuah episode pelayanan Tuhan Yesus dikisahkan bahwa suatu kali Seorang ahli Taurat bertanya kepada-Nya mengenai apa yang harus diperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal. Sebetulnya, sebagai seorang Ahli Taurat, tentu ia sudah mengetahui jawabannya. Karena itu, setelah Tuhan Yesus memberikan respon atas pertanyaannya itu, maka ia segera mengajukan pertanyaan yang kedua dengan maksud membenarkan dirinya. Injil Lukas memberikan kesaksian yang demikan, Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: “Dan siapakah sesamaku manusia?” Tampaknya Ahli Taurat ini merasa bahwa dirinya kurang mengasihi sesamanya. Namun sepertinya dia berharap bahwa Yesus akan memaklumi dan menganggapnya cukup layak untuk memperoleh hidup kekal. Untuk menanggapi Ahli Taurat ini, Tuhan Yesus tidak langsung menjawab pertanyaannya, melainkan menceritakan kisah menarik tentang seorang Samaria yang menolong orang yang sekarat sehabis dirampok. Dari kisah itu, sang ahli Taurat menunjukkan bahwa dirinya sudah mengetahui apa itu mengasihi, namun sebenarnya ia belum melakukannya.
Dalam hidup sehari-hari, bisa jadi kita bersikap seperti ahli Taurat ini dengan membuat dalih demi membenarkan diri sendiri saat diberikan masukan atau teguran atas tindakan atau ide kita. Oleh karena itu, mari kita menghidupi kejujuran dan integritas di dalam diri kita. Tinggalkan sikap “Yoben to, isaku iki!” Selamat berjuang, Sudaraku, Tuhan Yesus memberkati!
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Kami rindu untuk menghidupi kejujuran dan integritas agar tidak terjebak dalam sikap pembenaran diri, ya Tuhan. Oleh karena itu, kami memohon pertolongan-Mu agar dapat melakukannya. Terimakasih, Tuhan Yesus. Amin.
MELEKAT PENUH BERKAT
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: Yeremia 13:11
”Sebab seperti ikat pinggang melekat pada pinggang seseorang, demikianlah tadinya segenap kaum Israel dan segenap kaum Yehuda Kulekatkan kepada-Ku, demikianlah firman TUHAN, supaya mereka itu menjadi umat, menjadi ternama, terpuji dan terhormat bagi-Ku. Tetapi mereka itu tidak mau mendengar.”
Syalom jemaat yang terkasih didalam Tuhan.. Semoga bapak/ibu/saudara-saudari dalam keadaan baik..
Jemaat yang terkasih.. Nabi Yeremia menyampaikan peringatan kepada bangsa Yehuda, dengan menggunakan dua perumpamaan yang berbeda, namun mempunyai tujuan yang sama, yaitu jangan bermain-main dengan hak istimewa dan jangan sekali-kali melepaskan diri dari Allah. Peringatan pertama menggunakan aksi simbolik, yaitu Yeremia membeli ikat pinggang, memakainya, dan menjaganya supaya tidak tercelup air. Kemudian ikat pinggang itu dibawa ke sungai Efrat dan disembunyikan di celah-celah batu. Beberapa bulan kemudian ikat pinggang itu diambil dan ternyata telah lapuk dan tidak berguna lagi.
Ikat pinggang itu melambangkan bangsa Yehuda yang kudus dan tak bercacat ketika pertama kali dipanggil Allah. Seperti ikat pinggang yang dekat dengan pemakainya, melekat pada pinggang, segenap bangsa Yehuda dulu juga lekat dan dekat dengan Allah, sehingga mereka menjadi umat-Nya yang memuji dan memuliakan Allah di hadapan bangsa-bangsa. Yehuda menjadi berarti ketika mereka mengikatkan diri kepada Allah.
Namun kini mereka menjadi tercela karena persekongkolan mereka dengan Asyur, mereka meminum air dari sungai Efrat (2:18) dan menjadi penyembah berhala (Ay. 10). Mereka menjadi seperti ikat pinggang yang lapuk dan tidak berguna. Mereka tidak lagi ternama, terpuji, dan terhormat bagi Allah. Bagaikan ikat pinggang lapuk dimakan kelembapan sungai Efrat, itulah gambaran situasi Yehuda di luar Tuhan. Mereka yang hidup di luar Tuhan tidak akan pernah menghasilkan kebaikan. Kelapukan itu sendiri merupakan akibat sekaligus hukuman Allah kepada Yehuda, yaitu penjajahan Babel yang menyengsarakan mereka.
Hak istimewa kita sebagai umat Allah selalu disertai dengan tanggung jawab. Sebab ketika kita melekat kepada Allah, Firman Tuhan dinyatakan dengan jelas bahwa kita akan menjadi ternama, terpuji, dan terhormat bagi Allah. Oleh karena itu, marilah kita senantiasa melekat erat kepada Tuhan. Kita bersedia memaksimalkan diri dan terus bersedia untuk dipakai-Nya agar nyatalah hidup kita, berguna, dan menjadi berkat. Amin. Tuhan memberkati kita.
KE’DE’KO, KE’DE’KO
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Umat Tuhan yang dikasihi Kristus. Syalom Alekhem!
Saudara-saudara, kita bersyukur melalui bulan Budaya GKI Kwitang kita dapat mengenal berbagai suku di Indonesia. Minggu ini kita belajar mengenal salah satu suku di Sulawesi, yaitu suku Toraja. Dan hari ini kita akan merenungkan firman Tuhan yang berjudul: “KE’DE’KO, KE’DE’KO” yang artinya: “Bangunlah, bangunlah” dengan dasar dari surat Efesus 5:14 Itulah sebabnya dikatakan: ”Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu.” Demikianlah Firman Tuhan. Berbahagialah setiap orang yang mendengarkan firman Tuhan dan yang memeliharanya.
Saya percaya Saudara-saudara akan mengamini pernyataan saya ini: “Injil adalah kabar baik bagi semua orang!” Amin, Saudara? Demikian juga Injil menjadi kabar baik bagi Saudara-saudara suku Toraja. Bagaimana ceritanya?
Berdasarkan sejarah, Injil pertama kali masuk ke wilayah Toraja sekitar Maret 1913. Setelah melakukan beberapa kali penelitian, gereja-gereja di Toraja sepakat menetapkan tanggal 16 Maret 1913 sebagai hari pertama masuknya Injil ke Toraja.
Masuknya Injil ke Toraja tidak lepas dari sosok Antonie Aris van de Loosdrecht, seorang pekabar Injil atau zendeling dari Belanda dan istrinya yang bernama Alida.
Anton dan Ida pertama kali menginjakkan kaki di Rantepao pada tanggal 16 Maret 1913. Saat hendak menyebarkan ajaran Injil, mereka mempersiapkan diri agar dapat diterima oleh masyarakat Toraja. Sebagai langkah awal, Van de Loosdrecht menemui para pemuka masyarakat untuk merundingkan berbagai rencana yang telah disusunnya. Salah satunya lewat pembukaan sekolah-sekolah dan rumah sakit yang sangat dibutuhkan masyarakat Toraja pada waktu itu.
Meski menghadapi berbagai kesulitan dan tantangan dalam menyebarkan nilai-nilai Injil, namun nilai-nilai Injil yang disampaikan Van de Loosdrecht benar-benar menyentuh hati segenap masyarakat Toraja.
Hal ini kemudian membuat masyarakat Toraja perlahan memilih masuk Kristen dan mempelajari nilai-nilai Injil.
Di gereja mereka diperlakukan dengan baik tanpa dibeda-bedakan, dirangkul dalam kasih Tuhan. Jadi tidak ada sekat-sekat, itulah inti dari kehadiran Injil, hidup yang berdampak serta memulihkan keberadaan kehidupan orang lain. Puji Tuhan!
Setelah inti dari ajaran Injil menyebar ke berbagai pelosok Toraja, peradaban masyarakat Toraja pun berubah drastis! Mereka mengalami kebenaran Firman Tuhan yang disampaikan oleh rasul Paulus: “ Bangunlah, hai kamu yang tidur. Bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu.”
Masyarakat Toraja yang percaya dan beriman kepada Kristus telah dibangunkan dan dibangkitkan dari kematian dosa menuju persekutuan dengan Tuhan yang hidup. Hidup mereka diterangi dengan cahaya kemuliaan Kristus, sehingga merekapun dapat bersaksi: “Bangunlah, hai kamu yang tidur! Bangkitlah dari antara orang mati” Kebangkitan di sini dimengerti sebagai masuk ke dalam pembaharuan hidup yang diterangi oleh cahaya Kristus. Puji Tuhan!
Indahnya kesaksian pujian yang dinyanyikan oleh seorang anggota jemaat GKI Kwitang, sebuah pujian yang berjudul: “Ke’de’ko, ke’de’ko’ (Bangunlah, bangunlah). Sebuah pujian berbahasa Toraja yang mengajak kepada kita untuk bangun masuk ke dalam peperangan rohani. Karena musuh kita bukanlah manusia, tetapi kuasa-kuasa jahat yang merusak kehidupan.
Tahukah Saudara, Injil yang telah bertumbuh dan menjadi dasar terbentuknya Gereja Toraja adalah Injil yang dihiasi dengan darah MARTIR Antonie Aris van de Loosdrecht? Namun semangat pelayanannya tetap hidup di hati umat Tuhan di Tanah Toraja!
Oleh sebab itu Firman Tuhan hari ini mengajak kita semua: Turutlah panggilan Tuhan dan berjuang dalam terang! Janganlah lalaikan tanggung jawab Saudara. Tuhanlah Penganjur umat nya!
Bersediakah Saudara menjadi laskar Kristus yang selalu berjuang dan bertekun? Amin, Saudara? Ke’de’ko, ke’de’ko! Lakukanlah saja! Itu sudah cukup! Amin.
Mari kita berdoa:
Ya Bapa yang di surga, kami bersyukur dan memuji Engkau karena benih-benih Injil telah ditaburkan di mana-mana, secara khusus di Tanah Toraja. Kami berdoa bagi umatMu agar tetap setia memberitakan kabar baik itu dalam kehidupan sehari-hari. Terpujilah namaMu, kekal selama-lamanya. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa. Amin. Tuhan Yesus memberkati Saudara dan keluarga!
(AM13072023)
JADIKANLAH SEMUA BANGSA MURIDKU (MISI PEMURIDAN)
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: Matius 28:18-20
Salam sejahtera semoga kita makin mau berkorban, tenaga, waktu, pikiran, materi untuk pergi mengunjungi, berjumpa dengan banyak orang dalam rangka menjadikan semua bangsa menjadi murid Tuhan Yesus dan membaptiskan mereka, seperti ungkapan dalam Matius 28:19 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,
Dalam pengantar baptis anak juga dituliskan tentang menjadikan semua bangsa menjadi murid Tuhan Yesus. Ini berarti anak-anak dibaptis juga menjadi murid Tuhan Yesus, bukan murid orangtua. Karena itulah setelah dibaptis, anak-anak harus diajarkan oleh orangtua dan gereja, semua yang diperintahkan Tuhan Yesus, sehingga pada usia dewasa, secara pribadi mereka melaksanakan sidi atau pengakuan percaya dihadapan Tuhan dan jemaat.
Jadikanlah semua bangsa muridKu terkait erat dengan konsep perintah, pengajaran, kehendak Bapa, pemerintahan sorga, keadilan-kebenaran, dan kesempurnaan. Tema kemuridan merupakan hal sentral bagi Matius dan pemahaman Matius mengenai gereja dan misi (David J. Bosch, Transformasi Misi Kristen, BPK Gunung Mulia, 2016). Jadikanlah murid adalah suatu perintah. Para murid adalah konsep eklesiologis (Eklesiologi membahas mengenai hakikat dan fungsi gereja, berkaitan dengan identitas dan misi gereja di dalam dunia). Murid berarti mengikut Yesus. Bagi Matius ungkapan murid-murid, tidak hanya keduabelas murid Yesus, tapi menggambarkan gereja, suatu persekutuan yang besar terdiri dari bangsa-bangsa. Jadikanlah semua bangsa muridKu berarti semua orang Yahudi dan orang bukan Yahudi.
Hubungan Yesus sebagai guru dengan murid-murid, terus berlanjut pada masa kini, tujuannya untuk membina dan menantang masa depan. Menjadikan semua bangsa murid Yesus berarti bukan hanya memperkenalkan amanat, melainkan menjalin relasi akrab dan personal dengan orang-orang yang dihadapi. Modelnya adalah relasi antara Yesus dan murid-murid yang dipanggilNya. Kita sebagai murid, meneruskan panggilan Tuhan kepada semua bangsa. Orang dari semua bangsa dipanggil dalam rangka mengikuti Yesus dan perintahNya.
Komunitas pada masa Matius, adalah orang yang mengharapkan pemerintahan Allah. Mereka juga adalah garam dan terang dunia, orang-orang yang diberkati, menjadi saudara satu dengan lainnya. Setiap murid mengikuti Yesus, tidak pernah sendirian. Setiap murid adalah anggota dari persekutuan para murid, satu tubuh. Demikian untuk kita sekarang ini mengharapkan pemerintah Allah, mau menjadi garam dan terang dunia, mau diberkati Tuhan dan menjadi saudara satu dengan lainnya, mau hidup bersama dalam persekutuan agar bisa menjadikan semua bangsa murid Yesus.
Murid-murid Yesus harus mengajarkan apa yang diajarkan Yesus, ia menjadi rekan sekerja Yesus, dan menjadi orang yang diutus Yesus. Meneladani Yesus berarti Yesus menderita, maka murid-murid juga menderita. Yesus memiliki kuasa misioner, murid-murid juga diberikan kuasa misioner. Murid-murid menyembah Yesus, ini mengungkapkan ketaatan dan menyembah Allah, mengakui Yesus sebagai Anak Allah. Murid-murid mengenal Yesus sebagai Tuhan, sebagai sikap hormat pada Tuhan dan kuasaNya. Kita pada masa kini mau meneladani murid murid Yesus untuk mengajarkan perintah Yesus, menyembah Yesus sebagai Tuhan dan menaati kehendakNya.
Dalam persekutuan murid Yesus, walau dilakukan pemuridan, tapi ada juga orang yang ragu-ragu, munafik, sesat, namun pada akhir zaman akan ada pemisahan seperti pemisahan lalang dan gandum. Oleh sebab itu perlu sikap berjaga-jaga jangan sampai menjadi sesat, ragu-ragu, memuliakan diri sendiri dan munafik. Jangan sampai ada motivasi yang salah dalam melayani, bersekutu dan bersaksi. Komunitas Matius adalah kumpulan orang sederhana yang agak kebingungan, berada dalam ketegangan antara penyembahan dan keraguan, antara iman dan ketakutan. Tapi dalam pergumulan komunitas, Matius menjelaskan bahwa Tuhan Yesus akan menyertai murid-murid senantiasa sampai akhir zaman. Ini berarti kuasa Yesus dan firmanNya akan menyertai selalu. Kehadiran Tuhan Yesus itu untuk menghibur, menguatkan, menolong, membimbing. Kesadaran akan kehadiran Yesus, bersama Yesus sampai akhir zaman, ini membuat keyakinan akan masa depan yang berpengharapan bersama Yesus. Kehadiran Yesus ini terkait dengan kegiatan misi para murid atau gereja. Ketika murid-murid menjadikan murid dari segala bangsa, membaptis, mengajar, maka Yesus selalu hadir. Kehadiran Yesus sangat diperlukan ketika menjalankan misi dan menghadapi bahaya, penolakan, penganiayaan,
Yesus yang disembah adalah Yesus yang menerima kuasa di sorga dan di bumi dari Allah Bapa. Kuasa Yesus sangat universal. Allah memberi Yesus kuasa di sorga dan dunia, sangat besar kuasa Yesus. Yesus yang disalib menjadi Tuhan seluruh bangsa-bangsa. Karena pemuridan dilakukan untuk semua bangsa. Yesus menjadi Tuhan yang universal, untuk semua bangsa, bukan hanya untuk kelompok atau bangsa tertentu saja. Misi dilakukan dalam menyatakan kepada semua bangsa bahwa Yesus Tuhan semua bangsa.
Baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, ini berarti bahwa baptisan bukanlah tindakan atau keputusan manusia, tapi pemberian kasih Allah, dalam Yesus Anak Allah dan bimbingan Roh Kudus. Melalui baptisan, orang yang dibaptis dijadikan peserta dalam keseluruhan kesempurnaan janji Allah dan realitas pengampunan dosa. Orang yang diampuni dosa, ditebus Yesus maka akan mau dibimbing Roh Kudus. Matius menekankan bahwa dalam pemuridan, yang dibutuhkan adalah kasih Allah yang mengampuni dosa orang, ditebus oleh Yesus, Anak Allah, maka Roh Kudus akan membimbing orang melakukan kehendak Tuhan ,yang diajarkan oleh murid-murid. Orang yang dibaptis bukan secara seremoni tapi benar-benar menerima pengampunan dosa dan masuk dalam hidup baru sebagai murid Yesus.
Jadikanlah semua bangsa muridKu berarti segala bangsa diajak memuji Allah pencipta, memberikan diri, mengorbankan diri, berbakti kepada Allah dengan ragam budaya, dengan aneka logat, bersukaria dan bersyukur atas karunia pengampunan atau penebusan dosa seperti ungkapan dalam PKJ 109 ayat 1 Segala bangsa, marilah, puji Penciptamu! Baktikanlah kepadaNya ragam budayamu! Ayat 2. Dengan aneka logatmu berpadu suaralah! Bersuka ria bersyukur atas karunia! amin
Berdoa: Ya Tuhan mampukan kami mau berkorban, tenaga, waktu, pikiran materi untuk pergi mengunjungi, berjumpa dengan banyak orang dalam rangka menjadikan semua bangsa menjadi murid Tuhan Yesus dan membaptiskan mereka. dalam nama Yesus kami berdoa, amin
KESALAHAN YANG DICARI-CARI
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 1
Bahan: Daniel 6:5-6
Kemudian para pejabat tinggi dan wakil raja itu mencari alasan dakwaan terhadap Daniel dalam hal pemerintahan, tetapi mereka tidak mendapat alasan apa pun atau sesuatu kesalahan, sebab ia setia dan tidak ada didapati kelalaian atau sesuatu kesalahan padanya. Maka berkatalah orang-orang itu: “Kita tidak akan mendapat suatu alasan dakwaan terhadap Daniel ini, kecuali dalam hal ibadahnya kepada Allahnya!”
Suatu seleksi menjadi taruna militer, salah satu bentuk tes, ialah calon taruna ini dengan hanya memakai celana pendek (celana dalam), menghadap si penguji dan seluruh tubuhnya diteliti, kalau saja ada sebuah kutil (papilona), atau kuku jari kaki yang cacat, bisa menjadi alasan gugur test. Calon taruna itu sungguh-sungguh sempurna menjadi seorang taruna militer.
Bahan renungan kita Daniel Bersama dua orang telah terpilih sebagai pimpinan pemerintahan di negeri Persia dan Media. Mereka bertiga membawahi 120 wakil raja di seluruh negeri. Tetapi dua temannya itu hendak menyingkirkan Daniel, mungkin karena Daniel berasal dari orang tawanan yang dibuang, jadi mereka iri hati. Seorang tawanan yang dianggap sampah kemudian mendapat kesempatan menjadi pejabat tinggi pemerintahan. Karena itu kedua temannya itu mencari-cari kesalahan di bidang pemerintahan yang mereka lakukan. Dari segi disiplin, kejujuran, keahlian, kebijakan; dia rajin, tidak korup baik waktu maupun uang; ternyata tidak didapat mereka pada Daniel. Kedua temannya itu mencari dan mencari, akhirnya mereka menemukan walau bukan di bidang tugas pemerintahan, tetapi dibidang ibadah dan doa. Daniel tiga kali sehari menyempatkan untuk berdoa dengan menghadap ke arah Yerusalem sebagai ibadahnya dan takut akan Tuhan.
Tetapi bagaimana siasat dua orang teman Daniel mengangkat masalah keyakinan (agama) menjadi masalah kepada raja. Siasat itu mereka dapat dengan memuji raja yang memerintah, supaya selama 30 hari tidak ada orang berdoa, memuji, beribadah kepada dewa mana pun, kecuali kepada Darius raja Persia dan Media. Tentu saja raja merasa tersanjung dan setuju untuk mengundangkan itu sebagai undang-undang kerjaan yang tidak akan ditarik kembali. Kedua temannya tidak menemukan cacat sekecil apa pun di bidang pemerintahan, sehingga mencari-cari masalah di bidang keyakinan (agama). Daniel sadar undang-undang itu sebenarnya dikhususkan kepada dirinya, namun sedikit pun tidak mengurangi doa dan ibadahnya kepada Tuhan. Kedua temannya itu dengan bangga dan mereka berhasil untuk menyingkirkan Daniel, karena Daniel didakwa bahwa dia tetap berdoa kepada TUHAN yang disembahnya tiga kali sehari. Resiko bagi orang melanggar aturan itu akan dibuang ke gua singa yang sengaja beberapa singa yang ganas karena lapar.
Mendengar kejadian itu, raja sangat sedih, tetapi sesuai aturan maka Daniel harus dileparkan ke gua singa. Pesan raja kepada Daniel: “Allahmu yang kausembah dengan tekun, Dialah kiranya yang melepaskan engkau!” Singa tidak mengganggu Daniel yang tak bercacat, tetapi sebaliknya kedua teman yang mencari-cari kesalahan Daniel, yang dilemparkan ke dalam gua singa, belum sampai di dasar gua, sudah dicabik diremukkan oleh singa. Raja Darius, dengan cemas dan punya keyakinan bahwa Daniel ditolong Allah, pagi-pagi pergi sendiri dan melihat Daniel selamat. Raja akhirnya turut memuji Allah yang dipuji oleh Daniel.
Kita aplikasikan renungan ini dengan pokok berikut:
- Pernahkah orang mencari-cari kesalahan Anda ketika dalam posisi yang baik?
- Kalau Daniel pada saat itu meminta nasihat, apa nasihat Anda kepada Daniel?
- Menurut Anda, apa konsekwensinya jika raja Darius membatalkan aturan itu?
Mari berdoa:
Tuhan Yesus telah mengajar kami berdoa: “dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat.” Kami menyadari “singa-singa” mengaum di sekeliling kami hendak menelan kami, agar kami meninggalkan iman setia kepada Kristus. Tetapi orang yang mengandalkan Tuhan selamat terbebas, demikianlah harapan kami dalam Kristus Tuhan. Amin [AS100723]
LAKU SONG, LAMU YÉ
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: Kejadian 3: 8
“Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Suatu sore saat SMA dahulu, saya pernah menemani salah seorang teman yang baru belajar naik sepeda motor. Kami berdua berboncengan dan mengarahkan sepeda motor ke ‘Gunung Tugel’. Gunung Tugel adalah sebutan untuk sebuah bukit yang dipakai sebagai tempat pemakaman umum masyarakat Kutoarjo. Di lerengnya, masyarakat menjadikannya sebagai tegalan untuk menanam palawija termasuk ketela pohon. Waktu kami melewati tegalan tadi, tampak bahwa tanaman singkong sudah dipanen. Kami melihat ada beberapa butir singkong yang tertinggal. Oleh karena itu, kami berhenti dan berinisiatif membakar singkong tadi. Setelah beberapa saat, kami mengulak ulik singkong bakar tadi, dan saya berkata “laku song, lamu yé?” Terdengar seperti bahasa Perancis, bukan? Padahal maksudnya “télaku gosong, télamu piyé” (Singkongku gosong, kalau singkongmu bagaimana?). Bagi kami, ‘laku song, lamu yé’ mengingatkan tentang saat refreshing setelah pagi dan siang hari menghadapi ulangan di sekolah.
Sepertinya, memang tidak dapat disangkal bahwa manusia adalah makhluk bermain – alias homo ludens. Ketika Johan Huizinga memunculkan konsep tentang homo ludens ini di tahun 1938, ia berpendapat bahwa bermain (playing) itu tidak kalah pentingnya dari dua kegiatan manusia lainnya, yakni berpikir & bekerja (homo sapiens & homo faber). Dan bila ditelisik lebih jauh, konsep tentang homo ludens ini, terinspirasi dari pandangan tentang ‘Deus ludens’, yaitu konsep gambaran tentang karakter Tuhan / Dewa yang bermain atau bersenang-senang. Gambaran tentang ‘Deus ludens’ ini tidak hendak mengatakan Tuhan yang benar-benar santai tanpa melakukan apapun, melainkan merupakan keseluruhan bagian dari karya Tuhan yang juga terus berkarya.
Gambaran tentang ‘Deus ludens’ ini dapat dilihat dalam fragmen tentang pemberontakan manusia kepada Tuhan seperti di kisahkan dalam Kejadian 3. Setelah manusia makan buah pengetahuan dan menyadari ketelanjangannya, lalu mereka segera membuat pakaian sementara dari daun ara. Namun ketika mendengar langkah Tuhan, mereka takut dan bersembunyi. Alkitab menyaksikan, “Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman”. Prof. Singgih menjelaskan bahwa frasa ‘berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk’ ini menunjukkan adanya kebiasan Tuhan yang berjalan-jalan di kebun di sore hari. Secara rutin, Tuhan mengunjungi taman Eden untuk bersenang-senang dan bercengkrama dengan manusia pertama. Di dalam fragmen inilah kita dapat melihat gambaran persekutuan yang indah sekaligus menunjukkan aspek Tuhan sebagai Allah yang suka bermain, bersenang-senang, bersantai – Deus Ludens (Singgih, 2011, hal. 110). Itu berarti bahwa bila Allah adalah Deus Ludens, maka sudah seyogyanya bila manusia adalah homo ludens. Sekali lagi ludens ini sebagai penyeimbang dari faber dan sapiens (berkarya dan berpikir). Bukankah kita memang perlu untuk refresh sejenak dalam rangka rehat setelah lelah berpikir dan berkarya?
Kenangan tentang “laku song, lamu yé?” ini menghidupkan kembali ingatan agar kita tidak terjebak menjadi workaholic. Karena homo faber seharusnya berada seimbang dengan homo ludens. “Laku song, lamu yé?” – Telaku gosong, telamu piyé? Selamat berjuang, Saudaraku, Tuhan Yesus memberkati!
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Terimakasih Tuhan karena Engkau mengingatkan kami untuk memiliki waktu rehat di tengah kesibukan kami. Dengan demikian kami dapat menjaga kesimbangan di dalam kehidupan ini. Terpujilah nama-Mu, ya Tuhan. Amin.
