harian
AKU TIDAK GOYAH
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: Mazmur 16:1-11
Salam sejahtera semoga kita makin teguh, tidak goyah, kita terus memandang kepada Tuhan, kita percaya Tuhan selalu berdiri di sebelah kanan kita, seperti ungkapan Mazmur 16:8 Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah. Banyak persoalan, masalah, ancaman, penderitaan dalam kehidupan kita di dalam keluarga, gereja, kantor, di tengah masyarakat. Ketika batalnya sesuatu kegiatan besar, yang memakan biaya sangat besar, tentu besar juga kerugian materi yang dialami dan membuat tekanan berat. Tapi dalam situasi yang berat seperti ini, kita tetap diutus Tuhan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan Allah di tengah kehidupan sehari-hari. Bagaimana kita dapat melanjutkan pekerjaan-pekerjaan Allah? Kita harus teguh, tidak goyah.
Bagaimana kita teguh, tidak goyah? Kita makin percaya bahwa Tuhan berdiri di sebelah kanan kita, dalam arti, Tuhan menjaga, melindungi, menyelamatkan. Tuhan berdiri di sebelah kanan berarti kita memiliki pengalaman dan keyakinan keakraban hubungan dengan Tuhan, yang memberikan kepada kita sukacita dan ketentraman yang mendalam bagi hati, jiwa dan fisik kita. Kita terus-menerus menyerahkan diri ke dalam tangan Tuhan, seperti pemazmur menyerahkan diri ke dalam tangan Tuhan dengan berkata “Engkaulah Tuhanku”. Tuhan adalah kebahagian satu-satunya, yang telah memberikan kebahagiaan yang paling mendalam dan sejati.
Orang yang tidak goyah adalah orang yang takut akan Tuhan, menghormati Tuhan dan kehendakNya. Orang yang benar-benar mengalami Tuhan, dan mengalami kebahagiaan dari Tuhan maka ia tidak akan taat pada kehendak sendiri, kehendak duniawi, kehendak iblis atau dosa
Bagi pemazmur, Tuhan berdiri di sebelah kanan, ini mengambarkan kasih yang begitu besar dari pemazmur kepada Allah. Pemazmur menggantungkan diri pada anugerah Allah untuk menyempurnakan segala sesuatu. Bagi kita masa kini, ini berarti semakin kita mengalami kasih Tuhan, semakin kita mengasihi Tuhan, bergantung pada Tuhan, maka kita tidak akan goyah, saat menghadapi badai, tantangan hidup, sakit penyakit, kegagalan hidup. Tuhan menyempurnakan kita dalam menghadapi tantangan tersebut.
Orang yang teguh, tidak goyah adalah orang yang selalu memuji Tuhan, bahwa Tuhan itu baik, kasih setia-Nya selama-lamanya. Bagi kita masa kini, dalam keadaan sakit, sehat, miskin, kaya, susah, senang, orang yang tidak goyah iman akan selalu memuji Tuhan, bahwa Ia baik, kasih-setia Nya selama-lamanya. Orang yang goyah, tidak teguh seperti orang yang mengelu-elukan Yesus ketika Ia masuk Yerusalem, kemudian melihat Yesus menderita, orang-orang berubah minta Yesus disalibkan, dan ada yang menyangkal Yesus.
Mazmur 16 ini juga mengambarkan tentang Yesus yang tidak goyah ketika menghadapi penderitaan berat disalib dan mati, kemudian bangkit. Yesus sangat bergantung pada kuasa dan rencana Allah, ketika menghadapi ketidakadilan, penganiayan, dalam peristiwa salib. Kata “Aku tidak goyah,” menunjukkan bahwa Kristus diserang dan diperlakukan dengan amat semena-mena, tapi Yesus tidak mundur dari pekerjaan untuk menyelamatkan manusia dari dosa. Yesus berdoa dalam penderitaanNya dan Yesus disokong dengan cara yang ajaib oleh kuasa ilahi di dalam penderitaan berat yang dialami-Nya.
Kita yakin teguh bahwa Allah hadir bersama kita di dalam penderitaan. Tuhan berdiri di sebelah kanan kita, pertolongan selalu tersedia bagi kita, Tuhan mengarahkan dan menguatkan tangan serta menopang kita. Yesus saat jiwa-Nya sedang menderita, seorang malaikat dikirimkan dari sorga untuk memberi kekuatan kepada-Nya (Lukas 22:43 Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepada-Nya.). Berkat kekuatan itulah maka kemenangan terjadi di kayu salib. Kita mengimani bahwa dalam penderitaan, Allah juga mengirim malaikat dari sorga untuk memberi kekuatan kepada kita, agar kita tidak goyah, tidak menyerah.
Dalam hidup bersama orang percaya kita diminta meneladani Yesus, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus. Kita meneladani Yesus yang tidak goyah atau tidak menyerah ketika pelayanan, pekerjaan yang sulit, serta hambatan ancaman tantangan yang berat.
Kita bisa kuat, tidak goyah ketika Tuhan menaruh RohNya ke atas kita untuk memampukan kita menuntaskan pekerjaan Allah. Orang yang diberi Roh adalah orang yang mau dipegang tangannya oleh Allah dan Allah berkenan kepada orang-orang yang mau bekerja bagiNya sebagai hamba-hamba-Nya. Pekerjaan dari Tuhan adalah untuk menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa, yaitu menyatakannya dalam hikmat, kekudusan, dan keadilan yang tak terbatas.
Orang yang tidak goyah seperti Yesus ketika menghadapi penderitaan salib, Ia tidak berbantah dan tidak berteriak ketika menghadapi beratnya tantangan dalam mengerjakan pekerjaan Allah yaitu menyelamatkan manusia dari dosa. Yesus dengan sabar menghadapi penderitaan, dan tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa.
Bagi kita yang lemah, bisa saja kita terkulai, karena keraguan, ketakutan, tapi Tuhan akan menegakkan kembali orang yang terkulai agar tidak goyah. Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, tetapi akan dikuatkanNya. Sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, tetapi akan ditiup-Nya supaya nyala.
Keberanian hati dan keteguhan hati membuat orang bertekun dalam pekerjaan Allah, sehingga dapat mencapai tujuan. Yesus terus memampukan murid-murid dan hamba-Nya untuk melanjutkan pekerjaan Allah, agar tidak menjadi pudar atau patah terkulai, teguh, tidak goyah sampai mereka bisa menyelesaikan kesaksian mereka.
Orang yang tidak goyah adalah orang yang merasa mendapat keuntungan besar jika Yesus menjadi miliknya. Jiwanya selalu bersukacita karena damai yang penuh diberi Tuhan. Meskipun angin keras badai dunia menderu, hati kita tidak goyah karena Yesus adalah milik kita seperti ungkapan NKB. 197 :1 Besarlah untungku jika Yesus milikku, bersuka jiwaku kar’na damai yang penuh. meskipun angin k’ras badai dunia menderu, tak goyah hatiku kar’na Yesus milikku. Reff Benar, benar, besarlah untungku. Benar, benar, besarlah untungku. Benar, benar, besarlah untungku. Ketika Yesus sungguhlah tetap milikku. Amin
Berdoa:
Ya Tuhan kiranya kami makin teguh, tidak goyah, dan terus memandang kepada Tuhan, kami percaya Tuhan selalu berdiri di sebelah kanan kami ketika kami menghadapi pergumulan, tantangan hidup kami. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa amin.
NUBUAT TELAH GENAP
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bahan: Yesaya 53:1, 5,
Siapakah yang percaya kepada berita yang kami dengar, dan kepada siapakah tangan kekuasaan TUHAN dinyatakan? … 5, Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjarang yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.
Nubuat atau ramalan cukup menarik untuk diketahui, di dunia modern pada zaman ini pun ramalan itu mendapat perhatian besar. Pada saat pergantian tahun, apakah tahun Masehi, tahun Cina, tahun Jawa dll, selalu diiringi dengan ramalan apa yang akan terjadi pada tahun itu. Namun setelah semua ramalan atau nubuatan disampaikan tidak pihak yang mengontrol kebenarannya, ramalan itu hilang di tengah ragam kehidupan.
Nabi-nabi Tuhan mendapat tugas menasihati umat Tuhan pada zamannya, tetapi mereka juga mempunyai berita, menyampaikan nubuat, baik untuk waktu yang lama maupun untuk waktu yang dekat. Nabi Elia menubuatkan bagaimana raja Ahab dan isterinya saat kematiannya dan itu terjadi dalam waktu yang singkat, nabi Yeremia menubuat kematian Hananya (nabi palsu) dan tidak sampai satu tahun Hananya mati seperti yang dinubuatkan nabi Yeremia. Kota kelahiran Mesias di nubuatkan oleh nabi Mikha, nubuat itu digenapi 500 tahun kemudian.
Bahan renungan kita dinubuatkan oleh nabi Yesaya 650 tahun sebelum digenapi oleh seorang yang disebutnya sebagai “hamba Tuhan,” yang tak lain adalah Mesias Yesus Kristus. Nubuat itu tidak menarik, karena merupakan berita buruk. Suatu suasana yang patut disepelekan, yaitu tentang “seseorang” yang buruk rupa dan tidak ada yang berpihak kepadanya, dia dihindari. Dinubuatkan tentang derita yang sangat berat ditimpakan kepadanya, pada hal derita itu bukan karena “ulahnya” tetapi karena kesalahan orang lain. Derita itu melukai tubuh dengan tikaman benda tajam yang mencucurkan darah, tetapi ternyata luka yang ditubuhnya menyembuhkan luka orang lain. Begitu berat tanggungannya, tetapi tidak ada yang peduli dengan dia.
Siapa yang menggenapi nubuat atau ramalan buruk itu? Hari Minggu kemarin kita merayakan Minggu Palma, Tuhan Yesus datang ke Yerusalem. Sepintas kedatangan-Nya disambut dengan meriah, bagaikan Pahlawan yang berjasa, seruan mengiringi Langkah-Nya, bahwa Dia adalah sumber pertolongan: “Hosana bagi Anak Daud” yang artinya Tuhan tolong kami. Tidak ada seorang pun, baik nabi, tua-tua, imam, kaum terpelajar seperti kaum Farisi dan ahli Taurat, mereka inilah yang bertanggung jawab untuk mengkaji, memberitakan nubuat-nubuat para nabi untuk umat Israel, tetapi tidak ada yang menemukan “siapa penggenap nubuat nabi Yesaya” tadi.
Para penulis Injil, mereka yang meneliti nubuat itu dan ternyata Tuhan Yesus telah menggenapinya. Nabi-nabi Israel, imam, kaum Farisi, ahli Taurat bagaikan pahlawan kesiangan, mereka melewatkannya tanpa sadar. Tuhan Yesus telah melayani, mengajar dengan kuasa sebagai Anak Allah, Mesias yang dijanjikan, telah menggenapinya, sejak kelahiran, pengajaran, mujizat, akhirnya sengsara dan kematian-Nya,“oleh bilur-bilurnya kita sembuh,” NUBUAT TELAH GENAP
Mari kita dalami renungan ini dengan pokok-pokok berikut:
- Mengapa Mesias Juruselamat Yesus Kristus harus menderita sampai mati?
- Adakah pengalaman Anda mendapat pertolongan dari orang yang menderita?
- Bagaimana sikap Anda terhadap Tuhan Yesus yang menderita untuk Anda?
Mari berdoa:
Allah Bapa yang di sorga, Kami memandang diri kami yang sesungguhnya dalam diri Yesus Kristus yang menderita. Dia telah rela menanggung kutuk dan hukuman karena dosa kami, oleh bilur-bilur-Nya kami sembuh dan selamat. Roh Kudus menolong kami untuk mengasihi Yesus, cara kami membalas dan bersyukur atas keselamatan kami. Dalam Kristus kami berdoa. Amin. [AS030423]
NASI KUNING
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 1
Bacaan: Yeremia 17:7-8
“Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Nasi kuning merupakan nasi berwarna kuning khas Indonesia. Nasi ini terbuat dari beras putih yang dimasak bersama santan, kunyit, dan berbagai rempah-rempah lainnya. Nasi kuning rasanya lebih nikmat daripada nasi putih biasa karena campuran rempahnya yang menyatu memberikan cita rasa nikmat di lidah orang Indonesia.
Nasi kuning sudah terkenal pada masyarakat Jawa sejak zaman kerajaan kuno dahulu. Pada waktu itu, masyarakat menyajikan nasi kuning saat perayaan hari-hari besar sebagai tanda rasa syukur dan terima kasih serta doa memohon perlindungan dari segala bahaya kepada Yang Maha Kuasa. Orang Jawa menyebut bahwa nasi kuning merupakan sebuah simbol tentang doa dan harapan yang sangat dalam dan luhur.
Warna kuning pada nasi kuning tersebut juga mengandung makna kemakmuran, kekayaan dan kesejahteraan sebab warna itu dipandang serupa kepingan emas atau padi yang akan panen. Selain itu, warna kuning melambangkan kemuliaan, keluhuran, kebesaran, dan kesetiaan. Dengan membuat nasi kuning, maka penyelenggara acara berharap agar Yang Maha Kuasa melimpahi dengan kemakmuran dan kesejahteraan. Demikian pula, mereka yang menyantap nasi kuning ini juga berdoa dan berharap hal yang sama.
Simbolisasi warna kuning dalam nasi kuning ini sesungguhnya mengingatkan betapa kecil dan rapuhnya manusia di hadapan Sang Maha Kuasa. Oleh karena itu sudah selayaknya seluruh doa permohonan dan pengharapan ditujukan kepada-Nya. Nabi Yeremia menyaksikan pengalaman iman kepada umat terkait relasinya dengan Allah – Sang Maha Kuasa. Ia menyampaikan, “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah”. Frasa yang diterjemahkan dengan ‘mengandalkan TUHAN’ berarti: lebih yakin, lebih merasa aman, lebih percaya dan lebih mempercayakan dirinya sepenuhnya hanya kepada Tuhan. Orang-orang seperti inilah yang akan diberkati oleh Tuhan. Lebih jauh disebutkan bahwa siapa pun yang hidup mengandalkan Tuhan maka ia akan seperti pohon yang ditanam ditepi batang air. Hal itu berarti bahwa hidupnya tidak akan berkekurangan dan tidak akan mengalami kekeringan serta tidak akan berhenti menghasilkan buah. Berdasarkan pengalamannya, Nabi Yeremia menegaskan bahwa relasi yang melekat kepada Allah – Sang Sumber Kehidupan – merupakan sikap yang harus dimiliki oleh setiap anak Tuhan. Dengan demikian, ketika berbagai macam ‘kekeringan’ hidup melanda, maka kita akan tetap mampu bertahan. Sebab Allah adalah sumber kekuatan dan pertolongan kita. Hanya kepada DIA sajalah kita berdoa dan berharap.
Kiranya sajian nasi kuning hari ini, selalu mengingatkan kita agar selalu memiliki relasi yang dekat dan akrab dengan Tuhan Sang Sumber Kehidupan. Dengan demikian kita dapat selalu bersyukur, berdoa dan berharap hanya kepada-Nya. Selamat berjuang, Saudaraku, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Engkau adalah tempat bagi kami untuk berharap dan bersandar, sehingga kami mampu menghadapai dan menjalabi berbagai macam persoalan di dalam kehidupan kami. Oleh karena itu, kami rindu untuk selalu dekat dengan-Mu. ya Tuhan. Kiranya Roh Kudus menolong kami untuk mewujudkannya. Terimakasih Tuhan Yesus, Amin.
KESOMBONGAN ROHANI
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: Roma 2: 13
”Karena bukanlah orang yang mendengar hukum Taurat yang benar di hadapan Allah, tetapi orang yang melakukan hukum Tauratlah yang akan dibenarkan.”
Syalom jemaat yang terkasih didalam Tuhan.. Semoga bapak/ibu/saudara-saudari dalam keadaan baik.. Jemaat yang terkasih.. Keangkuhan hati manusia seringkali menjatuhkan diri mereka sendiri. Kebanggaan yang berlebihan terhadap diri sendiri menjadikan manusia tak berjaga-jaga dalam hidupnya. Inilah yang diperingatkan Paulus kepada orang-orang Kristen Yahudi di Roma. Pada saat itu mereka kembali mempertontonkan keangkuhan rohani. Mereka merasa mereka adalah umat perjanjian yang memiliki tanda spesifik dari Tuhan, yaitu Taurat dan Sunat. Tanda-tanda ini adalah bukti keistimewaan mereka di hadapan Tuhan.
Mereka memiliki tanda rohani yang kelihatan, sedangkan orang-orang non Yahudi tidak memiliki tanda untuk dijadikan bukti dari status rohani mereka di hadapan Tuhan. Jadi menurut mereka, orang-orang Kristen non Yahudi memang patut dihakimi, karena tidak memiliki sarana keselamatan. Lain halnya dengan mereka, mereka memiliki Taurat, dan itu cukup untuk membuat mereka “berbeda” atau “istimewa” dibandingkan orang-orang Kristen non Yahudi.
Dalam hal ini Paulus menjelaskan bahwa kepemilikan Taurat tidak membuat mereka lebih “beruntung” daripada orang Kristen non Yahudi. Karena seseorang dibenarkan karena ketaatannya bukan karena kepemilikannya. Paulus mengoreksi mereka bahwa kepemilikan Taurat, tidak semata menjadikan mereka istimewa terlepas dari taat atau tidak. Paulus mengoreksi “keangkuhan rohani” mereka atas kepemilikan Taurat, seolah-olah bangsa lain tidak memiliki sarana ketaatan terhadap Tuhan, yang menjadikan mereka lebih rendah status rohaninya dihadapan Tuhan. Paulus menyatakan bahwa anggapan tersebut salah.
Sebagaimana orang-orang Yahudi diberi sarana ketaatan secara tertulis (Taurat Musa), demikian pula orang-orang Kristen non Yahudi diberi sarana ketaatan secara tidak tertulis, yaitu kesadaran hati nurani (Yunani: syneidesis) mereka terhadap hukum-hukum moralnya Tuhan. Setiap orang nantinya akan mempertanggungjawabkan segala perbuatannya dihadapan Tuhan.
Dalam masa Pra Paskah ini, janganlah kiranya kita memiliki keangkuhan rohani, merasa diri istimewa karena paling berjasa, paling rajin, paling pintar, dan paling-paling lainnya di jemaat. Marilah kita belajar untuk mengendalikan diri, menjadi pribadi yang rendah hati seperti padi, semakin berisi semakin menunduk, dan terus melakukan hal yang baik. Demikianlah kita harus menghindari keangkuhan rohani, karena semua yang kita lakukan, nantinya akan kita pertanggungjawabkan kepada Tuhan. Selamat berefleksi, Tuhan memberkati kita.
KESEMPATAN MELAYANI TUHAN
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 4
Bapak Ibu, Saudara Saudari sekalian yang dikasihi Kristus, Syalom Alekhem! Pada hari ini kita akan merenungkan firman Tuhan yang berjudul “Kesempatan Melayani Tuhan” dengan dasar 1 Petrus 4:10 “ Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah.”
Demikianlah Firman Tuhan. Berbahagialah setiap orang yang mendengarkan firman Tuhan dan yang memeliharanya.
Rasul Petrus hendak mengingatkan setiap orang Kristen bahwa akhir zaman sudah dekat, maka ia mengajak umat untuk melayani seorang akan yang lain. Kata ‘layanilah’ di sini (diakonountes) menunjuk pada segala jenis pelayanan, dapat berupa nasihat, membantu kebutuhan orang-orang miskin, atau dengan berkhotbah menyampaikan firman Tuhan, dsb sesuai talenta masing-masing.
Tiap pribadi orang percaya diberi talenta yang berbeda, ada yang ahli di bidang administrasi, keuangan, hukum, politik, kesehatan, berjiwa pemimpin, mengatur dan mengarahkan orang lain, talenta menulis, mendengarkan, mengajar, main musik, fotografi, dsb.
Semua orang percaya pasti menerima setidaknya satu talenta dari Tuhan. Karena Tuhan sudah memberi karunia kepada kita, maka kita harus siap untuk melayani kebutuhan-kebutuhan sesama kita, sesuai dengan talenta yang telah kita peroleh.
Sadarkah Saudara, bahwa setiap orang Kristen adalah pengurus dari kasih karunia Allah, artinya Allah sudah memberikan anugerahNya kepada kita supaya kita dimampukan berbuat baik kepada sesama kita. Oleh sebab itu jikalau Tuhan masih memberi kesempatan kepada kita untuk melayani, lakukanlah dengan sepenuh hati, jangan dengan duka atau terpaksa!
Sesungguhnya Ia memanggil Saudara dan saya sebagai rekan sekerja Allah untuk mendatangkan berkat bagi manusia. Puji Tuhan!
Seperti pujian yang dipersembahkan oleh para penatua GKI Kwitang yang diteguhkan pada tanggal 26 Maret 2023 sebuah pujian yang berjudul “Hidup ini adalah kesempatan.” Lagu ini diciptakan oleh Pdt. Wilhelmus Latumahina, setelah kehilangan anaknya yang masih berusia muda telah dipanggil Tuhan. Maka ia mengajak semua orang untuk menghayati bahwa hidup ini adalah kesempatan untuk melayani Tuhan, karena hidup ini hanya sementara.
Jika sekarang kita melayani Tuhan maka hidup kita menjadi berkat. Lagu ini mengajak kita untuk berdoa memohon: “Oh Tuhan, pakailah diriku, selagi aku masih kuat. Bila saatnya nanti aku tak berdaya lagi, hidup ini sudah jadi berkat.
Ketika para penatua GKI Kwitang menyanyikan lagu ini, mengajak kita semua saat ini mempunyai komitmen untuk menggunakan kesempatan melayani Tuhan.
Saat ini kesempatan melayani Tuhan sudah diberikan kepada kita melalui pelayanan sebagai pejabat gerejawi, tetapi juga dapat melayani di berbagai bidang pelayanan tanpa jabatan gerejawi.
Ada yang melayani Tuhan ketika masih kuat, tetapi juga ada banyak yang tetap setia melayani meskipun tidak sekuat dulu. Pastinya Tuhan mau, supaya kita tetap setia melayani Tuhan, dan hidup kita sungguh menjadi berkat! Amin, Saudara?
Kita semua dipanggil dan diutus untuk melayani Tuhan sesuai talenta masing-masing. Bersediakah Saudara membuat komitmen untuk menggunakan kesempatan yang Tuhan berikan untuk melayani Tuhan di dalam, dan di luar gereja? Kepada semua Saudara yang dipanggil melayani Tuhan, jadilah pengurus yang baik dari kasih karunia Allah. Lakukanlah saja! Itu sudah cukup! Amin.
Mari kita berdoa:
Ya Bapa yang di surga, kami bersyukur karena Tuhan memberi kesempatan bagi kami semua untuk melayani Tuhan dan sesama. Mampukanlah kami menggunakan kesempatan yang Tuhan beri, sehingga hidup kami tidak menjadi sia-sia, tetapi sungguh menjadi berkat. Terpujilah namaMu, kekal selama-lamanya. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa. Amin.
Tuhan Yesus memberkati Saudara dan keluarga!
(AM30032023)
MEMIKIRKAN YANG DARI ROH
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 1
Bacaan: Roma 8:1-11
Salam sejahtera, semoga hidup kita lebih memikirkan hal-hal yang dari Roh, bukan memikirkan hal-hal yang dari daging seperti ungkapan dalam Roma 8:5 Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh.
Apa itu hidup menurut daging? yaitu hidup tanpa Allah, tanpa Yesus, tanpa Roh Kudus, hidup menurut tabiat manusia yang berdosa, memikirkan dan bertindak yang jahat, menjadi hamba dosa, dikuasai dosa. Manusia menjadi hamba dosa, itu adalah kesalahan sendiri, karena mau mendengar bisikan iblis. Hidup menurut daging karena memusatkan pada diri sendiri, menganggap hukum adalah keinginan sendiri, hidup sesuka hati sehingga merusak diri sendiri, membuat hidup menjadi buruk, frustasi, putus asa. Hidup menurut daging selalu menentang Allah dan kehendakNya seperti percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora, gila hormat, saling menantang (Galatia 5:19-21,26). Orang yang menjadi hamba dosa, mendapat hukuman dari Allah yaitu maut, mati kekal, tidak mendapat tempat dalam Kerajaan Allah. Hidup menurut daging merupakan perseteruan dengan Allah.
Apa itu hidup menurut Roh, atau memikirkan hal-hal yang dari Roh? yaitu: Orang yang berada dalam Kristus Yesus. Penghukuman dari Allah sudah tidak berlaku lagi. Berada dalam Kristus artinya orang menyesali dosa. Dosanya telah mati dalam kematian Yesus. Ia diampuni, dibenarkan, dilepaskan dari kuasa dosa oleh kuasa kebangkitan Yesus, kemudian hidup baru yang dipimpin Roh Kudus. Roh Kudus yang memberi kekuatan padanya untuk menempuh hidup baru, dan menerima kehidupan kekal. Hidup memikirkan hal-hal yang dari Roh, mendatangkan hidup, kebaikan, kemenangan, pemulihan. Hidupnya penuh kemenangan didalam Kristus, karena dosa sudah dikalahkan. Iblis tidak mampu menipu orang yang berada dalam Kristus Yesus, yang dibimbing Roh Kudus. Orang yang berada dalam Kristus, hidup dalam Roh, tidak mungkin mau dibujuk iblis, dibujuk teman, untuk bersikap dan berlaku sombong, baik kesombongan rohani maupun kesombongan karena materi, kehebatan diri sendiri. Orang yang berada dalam Kristus Yesus dan hidup dalam Roh, tidak mungkin mau menonjolkan diri sendiri, mempertahankan kepentingan diri sendiri dihadapan Tuhan dan sesama. Orang yang telah mati dalam Yesus, tidak bisa merasa hebat, karena dirinya adalah orang yang fana, berdosa, tidak layak, tidak pantas mendapat hidup kekal. Hanya karena kasih karunia Yesus, kita dilayakan dihadapan Allah. Karena itu orang yang berada dalam Yesus, akan menyangkal diri sendiri, tidak memegahkan diri, tidak melayani kepentingan sendiri, mau meniru seperti Yesus merendahkan diri, mengosongkan diri, berkorban demi menyelamatkan semua manusia dari dosa.
Orang yang tidak berada dalam Kristus Yesus, adalah orang yang mengandalkan diri sendiri, dengan melakukan perbuatan baik, ibadah lahiriah, membaca kitab suci, untuk melawan dosa, melawan tipu muslihat iblis. Perbuatan seperti ini, tidak akan bisa mengalahkan iblis atau dosa. Usaha manusia dalam beragama, tidak berdaya mengalahkan daging atau dosa (Roma 8:3). Hanya melalui Kristus Yesus, iblis dan dosa dikalahkan, ditaklukan, sehingga orang bisa hidup dalam Roh Kudus, dan tidak hidup dalam daging atau hamba dosa. Allah sangat menentang dosa. Allah telah menang atas dosa, karena kematian dan kebangkitan Yesus. Manusia yang dirusak oleh dosa atau kuasa daging, didalam Yesus Kristus, dipulihkan, tulang kering dihidupkan. Di dalam Kristus Yesus, dosa tidak bisa berkuasa dalam hidup orang beriman.
Orang yang hidup menurut Roh adalah orang ysng hatinya dikuasai Roh Kudus sehingga mampu mengalami kasih Allah. Kasih Allah menguasai hatinya, dan dia dimampukan untuk mengasihi Allah serta mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri. Hidup menurut daging, adalah hidup yang mengasihi diri sendiri, mengasihi dunia, melawan kehendak Allah, tidak mengasihi Allah, tidak mengasihi sesama. Hanya dalam Yesus Kristus dan hidup dalam Roh, kita dimampukan melakukan kehendak Allah, mengasihi Allah, mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri, dimampukan melawan tipu muslihat iblis. Dengan kekuatan sendiri, kita tidak mampu melakukan kehendak Allah, mengasihi Allah dan mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri. Kalau dengan kekuatan sendiri kita pasti dikalahkan dan kembali dikuasai dosa, hidup menurut daging. Kita terus memohon kekuatan dari Allah agar kita dikuasai Roh Kudus untuk menang melawan dosa dan melakukan kehendak Allah.
Hidup dalam Roh bukanlah sikap batin semata, melainkan nyata dalam tindakan sehari-hari kita. Bukan hanya mengikuti kebaktian hari minggu, dipenuhi perasaan suci, melainkan kita bertindak sesuai kehendak Tuhan dalam segala hal, setiap hari. Hidup dalam Roh berarti siang dan malam memikirkan atau merenungkan sifat dan perbuatan Allah yang ajaib dan kehendak Allah, selalu merenungkan, menghayati, melakukan tentang kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri (Galatia 5:22).
Hidup memikirkan hal-hal yang dari Roh, adalah hidup yang sungguh-sungguh mencintai Allah, seluruh perhatian akan diarahkan untuk menyenangkan hati Allah. Orang yang menghormati Allah, dan mengasihi Allah, maka kita akan berusaha melakukan apa yang dikehendaki Allah tanpa harus diperintah Allah. Orang hidup menurut Roh akan memikirkan damai sejahtera dan berjuang untuk damai sejahtera bersama Allah dan sesama manusia. Hidup dalam daging adalah hidup bermusuhan dengan Allah dan sesama manusia. Hidup menurut Roh adalah hidup yang berkenan pada Allah, hidup menurut daging adalah hidup yang tidak berkenan pada Allah, selalu menentang kehendak Allah, tidak mau tunduk pada Allah.
Orang yang hidup menurut Roh adalah orang yang berdoa agar kehendak Tuhan yang terjadi dalam hidupnya bukan kehendak diri sendiri. Orang yang berserah pada Tuhan, mau dibentuk Tuhan. Meminta pada Tuhan agar disucikan hati dan pikirannya dan menyembah Tuhan. Meminta tolong Tuhan agar dalam kelemahan, kuasa Tuhan memulihkan hidup. Seluruh hidupnya dikuasai Tuhan, dan Roh Kudus diberikan agar terang Tuhan Yesus menjadi nyata dalam kehidupan seperti ungkapan dalam NKB 14:4 Jadilah, Tuhan kehendakMu! S’luruh hidupku kuasailah. Berilah RohMu kepadaku, agar t’rang Kristus pun nyatalah. Amin.
Berdoa : Ya Tuhan mampukan kami hidup lebih memikirkan hal-hal yang dari Roh, bukan memikirkan hal-hal yang dari daging. Roh Kudus yang memberi kekuatan pada kami untuk menempuh hidup baru, dalam nama Yesus kami berdoa.amin
AYAM INGKUNG
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: Roma 12:1
“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Ayam ingkung dikenal sebagai komponen pokok dalam tumpeng, sehingga sejarahnya pun memang tidak terlepas dari sejerah perkembangan tumpeng. Ayam ingkung merupakan sajian dari ayam utuh yang dihidangkan bersama jeroannya. Ketika disajikan ayam ingkung dibentuk seperti sedang menyembah (meringkuk) dengan kepala yang menoleh kebelakang. Keberadaan ayam ingkung itu tentu bukan hanya sebagai pelengkap atau lauk pauk saja, melainkan ada makna yang hendak disampiakan, yaitu:
Pertama, nama ingkung. Kata ingkung diambil dari kata manengkung, sebuah kata dalam bahasa Jawa kuno yang memiliki arti bersujud atau berdoa kepada Tuhan dengan kesungguhan hati. Nama ‘ingkung’ ini menggambarkan jika berada dihadap Yang Maha Kuasa, manusia harus menunduk atau merendah dan berdoa kepada-Nya.
Kedua, bentuk ketika disajikan. Terkait dengan nama ingkung tadi, maka saat disajikan ayam dibentuk meringkuk mengambarkan seseorang sedang bersujud. Bentuk ini mengingatkan agar manusia senantiasa berserah diri kepada Tuhan dan selalu memohon pengampunan-Nya. Kepala yang menoleh kebelakang menyimbilkan manusia yang harus selalu ingat tentang apa yang sudah dijalani sehingga dapat senantiasa memiliki rasa syukur terhadap sesuatu yang telah dimiliki.
Ketiga, material ayam yang digunakan. Ayam merupakan binatang yang punya banyak manfaat, baik sebagai hewan peliharaan, sumber pendapatan, sekaligus bisa dimanfaatkan menjadi makanan. Ayam juga merupakan hewan yang tidak melahap semua makanan yang diberikan padanya. Ia akan memilih dan memakan mana yang baik dan meninggalkan makanan yang buruk. Oleh karena itu, ayam di sini menyimbolkan agar sepanjang hidupnya, manusia dapat menjadi berkat bagi semua orang. Dan untuk itulah, manusia mesti dapat memilih dan memilah mana yang baik dan buruk.
Keempat, ayam jantan. Ayam jantan seringkali dipakai untuk menggambarkan sifat angkuh, congkak, tidak setia dan merasa menjadi pemenang. Oleh karena itu mengolah ayam jantan dapat diartikan sebagai menghindari sifat buruk yang dilambangkan oleh ayam jantan ini. Alih-alih berlaku sombong, manusia harus manengkung.
Ayam ingkung mengingatkan kita agar selalu dapat menggunakan seluruh hidup kita ini agar dapat bermanfaat dan menjadi berkat bagi sesama. Maksudnya adalah supaya manusia dapat memiliki karakter yang baik; seperti: rendah hati, dapat memilih yang baik dan meningggalkan yang buruk, selalu bersyukur dan berserah kepada Tuhan. Selain itu, manusia juga dapat menjadi saluran berkat bagi orang lain. Rasul Paulus mengingatkan kepad aJemaat di Roma, demikian, “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati”. Ibadah yang sejati memiliki dua aspek, yaitu: perama, menjalin komunikasi dengan Allah dalam kehidupan pribadi dan komunal (kebersamaan). Dan kedua, kita harus memiliki komitmen untuk melayani Tuhan dan sesama dengan apa yang telah diberikan Tuhan kepada diri kita.
Kiranya sajian ayam ingkung kali ini mengingatkan kita agar menjadi anak-anak Tuhan yang rendah hati, mampu bersyukur, melakukan yang baik dan benar, serta menjadi berkat di manapun kita berada. Dengan demikian, maka kehidupan kita dapat menjadi persembahan yang berkenan kepada Tuhan. Selamat berjuang, Saudaraku, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Kami mengucapkan syukur karena Engkau melimpahkan berkat keselamatan dan kehidupan kepada kami, ya Tuhan. Oleh karena itu kami rindu untuk memberikan kehidupan kami ini sebagai persembahan hidup bagi kemuliaan Nama-Mu. Kiranya Roh Kudus menolong kami untuk melakukannya. Terpujilah Engkau, ya Tuhan Yesus. Amin.
