firman
GEMBALA BAIK BERSULING NAN MERDU
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: Mazmur 23
Salam sejahtera semoga kita makin mengimani bahwa Tuhan adalah gembala dalam hidup kita yang membimbing, yang menyegarkan jiwa dan menuntun kita di jalan yang benar seperti ungkapan dalam Mazmur 23:1-3 (TB2) Mazmur Daud. TUHANlah gembalaku, takkan kekurangan aku.Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar demi nama-Nya.
Ada kisah di balik terciptanya lagu Gembala Baik Bersuling Nan Merdu (KJ 415 dicipta tahun 1984). Celsius Akwan, komponis asal Papua mengisahkan bahwa saat menulis syairnya, ia tiba-tiba merasa ada bisikan untuk mengingat Mazmur 23 tentang gembala yang baik. Akwan memulai dengan kalimat pertama, “Gembala baik…” Kalimatnya terhenti, kemudian ia teringat apa yang dilihatnya ketika awal kuliah dulu di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) di Salatiga. Sore yang cerah di pertengahan 1971, Akwan bersama sejumlah kakak kelasnya berada di bus umum dari Salatiga menuju Magelang, Jawa Tengah. Mereka melakukan pelesiran. Hal itu menarik bagi Akwan yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Jawa.
Saat melewati Bawen, ia melihat bocah laki-laki duduk di punggung kerbau di tengah sawah berlumpur. Bocah itu bermain seruling bambu. Akwan terpaku melihat adegan itu dari jendela bus. Ia teringat masa di sekolah dasar, ada buku pelajaran bahasa Melayu terbitan Belanda, bergambar seorang anak duduk di punggung kerbau yang menarik bajak di sawah sambil meniup seruling. Akwan senang melihat gambar tersebut. Sore hari itu, dari sisi kiri bus, ia melihat langsung apa yang di gambarkan itu, bagus sekali. Ia sangat terbawa dengan perasaan, suasana yang sangat indah. Akwan kemudian melanjutkan syairnya: Gembala Baik, Bersuling Nan Merdu. Lalu berkembanglah sampai bait ketiga, selesai. Menurut dia, syair lagu itu hasil pengalaman etnik Papua berlokasi di Jawa, tetapi cocok dengan suasana Israel kuno. Seperti Daud, ia berseruling saat menjaga dombanya. (Yuliantino Situmorang, C Akwan, Membawa Warna Papua di Kidung Gerejawi. Beritasatu.com, 10 Desember 2022)
Saat ini pak C. Akwan dalam kondisi sakit dan terbaring di tempat tidur di rumahnya, hampir tiga tahun. Dalam kunjungan bersama sebagian anggota paduan suara Nafiri GKI Jatimurni Bekasi (Paduan suara ini dibimbing oleh pak Akwan), pak Akwan menambahkan penjelasannya bahwa lagu Gembala Baik Bersuling Nan Merdu, berbicara tentang kedamaian.
Mari kita belajar tentang gembala yang baik melalui Mazmur 23. Hubungan Allah dan umatNya digambarkan seperti hubungan gembala dengan kawanan domba yang selalu berpindah untuk membawa mereka ke tempat yang banyak rumput dan air yang segar. Bangsa Israel, dituntun Tuhan menuju tempat yang indah digambarkan seperti padang rumput dan air yang segar. Perjalanan menuju padang rumput melewati jalan berbatu dan padang gurun yang panas, serta ancaman binatang buas, pencuri, perampok. Tuhan tahu di mana tempat rumput dan sumber air segar. Dalam perjalanan umat, tidak ada yang boleh memisahkan diri, harus terus bersama-sama. Tuhan mampu membela, menjaga, melindungi umat dari ancaman bahaya, digambarkan seperti binatang buas, pencuri, perampok. Tuhan mampu dan berkuasa untuk menggembalakan umat yang begitu banyak.
Tuhan adalah gembala yang baik, Ia mampu melepaskan umat dari bahaya yang mengancam, karena Tuhan selalu menyertai orang yang percaya padaNya. Tuhan mampu menyegarkan jiwa setelah melewati perjalanan yang sulit dan berat. Tuhan menguatkan kembali daya hidup.
Tuhan menuntun kita seperti Tuhan menuntun bangsa Israel keluar dari perbudakan Mesir atau seperti Tuhan menuntun dan memimpin Abraham. Hal ini terjadi karena nama Tuhan saja, bukan karena kebaikan diri sendiri. Allah menuntun, membimbing karena kasih setia Allah, yang tidak pernah berubah. Allah menuntun membimbing ke tujuan yang baik menurut Allah.
Perjalanan hidup kita seperti perjalanan bangsa Israel di padang gurun, dan melewati lembah kekelaman, jurang, di tempat gelap, penuh sengsara. Kalau orang berjalan sendiri pasti akan tersesat, akan putus asa. Dalam perjalanan yang seberat itu, orang percaya, tidak takut karena Tuhan selalu menyertai. Inilah pengakuan iman kita bahwa dalam kondisi hidup yang berat, berduka, sakit, gagal, dianiaya, Tuhan selalu menemani agar kita tidak takut menghadapi semuanya itu. Tuhan membimbing, menghibur, menguatkan, memberi kepastian kepada hidup kita. Tuhan Yesus juga memberikan Roh Kudus untuk membimbing dan menghibur orang percaya. Setiap ancaman dari musuh, tidak membuat damai, tidak aman dan tidak nyaman, tapi Tuhan menyertai, menuntun, dan melindugi sehinga kita aman, nyaman dan damai.
Pengakuan iman yang benar bahwa Tuhan gembala yang baik pada saat sehat maupun sakit, saat kaya atau miskin, saat berduka atau saat tenang. Pengakuan iman yang tidak benar, kalau saat sehat mengakui Tuhan gembala yang baik, saat sakit, saat berduka, saat gagal mengatakan Tuhan tidak baik, Tuhan tidak adil, Tuhan jahat. Ketika seseorang terbaring sakit sudah lama, tetap mengimani dari dalam hati bahwa Tuhan selama-lamanya adalah gembala yang baik, sampai akhir hidup, Tuhan adalah gembala yang baik. Tuhan selama-lamanya tidak berubah tetap gembala yang baik.
Gembala yang baik bersuling nan merdu, mengambarkan suara Tuhan yang merdu, yang indah enak di dengar, membawa kedamaian, yang membimbing, menuntun, membuat hati tentram hening, membuat kuasa damai dari Tuhan mengalir dalam hidup kita yang mengasihi. Tuhan memberi kesegaran jiwa bagi yang haus dan sendu. Tuhan adalah teman, membuat kita tidak takut menghadapi tantangan dan bahaya, seperti ungkapan dalam KJ 415 ayat 1 Gembala baik, bersuling nan merdu, membimbing aku pada air tenang dan membaringkan aku berteduh di padang rumput hijau berkenan. Refrein: O, Gembalaku itu Tuhanku, membuat aku tent’ram hening. Mengalir dalam sungai kasihku kuasa damai cerlang, bening. Amin
Berdoa;
Ya Tuhan, kiranya kami makin mengimani bahwa Tuhan adalah gembala yang baik selama hidup kami, dan tidak pernah berubah. Kiranya suara Tuhan yang merdu, membawa kedamaian, membimbing menuntun dan membuat hati tentram, tidak takut dan membuat kuasa damai dari Tuhan mengalir dalam hidup kami. Tuhanlah yang memberi kesegaran jiwa bagi kami yang haus dan sendu. Dalam nama Yesus kami berdoa amin.
CERMIN KEHIDUPAN
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bahan: Kejadian 27:39-40,
Lalu Ishak, ayahnya, menjawabnya: “Sesungguhnya tempat kediamanmu akan jauh dari tanah-tanah gemuk di bumi dan jauh dari embun dari langit di atas. Engkau akan hidup dari pedangmu dan engkau akan menjadi hamba adikmu. Tetapi akan terjadi kelak, apabila engkau berusaha sungguh-sungguh maka engkau akan melemparkan kuk itu dari tengkukmu.”
Syaloom, saudara-saudari yang dikasihi Kristus, bagian kisah Esau dan Yakub, anak kembar Ishak dan isterinya Ribka, kita jadikan sebagai CERMIN KEHIDUPAN ini. Kalau Anda ditanya dari dua anak Ishak itu, Anda berpihak siapa, Anda memilih siapa, apakah Esau atau Yakub. Tentu secara spontan kita menjawab pilihan itu ialah Yakub.
Namun Yakub seperti yang dikatakan Esau: “Bukankah tepat namanya Yakub, karena ia telah dua kali menipu aku. …” Kalau Anda tidak memilih Esau, tetapi apakah Anda dengan jujur bahwa Anda tidak terbebas dari penipuan, hanya saja tidak menjadi urusan kriminil, karena yang pertama yang kita tipu adalah diri sendiri, kemudian orang yang paling dekat dengan kita, dan terutama kita tidak bebas sebagai penipu di hadapan Tuhan. Potret kehidupan Yakub yang harus menjadi buron di hadapan Esau, sehingga ia harus mengembara ke Haran, Mesopotamia. Relakah Anda menyamakan diri dengan Yakub yang buron dan menanggung dendam kakaknya Esau? Di Haran, di rumah Laban, dia harus kerja keras, tidak ada waktu bersantai, dia ditipu oleh Laban dalam pernikahannya yang awalnya disetujui menikah dengan Rahel, tetapi Laban memberikan Lea yang dia tidak cintai. Tujuh tahun dia kerja keras untuk mendapatkan Rahel, yang akhirnya dia mendapat Rahel yang diimpikannya dengan kerja keras. Yakub cukup menderita di rumah Laban yang menjadi mertuanya, Laban sudah sepuluh kali merobah upah Yakub. Tetapi satu yang dia telah miliki, yang paling penting, yang juga telah kita miliki, ialah berkat Tuhan. Manusia, bahkan mertua sekalipun tidak mampu menghambat berkat Tuhan yang telah dilekatkan dalam dirinya, oleh ayahnya Ishak, demikian juga bagi kita.
Bagaimana dengan Esau, Ishak ayahnya, tidak menyampaikan berkat yang menyenangkan, dan berkat dari Abraham tidak mengalir dalam kehidupan dan keturunannya. Tetapi Esau akan terbebas dari dendam, keterlanjurannya menjual hak kesulungannya, Ishak mengatakan: “Tetapi akan terjadi kelak, apabila engkau berusaha sungguh-sungguh maka engkau akan melemparkan kuk itu dari tengkukmu.” Dari sisi kehidupan di dunia, Esau sama dengan Yakub, dia bekerja keras, dia kaya, harta dan ternaknya banyak, keturuan Esau menjadi suatu bangasa yaitu bangsa Edom. Demikian kisah perjalanan hidup Esau, dia tidak mengalami penipuan dari orang lain seperti Yakub. Karena Esau tidak menjadi perpanjangan berkat Tuhan untuk keselamatan umat manusia, maka kisah Esau berhenti sebagai bangsa Edom yang cukup besar.
Dua kisah bersaudara ini kita coba sebagai Cermin Kehidupan ini, yang membuka sisi-sisi gelap kehidupan kita, kecurangan, tipu, dusta, namun yang paling penting bagi kita kembali mengandalkan berkat penyertaan Tuhan, agar kita ikut menjadi saluran berkat keselamatan bagi dunia dan orang lain.
Kita aplikasikan renungan ini dengan pokok berikut:
- Kapan Anda menerima berkat Tuhan yang mendasari kehidupan Anda?
- Pernah Anda tertipu dan harus kerja keras untuk mendapatkannya kembali?
- Apakah Anda mau mengidentifikasikan (disamakan) diri dengan Yakub?
Mari berdoa:
Bapa surgawi, sungguh kami seperti Esau dan Yakub, yang sangat merindukan berkat Tuhan melekat pada diri kami, pada pernikahan dan keluarga kami. Kami mohon Roh Kudus menguatkan dan menolong kami agar berkat Tuhan itu tidak kami cari dengan cara penipuan, jauhkan kami dari kecurangan, penipuan, kejahatan. Dalam Kristus kami mohon, Amin. [AS220424]
DANISH MONDE BUTTER COOKIES
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: Kisah Rasul 2:46-47 (TB 2)
“Dengan bertekun dan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergiliran dan makan bersama-sama dengan gembira dan tulus hati, sambil memuji Allah, dan mereka disukai semua orang. Tiap-tiap hari Tuhan menambahkan jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Siapa tidak tahu Danish Monde Butter Cookies? Danish Monde Butter Cookies adalah salah satu nama biskuit mentega tanpa ragi yang terkenal dan fenomenal di Indonesia. Biskuit produksi PT.Nissin Biscuit Indonesia telah ada sejak tahun 1980. Danish Monde Butter Cookies (selanjutnya disebutkan dengan singkatan DMBC), dikenal akan kemewahan yang disuguhkan bagi para konsumennya. Bagi saya, keunikan yang cukup menyolok adalah desain kemasannya. Betapa tidak? (1) Gambar figur Tivoli Boys Guard yang berasal dari Denmark. (2) Terdapat Logo yang bentuknya sama persis dengan Danish Pretzel yang merupakan lambang di semua toko kue di Denmark. (3) Danish (Bhs. Ing) yang berarti Denmark. (4) Monde (Bhs. Pran.) yang berarti Dunia. (5) Butter Cookies (Bhs. Ing.), adalah kue khas Denmark. (6) Foto Butter Cookies yang berasal dari Denmark. (7) Pada pinggiran kemasan terdapat motif renda khas Inggris. (8) Terdapat elemen visual menyerupai bendera Belanda, dengan bentuk seperti seutas tali medali kejuaraan. (9) DMBC hanya diproduksi, dijual dan dipasarkan di Indonesia.
Pertanyaan yang muncul adalah: mengapa produsen biskuit ini memilih desain kemasan seperti itu? Dari sebuah penelitian yang dilakukan oleh Sherly Naftalia, Andrian Dektisa dan Bernadette Dian dari Program Studi Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni dan Desain, UK Petra Surabaya, disimpulkan bahwa elemen-elemen visual dari beberapa negara Eropa ini ingin menyampaikan “gambaran Eropa” dengan tujuan untuk membawa para konsumen masuk dan menyatu dengan “cita rasa” ala Eropa. Nampaknya produsen DMBC melihat euforia masyarakat Indonesia terhadap cara pandang Budaya Visual, yang ditandai oleh kebiasaan masyarakat Indonesia yang gemar mengambil elemen visual yang mengesankan “eksklusif” hanya untuk memuaskan indera mata tanpa harus mengenal asal-usul dan kegunaannya.
Berbicara tentang desain kemasan DMBC ini, mengingatkan tentang apa yang tertangkap oleh indera penglihatan akan meninggalkan kesan tertentu bagi diri kita. Bila kesan yang muncul adalah kesan yang baik, tentu kita juga ingin mencoba atau meniru hal yang baik tersebut. Hal seperti itulah yang nampak dalam kehidupan jemaat perdana pasca peristiwa Pentakosta. Alkitab menyebutkan, “Dengan bertekun dan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergiliran dan makan bersama-sama dengan gembira dan tulus hati, sambil memuji Allah, dan mereka disukai semua orang. Tiap-tiap hari Tuhan menambahkan jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan”. Secara singkat Alkitab hendak mengatakan bahwa sikap hidup para pengikut Kristus pada waktu itu benar-benar menjadi teladan yang sangat baik, sehingga banyak orang yang ingin mengenal Kristus juga. Ya, sebuah teladan akan jauh lebih efektif dibandingkan dengan banyaknya kata-kata nasihat.
Kiranya setiap kali melihat Danish Monde Butter Cookies kita ingat agar menjadi teladan kebaikan alias ‘kitab yang terbuka’; sehingga melalui pikiran, tutur kata dan sikap hidup kita akan ada banyak orang yang rindu mengenal Tuhan Yesus. Selamat berjuang, saudaraku, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga
Doa:
Ya Tuhan, Engkau meminta kami untuk menjadi garam dan terang dunia. Oleh karena itu, kami rindu untuk menjadi kitab yang terbuka. Kiranya Roh Kudus menolong kami agar melalui diri kami Nama-Mu dimuliakan. Terimakasih Tuhan Yesus. Amin.
KEKUATAN DARI KRISTUS
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: Daniel 10:19
”Hai engkau yang dikasihi, janganlah takut! Sejahteralah engkau, jadilah kuat, ya jadilah kuat”
Syalom jemaat yang terkasih didalam Tuhan.. Semoga bapak/ibu/saudara-saudari dalam keadaan baik..
Jemaat yang terkasih..Dalam sebuah pertandingan olah raga angkat besi, para atlet yang bertanding saling beradu, siapa di antara mereka yang paling kuat. Penilaian siapa yang menang dalam pertandingan tersebut ditentukan dari berapa kilogram beban yang berhasil ia angkat. Salah satu atlet angkat besi Indonesia yang berhasil mengukir prestasi di kancah olimpiade Tokyo tahun 2020 adalah Eko Yuli Irawan. Dia berhasil menjadi juara 2 di kelas 61 kg putra dan mendapatkan medali perak di setelah berhasil memenangkan pertandingan angkat besi dengan total angkat beban seberat 302 kg (snatch 137 kg dan clean and jerk 165 kg). Tentu ini menjadi sebuah prestasi yang membanggakan bagi bangsa Indonesia.
Bagian bacaan firman Tuhan yang kita baca menceritakan tentang penglihatan Daniel di tepi sungai Tigris. Saat itu Daniel sedang dalam masa perkabungan selama 3 minggu. Pada hari ke-24, di saat ia berada di tepi sungai Tigris, ia mendapatkan penglihatan. Tampak olehnya seorang berpakaian kain linen dan berikat pinggang emas dari ufas (Ay. 5). Wajahnya seperti cahaya kilat, matanya seperti suluh yang menyala-nyala, lengan dan kakinya seperti kilau tembaga (Ay. 6).
Ketika Daniel melihat penglihatan itu, dia menjadi pucat dan merasa tidak mempunyai kekuatan lagi. Kemudian orang yang tampak dalam penglihatan itu mengatakan agar Daniel tidak perlu merasa takut. Lalu ia menyampaikan pesan tentang apa yang akan terjadi kepada bangsa Israel kepada Daniel. Ia menyentuh bibir Daniel dan memberikan kekuatan kepada Daniel (Ay. 19), sehingga Daniel dapat melanjutkan kembali tugasnya sebagai nabi Allah.
Peristiwa Paskah adalah peristiwa kemenangan Kristus. Tuhan Yesus telah bangkit, maut telah dikalahkan, dan Dia hidup untuk selamanya. Melalui peristiwa Paskah inilah, para murid mendapatkan kekuatan.
Mereka yang semula bersedih, putus asa, kini berpengharapan dan memiliki semangat dan kekuatan baru untuk melanjutkan karya Kristus. Sebagai umat Allah, Tuhan Allah memberikan kekuatan kepada kita. Dengan percaya akan kuasa kebangkitan Kristus, kita yang lemah dipulihkan, kita yang menderita dikuatkan, kita yang ada dalam kegelapan mendapatkan terang.
Oleh karena itu, marilah di masa Paskah ini, kita menyadari bahwa ada kekuatan di dalam Kristus yang memampukan kita untuk melakukan setiap tugas dan tanggung jawab yang dipercayakan kepada kita. Percayalah kekuatan Kristus menolong hidup kita. Selamat berefleksi, Tuhan memampukan kita.
TUHAN YESUS BAHTERA KESELAMATAN
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, Syalom Alekhem! Hari ini kita merenungkan Firman Tuhan yang berjudul: ”Tuhan Yesus Bahtera Keselamatan” dengan dasar dari Kisah Para Rasul 4:12 (TB 2): “Tidak ada keselamatan di dalam siapapun juga selain di dalam Dia; sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia, yang olehnya kita dapat diselamatkan.” Demikianlah Firman Tuhan. Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan Firman Tuhan dan yang melakukannya.
Saudara-saudara, ayat ini adalah bagian dari kotbah Petrus sebagai respons gereja perdana terhadap tekanan dan penganiayaan yang mereka hadapi dari otoritas Yahudi dan Romawi.
Setelah mukjizat penyembuhan seorang lumpuh yang dilakukan oleh Petrus dan Yohanes di pintu gerbang Bait Allah, Petrus dan Yohanes diinterograsi. Petrus menjawab dan menyampaikan kotbah yang kuat tentang Yesus Kristus di hadapan mahkamah agama Yahudi. Mereka menegaskan bahwa mukjizat penyembuhan tersebut terjadi atas kuasa Yesus Kristus.
Ayat ini juga menegaskan bahwa hanya melalui Yesus Kristus orang dapat memperoleh keselamatan, karena tidak ada jalan lain atau nama lain yang dapat memberikan keselamatan.
Petrus juga menyampaikan bahwa keselamatan adalah hal yang sangat penting. Ini adalah pesan inti Injil yang harus disampaikan kepada semua orang. Keselamatan adalah karunia Allah yang ditawarkan kepada manusia, tetapi untuk mendapatkannya manusia harus menerima dan percaya kepada Yesus Kristus.
Seperti kesaksian pujian yang dinyanyikan oleh jemaat GKI Kwitang Pos Sindangkarsa, sebuah pujian yang berjudul: ”Bahtera yang dipandu Yesus” Lagu ini menceritakan ”Baht’ra yang dipandu Yesus, panji salib tandanya, itu baht’ra kes’lamatan bagi orang yang resah. Meskipun badai menyesah dan ombak menderu, Dipandu Tuhan baht’raNya ke pantai yang teduh.”
Lagu ini mengundang kita semua datang kepada Bahtera keselamatan.
Saudara-saudara, mari kita merenungkan perjalanan hidup kita. Mungkin saat ini ada Saudara yang merasakan kegelisahan dan ketakutan dalam menghadapi gelombang-gelombang kehidupan yang menghantam.
Bersediakah Saudara menyambut Dia yang mengundang kita dan mau membawa kita ke arah keselamatan abadi? Tuhan Yesus Juru Mudi Hidup kita, menjanjikan perlindungan, arahan, dan keselamatan yang tak tergoyahkan kepada setiap orang yang percaya kepada-Nya.
Bahtera hidup kita mungkin sedang dihadapkan pada tantangan ekonomi, kesehatan, atau persoalan-persoalan dalam keluarga. Namun percayalah, Tuhan Yesus adalah sumber pengharapan yang tak tergoyahkan di tengah-tengah segala pergumulan kita.
Bersediakah Saudara mengarahkan pandangan iman kita kepada Juru Mudi Hidup kita, Tuhan Yesus Kristus, dan melanjutkan perjalanan hidup ini dalam bahtera keselamatan Tuhan Yesus yang membawa kita ke pantai yang teduh?
Lakukanlah saja. Itu sudah cukup! Amin.
Mari kita berdoa :
Ya Bapa yang di surga, kami bersyukur dan memuji Engkau karena Tuhan Yesus adalah Bahtera keselamatan kami. Engkaulah sumber pengharapan dan keselamatan yang mampu membawa kami ke pantai yang teduh. Dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin. Tuhan Yesus memberkati Saudara dan keluarga!
(RH AM 180424)
MARAH TAPI JANGAN BERBUAT DOSA
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Berdoa:
Ya Tuhan mampukan kami untuk mengendalikan hati kami ketika kami difitnah, dirugikan, diperlakukan tidak adil dan jahat oleh orang-orang besar, yang membuat kami marah, tapi kami tidak berbuat dosa. dalam nama Yesus kami berdoa amin.
GONJANG-GANJING PENETAPAN PEMIMPIN
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bahan: Bil 17:6, 8,
Setelah Musa berbicara kepada orang Israel, maka semua pemimpin mereka memberikan kepadanya satu tongkat dari setiap pemimpin, menurut suku-suku mereka, dua belas tongkat dan tongkat Harun ada di antara tongkat-tongkat itu. Ketika Musa keesokan harinya masuk ke dalam kemah hukum itu, maka tampaklah tongkat Harun dari keturunan Lewi telah bertunas, mengeluarkan kuntum, mengembangkan bunga dan berbuahkan buah badam.
Saudara-saudari yang dikasihi Kristus, bila dalam suatu komunitas ada perbedaan pendapat, apa lagi untuk suatu masalah penting, seperti penetapan pemimpin untuk komunitas itu, maka tidak jarang terjadi kegoncangan yang bisa memicu perpecahan bahkan bubar komunitas itu. Apa yang terjadi di negeri kita ini adanya goncangan atas keputusan yang berwenang tentang hasil Pemilu, khususnya penetapan pemenang sebagai presiden dan wakil presiden. Maka pihak yang tidak menerima keputusan akhir pemilu itu mengajukan keberatan ke badan atau lembaga yang akan menyelesaikan keberatan itu melalui proses pengadilan. Keberatan-keberatan itu telah disebarkan sebagai gonjang-ganjing pendapat mereka yang mempengaruhi pikiran masyarakat bahwa patutlah diperkarakan melalui pengadilan. Semoga dengan keputusan pengadilan nanti dapat mengakhiri gonjang-ganjing penetapan hasil pemilu itu.
Bahan renungan kita ini perupakan peristiwa gonjang-ganjing, yang disebut sungut-sungut dari beberapa orang atas kepemimpinan Musa untuk bangsa Israel yang masih dalam perjalanan di gurun menuju tanah Kanaan. Beberapa alasan sungut-sungut mereka, seperti soal makanan, air minum, perjalanan yang tidak kunjung sampai. Padahal ada jalan pendek, yang dulu ditempuh oleh saudara-saudara Yusuf, mereka hanya beberapa minggu dari Kanaan ke Mesir. Janji ke negeri yang berlimpah susu dan madunya, tanah pertanian yang subur, rasanya tidak akan mereka lihat. Korah, Datan dan Abiram, telah meprovokasi umat dengan tuntutan agar Musa mengundurkan diri sebagai pemimpin perjalanan umat. Dalam hal ini hanya Tuhanlah tempat doa penyerahan diri dan persoalan ini. Tuhan telah menghukum Korah, Datan dan Abiram dan umat yang termakan provokasi mereka sebanyak dua ratus lima puluh orang, semua mereka binasa oleh murka Allah.
Dua belas suku Israel, setiap suku mempunyai pemimpin, tetapi siapa dari mereka menjadi pemimpin yang memberi perintah kepada pemimpin suku? Masing-masing pemimpin suku merasa dialah pemimpin itu dan menjadi gonjang-ganjing atau sungut-sungut di tengah umat. Atas perintah Tuhan kepada Musa, maka dia meminta setiap pemimpin suku memberikan tongkatnya yang namanya ditulis di tongkat itu. Dua belas tongkat telah terkumpul, dan ditempatkan di hadapan Tuhan dalam kemah hukum Allah. Setelah satu malam, keesokan harinya Musa melihat semua tongkat itu, dan tongkat Harun bertunas dan berbuah buah badam. Dengan demikian redalah semua sungut-sungut, dari semua persoalan dan rela mendengar perintah Musa dan Harun.
Adalah tanggung jawab kita sebagai anak Tuhan untuk semua gonjang-ganjing atas perjalanan pemerintahan negeri ini, khususnya menantikan putusan akhir pemilu, agar kita sampaikan kepada Tuhan dalam doa. Tugas kita juga harus memelihara ketertiban, menjauhkan kebencian di masyarakat kita.
Kita aplikasikan renungan ini dengan pokok berikut:
- Mengapa umat Israel tidak abis-abis sungut-sungut kepada Musa?
- Bagaimana Musa menghadapi sungut-sungut bahkan pemberontakan Israel?
- Sejauh mana intensi doa Anda utuk pemerintah, bangsa dan negara kita?
Mari berdoa:
Tuhan yang empunya segala kuasa, Tuhan yang memberi kuasa kepada setiap pemimpin bangsa di bumi ini. Demikianlah iman kami, agar Tuhan karuniakan pemimpin untuk negeri kami ini sebagai hasil akhir pemilu, baik presiden dan wakilnya, anggota legislatif di pusat dan daerah, DPD, agar negeri kami membangun untuk kesejahteraan rakyat. Demikianlah doa kami dalam nama Tuhan Yesus, Amin. [AS150424]
BETUL, INI WARGA SAYA!
Admin 02 Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: Matius 7:21-23 (TB 2)
“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak mengenal kamu! Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu yang melanggar perintah Allah!”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Saya pernah mendengar kisah pengalaman salah seorang warga lanjut usia. Sebut saja namanya “eyang”. Jam masih menunjukkan pukul 2.30 wib, ketika eyang terbangun untuk ke toilet. Namun karena tidak bisa memejamkan mata kembali dan dari pada kepalanya menjadi pusing, maka eyang memilih untuk mengsii waktu dengan jalan sehat. Kebetulan tempat tinggalnya dekat dengan kawasan monas. Baru berjalan belasan menit, eyang didatangi beberapa petugas Satpol PP untuk menanyakan identitasnya. Mungkin karena berangkat dengan hati yang gundah karena tidak bisa tidur, eyang lupa membawa KTP. Eyang yang sudah nyaris akan dibawa oleh petugas Satpol PP ini bersikeras bahwa ia warga sekitar monas yang memiliki KTP. Bersyukur bahwa petugas mendengarkan eyang dan bersedia mengiringinya ke rumah pak RT tempat tinggalnya untuk membuktikan kebenaran identitasnya.
Jam masih menunjukkan sekitar pukul 3.15 Wib, ketika mereka sampai di rumah pak RT. Meski kaget dan bingung, Pak RT dengan tegas berkata, “betul, ini warga saya!” Pernyataan Pak RT ini membuat para petugas Satpol PP ini percaya, kemudian meminta maaf dan mohon diri. Pak RT pun segera berkata, “Eyang, eyang… ngapain tengah malam jalan-jalan ke Monas? Untung eyang ini orangnya aktif di kegiatan RT, jadi saya kenal dan hafal dengan eyang. Sekaran pulang dan istirahat!” Eyang meminta maaf kepada Pak RT dan mohon diri untuk pulang. Seandainya bukan warga yang aktif dalam kegiatan RT, bisa jadi Pak RT tidak mengenalnya dan eyang pun akan di bawa oleh petugas Satpol PP.
Kisah eyang ini mengingatkan tentang salah satu ajaran Tuhan Yesus mengenai kewaspadaan terhadap ajaran sesat. Tuhan Yesus berkata, “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak mengenal kamu! Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu yang melanggar perintah Allah!”. Kata “mengenal” yang dimaksud adalah knowing by experiencing (mengenal karena mengalaminya sendiri). Dengan demikian Tuhan Yesus menuntut adalnya konsistensi antara kata dan perbuatan. Hanya menyerukan nama Tuhan tidaklah cukup karena mesti disertai dengan perbuatan yang menyenangkan hati Tuhan. Sebaliknya, melakukan perbuatan juga tidak cukup jika tidak disertai dengan motivasi yang benar.
Karena eyang cukup aktif dalam kegiatan RT, maka Pak RT mengenak eyang dan bersedia mengakui “betul, ini warga saya!” Sebagai anak-anak Tuhan, kita juga mesti sedia melakukan kehendak Tuhan dan tidak melanggar perintah-Nya. Dengan demikian, tentunya Tuhan akan dengan sukacita mengenali kita dan menyambut kita masuk ke rumah-Nya. Selamat berjuang, Saudaraku, Tuhan Yesusa memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Ya Tuhan, kami terus berupaya untuk memeriksa diri kami supaya memiliki konsistensi di dalam kata dan tindakan serta motivasi yang benar didalam bertindak, sehingga kami dapat menyukacitakan Engkau. Kiranya Roh Kudus menolong kami untuk melakukannya. Terimakasih, Tuhan Yesus. Amin.
