tuhan
TAATI ORANG TUA DI DALAM TUHAN
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Efesus 6: 1-4
Salam sejahtera semoga keluarga kita makin mengalami hidup yang indah ketika Tuhan ada di dalam keluarga, dan keluarga mengalami kasih Tuhan, dan mengasihi Tuhan serta mengasihi sesama. Tuhanlah memimpin langkah setiap anggota keluarga dengan kasihNya yang sempurna. Kita selalu mengucap syukur pada Tuhan karena telah memimpin dan membimbing langkah hidup kita sampai kita masuk dalam Kerajaan Allah.
Keluarga yang hidup indah, mewujudkan kasih Allah, ketika anak-anak menaati orangtua dalam Tuhan, menghormati ayah dan ibu sebagai perintah Tuhan agar hidup anak berbahagia dan panjang umur seperti ungkapan Efesus 6:1-3 Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu–ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi.
Dalam Efesus 5: 21-28 dijelaskan bahwa ayah adalah kepala atau pemimpin keluarga. Ibu sebagai penolong sepadan, tunduk, taat kepada pemimpin keluarga yang di dalam Tuhan. Dalam Efesus 6: 1-4, diajarkan agar anak-anak taat pada ayah dan ibu. Hal ini bukan berarti ayah dan ibu sebagai pemimpin keluarga berkuasa mutlak, sehingga tidak ada hak anak-anak untuk berpendapat.
Anak-anak adalah anak-anak kudus, yang sudah di baptis, sudah menjadi milik Tuhan, maka orangtua tidak bisa menolak, tidak bisa membuang, mengusir anak-anak. Orangtua hanya menerima anak dengan bersyukur. Anak-anak milik Tuhan maka mereka harus hidup kudus di dalam Tuhan. Orang tua, dalam baptisan anak sudah berjanji dihadapan Tuhan untuk melaksanakan tugas mengajarkan anak-anak agar melakukan sesuatu yang telah Tuhan perintahkan, dan menjadi murid Tuhan Yesus, bukan menjadi murid ayah atau ibu. Anak-anak menjadi anak Allah, bukan anak ayah dan ibu. Anak Allah artinya anak yang taat pada kehendak Allah bukan taat pada kehendak daging dari ayah dan ibu, bukan taat pada kehendak anak sendiri. Anak Allah artinya anak yang mengalami hidup baru, dibersihkan dari dosa oleh kematian dan kebangkitan Yesus. Anak-anak yang sudah dibaptis dipersatukan dalam tubuh Kristus, dipersatukan dalam persekutuan gereja. Roh Kudus mendorong anak-anak untuk berperan serta dalam melaksanakan misi Allah yaitu menyelamatkan manusia dari dosa. Roh Kudus akan terus-menerus menolong orangtua dalam mengajarkan anak-anak, serta menolong anak-anak berakar bertumbuh dan berbuah dalam keluarga, gereja dan masyarakat.
Ayah dan ibu sebagai pemimpin yang ditaati karena orangtua mengajarkan kehendak Tuhan, dalam hidup bersekutu dengan Tuhan. Orangtua yang di dalam Tuhan berarti berbelas kasih kepada anak-anak, karena orangtua telah mengalami kasih Tuhan. Apapun keadaan anak, ketika dalam keadaan baik atau tidak baik, tetap berbelas kasih, tidak dibuang, diusir, diabaikan.
Orangtua yang mengajarkan perintah Tuhan ditaati dan dihormati anak-anak. Perintah Tuhan direnungkan anak-anak agar mengalami kasih Tuhan dan mengasihi Tuhan. Penghormatan bukan basa basi, bukan sekedar ucapan bibir. Cara menghormati adalah mematuhi perintah Tuhan yang diajarkan orangtua, menghargai ajaran orangtua tentang kehendak Tuhan. Perintah orangtua bukan kehendak daging dari orang tua, bukan keluar dari sikap egosentris orangtua. Perintah orangtua sesuai dengan tujuan bersama yang dikehendaki Tuhan yaitu untuk membangun persekutuan keluarga, untuk membentuk sifat-sifat Allah dalam setiap anggota keluarga, untuk membangun keluarga bahagia, sejahtera, membangun tanggungjawab bergereja dan bermasyarat. Ketika anak-anak menghormati dan menghargai perintah orangtua yang sesuai tujuan kehendak Tuhan, maka orangtua menjadi bahagia, tidak susah hati, tidak sakit hati.
Perintah yang keluar dari ayah-ibu yang egosentris akan melukai hati anak-anak, membuat hati anak-anak marah. Ayah yang egosentris hanya memikirkan kehendak dagingnya, bukan kehendak Tuhan, dan kehendak anak yang sesuai kehendak Tuhan. Kalau kehendak anak yang egosentris, tidak sesuai kehendak Tuhan, maka ayah ibu harus menegur, menasehati agar kembali ke jalan Tuhan. Menasehati bukan dengan memarahi, bukan dengan kekerasan verbal atau fisik tapi dalam belas kasih. Menasehati tanpa kesabaran, tanpa kelemahlembutan maka akan keluar dari hati yang marah, kekerasan verbal bahkan kekerasan fisik. Nasehat, omelan, dengan kekerasan verbal dan fisik akan membuat anak tawar hati, patah semangat. Orangtua yang terbiasa menasehati dengan kata-kata kotor, menghina, merendahkan, menggunakan kekerasan verbal dan fisik, akan membuat budaya atau nilai-nilai kekerasan dalam keluarga bertumbuh, membuat keluarga tidak bahagia, tidak damai.
Perintah orangtua pada anak-anak lebih banyak memberi kepercayaan, tanggungjawab, bukan mengekang atau menekan. Mengevaluasi setiap kepercayaan dan tanggungjawab yang diberikan, dapat dilakukan dalam persekutuan dengan Tuhan dan dalam kasih bukan dalam menghina, merendahkan, dengan membesarkan hati bukan mengecilkan hati, memberi hukuman tapi bukan dengan kekerasan. Kalau orangtua tidak memberi hukuman yang bijaksana maka akan memanjakan anak. Menghukum dengan bijaksana disertai dengan mengasihi, memberi pujian, apabila anak melakukan sesuatu yang baik.
Seorang anak B, melukis adiknya dengan bercak-bercak tinta tersebar di mana-mana. Ibunya melihat rumah berantakan hanya terdiam, kemudian dipungutnya kertas dan dibersihkan bercak bercak tinta. Ibu memeluk, mencium B sambil berkata: “kamu melukis adik ya’? Ibu membesarkan hati anaknya B. Kemudian setelah dewasa, B menjadi pelukis. Pelukan dan ciuman ibunya, mendorong dia menjadi pelukis. Inilah yang dimaksud Paulus jangan membangkitkan amarah anak-anak, jangan mengecilkan hati anak, remaja dan pemuda. Anak-anak diajarkan menghormati orangtua, dan orangtua diajarkan untuk tidak mengecilkan hati anak, remaja dan pemuda.
Marilah kita meminta agar Roh Kudus membimbing keluarga kita, agar selalu bersama Tuhan, agar selalu diajarkan mewujudkan kasih Tuhan seperti ungkapan dalam PKJ 289 ayat 4. Ya Roh Kudus, bimbing kami, agar s’lalu bersamaMu. Ajar kami, tolong kami mewujudkan kasihMu. Reff: T’rima kasih padaMu, Tuhan, Kau bimbing kami selamanya. Segala hormat, puji dan syukur kami panjatkan kepadaMu.
Doa:
Ya Tuhan mampukan keluarga kami untuk hidup indah dengan mewujudkan kasih Allah dalam keluarga yaitu ketika anak-anak menaati orangtua dalam Tuhan, menghormati ayah dan ibu sebagai perintah Tuhan agar hidup anak berbahagia dan panjang umur. dalam nama Yesus kami berdoa. Amin
SUNGAI YORDAN
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Nas: Yosua 3:12-16, (15-16),
Adapun Sungai Yordan meluap di sepanjang tepinya selama musim menuai. Pada saat para pengangkat tabut itu sampai ke sungai Yordan, dan kaki para imam pengangkat tabut itu masuk ke dalam air di tepi sungai itu, air sungai itu berhenti mengalir dari hulu dan menjadi suatu bendungan yang berdiri jauh sekali…
Syaloom saudara-saudari yang dikasihi Kristus, “melawan lupa,” maka kita segarkan ingatan kita untuk nama SUNGAI YORDAN. Sungai ini cukup penting dalam kisah Alkitab. Hulu sungai ini berasal dari anak-anak sungai dari gunung Hermon, menyatu di danau Hule yang letaknya 70 m di atas permukaan laut, dari situ mengalir ke Danau Galilea yang letaknya sudah 200 m di bawah permukaan laut. Dari danau ini mengalir ke Laut Mati, walau jarak lurus dari danau Galilea l.k 120 km, tetapi sungai itu berbelok-belok sehingga menjadi dua kali lipat panjangnya. Sepanjang aliran sungai itu berupa lembah dan tebing curam, disebut lembah sungai Yordan, yang diselingi tumbuhnya hutan dan tanah yang subur. Akirnya bermuara di Laut Mati yang posisinya 393 m di bawah permukaan laut. Nama “Yordan” untuk sungai ini artinya “yang turun ke bawah.”
Tujuan perjalanan umat Israel dari Mesir jelas ke tanah Kanaan, tanah yang terjanji. Negeri Kanaan itu di sebelah Timur dibatasi oleh sungai Yordan. Setelah 40 tahun umat Israel mengembara dari Mesir, tibalah mereka di Sitim, kota persinggahan terakhir sebelum masuk ke negeri Kanaan. Sebelumnya Yosua sudah mengutus para pengintai menyelidiki kota Yerikho, dari laporan para pengintai mengatakan, penduduk negeri itu sangat ketakutan atas kedatangan umat Israel, mereka sudah mendengar kehebatan kuasa Tuhan Allah yang menyertai bangsa itu.
Tiba saatnya Yosua mempersiapkan umat itu menyeberangi sungai Yordan, dipersiapkan para imam pengangkat tabut perjanjian Tuhan, mereka sebagai kepala barisan, di belakang mereka baru suku demi suku oleh masing-masing pemimpin dengan teratur mengikuti petunjuk perjalanan. Terjadilah mujizat, saat kaki imam itu menginjak tepi sungai Yordan, maka sungai itu berhenti mengalir dan menjadi kering, nyaman dilalui. Pengangkat tabut itu maju ke tengah sungai, sebagai petunjuk jalan yang dilalui umat itu, mereka tetap diam di tengah sungai sambil tabut itu tetap mereka angkat, sampai semua umat itu menyeberangi sungai Yordan dengan nyaman. Sungai itu mengalir kembali seperti semula setelah imam pengangkut tabut perjanjian itu keluar dari tengah sungai, saat kaki mereka semua menginjak tanah kering.
Beberapa peristiwa yang patut kita ingat tentang Sungai Yordan, Naaman mandi di sungai itu dan sembuh dari kustanya. Nabi Elisa memukulkan jubah nabi Elia ke air sungai Yordan maka sungai itu terbelah dua dan Elisa menyeberang sungai itu. Ke sungai Yordan Yohanes membawa orang untuk dibaptis, dan di antaranya Yesus dibaptis di sungai Yordan. Daud menghindar dan menyeberangi sungai Yordan, supaya pasukan Absalom seorang anak Daud, tidak bentrok dengan pasukan Daud.
Aplikasi:
- Mengapa sungai Yordan berhenti mengalir ketika pengangkat tabut Tuhan mencelupkan kakinya ke tepi sungai itu?
- Sekarang sungai Yordan menjadi batas negeri Israel dengan negara mana…?
- Apakah Anda tahu ada nyanyian tentang sungai Yordan?
Mari berdoa:
Bapa Surgawi, sungai Yordan telah menjadi saksi karya Bapa, sungai Yordan yang memberi kehidupan. Mujizat sungai Yordan menyebarkan keselamatan yang digenapi dalam Yesus Kristus. Terpujilah Tuhan Yesus yang dibaptis di sungai Yordan. Amin. [141024]
”KUE KU”
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Mazmur 144:12 (TB 2)
“Kiranya anak-anak lelaki kita seperti tanaman yang tumbuh subur pada masa mudanya; dan anak-anak perempuan kita seperti tiang-tiang penjuru, yang dipahat untuk bangunan istana!”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Saudaraku, judul renungan hari ini tidak bermaksud sebagai woro-woro atau warta berita bahwa saya ini memiliki kue. Kata ‘ku’ di sini bukanlah kata ganti milik, melainkan memang nama makanan. Kue ku, merupakan penganan yang berasal dari Tiongkok. Kue ini terbuat dari tepung ketan dan diisi kacang hijau, berwarna merah cerah dan berbentuk seperti cangkang kura-kura. Karena bentuknya menyerupai cangkang kura-kura dan berwarna merah, maka kue ini juga sering disebut dengan ‘kue kura-kura merah’ (Mdr. Ang Ku Ke). Bentuk yang dihasilkan oleh suatu cetakan khusus, yang dipakai dalam pembuatan kue ku. Kue ‘ku’ ini seringkali disajikan pada saat perayaan-perayaan terkait dengan siklus kehidupan seseorang, seperti kelahiran atau ulang tahun. Dalam budaya Tiongkok, kura-kura dianggap sebagai simbol kesehatan, umur panjang, dan kemakmuran, sedangkan warna merah dipahami sebagai tanda keberuntungan. Oleh karena itu, bila kue ku ini disajikan pada saat perayaan-perayaan tadi, maka ada harapan bahwa seseorang yang sedang dirayakan siklus kehidupannya – dan juga mereka yang menyantap kue ku – ini dapat memperoleh kesehatan yang baik, umur panjang, kemakmuran, dll.
Saudaraku, tidak dapat dipungkiri bahwa setiap orang pasti memiliki pengharapan yang baik atas kehidupan pribadi, keluarga, bangsa dan negaranya. Harapan yang disampaikan kepada Tuhan senantiasa merupakan doa supaya situasi dan kondisi di waktu mendatang akan lebih baik dari hari ini. Ini juga yang dialami oleh raja Daud. Raja Daud juga memiliki pengharapan yang sama. Meskipun Daud merupakan sorang Raja yang berhasil menjadikan Israel sebagai kerajaan yang besar dan disegani, namun ia sadar betul bahwa masa hidupnya itu berlalu begitu cepat, secepat angin yang berlalu. Ia sadar bahwa ia tidak akan memimpin Israel terus menerus. Israel membutuhkan generasi penerus yang akan melanjutkan kepemimpinannya. Itu sebabnya ia berdoa dan berharap akan anak-anak lelaki dan anak-anak perempuan Israel menjadi tulang punggung bangsa. Dalam doanya, Daud berkata, “Kiranya anak-anak lelaki kita seperti tanaman yang tumbuh subur pada masa mudanya; dan anak-anak perempuan kita seperti tiang-tiang penjuru, yang dipahat untuk bangunan istana!”. Dalam doanya ini, Daud memohon agar kaum muda – baik lelaki maupun perempuan – akan menjadi generasi pengganti yang kuat dan generasi ini diberkati secara ekonomi. Bila semua permohonannya itu dikabulkan oleh Tuhan, maka tentunya kebaikan dan berkat yang diperoleh para lelaki dan perempuan muda itu akan berdampak juga bagi kebaikan dan kemakmuran bangsa.
Sebagai bagian dari keluarga, maka ada harapan yang besar agar kaum muda benar-benar dapat bertumbuh, berkembang, berproses dengan baik sehingga dapat menjadi pribadi yang tangguh seperti pohon yang besar dan tiang-tiang penjuru. Harapan tersebut akan dapat terwujud bila setiap orang juga terlibat dengan serius untuk mendukung proses penyiapan dan pembentukan kaum muda. Dan tentunya harapan itu hanya akan menjadi impian kosong, apabila tidak diupayakan dan diperjuangkan dengan sunguh-sungguh. Pada satu pihak, para orang tua memberikan kesempatan yang baik bagi pertumbuhan dan penyiapan kaum muda. Dan di pihak lain, kaum muda juga bersedia untuk menjawab tantangan pembentukan dan penyiapan ini.
Saudaraku, kiranya sajian kue ku hari ini mengingatkan kita bahwa harapan terkait dengan kesehatan yang baik, umur panjang dan kemakmuran itu bukan hanya bagi diri sendiri, melainkan dapat berdampak bagi banyak orang. Khususnya bagi kaum muda yang akan menjadi para pemimpin di waktu mendatang. Selamat berjuang, Saudaraku, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Ya Tuhan, kami rindu agar kesejahteraan yang kami peroleh dari-Mu dapat kami salurkan kepada orang-orang lain. Sehingga, mereka dapat ikut merasakan kehadiran-Mu dan dapat mengenal Engkau. Kiranya Roh Kudus menolong kami untuk dapat mewujudkannya. Terimakasih Tuhan Yesus. Amin.
MEMELIHARA KEUTUHAN KELUARGA
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 2
Bacaan: Markus 10:5 (TB2)
”Lalu kata Yesus kepada mereka, “Karena kekerasan hatimulah Musa menuliskan perintah ini untuk kamu.”
Syalom jemaat yang terkasih didalam Tuhan.. Kiranya bapak/ibu/saudara-saudari dalam keadaan baik dan sehat.. Jemaat yang terkasih, Markus 10:5 mencatat respons Yesus terhadap pertanyaan orang-orang Farisi mengenai perceraian. Mereka mencoba menjebak Yesus dengan menggunakan hukum Musa yang memperbolehkan surat cerai. Namun, Yesus dengan tegas mengingatkan bahwa Musa mengizinkan perceraian bukan sebagai anugerah dan pilihan, melainkan karena kekerasan hati manusia.
Dalam renungan ini, kita diingatkan bahwa pernikahan Kristen bukanlah perjalanan yang bebas dari tantangan. Sebagaimana kutipan dari Alexander Pope, “Selama masa pacaran mereka bermimpi, setelah menikah barulah mereka terjaga,” realitas hidup pernikahan seringkali berbeda dari harapan yang dibayangkan. Ada kerapuhan, rasa bosan, konflik, dan pergumulan yang harus dihadapi bersama.
Namun, Yesus menunjukkan bahwa keluarga Kristen dapat tetap bersatu jika setiap anggotanya tidak mengeraskan hati dan berkomitmen untuk saling menjaga.
Keluarga bukan hanya soal kebahagiaan pribadi, tetapi tentang menghadirkan kasih Kristus di tengah-tengahnya. Dalam masyarakat patriarkal pada zaman Yesus, perempuan dan anak-anak seringkali dipinggirkan. Namun, Yesus justru memberi perhatian khusus kepada mereka yang rentan, menjadikan anak-anak sebagai teladan kemurnian iman dan memberkati mereka. Ini menunjukkan bahwa di mata Tuhan, perempuan dan anak-anak memiliki tempat yang istimewa dalam keluarga dan harus dilindungi.
Di era sekarang, peran gereja dalam membantu memelihara keutuhan keluarga menjadi sangat penting. Gereja harus hadir dengan pembinaan, konseling, dan dukungan yang membantu setiap keluarga menghadapi tantangan. Dengan demikian, keluarga-keluarga Kristen dapat berdiri kokoh menghadapi tekanan dan godaan dari dunia yang menawarkan kebahagiaan instan dan semu. Mari kita renungkan pentingnya menjaga keutuhan keluarga dalam kasih Kristus, Tuhan memampukan kita. Amin.
KELUARGA KRISTEN, TAAT DAN SETIALAH!
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bapak Ibu, Saudara Saudari dan anak-anak yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, Syalom Alekhem! Dengan penuh sukacita hari ini saya mengajak Saudara untuk merenungkan firman Tuhan yang sangat penting bagi keluarga kita semua, berjudul: “Keluarga Kristen, Taat dan Setialah!” dengan dasar Surat 1 Petrus 1:18-19 “Sebab, kamu tahu bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.” Demikianlah firman Tuhan. Yang berbahagia ialah setiap orang yang mendengarkan firman Tuhan dan yang melakukannya.
Saudara-saudara, tahukah Saudara bahwa dalam ayat ini rasul Petrus mengingatkan kita semua, termasuk anggota keluarga kita, bahwa kita adalah orang-orang percaya yang sudah ditebus dari cara hidup yang sia-sia. Apa maksudnya? Sebelum mengenal Kristus sering kali hidup kita diwarnai oleh dosa dan hati yang hampa. Petrus menekankan bahwa kita telah ditebus dari cara hidup yang tidak memiliki makna, yang diwarisi dari nenek moyang. Ini menunjukkan bahwa ada sebuah tradisi atau pola hidup yang harus kita tinggalkan ketika kita menerima Kristus.
Penebusan dengan darah Kristus, disebut sebagai “darah yang mahal” merujuk kepada pengorbanan Yesus Kristus untuk menunjukkan betapa tinggi nilai penebusan kita, yaitu nyawa Sang Anak Domba.
Yesus sebagai “Anak Domba yang tidak bernoda dan tidak bercacat” mengingatkan kita pada sistem pengorbanan dalam Perjanjian Lama, di mana anak domba yang sempurna dipilih untuk pengorbanan. Kristus adalah pemenuhan dari pengorbanan ini; Dia adalah yang sempurna dan tanpa dosa, yang memberikan diri-Nya sebagai pengganti kita. Puji Tuhan!
Apakah implikasi semua ini untuk kehidupan kita? Dengan mengetahui bahwa kita telah ditebus dengan harga yang mahal, kita dipanggil untuk hidup dalam cara yang baru. Yaitu hidup yang berkenan kepada Tuhan. Kita harus menjalani hidup yang mencerminkan kasih dan kebaikan-Nya, menolak cara hidup yang sia-sia dan melayani-Nya dengan setia!
Sesungguhnya sebagai orang yang telah ditebus, kita tidak hanya menerima anugerah, tetapi juga bertanggung jawab untuk hidup dalam ketaatan dan kesetiaan kepada-Nya. Hal ini menjadi motivasi kuat bagi kita untuk menjalani hidup yang penuh makna, sesuai dengan panggilan kita sebagai keluarga umat Allah.
Seperti kesaksian pujian yang dinyanyikan oleh Paduan Suara Syalom GKI Kwitang Pos Cendrawasih, sebuah pujian yang berjudul: “Kita sudah ditebus olehNya” Sebuah pujian yang menginspirasi banyak orang untuk taat dan setia melayani Tuhan. Lagu ini mengingatkan kita bahwa tidak lagi hidup dalam belenggu dosa. Kita telah dipanggil untuk hidup dalam kebebasan dan ketaatan. Kita diajak untuk melayani Tuhan dengan segenap hati kita, menggunakan setiap talenta yang telah Dia anugerahkan.
Kita semua tahu bahwa hidup ini penuh dengan suka dan duka. Ini mengingatkan kita bahwa tantangan adalah bagian dari perjalanan iman kita. “Walau badai datang melandamu, janganlah jemu melayaniNya.”
Keluarga kita harus saling mendukung dan mengingatkan satu sama lain untuk tetap teguh dalam iman. Di saat-saat sulit, kita perlu menjadi sumber kekuatan bagi anggota satu sama lain. Kita harus menunjukkan kasih dan ketekunan, sehingga kasih Kristus nyata dalam hidup kita.
Seperti dalam refrein lagu ini, “Mari bawa pada-Nya segenap talentamu serta hidup mengikuti firmanNya!” Ini adalah bentuk ungkapan syukur kita atas kasih dan penebusanNya.
Ketaatan dan kesetiaan bukanlah hal yang mudah. Dalam Ibrani 12:1, kita dipanggil untuk melepaskan segala beban dan dosa yang begitu mudah menjatuhkan kita. Kita harus menjunjung kebenaran dan hidup dalam cahaya firmanNya. “Jangan dosa sampai menghalangmu.” Ini adalah panggilan untuk menjaga kekudusan dalam hidup kita, terutama dalam konteks keluarga.
Kita diingatkan bahwa keluarga Kristen seharusnya menjadi contoh. Ketika kita hidup kudus, kasih Tuhan akan nyata melalui tindakan kita. Kita harus menjadi teladan bagi anak-anak kita dan orang-orang di sekitar kita.
Sebagai keluarga Kristen, mari kita berkomitmen untuk taat dan setia, baik di waktu suka maupun duka. Kita adalah umat yang telah ditebus, dan kita dipanggil untuk hidup dalam ketaatan. Bersediakah Saudara tetap maju, dan kibarkan panjiNya dengan penuh sukacita dan keyakinan. Keluarga Kristen, Taat dan Setialah! Bersediakah Saudara? Lakukanlah saja, itu sudah cukup. Amin
Mari kita berdoa.
Ya Tuhan Bapa kami yang di surga. Mampukanlah kami memahami bahwa kami sudah ditebus oleh darah Kristus. Mampukanlah kami sebagai keluarga Kristen tetap taat dan setia kepadaMu terwujud dalam hidup sehari-hari. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa. Amin. Tuhan memberkati Saudara dan keluarga!
(AM 10102024).
SUAMI KEPALA ISTRI
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Efesus 5: 21-33
Salam sejahtera semoga kita makin memahami tentang peranan kepala atau pemimpin istri, yang meniru peran Yesus sebagai kepala jemaat, yang menyelamatkan umat dari dosa. Dan istri tunduk seperti anggota jemaat tunduk kepada Tuhan Yesus dan kehendakNya (Efesus 5:22-23 Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh).
Kepala atau pemimpin istri berarti suami yang sadar bahwa hidup sendirian tidak baik, karena Tuhan telah berfirman bahwa seorang laki-laki, tidak baik sendirian, maka Allah akan menjadikan seorang penolong yang sepadan dengan laki-laki (Kejadian 2:18). Kepala istri diciptakan untuk hidup bersama, bersatu dengan istri yang menjadi penolong yang sepadan. Hidup bersama, bersatu berarti didalam hati, jiwa dan pikiran kepala selalu ada keinginan untuk hidup bersekutu dengan Tuhan dan dengan istri, dengan anak, dengan sesama anggota gereja dan anggota masyarakat.
Ketika belum menikah, anak laki-laki bersekutu dengan orangtua, kakak adik tapi setelah menikah, anak laki-laki meninggalkan orangtua adik dan kakak, kemudian menerima tanggungjawab menjadi kepala atau pemimpin istri. Dalam keluarga bersama orangtua seharusnya sudah dilatih, diajarkan bersekutu dengan Tuhan dan dengan anggota keluarga. Ketika bersama orangtua tidak dilatih, tidak diajarkan bersekutu dengan Tuhan dan anggota keluarga, maka ia akan menemui kesulitan dalam menjalankan tanggungjawab sebagai kepala istri untuk membangun persekutuan dengan Tuhan dan persekutuan dengan istri dan anak-anak.
Menerima dan melaksanakan peranan sebagai kepala istri, dilaksanakan berdasarkan janji nikah yang diucapkan di hadapan Tuhan dan jemaat. Dalam janji nikah suami menyatakan bahwa sebagai suami yang beriman, suami berjanji akan memelihara hidup kudus dengan istri dan akan tetap mengasihi istri pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, dan tetap merawat istri dengan setia, sampai kematian memisahkan.
Ini berarti sebagai kepala yang beriman maka ia harus makin berakar, bertumbuh dan berbuah. Untuk bisa berakar, bertumbuh dan berbuah, pemimpin istri harus menetapkan bersama tujuan atau visi pernikahan yang akan dicapai sampai akhir hidup. Tujuan pernikahan bukan sesuai keinginan daging kepala, tapi kepala tunduk kepada tujuan Tuhan ketika menciptakan pernikahan. Tujuan pernikahan yang dikehendaki Tuhan adalah membentuk persekutuan suami-istri berdasarkan kasih yang bersifat khusus dan menyeluruh, kemudian membangun keluarga yang mencerminkan citra Allah dan memuliakan Allah, membentuk keluarga yang bahagia, sejahtera, dan bertanggungjawab sebagai anggota gereja dan anggota masyarakat. Sebagai kepala atau pemimpin terus-menerus merenungkan, mengingat, menghayati tujuan pernikahan ini siang dan malam agar bisa dilaksanakan dan selalu memikirkan, dan berusaha agar tujuan ini terlaksana.
Hidup bersama sebagai suami istri adalah hidup bersama dengan tujuan yang sudah disepakati dan sudah diucapkan janjinya dalam ibadah peneguhan dan pemberkatan nikah serta bertekad untuk melakukan tujuan tersebut. Sebagai kepala terus-menerus melakukan, mengajak istri untuk melakukan persekutuan suami istri, mempersiapkan materi persekutuan. Kesatuan, kebersamaan akan terbentuk jika tujuan pernikahan dengan konsisten dicapai, dikerjakan sampai akhir hidup. Apabila kepala atau pemimpin lupa, lalai melakukan tujuan pernikahan maka istri sebagai penolong yang sepadan menolong kepala untuk mengingatkan dan membantu agar persekutuan suami istri dilaksanakan dengan kasih. Penolong yang sepadan maksudnya adalah menolong dalam mengerjakan tujuan pernikahan untuk membentuk persekutuan suami istri, membangun sifat-sifat Allah dalam keluarga, membangun kebahagiaan dan kesejahteraan dalam pernikahan dan keluarga, berperan dalam gereja dan masyarakat
Apabila tujuan pernikahan dilupakan, diabaikan maka kepala istri akan memperlakukan istri dan anaknya sekehendak hatinya, memperlakukan istri sebagai benda, sebagai bawahan atau budak, bukan sebagai penolong yang sepadan, yang setara. Ia akan memperlakukan istri dengan kekerasan fisik dan verbal, merendahkan, menghina dan mengabaikannya. Tujuan membentuk persekutuan suami istri dalam kasih agar kepala keluarga memperlakukan istri sesuai kehendak Tuhan, bukan sesuai kehendak daging dari kepala keluarga. Memperlakukan istri dengan kasih kepada Tuhan dan diwujudkan dalam kasih kepada istri. Kalau kepala keluarga belum berakar dan bertumbuh dalam mengasihi Tuhan, maka ia belum bisa berbuah dalam mengasihi istri. Ini pentingnya kepala istri, bersekutu dengan Tuhan dalam kelompok kecil di jemaat agar makin berakar dan bertumbuh serta berbuah dalam mengasihi Tuhan, mengasihi istri anak, anggota jemaat dan anggota masyarakat.
Istri tunduk kepada kepala istri dalam rangka usaha untuk mencapai tujuan pernikahan. Kalau tujuan pernikahan dilupakan, diabaikan maka istri tidak bisa tunduk pada kehendak daging kepala istri. Kepala keluarga tunduk kepada Tuhan Yesus dan kehendakNya. Kehendak Yesus adalah menyelamatkan dengan kasih yang berkorban. Kepala istri taat pada cara Yesus yang mengasihi dengan berkorban untuk menyelamatkan manusia dari dosa. Cara kepala istri mencapai tujuan pernikahan adalah dengan kasih yang berkorban dan menyelamatkan istri dari dosa. Tujuan pernikahan membentuk persekutuan suami istri dalam kasih, berarti membentuk sifat mengasihi yang berkorban dan menyelamatkan diri sendiri dan istri dari dosa. Persekutuan suami istri bukan menambah dosa, dosa kebencian, kekerasan fisik dan verbal, dosa menghina, merendahkan, mengabaikan, dosa mementingkan diri sendiri, dosa egois dan dosa lainnya. Persekutuan suami istri untuk mengurangi, menghancurkan dosa dosa yang menimbulkan konflik, yang merusak kesatuan atau kebersamaan.
Persekutuan rumah tangga yang berbahagia adalah yang bersepakat, sehati, tekun bersekutu dalam kasih, hingga mendapat damai, dan ikatan makin teguh. Tanpa Tuhan tidak ada berkat penuh, diungkapkan dalam KJ. 318 ayat 2.
Berbahagia rumah yang sepakat hidup sehati dalam kasihMu, serta tekun mencari hingga dapat damai kekal di dalam sinarMu; di mana suka-duka ‘kan dibagi; ikatan kasih semakin teguh; diluar Tuhan tidak ada lagi yang dapat memberi berkat penuh. amin
Berdoa:
Ya Tuhan mampukan kami memahami peranan sebagai kepala istri dengan meniru peran Yesus sebagai kepala jemaat, yang menyelamatkan umat dari dosa. Mampukan kami sebagai istri tunduk kepada kepala istri dalam mencapai tujuan pernikahan yang sesuai kehendak Tuhan agar keluarga kami bahagia. Dalam nama Yesus kami berdoa. amin
GUNUNG SINAI
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Keluaran 19:20
Lalu Tuhan turun ke atas Gunung Sinai, ke puncak gunung itu. Kemudian Tuhan memanggil Musa ke puncak gunung itu, dan Musa naik ke atas.
Saudara-saudari yang dikasihi Kristus, kali ini “melawan lupa” yang patut kita segarkan tentang suatu nama yaitu GUNUNG SINAI, disebut juga gunung Horeb, itulah gunung Allah (Kel 3:1). Daerah Sinai merupakan suatu jajirah (semenanjung) kecil menjorok di laut Merah antara Mesir dan jajirah Arab. Sebagian besar daerah Horeb ini gersang seolah-olah ditumbuhi oleh gunung-gunung batu, namun beberapa daerah tumbuh rumput dan juga baik untuk pertanian. Alkitab menyebut pertama gunung Horeb, tempat ketika Musa dipanggil Allah untuk membawa umat Israel dari perbudakan di Mesir kembali ke tanah Kanaan seperti yang dijanjikan Tuhan kepada mereka sejak Abraham.
Setelah Musa berhasil membebaskan Israel dari Mesir, sampailah mereka ke daerah Sinai. Selama 40 tahun mereka mengintari tanah Sinai, yang berarti juga terjadi pergantian generasi, termasuk Harun dan Musa telah tiada, maka Yosua membawa mereka menyeberangi sungai Yordan untuk masuk ke negeri Kanaan.
Nas renungan kita menjadi peristiwa terpenting untuk gunung Sinai ini. Umat Israel cukup lama berkemah di kaki sebuah gunung tertinggi dari semua gunung yang ada, itulah gunung Sinai. Dulu Musa heran dan hendak memeriksa api dari semak belukar yang tidak terbakar, rupanya api itu sebagai tanda kehadiran Allah dan memanggil Musa. Demikian juga setelah suatu umat yang besar di bawa oleh Musa di daerah Sinai ini, umat yang besar itu menyaksikan kobaran asap api, kilat pada saat siang dan malam, guntur dan guruh disertai dengan gempa, membuat hati umat itu takut, dan Tuhan berbicara dari atas gunung itu, sehingga umat itu berkata kepada Musa, “engkau sajalah yang naik menemui Tuhan, supaya jangan kami mati.” Gunung sinai itu dikuduskan, akhirnya Musa dipanggil Tuhan naik ke puncak gunung Sinai. Selama 40 hari, 40 malam Musa bertemu dengan Tuhan untuk menerima firman, menjadi hukum atau aturan untuk taat mengikut Tuhan. Berbagai aturan disampaikan Tuhan, dan yang paling utama Tuhan menuliskan Sepuluh Hukum di atas dua lembar (log) batu. Semua hukum, terutama Sepuluh Hukum itu dirangkum menjadi Taurat Musa. Selama 40 hari itu juga asap tebal, kilat dan guruh, bunyi sangkakala yang menggetarkan gunung itu, juga merupakan ujian iman bagi Isrel, dan mereka jatuh ke dalam dosa dengan menyuruh Harun membuat patung anak lembu menjadi sembahan mereka, selama Musa di atas gunung.
Selama 40 hari Disebut juga nabi Elia, setelah dia membinasakan nabi-nabi Baal di gunung Karmel, maka nabi Elia bersembunyi dari kejaran Isebel istri Ahab raja Israel, dia sampai ke gunung Horeb. Dari sanalah Tuhan mengutus dia kembali lagi ke Israel menyampaikan firman Tuhan (1 Raj 19:8).
Aplikasi:
- Negara yang menguasai semenanjung Sinai sekarang: A. Arab; B. Israel; C. Mesir; D. Yordania.
- Di Sinai ada terusan Suez yang menghubungkan laut: …….
- Pada tahun berapa terjadi peperangan di Sinai antara Israel dan Mesir.
Mari berdoa:
Di puncak gunung Sinai Musa menerima firman Tuhan untuk disampaikan kepada umat Tuhan. Firman dari gunung Sinai ini meneguhkan pengajaran dan jaji dari Tuhan yang digenapi di dalam Yesus Kristus. Ketaatan kami akan firman dan janji Tuhan menjadi genap dengan ketaatan kami dalam Yesus Kristus, yang menjadi jalan, kebenaran dan hidup kekal. Amin.
”GRONTOL JAGUNG”
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Filipi 1:21-22 (TB 2)
“Sesungguhnya, bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Namun, jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Saudaraku, grontol jagung merupakan salah satu jajanan tradisional khas Jawa Tengah dengan bahan baku berasal dari jagung dan yang memiliki cita rasa manis dan gurih. Grontol juga biasa disebut dengan nama blendhung, bledhus, atau blendhuk. Makanan tradisional ini berasal dari jagung pipil yang telah direndam dalam air kapur sirih (dalam bahasa Jawa disebut injet). Jagung-jagung tersebut kemudian ditiriskan dan dikukus dengan mengunakan dandang subluk (kukusan). Selanjutnya, jagung ini dihidangkan dengan menambahkan taburan kelapa parut, sedikit garam dan gula pasir. Grontol jagung merpuakan salah satu upaya masyarakat untuk dapat bertahan hidup manakala beras sangat sulit diperoleh di masa penajahan Jepang. Grontol jagung juga menyimpan pelajaran yang baik bagi kehidupan, yaitu: tentang kesedian berkurban bagi pihak lain. Kita tahu bahwa jagung adalah salah satu buah yang bijinya paling rapi. Namun demikian, ia tidak mempertahankan keindahan dan kerapiannha bagi diri sendiri, melainkan bersedia dipipil dan diolah bagi kepentingan manusia. Selain itu, olahan jagung ini juga kaya akan manfaat, yaitu: seratnya sangat bermanfaat untuk memperbaiki pencernaan, sehingga dapat menurunkan resiko kanker usus; kandungan mineral seperti magnesium, tembaga besi, dan fosfor yang ada dalam bulirnya sangat bermanfaat untuk tulang dan meningkatkan fungsi ginjal; antioksidannya bermanfaat untuk menjaga kulit agar awet muda; vitamin B dan asam folatnya dapat meningkatkan sel darah merah yang berkurang karena seseorang terkena penyakit anemia serta bermanfaat bagi kesehatan ibu hamil dan janin; Vitamin C, karotenoid dan bioflavinoidnya dapat menjaga jantung agar tetap sehat dengan mengendalikan kadar kolesterol dan meningkatkan aliran darah dalam tubuh.
Saudaraku, Grontol jagung mengingatkan tentang bagaimana seharusnya kita hidup sebagai anak-anak Tuhan. Sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil untuk memberi hidup yang berdampak bagi sesama. Kita tahu bahwa kita sudah mendapatkan berkat dan pertolongan dari Tuhan, oleh karena itu sudah semestinya kita juga berupaya untuk dapat menjadi berkat bagi orang lain. Istilah yang seringkali dipakai adalah “diberkati oleh Tuhan untuk menjadi berkat bagi orang lain”. Sikap seperti inilah yang dinyatakan oleh Rasul Paulus. Dalam suratnya kepada Jemaat di Filipi, Rasul Paulus menyatakan, “Sesungguhnya, bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Namun, jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu”. Ayat ini mengingatkan kita bahwa selama Tuhan masih menganugerahkan kehidupan bagi kita, maka selama itu pula kita menyerahkan hidup kita untuk dipakai menjadi alat-Nya. Kita dipanggil untuk menjalani kehidupan yang berdampak bagi orang lain serta menghasilkan buah. Buah yang dihasilkan bukan sekadar buah biasa tapi buah yang manis yang dapat menjadi berkat bagi sesama serta memuliakan Tuhan. Dengan kata lain, Paulus mengingatkan, yang terpenting bukan seberapa lama kita hidup, tapi seberapa besar dampak dan buah yang kita berikan kepada orang lain.
Saudaraku, kiranya sajian grontol jagung hari ini, mengingatkan kita untuk dapat menjalani kehidupan ini sesuai dengan tujuan yang sudah Tuhan tetapkan bagi kita, yaitu: untuk menjadi alat-Nya dengan menghasilkan buah dan menjadi berkat bagi sesama bagi kemuliaan nama-Nya. Selamat berjuang, Saudaraku, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Ya Tuhan, kami rindu untuk menggunakan hidup kami sebagai alat saksi-Mu. Dengan demikian kami dapat bermanfaat dan menjadi berkat bagi orang-orang lain. Kiranya Roh Kudus menolong kami untuk dapat mewujudkannya. Terimakasih Tuhan Yesus, Amin.
