tuhan
KEINGINAN ROH, DAMAI SEJAHTERA
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: Roma 8: 1-9
Salam sejahtera, semoga makin banyak manusia hidup sesuai keinginan Roh yaitu hidup dan damai sejahtera, dan semakin banyak manusia menjauhi kehidupan daging yang membawa kepada maut seperti ungkapan dalam Roma 8:6 Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera.
Erasmus, tokoh humanisme, sangat mengharapkan bahwa suatu masa yang penuh damai. Ia menggambarkan damai itu mengalami nasib buruk di tengah manusia. Manusia penuh peperangan dan ketegangan. Damai dirusak oleh ketidakadilan dan kekerasan. Damai diusir dalam diri manusia. Padahal damai adalah sumber bahagia bagi manusia, tapi sudah diusir. Manusia akhirnya menderita tanpa damai. Damai tidak ada ketika manusia melakukan kejahatan, tidak berperikemanusiaan. Damai diusir di tengah manusia, tapi damai bisa berada di tengah hewan dan binatang buas. Damai mudah diterima di tengah hewan dan binatang buas dari pada di tengah manusia. Padahal manusia mempunyai akal dan perasaan, berbeda dengan hewan yang tidak punya akal dan perasaan, tapi manusia tidak mau menerima damai. Manusia semakin bermusuhan, berperang, dengan sesama manusia. Dengan mengusir damai dari diri manusia maka manusia kehilangan diri sendiri sebenarnya (Olaf Herbert Schumann, Filsafat Agama Pendekatan pada Ilmu Agama-agama 2, BPK Gunung Mulia, 2016). Tulisan Erasmus di atas dimaksudkan untuk menyadarkan manusia bahwa manusia bukan hewan, mahluk lain, tapi diciptakan dengan daya-daya khas yang mengandung tanggungjawab khususnya dalam penataan kehidupan bersama. Manusia harusnya mengungguli hewan dalam menata hidup damai, hewan tidak pernah berperang, yang dapat membunuh ribuan hewan lainnya, tapi manusia berperang bisa membunuh ratusan ribu, bahkan juta orang.
Dalam Kejadian 1:26 digambarkan bagaimana manusia mengungguli hewan, karena Allah menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Allah, supaya manusia berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi. Manusia dengan sifat Allah artinya lebih hebat dalam menerima damai dari pada hewan. Tapi mengapa manusia tidak bisa menerima damai, malah mengusir damai dari dirinya? Karena gambar Allah sudah rusak dalam diri manusia yang dikuasai dosa.
Gambar Allah pada manusia terletak pada pengetahuan, kebenaran, dan kekudusan. Manusia mempunyai kebiasaan untuk menyesuaikan diri dengan seluruh kehendak Allah. Kehendaknya siap tunduk pada kehendak Allah dalam hal apa saja, tanpa rasa enggan atau menolak. Semua perasaannya teratur, dan ia tidak mempunyai hawa nafsu atau kemarahan yang tidak pada tempatnya. Pikiran-pikirannya dengan mudah ditundukkan dan ditetapkan pada perkara-perkara yang terbaik, dan di dalamnya tidak ada keangkuhan atau sifat tidak mau diatur. Berbahagialah orang memiliki gambar Allah. Gambar Allah menjadi alasan yang baik mengapa kita tidak boleh berkata-kata jahat satu terhadap yang lain , tidak perlu berbuat jahat satu sama lain , dan kita tidak boleh merendahkan diri kita sendiri untuk melayani dosa, dan harus mengabdikan diri untuk melayani Allah. Tetapi gambar Allah pada manusia ini sudah rusak, Tuhan memperbaharui gambar Allah pada jiwa kita dengan anugerah-Nya yang menguduskan, menebus dosa manusia.
Orang yang sudah ditebus dosanya, maka hidupnya di dalam Kristus. Orang di dalam Kristus adalah orang yang melayani Roh Kudus dan menempuh hidup yang baru, dan pada akhir zaman, akan menerima tubuh baru, tubuh kekal yang tidak akan mati selama-lamanya. Di dalam Kristus manusia dimerdekakan dari dosa yang merusak manusia. Roh Kudus akan memberi kekuatan untuk menempuh hidup baru. Hidup baru, hidup dalam Roh tidak akan membawa kepada kesombongan diri, atau kesombongan rohani, mempertahankan kepentingan sendiri dan kedudukan dihadapan Tuhan dan sesama. Orang yang telah mati dari dosa, akan menyangkal diri, tidak memegahkan diri, tidak melayani kepentingan diri sendiri.
Meskipun kita dimerdekakan dari dosa, kita tidak sanggup berjuang melawan dosa dan melakukan kehendak Allah dengan kekuatan sendiri. Kita butuh kekuatan Roh Kudus, yang berdiam dalam diri kita. Hidup dalam Roh Kudus, bukanlah sikap batin kita, tapi perbuatan kita sehari-hari. Kita dapat menolak bimbingan Roh, berarti kita mendukakan Roh. Kita dianjurkan Paulus agar menerima bimbingan Roh Kudus, agar kehendak Allah kita penuhi, kasih karunia Allah tidak kita sia-siakan. Kehidupan jemaat menurut Roh adalah tujuan dan sekaligus hasil karya keselamatan Allah.
Hidup menurut daging, memikirkan hal-hal dari daging seperti peperangan, konflik, penuh ketegangan, kejahatan, ketidakadilan dan kekerasan, tidak berperikemunusiaan. Hidup menurut daging merusak gambar Allah, tidak mau menerima damai, manusia semakin bermusuhan, berperang, dengan sesama manusia. Untuk kembali pada gambar Allah, maka manusia ditebus dosanya, dan hidup menurut Roh Kudus.
Hidup menurut Roh Kudus adalah mengejar kehendak Roh dan Allah sendiri, kita melakukan apa yang menyenangkan Allah. Keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera. Damai itu adalah berdamai dengan Allah bukan menjadi musuh Allah. Permusuhan dengan Allah, dijauhkan dengan penebusan dosa oleh Yesus, maka damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal akan memelihara hidup dan pikiran kita dalam Kristus Yesus (Filipi 4:7). Damai sejahtera antara manusia dengan manusia adalah sebagian tujuan kematian Yesus Kristus dan merupakan buah Roh (Galatia 5:22). Manusia harus aktif berusaha memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera (Efesus 4:3) Manusia tidak hanya menjauhkan perselisihan, perang, konflik, tapi kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun (Roma 14:19)
Di tengah peperangan, konflik, banyak senjata, alat pembunuh, apakah ada artinya manusia? Tuhan kiranya mengasihi kita dengan menebus dosa kita, memperbaharui kita menjadi alat pendamai, yang memberitakan kemuliaan Allah seperti ungkapan dalam KJ 44 ayat 4 dan 6 , ayat 4 Reff: Tuhan, kasihanilah! Kristus, kasihanilah! Tuhan, kasihanilah! Banyak senjata, alat pembunuh makin mengisi seluruh dunia; apakah arti hidup manusia? Reff. Ayat 6. Buatlah kami alat pendamai yang memaklumkan kemuliaanMu. Bimbinglah kami di KerajaanMu! Reff. amin
Berdoa:
Ya Tuhan kiranya makin banyak manusia hidup sesuai keinginan Roh yaitu hidup dan damai sejahtera, dan semakin banyak manusia menjauhi kehidupan daging yang membawa kepada maut. dalam nama Yesus kami berdoa amin.
BAGAIKAN KUDA LEPAS KANDANG
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: Hagai 1:2-3,
“Beginilah firmanTuhan semesta alam: Bangsa ini berkata: Sekarang belum waktunya untuk membangun kembali rumah TUHAN!” Maka datanglah firman Tuhan dengan perantaraan nabi Hagai, bunyinya: “Apakah sudah tiba waktunya bagi kamu untuk mendiami rumah-rumahmu yang dipapani dengan baik, sedang Rumah ini tetap menjadi reruntuhan? …”
Bagi sebagian kita, ayat-ayat di P.L tidak banyak sebagai ayat emas kita, selain dari beberapa ayat di mazmur. Kita perhatikan, belum tentu dalam setahun sekali kita mendengar atau membahas firman Tuhan dari Kitab nabi Hagai. Dari bahan renungan hari ini kita diperkaya pengenalan akan Perjanjian Lama yang tidak mungkin diabaikan. Nabi Hagai membawa salah satu rombongan pembebasan Israel dari pembuangan. Tujuh puluh tahun umat itu menanggung sengsara sebagai budak, memang di situ ada Daniel, Sadrakh, Mesakh, Abednego, Ester, mereka ini beruntung mendapat kesempatan hidup baik di negeri asing itu. Tujuh puluh tahun berarti satu generasi telah berlalu, generasi penerus hanya menanggung derita dan hukuman yang berat sebagai budak atas “kesalahan” generasi pendahulunya.
Tujuh puluh tahun telah tiba, sesuai dengan janji Tuhan, oleh Tuhan sendiri dibawa pulang kembali ke negeri mereka, negeri Kanaan, tanah Israel, Galiea, Samaria, Yehuda dan Yerusalem, itulah negeri tercinta mereka. Mereka telah tiba di sana, dengan bebas mereka menggarap ladang, memilih rumah untuk mereka tinggali. Dari bahan renungan kita bagaimana mereka dengan bebas, bahkan bagaikan KUDA LEPAS KANDANG, hilang kontrol dalam mereka membangun rumah, dan sama sekali mereka lupa akan Tuhan, lupa bersyukur. Mereka sudah bebas, merdeka, kembali ke negeri asal, membangun dengan seenaknya rumah untuk didiami. Mereka lupa sumber kebebasan itu, mereka bagaikan kuda lepas kandang. Untuk itu nabi Hagai mengingatkan mereka, walau pun mereka telah sampai ke negeri yang dicinta, namun keberuntungan akan menjauh, panen yang bernas akan tertahan menjadi panen yang gagal, ternak yang tambun menjadi ternak yang kurus, pundi-pundi dan lumbung mereka tetap kosong (1:6). Nabi Hagai mengingatkan mereka agar terlebih dulu membangun hubungan dengan Tuhan.
Hubungan yang timpang itu diperlihatkan oleh nabi Hagai, “mereka tidak peduli dengan Bait Allah yang tetap onggokan puing reruntuhan.” Bait Allah yang terlupakan. Nabi Hagai, pada intinya mengajak masyarakat membangun hubungan mendasar, menempatkan Tuhan sebagai yang utama dan sumber kehidupan. Sebagai wujudnya nabi Hagai mengajak masyarakat agar terlebih dulu memperhatikan dan membangun Bait Allah sebagai rumah doa, rumah ibadah, memuji, bersyukur dan memohon segala kebutuhan mereka. Nasihat ini seperti firman yang disampaikan Tuhan Yesus: “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semua itu akan ditambahkan kepadamu.” Nasihat ini sangat relevan bagi kita, walau pun kita keberatan disebut sebagai Kuda Lepas Kandang. Dalam banyak keberhasilan yang kita alami, dalam pekerjaan, kesembuhan, kelulusan sekolah,
perjalanan yang baik; dalam suasana itu, apakah Tuhan mendapat tempat yang utama; wujud apakah yang kita lakukan sebagai ucapan syukur kita? Dalam keadaan untung atau rugi, sejauh mana perhatian kita untuk sarana gedung ibadah kita, kelengkapan ibadah kita. Tidak terpungkiri, bahwa ibadah Minggu juga membutuhkan dana yang menjadi tanggung jawab setiap umat, baik materi maupun non-materi, seberapa besar perhatian kita untuk itu.
Kita aplikasikan renungan ini dengan pokok berikut:
- Kalau keluarga Anda Kristen, apakah ada tanda khas Kristen di rumah Anda?
- Apakah ada persembahan Anda yang rutin untuk gereja?
- Menurut pengamatan Anda, adakah sesuatu di gedung Gereja Anda yang perlu diperbaiki, atau dilengkapi?
Mari berdoa:
Bapa kami yang di sorga, kami butuh sarana beribadah yang baik, namun kami tidak sempat memperhatiannya, karena merasa keadaan kami sendiri sangat kekurangan. Ya Tuhan, mampukan kami untuk mencari Kerajaan Allah terlebih dulu, sebelum kami mencari sesuatu untuk kebanggaan kami, untuk itu Roh Kudus menolong kami. Demikianlah harapan dan doa kami dalam nama Tuhan Yesus. Amin. [AS240723]
DI BAWAH POHON JAMBU
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: 1 Samuel 17: 37
Pula kata Daud: “TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu”. Kata Saul kepada Daud: “Pergilah! TUHAN menyertai engkau”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Dahulu waktu kecil, saya dan teman-teman sebaya sering bermain di bawah sebuah pohon jambu air di halaman tetangga. Suatu kali, kami bermain di bawah pohon jambu di saat pohon itu berbunga. Karena asik bermain, kami tidak menyadari bahwa banyak benang sari bunga jambu itu yang jatuh di kepala kami. Tiba-tiba, seorang teman berkata, “mbah, ayo pada mulih, wis mulai sore” (artinya: mbah, ayo pulang, hari sudah mulai sore). Kami saling berpandangan karena tidak memahami maksud perkataannya. Kemudian seorang teman yang lain bertanya, “mbah, mbah…. Mbah sapa sing tok maksud?” (artinya: mbah, mbah…. Mbah siapa yang kamu maksudkan?). Teman yang pertama bicara tadi menunjuk kepala kami sambil berkata, “lha kuwi, rambute dadi putih kabeh” – (artinya: lha itu, rambutnya jadi putih semua). Kami pun baru menyadari bahwa rambut kami kelihatan putih seperti simbah-simbah – seperti seorang lanjut usia.
Saya sering tersenyum sendiri mengingat pengalaman tadi. Sekarang, rambut saya sudah berangsur menipis dan memutih. Putihnya rambut saya ini tentu bukan karena berada di bawah pohon jambu, melainkan karena faktor “U” – umur. Kadang saya bertanya di dalam hati demikian, “bila rambut sudah memutih alias semakin bertambah umur, apakah otomatis kedewasaan juga mengikutinya?” Ada orang yang berpendapat bahwa kedewasaan adalah hasil alami dari pertambahan usia. Akan tetapi banyak fakta membuktikan bahwa ada orang yang usianya sudah banyak namun seringkali masih berlaku kekanak-kanakan. Itu berarti bahwa kedewasaan tidak selalu bertumbuh seiring dengan bertambahnya usia. Orang dewasa adalah mereka yang mau belajar dari kegagalan, dapat dipercaya, dan memiliki emosi yang kuat sekaligus mental yang stabil dalam menghadapi kesulitan hidup.
Chili Davis, seorang pelatih bisbol Amerika Serikat, pernah mengatakan, “Growing old is mandatory; growing up is optional” (artinya: Bertambah umur adalah suatu kepastian, namun menjadi dewasa adalah pilihan). Di dalam Alkitab, kita dapat menjumpai Daud – salah seorang tokoh yang memilih bersikap dewasa saat menghadapi persoalan. Pada saat Daud maju berperang melawan Goliat, usianya masih sangat muda. Ia menyadari bahwa Goliat adalah masalah besar yang harus segera dibereskan. Sebab telah 40 hari lamanya Goliat melemahkan mental barisan tentara Allah dan menantang Allah. Oleh sebab itulah, Daud memutuskan pergi melawan Goliat. Sikap Daud ini jelas sangat berbeda dengan sikap Saul dan barisan tentara Israel yang memilih mendiamkan saja, padahal mereka setiap hari dihina. Alkitab menyaksikan, Pula kata Daud: “TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu”. Kata Saul kepada Daud: “Pergilah! TUHAN menyertai engkau”. Sikap Daud inilah yang menunjukkan bahwa Ia sudah dewasa, meskipun berusia muda. Pengalaman hidup selama menggembalakan domba membuat Daud belajar dari kegagalan, memperoleh keberanian, beriman kepada Tuhan, dan mau menghadapi tantangan hidup. Kedewasaan membuat Daud memilih bertindak, bukan hanya diam.
Waktu yang terus berjalan membawa kita semua ke dalam pertambahan usia. Kiranya perubahan warna rambut bukan hanya sebagai hiasan sementara seperti benang sari bunga jambu di atas kepala, melainkan kesadaran sepenuhnya untuk benar-benar menjadi dewasa. Ingat kita sedang tidak bermain di bawah pohon jambu, tetapi sedang memasuki dan menjalani hidup sehingga dibutuhkan sikap yang dewasa. Selamat berjuang, Saudaraku, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga
Doa:
Ya Tuhan, kami ingin belajar seperti Daud yang memilih untuk menjadi dewasa, sehingga berani mengambil tindakan yang tepat manakala menghadapi berbagai pergumulan hidup. Kiranya Roh Kudus menolong kami untuk mewujudkannya. Terimakasih Tuhan Yesus, Amin.
PERKATAAN YANG POSITIF
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: Roma 7:5-6
”Sebab waktu kita masih hidup di dalam daging, hawa nafsu dosa, yang dirangsang oleh hukum Taurat, bekerja dalam anggota-anggota tubuh kita, agar kita berbuah bagi maut. Tetapi sekarang kita telah dibebaskan dari hukum Taurat, sebab kita telah mati bagi dia, yang mengurung kita, sehingga kita sekarang melayani dalam keadaan baru menurut Roh dan bukan dalam keadaan lama menurut huruf hukum Taurat.”
Syalom jemaat yang terkasih didalam Tuhan.. Semoga bapak/ibu/saudara-saudari dalam keadaan baik..
Jemaat yang terkasih.. Dalam dunia pendidikan anak masa kini, gencar dikampanyekan untuk menghindari kata “jangan”, khususnya ketika berhadapan dengan anak-anak di bawah usia 9 tahun. Hal ini dikarenakan anak usia 9 tahun ke bawah berpikir sangat konkret, sehingga kata “jangan” justru akan memicu mereka untuk melakukan hal konkret yang mengikuti kata tersebut. Contohnya ketika ada larangan: “Jangan lompat-lompat di atas kasur!”, maka ada semacam keinginan yang membuat mereka justru akan lompat-lompat di atas kasur. Oleh sebab itu, alih-alih sebuah larangan, orang tua diajak untuk menggunakan kalimat yang positif, misalnya: “Ayo turun, kita bermain di lantai. Di sini lebih menyenangkan.” Kalimat positif inilah yang membuat anak-anak tidak terpicu untuk melakukan hal yang sebaliknya.
Dalam keseharian kita, nyatanya tidak hanya anak-anak yang terpicu untuk melakukan tindakan sebaliknya dari sebuah larangan. Orang dewasa pun seringkali juga terpicu pada sebuah larangan. Oleh sebab itu, dalam perikop hari ini kita ditunjukkan bagaimana Rasul Paulus mengingatkan umat di Roma akan keistimewaan mereka sebagai umat Tuhan. Mereka tidak lagi terikat hukum Taurat, karena mereka sudah menjadi milik Kristus Yesus.
Yang dikehendaki Tuhan adalah melakukan Firman-Nya dengan ketulusan hati tanpa paksaan. Kalau selama ini mereka berusaha menaati larangan-larangan dalam hukum Taurat bahkan ada yang justru terpicu untuk melakukan apa yang dilarang itu, kini melalui berita Injil, mereka menerima perintah langsung dengan lebih positif. Ajakan untuk hidup di dalam Roh serta melakukan kehendak Tuhan seperti: kasihilah, layanilah, tolonglah yang menjadi perintah baru bagi mereka.
Hari Minggu 23 Juli 2023 mendatang adalah hari Anak Nasional, mari kita menggiatkan semangat positif dalam persekutuan kita terkhusus kepada anak-anak. Kita berjuang bersama untuk lebih banyak menggunakan kata-kata yang positif ketika menyampaikan sesuatu, kepada anak-anak kita. Mari kita lakukan atas dasar kesadaran bahwa seperti halnya kasih Tuhan Yesus yang memerdekakan, maka kita pun juga diutus untuk saling memerdekakan dari sikap-sikap yang memaksa. Setiap pribadi berhak berpikir secara mandiri, untuk melakukan sebuah tindakan tertentu, termasuk anak-anak. Selamat berkata positif, Tuhan memberkati kita.
OMASIDO FAO KHO YESU
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Umat Tuhan yang dikasihi Kristus. Yaa’ho’wu!
Saudara-saudara, Minggu lalu saya menyatakan : “Injil adalah kabar baik bagi semua orang!” Dan Saudara-saudara mengamini. Kita bersyukur Minggu ini kita bersama umat Tuhan di Pulau Nias, Sumatera. Hari ini kita akan merenungkan firman Tuhan yang berjudul: “OMASIDO FAO KHO YESU” yang artinya: “Saya mau ikut Yesus” dengan dasar dari Surat Roma 1:16 “Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani.” Demikianlah Firman Tuhan. Berbahagialah setiap orang yang mendengarkan firman Tuhan dan yang memeliharanya.
Rasul Paulus mengawali surat kepada jemaat di Roma dengan memperkenalkan dirinya adalah seorang Rasul yang dipanggil dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah. Mengapa? Dengan tegas ia berkata karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang percaya.
Kata “Injil adalah kekuatan Allah”, artinya Injil itu memiliki kuasa atau kekuatan yang besar yang mampu mengubah dan memperbaharui seseorang, serta menyelamatkanya. Maka Paulus tidak merasa malu untuk mengakuinya bahkan tampil sebagai pemberita Injil kebenaran Allah.
Setiap orang Kristen dipanggil dengan tujuan yang jelas, yakni supaya memiliki keyakinan yang kokoh terhadap Injil. Karena percaya kepada Yesus Kristus membawa kita pada satu perubahan gaya hidup, kita bukan lagi hidup untuk dunia ini sekalipun kita masih hidup di dalam dunia. Kita dipanggil untuk hidup benar di hadapan Tuhan, karena Ia telah menyelamatkan kita.
Injil adalah kekuatan Allah, karena Ia menebus dan menyelamatkan kita, dahulu kita berada dalam kegelapan, tetapi sekarang kita berada dalam terangNya yang ajaib ; dahulu kita menjadi seteru Allah, tetapi sekarang diperdamaikan oleh Kristus dengan BapaNya ; dahulu kita tidak percaya, tetapi sekarang telah menjadi percaya kepadaNya.
Kasih Allah di dalam Yesus Kristus tersebut telah melawat dan menyelamatkan masyarakat Nias melalui kedatangan missionaris yang menjadi pembawa masyarakat Nias ke dalam Terang Kristus, yakni Ludwig Ernst Denninger dan misionaris lainnya, yang diutus oleh badan Misi RMG Jerman.
Kemudian Gereja BNKP telah menjadikan bulan September sebagai ”Bulan Mission” dan merayakan sebagai ”Hari Raya Gerejani”, karena pada tanggal 27 September 1865, Denninger menginjakkan kakinya di Pulau Nias untuk membawa Kabar Baik, yaitu Injil yang membebaskan dan menyelamatkan. Puji Tuhan!
Indahnya kesaksian pujian yang dinyanyikan oleh seorang aktivis jemaat GKI Kwitang, sebuah pujian yang berjudul: “OMASIDO FAO KHO YESU” yang artinya: “Saya mau ikut Yesus” sebuah kesaksian komitmen untuk menyatakan: “Saya mau ikut Yesus! Saya mau ikut Yesus sampai selama-lamanya. Meskipun saya susah menderita dalam dunia, saya tetap mau ikut Yesus sampai selama-lamanya!
Mengapa seseorang dapat memiliki komitmen seperti itu? Tidak lain dan tidak bukan, karena seperti Rasul Paulus yang menyatakan: “Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil! Karena Injil adalah kekuatan Allah yang telah menyelamatkan setiap orang percaya.”
Pertanyaan untuk kita renungkan: Seberapa jauh Saudara memiliki keyakinan yang kokoh akan Injil? Seberapa jauh Saudara memiliki komitmen untuk mengikut Tuhan Yesus di tengah segala pergumulan hidup Saudara?
Firman Tuhan hari ini meneguhkan kita untuk semakin memiliki keyakinan yang kokoh akan Injil. Ingatlah, Kristus telah menyelamatkan Saudara!
Bersediakah Saudara dan keluarga memiliki komitmen: Saya mau ikut Yesus sampai selama-lamanya? Mulailah hari ini Saudara menyatakan : Saya mau ikut Yesus sampai selama-lamanya! Lakukanlah saja! Itu sudah cukup! Amin.
Mari kita berdoa:
Ya Bapa yang di surga, kami bersyukur dan memuji Engkau karena benih-benih Injil telah ditaburkan di Pulau Nias, sehingga banyak orang yang diselamatkan dan berdiri JemaatMu. Kami berdoa bagi jemaat Tuhan agar tetap setia mengikut Tuhan Yesus meskipun tidak lepas dari kesulitan dan penderitaan. Terpujilah namaMu, kekal selama-lamanya. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa. Amin.
Tuhan Yesus memberkati Saudara dan keluarga!
(AM20072023)
IA MEMELIHARA KAMU (PEMELIHARAAN ALLAH)
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: 1 Petrus 5:5-7
Salam sejahtera, semoga kita makin menyerahkan kekuatiran kita pada Tuhan yang memelihara hidup kita seperti ungkapan dalam 1 Petrus 5:7 Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.
Jean Jacques Rousseau, menjauhkan diri dari semua pendapat yang menyalahkan pemeliharaan Allah, karena Allah tidak menghalangi terjadinya peristiwa-peristiwa buruk dalam kehidupan manusia. Voltaire mencemooh pemeliharaan Allah, karena Tuhanlah yang menyebabkan gempa bumi di suatu tempat, sehingga banyak umat Tuhan meninggal saat mereka beribadah. Rousseau menasehati Voltaire agar tidak menyalahkan Tuhan sebab tindakan manusia sendirilah yang tidak bijaksana. Beberapa orang setuju dengan pendapat Rousseau, ketimbang pendapat Voltaire. Benar bahwa banyak bencana menimpa manusia, itu disebabkan oleh keputusan manusia bukan karena Tuhan marah. Umpamanya, pak Tani menggarap tanah pada lereng gunung berapi, karena mengharapkan panen yang lebih baik sebagai hasilnya, tapi ia sadar akan kemungkinkan yang lain, pada waktu terjadi musibah bencana letusan gunung merapi. Resiko dan keuntungan perlu dipertimbangkan tanpa menyalahkan pemeliharaan Allah (Robert R. Boehlke, Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek Agama Kristen, BPK Gunung Mulia, 2015).
Pemeliharaan Tuhan yaitu karya Tuhan untuk melangsungkan adanya dunia ini. Dunia ini tidak pernah sendiri berjalan tanpa kehadiran Tuhan. Dunia ini tetap kokoh, disebabkan karena pemeliharaan Tuhan. Tuhan Allah tetap bekerja bagi dunia, maka dunia tetap berada dan berkembang menuju kepada tujuan Allah. Pemeliharaan Allah tidak boleh dipisah dari pemerintahan Allah. Pemeliharaan Allah atas dunia, dalam rangka mencapai tujuan Allah atas dunia dan manusia. Tujuan Allah, agar manusia menjadi sekutu Allah dan diselamatkan. Allah itu setia tidak meninggalkan perbuatan tanganNya. Ia menuntun dunia sesuai dengan rencana dan tujuan Allah. Allah memelihara dunia serta memerintah atasnya.
Ada orang berpikir, semua yang terjadi, baik dan buruk sudah diketahui, dikehendaki Allah, ditetapkan Allah terlebih dulu. Keadaan perang, damai, miskin, makmur, sakit, sehat, kecelakaan, perceraian semua sudah ditetapkan Allah sebelumnya. Semua perbuatan kita yang baik dan jahat sudah ditetapkan Allah terlebih dulu, karena itu disebut takdir Allah. Manusia tidak bisa mengubah takdir Allah. Dalam hidup sehari-hari muncul kalimat, “apa boleh buat sudah takdir atau sudah nasib”. Dengan kalimat ini, manusia mengeluh dengan takdir susah, sedih, yang didapatnya. Pemahaman pemeliharaan Allah seperti ini membuat manusia menjadi pasif sama sekali, tidak butuh perjuangan. Termasuk orang yang percaya sudah ditakdirkan masuk surga, maka orang tersebut tidak perlu bersusah-susah melakukan sesuatu karena sudah pasti masuk surga.
Pemahaman pemeliharaan Allah seperti diatas berarti orang tidak perlu percaya pada Allah dan kehendakNya, karena orang bergantung pada nasib, fatalistis (segala sesuatu terjadi menurut hukumnya, tidak bisa berubah dari nasib yang telah ditetapkan). Percaya pada pemeliharaan dan pemerintahan Allah (providentia), seperti Abraham percaya bahwa Allah menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi Tuhan ( Kejadian 22:8). Percaya pada pemeliharaan dan pemerintah Allah berarti orang mau dituntun Tuhan, dengan hidup dalam Tuhan Yesus. Jika Yesus menguasai hati kita, maka Allah memelihara manusia sesuai tujuan Allah. Allah menyediakan Yesus sebagai korban penebusan dosa, manusia tidak perlu dikorbankan, seperti Allah menyediakan domba sebagai korban, sehingga Ishak tidak perlu dikorbankan. Dalam Yesus, kita percaya Allah memelihara, memerintah hidup kita sesuai rencana dan kehendak Allah.
Orang yang berjumpa Allah, akan menyerahkan diri pada Allah, maka Allah akan menjadikan segala sesuatu menjadi baik. Allah lebih dulu mengasihi kita, maka kita juga mengasihi Allah lebih dulu, dan mencari Kerajaan Allah lebih dulu, maka akan ditambahkan yang lain dalam pemeliharaan Allah.
Pemeliharaan Allah adalah pengakuan iman kita, yang timbul dari percaya pada Allah. Percaya bukan hasil penelitian keilmuan. Percaya bukan berarti manusia tidak perlu berjuang, tidak perlu bertanding, berlari mencapai tujuan hidup, tidak perlu bertanggungjawab atas hidup pribadi dan sesama, tidak bertanggungjawab mencari nafkah sendiri dan keluarga. Percaya pada pemeliharaan Allah bukan berarti bahwa setelah kita menyerahkan segala kekuatiran kita kepada Tuhan ( 1 Petrus 5:7), maka kita tidak berbuat apa-apa, kita tidak melakukan tanggungjawab sebagai manusia karena kita percaya Allah memelihara kita. Seorang ayah muda A, tidak bekerja, malas mencari kerja, suka main game, perilakunya kasar terhadap istri, minta uang dari ibunya. Istri A kesal melihat perilaku suami, ditambah sikap kasar A, maka istri A minta bercerai dan dikabulkan pengadilan. A kecewa pada Tuhan Yesus, karena Tuhan tidak memelihara pernikahan mereka. A mau murtad meninggalkan iman pada Yesus. A berpikir pemeliharaan Allah, berarti tidak perlu tanggungjawab dari manusia.
Percaya pada pemeliharaan Allah berarti manusia sebagai gambar Allah, akan melakukan tugas dan tanggungjawab dalam kehidupan. Berbeda dengan seekor burung yang tidak menabur, tidak menuai, tidak mengumpulkan bekal. Kita wajib bertanggungjawab terhadap diri sendiri, sesama, lingkungan. Dalam melakukan tanggungjawab, kita tidak perlu kuatir akan hari esok, karena hari esok punya kesusahan sendiri. Kita bertanggungjawab dalam tugas kita hari ini, dan merencanakan tanggungjawab, tugas kita hari esok tanpa kuatir.
Mengapa kita tidak perlu kuatir? karena kita merendahkan diri, tahu diri kita lemah, dan mengakui tangan Tuhan yang kuat, yang mampu memelihara kita dengan baik sesuai tujuan kehendak Tuhan (1 Petrus 5:6). Tuhan memelihara untuk mendatangkan kebaikan bagi kita. Kita menyerahkan kekuatiran pada Allah pemelihara yang kuat dan hebat. Kita terus berjaga-jaga agar kepercayaan pada Tuhan pemelihara tidak menjadi sesat karena pengaruh pikiran jahat di sekitar kita seperti yang dialami ayah muda A.
Kita membuka hati kita agar Allah menempati hati kita dan menyucikan kita, Tuhan menjadi raja di hati kita yang berkuasa penuh memelihara seluruh hidup kita seperti ungkapan dalam PKJ 122 ayat 5. Bukalah hatimu jadi tempatNya, agar Dia masuk menyucikannya. Dialah Rajamu kuasaNya penuh yang memelihara s’luruh hidupmu. Amin
Berdoa:
Ya Tuhan mampukan kami makin rendah hati, untuk mengakui tangan Tuhan yang kuat, dan kami menyerahkanlah segala kekuatiran kami kepada Allah yang memelihara kami, serta terus berjaga-jaga. Dalam nama Yesus kami berdoa, amin.
DALAM KEMURAHAN TUHAN
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bahan: Ezra 8:31-36,
Berangkatlah kami dari sungai Ahawa pergi ke Yerusalem pada tanggal dua belas bulan pertama untuk berjalan ke Yerusalem, … (35) Pada waktu itu juga orang-orang yang telah kembali dari penawanan, yakni mereka yang pulang dari pembuangan, mempersembahkan sebagai korban bakaran kepada Allah Israel: Lembu jantan dua belas ekor untuk seluruh Israel, domba jantan sembilan puluh enam ekor, … semuanya itu sebagai korban bakaran bagi TUHAN.
Teringat umat Israel keluar dari Mesir dengan sepuluh tulah yang menimpa Mesir dan terakhir pasukan Mesir dicampakkan ke laut Teberau dan umat Israel selamat berjalan dalam laut yang terbelah. Renungan kita hari ini, hampir sama dengan keluarnya Israel dari Mesir, yakni keluargnya umat Israel dari pembuangan. Selama 70 tahun umat itu mendekam di pembuangan, yang berawal dari Nebukadnezar raja Babel menyerang dan mengalahkan Yehuda dan Yerusalem, raja Israel, pejabat negeri, para imam dan nabi, seluruh rakyat diangkut ke Babel dan diperbudak sebagai pekerja tanpa gaji. Ada perbedaan kedua perbudakan di dua negeri ini, di Mesir Taurat dan hukum-hukum Tuhan belum diperkenalkan kepada umat, sedangkan di Babel justru umat itu melanggar dan meninggalkan firman dan hukum Tuhan, sehingga Tuhan menghukum Israel dengan penghancuran negeri mereka, termasuk Bait Suci dan umat itu direndahkan sebagai budak. Di sinilah kita lihat kisah Daniel, Mesakh, Sadrakh, Abednego, juga kisah Ester yang sempat menjadi ratu bagi raja Ahasweros. Memang mereka umat Tuhan, yang mewarisi tanah perjanjian, tetapi dalam waktu yang ditentukan Tuhan, mereka mengalami pengasingan yaitu selama 70 tahun yang berarti terjadi regenerasi di pembuangan.
Tiba tahun ke-70, Babel jatuh ke tangan Persia, raja Persia dan Media di tangan Artahsasta, Tuhan menggenapi janjinya untuk membawa pulang kembali umat Israel ke negeri mereka. Kepulangan dari pembuangan ini tidak dengan kekerasan, seperi keluar dan Mesir, tetapi Tuhan merobah hati raja sehingga memprakarsai kepulangan Israel kembali ke negeri mereka yaitu Yehuda dan Yerusalem. Ada beberapa gelombang kepulangan mereka, robongan pertama dipimpin oleh Zerubabel, rombongan kedua dibawa oleh Ezra, rombongan ke tiga dibawa oleh Nehemia. Ayat renungan kita (Ezr 8:31-36), Ezra dan robongannya telah tiba di Yerusalem. Disebut yang mereka lakukan ialah membarui hubungan dengan Allah melalui ibadah korban bakaran, karena demikianlah yang ditetapkan dalam Taurat Tuhan. Rombongan Ezra telah melihat Bait Allah dibangun kembali, setelah menjadi puing yang dibakar dan dijarah oleh Nebukadnezar. Mereka tidak berpesta pora dengan makan, minum dan perayaan lainnya, tetapi membangun dan membarui hubungan iman mereka dengan Tuhan. Dari hewan piaraan yang mereka bawa dari Persia (Babel) mereka menyiapkan korban bakaran untuk Tuhan.
Dalam kemurahan Tuhan ini mereka tidak diberi pelajaran baru atau hukum Tuhan yang baru, mereka cukup membuka Kitab Suci dan mencari dan mempelajari hukum Tuhan yang telah ada di tangan mereka. Salah satu, yang sangat mengharukan ialah mereka membaca dan mendengar Taurat Tuhan dalam suatu perkumpulan ibadah yang selama 70 tahun mereka tidak pernah berkumpul untuk itu.
Kita aplikasikan renungan ini dengan pokok berikut:
- Bagaimana Anda (Pribadi atau keluarga) menyambut kemurahan Tuhan?
- Apakah Anda selalu, sering atau tidak mempersembahkan sejumlah uang menyambut kemurahan Tuhan, ke jemaat gereja Anda?
- Umat Israel mempersembahkan korban bakaran kepada Allah, selanjutnya apa yang harus mereka lakukan.
Mari berdoa:
Bapa dalam Tuhan Yesus Kristus, ajar kami merasakan kemurahan Tuhan dalam kehidupan kami. Ajar kami menyambut kemurahan Tuhan dengan persembahan hati kami dan dalam wujud persembahan yang terbaik untuk memuliakan Tuhan melalui jemaat kami. Semua yang ada pada kami tubuh dan rohani kami adalah dalam kemurahan Tuhan, untuk kemuliaan Tuhan. Demikianlah doa kami dalam nama Yesus Juruselamat, Amin. [AS17072023]
”YOBEN TO, ISAKU IKI!”
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: Lukas 10: 29
Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: “Dan siapakah sesamaku manusia?”
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Waktu kecil dahulu, saya dan teman-teman sering bermain bersama setelah pulang sekolah. Salah satu permainan yang kami mainkan adalah “sekolah-sekolahan”. Dalam permainan itu, kakak sepupu saya biasanya berperan sebagai guru sedangkan saya dan teman-teman sebaya yang lain berperan sebagai murid. Suatu kali, kami berperan seolah-olah sedang mengikuti pelajaran menggambar. Masing-masing diberi sebuah kertas kosong oleh ‘guru’ yang diperankan oleh kakak sepupu saya. Dan kami mulai menggambar. Setelah beberapa saat, ‘guru’ mulai memeriksa hasil pekerjaan ‘murid-muridnya’. ‘Guru’ bertanya kepada salah seorang ‘murid’, “gambar omahé kok miring?” (Gambar rumahnya kok miring). Dan dijawab, “Yoben to, bu!” (biarkan saja bu, tidak apa-apa). Kemudian ‘guru’ menasihati, “gambaré mestiné ora kaya ngono” (seharusnya gambarnya tidak seperti itu). Dan dijawab, “Yoben to, bu. Isaku iki!” (biarkan saja, bu. Mampuku hanya ini!).
Cerita masa kecil itu kembali muncul ketika saya membaca artikel tentang pembenaran diri. Secara psikologi pembenaran diri didefinisikan sebagai: “Tindakan yang dilakukan oleh manusia untuk menciptakan berbagai alasan demi membenarkan perilaku yang ia perbuat, atau pemikiran dan ide yang ia usulkan. Dan itu ia maksudkan untuk seakan-akan menjadi sebab hakiki dari apa yang lakukan dan ia usulkan tersebut”. Itu berarti bahwa pembenaran diri adalah tindakan menutupi kenyataan dengan menggunakan alasan yang dapat diterima dan dibenarkan oleh jiwa, tanpa reaksi atau teguran dari hati kecil. Dari pengertian ini, kita dapat memahami perbedaan antara kebenaran dan pembenaran diri. Kebenaran dilakukan dengan didasari oleh kejujuran dan integritas. Orang yang melakukan kebenaran akan mampu memberikan pertanggungjawab secara terbuka dengan menampilkan fakta-fakta secara transparan. Sebaliknya, pembenaran diri justru ditempuh karena seseorang tidak melakukan kebenaran. Untuk membenarkan diri, kebenaran itu justru dimanipulasi sedemikian rupa untuk menyembunyikan kenyataan yang berbeda. Sikap pembenaran diri ini dilakukan manaka seseorang itu ditegur atau diberi masukan terkait dengan tindakan, pemikiran atau ide yang sudah dinyatakan. Nah, “Yoben to, isaku iki!” merupakan satu contoh dari pernyataan yang menunjukkan sikap pembenaran diri.
Dalam sebuah episode pelayanan Tuhan Yesus dikisahkan bahwa suatu kali Seorang ahli Taurat bertanya kepada-Nya mengenai apa yang harus diperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal. Sebetulnya, sebagai seorang Ahli Taurat, tentu ia sudah mengetahui jawabannya. Karena itu, setelah Tuhan Yesus memberikan respon atas pertanyaannya itu, maka ia segera mengajukan pertanyaan yang kedua dengan maksud membenarkan dirinya. Injil Lukas memberikan kesaksian yang demikan, Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: “Dan siapakah sesamaku manusia?” Tampaknya Ahli Taurat ini merasa bahwa dirinya kurang mengasihi sesamanya. Namun sepertinya dia berharap bahwa Yesus akan memaklumi dan menganggapnya cukup layak untuk memperoleh hidup kekal. Untuk menanggapi Ahli Taurat ini, Tuhan Yesus tidak langsung menjawab pertanyaannya, melainkan menceritakan kisah menarik tentang seorang Samaria yang menolong orang yang sekarat sehabis dirampok. Dari kisah itu, sang ahli Taurat menunjukkan bahwa dirinya sudah mengetahui apa itu mengasihi, namun sebenarnya ia belum melakukannya.
Dalam hidup sehari-hari, bisa jadi kita bersikap seperti ahli Taurat ini dengan membuat dalih demi membenarkan diri sendiri saat diberikan masukan atau teguran atas tindakan atau ide kita. Oleh karena itu, mari kita menghidupi kejujuran dan integritas di dalam diri kita. Tinggalkan sikap “Yoben to, isaku iki!” Selamat berjuang, Sudaraku, Tuhan Yesus memberkati!
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Kami rindu untuk menghidupi kejujuran dan integritas agar tidak terjebak dalam sikap pembenaran diri, ya Tuhan. Oleh karena itu, kami memohon pertolongan-Mu agar dapat melakukannya. Terimakasih, Tuhan Yesus. Amin.
